Author: Irma Rahmi Oktaviani

  • 19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    Curioucity.id— Sebuah perjalanan panjang tidak hanya dihitung dari berapa lama waktu berlalu, tetapi juga dari orang-orang yang ikut menjadi bagian di dalamnya. Bagi Amaris Hotel, 19 tahun menjadi penanda perjalanan sebuah brand perhotelan yang tumbuh bersama kebutuhan para traveller akan akomodasi yang praktis, nyaman, dan relevan dengan gaya hidup mereka.

    Perayaan ulang tahun ke-19 Amaris Hotel menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan tersebut. Mengusung semangat Smart Traveller, Smart Hotel, Amaris Hotel tidak hanya berbicara tentang tempat untuk beristirahat, tetapi juga bagaimana pengalaman bepergian bisa terasa lebih mudah bagi generasi yang semakin dinamis.

    Dari Kebutuhan Menginap hingga Gaya Hidup Traveller

    Bepergian kini menjadi bagian dari banyak cerita, mulai dari perjalanan pekerjaan, liburan singkat, hingga kesempatan untuk mengenal kota yang berbeda. Di tengah kebutuhan tersebut, akomodasi yang praktis menjadi salah satu bagian penting dalam merencanakan perjalanan.

    Amaris Hotel hadir dengan konsep Bed & Breakfast yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan bagi para tamunya. Sebagai bagian dari jaringan Santika Indonesia Hotels & Resorts, brand ini terus berkembang mengikuti kebutuhan traveller yang menginginkan pengalaman menginap tanpa banyak kerumitan.

    Hingga 2026, Amaris Hotel telah memiliki 60 unit yang tersebar di lebih dari 40 kota di Indonesia. Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan akan akomodasi yang mudah dijangkau menjadi bagian dari perjalanan banyak orang, baik untuk urusan pekerjaan maupun waktu bersama keluarga.

    Blok M Menjadi Ruang Perayaan yang Lebih Dekat dengan Generasi Muda

    Memasuki usia ke-19, Amaris Hotel memilih menghadirkan perayaan yang lebih interaktif melalui acara bertajuk The Fun Celebration. Kegiatan ini berlangsung pada 26–27 September 2026 di Santika Training Centre, Blok M, Jakarta Selatan.

    Alih-alih hanya menjadi seremoni ulang tahun, acara tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan antara brand dan masyarakat. Pengunjung dapat mencoba berbagai permainan seperti Catch the Stick dan Tornado Cube, menghias eco-tumbler menggunakan stiker, hingga mengabadikan momen di area photo booth.

    Rangkaian aktivitas tersebut membawa suasana perayaan yang lebih santai dan partisipatif. Ada permainan yang menguji ketangkasan, kegiatan kreatif yang bisa dilakukan langsung, serta kesempatan membawa pulang hadiah berupa puluhan voucher menginap di Amaris Hotel di berbagai kota di Indonesia.

    Pemilihan Blok M juga memiliki makna tersendiri. Kawasan ini menjadi salah satu titik pertemuan masyarakat urban dengan beragam aktivitas dan gaya hidup, sekaligus lokasi yang dekat dengan sejarah awal kehadiran Amaris Hotel di Jakarta melalui Amaris Hotel Panglima Polim 1.

    Hadiah dan Penawaran Menjadi Bagian dari Pengalaman

    Di tengah aktivitas perayaan, Amaris Hotel turut menghadirkan penawaran bagi pengunjung yang ingin merencanakan perjalanan berikutnya. Tersedia voucher potongan harga Rp190.000 tanpa minimum transaksi yang dapat digabungkan dengan promo Amaris Payday Sale yang berlangsung pada periode tersebut.

    Kesempatan ini melengkapi pengalaman acara, dari aktivitas yang bisa dinikmati di lokasi hingga pilihan untuk merencanakan perjalanan dengan penawaran yang lebih menarik. Pengunjung dapat mengikuti acara secara gratis dengan mendaftarkan diri sebagai anggota MYVALUE.

    Melalui pendekatan ini, perayaan ulang tahun tidak berhenti pada momen seremonial. Ada kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat layanan Amaris Hotel sekaligus menemukan pilihan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka.

    Menjaga Relevansi di Tengah Perjalanan yang Terus Berubah

    Bagi Amaris Hotel, bertambahnya usia juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan para tamu dan masyarakat. Prita Gero, Corp. Marcomm Manager Santika Indonesia Hotels & Resorts, menyampaikan bahwa perayaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan yang telah menyertai perjalanan brand tersebut.

    “Perjalanan 19 tahun menjadi pencapaian yang berarti bagi Amaris Hotel. Momen ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan para tamu serta seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,” ujar Prita Gero.

    Ia juga menjelaskan bahwa The Fun Celebration dirancang untuk mendekatkan Amaris Hotel dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Harapannya, Amaris Hotel tidak hanya dikenal sebagai penyedia akomodasi yang praktis dan nyaman, tetapi juga menjadi brand yang relevan dengan keseharian serta gaya hidup traveller masa kini.

    “Semua orang diundang ke acara ini dan acara ini gratis. Untuk ikutan keseruannya, tamu cukup mendaftar menjadi member MYVALUE,” tambahnya

    Sembilan belas tahun menjadi bagian dari perjalanan Amaris Hotel sekaligus pengingat bahwa kebutuhan traveller akan terus berkembang. Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang tujuan yang ingin dicapai, kota yang ingin dikenal, atau waktu yang ingin dihabiskan bersama orang-orang terdekat.

    Dan mungkin, relevansi sebuah hotel tidak hanya ditentukan oleh tempat seseorang beristirahat, tetapi juga oleh kemampuannya untuk terus memahami bagaimana orang-orang ingin menjalani perjalanan mereka.

  • Story of Hemangini: Menemukan Venue Pernikahan Impian di Bandung

    Story of Hemangini: Menemukan Venue Pernikahan Impian di Bandung

    Curioucity.id — Di Bandung, mencari tempat untuk sebuah perayaan sering kali berarti mencari suasana yang terasa tepat.

    Begitu pula ketika sebuah pasangan mulai membayangkan hari pernikahannya. Ada ruang yang perlu dipikirkan, jumlah tamu yang akan datang, dekorasi yang ingin dihadirkan, sampai suasana yang ingin dirasakan ketika orang-orang terdekat berkumpul.

    Di kawasan Setiabudi, cerita tentang pilihan venue itu hadir melalui Story of Hemangini: The Next Experience, wedding showcase dan vendor gathering yang digelar pada 30 September 2026 di New Hemangini Hotel Bandung.

    Bukan hanya memperkenalkan venue, acara ini mempertemukan calon pengantin dengan berbagai partner wedding sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah ruang dapat mengikuti kebutuhan dan konsep pernikahan yang berbeda.

    Setiabudi Menjadi Titik Awal Mencari Venue Pernikahan

    Memilih venue pernikahan sering kali dimulai dari hal yang sangat praktis: berapa banyak tamu yang bisa ditampung, bagaimana susunan meja dan kursinya, hingga seperti apa dekorasi yang mungkin dibuat.

    Tetapi setelah itu, muncul pertanyaan yang lebih personal. Apakah ruang tersebut bisa terasa seperti pernikahan yang memang ingin kita buat?

    Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu latar Story of Hemangini: The Next Experience. New Hemangini Hotel Bandung memperkenalkan venue bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya acara, tetapi sebagai ruang yang dapat menyesuaikan konsep, suasana, dan karakter pasangan.

    Dari sini, pilihan venue tidak lagi berhenti pada ukuran ruangan. Ada hal-hal lain yang mulai ikut dipertimbangkan: bagaimana tamu akan menikmati acara, seperti apa suasana yang ingin dibangun, dan bagaimana setiap detail bisa terasa sesuai dengan pasangan yang menikah.

    Exhibition Dome dan Pilihan Pernikahan yang Bisa Dibentuk Sendiri

    Salah satu ruang yang menjadi bagian dari showcase adalah Exhibition Dome.

    Dengan konsep yang modern dan fleksibel, ruang ini dapat disesuaikan untuk berbagai kebutuhan acara. Kapasitasnya mencapai 300 orang, dilengkapi videotron dan sound system, sementara dekorasi, panggung, hingga susunan tempat duduk masih dapat dikembangkan mengikuti konsep masing-masing pasangan.

    Di sinilah calon pengantin bisa mulai membayangkan pernikahan mereka secara lebih nyata.

    Bukan lagi sekadar melihat sebuah ruangan kosong, tetapi membayangkan bagaimana meja-meja akan tersusun, di mana keluarga akan duduk, bagaimana dekorasi memenuhi ruang, hingga seperti apa suasana ketika para tamu akhirnya datang.

    Ruang yang fleksibel memberi satu keuntungan sederhana: pasangan tidak harus memaksakan ceritanya mengikuti venue. Sebaliknya, venue dapat menjadi bagian dari cerita yang mereka susun.

    Naik ke Rooftop, Menemukan Suasana yang Lebih Intim

    Jika Exhibition Dome menawarkan ruang yang lebih luas untuk dikembangkan, Bloof Resto & Bar membawa pengalaman yang berbeda.

    Berada di rooftop, venue ini menawarkan atmosfer modern dengan pemandangan kota Bandung. Karakternya dapat digunakan untuk acara personal, termasuk konsep pernikahan yang lebih intim dan eksklusif.

    Perbedaan suasana ini menarik karena keduanya masih berada dalam satu kompleks hotel.

    Artinya, calon pengantin tidak hanya dihadapkan pada satu pilihan bentuk pernikahan. Ada ruang yang dapat dikembangkan untuk perayaan dengan lebih banyak tamu, dan ada pula suasana rooftop yang bisa terasa lebih personal.

    Pada akhirnya, pilihan tersebut kembali kepada cerita yang ingin dibangun pasangan. Sebab, venue yang tepat bukan selalu tentang ruang yang paling besar atau paling ramai, melainkan ruang yang terasa paling sesuai dengan cara mereka ingin merayakan.

    Saat Calon Pengantin Mulai Membayangkan Hari Pernikahannya

    Setelah melihat venue, perjalanan memilih pernikahan tentu belum selesai.

    Ada dekorasi yang perlu dibicarakan, dokumentasi, tata acara, hingga berbagai kebutuhan lain yang membuat sebuah perayaan terasa utuh. Karena itu, Story of Hemangini: The Next Experience juga mempertemukan calon pengantin dengan berbagai partner wedding dalam satu acara.

    Di titik ini, sebuah wedding showcase terasa seperti tempat untuk mulai menyusun gambaran yang sebelumnya masih berada di kepala.

    Dari melihat ruangan, memilih suasana, sampai bertemu dengan vendor yang nantinya membantu mewujudkan detail-detail perayaan.

    New Hemangini Hotel Bandung sendiri membawa konsep “Living The Experience”, dengan perpaduan ruang yang fleksibel, atmosfer venue, fasilitas hotel bintang empat, dan dukungan berbagai wedding vendor.

    Berada di Jl. Dr. Setiabudi No. 66, Bandung, New Hemangini Hotel Bandung akhirnya menawarkan lebih dari satu kemungkinan untuk sebuah perayaan. Exhibition Dome dengan ruang yang fleksibel, atau Bloof Resto & Bar dengan suasana rooftop dan pemandangan kota Bandung.

    Sebab pada akhirnya, memilih venue pernikahan mungkin bukan hanya tentang menjawab “di mana?”

    Tetapi tentang menemukan tempat yang bisa membuat sebuah hari terasa cukup dekat dengan apa yang sejak awal dibayangkan pasangan.

    Dan dari Setiabudi, cerita itu bisa mulai disusun.

  • Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    CuriouCity.id — Sebuah karya seni tidak selalu meminta untuk langsung dimengerti. Kadang, ia hanya mengajak kita berhenti, melihat lebih dekat, lalu menyadari bahwa ada proses panjang di balik sesuatu yang tampak sederhana.

    Hal itu terasa ketika ARTOTEL Suites Aquila Bandung berkolaborasi dengan Pusat Informasi dan Kegiatan – Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK-POTADS) Jawa Barat dalam rangka Bulan Peduli Down Syndrome.

    Sepanjang Oktober 2026, area lobi ARTOTEL Suites Aquila menjadi ruang bagi 10 karya lukisan dan shibori hasil kreativitas anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat. Bukan sekadar memajang hasil karya, kolaborasi ini juga menghadirkan kesempatan untuk mengenal proses, kreativitas, dan cara mereka berekspresi.

    ARTOTEL Suites Aquila Nenjadi Ruang Untuk Berkarya

    Lobi hotel biasanya menjadi tempat orang datang, menunggu, kemudian melanjutkan perjalanan. Kali ini, langkah pengunjung justru bisa terhenti di depan karya-karya yang dibuat oleh anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat.

    Lukisan dan shibori menjadi medium yang memperlihatkan bahwa setiap orang dapat memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan sesuatu.

    Pembukaan pameran pun tidak dibuat hanya sebagai seremoni. Para awak media diajak merasakan langsung proses pembuatan shibori, sehingga karya yang kemudian dipandang di area pameran memiliki cerita yang lebih panjang.

    Sebab sebelum menjadi sebuah pola, kain perlu dilipat, diikat, dijepit, dipelintir, atau dijahit terlebih dahulu.

    Prosesnya sederhana, tetapi hasil akhirnya tidak pernah benar-benar bisa ditebak.

    Dari Kain Yang Dilipat, Lahir Pola Yang Tak Pernah Sama

    Shibori merupakan teknik pewarnaan kain tradisional Jepang. Kain diproses dengan berbagai cara sebelum dicelupkan ke pewarna, kemudian menghasilkan pola yang unik dan tidak beraturan.

    Pengalaman tersebut menjadi bagian menarik dari rangkaian kegiatan karena peserta tidak hanya melihat karya, tetapi ikut memahami bagaimana sebuah karya terbentuk.

    Hal serupa juga dapat dirasakan melalui lukisan yang dipamerkan.

    Yang terlihat pada akhirnya memang sebuah karya. Namun di baliknya ada proses mencoba, memilih, membuat, dan menemukan cara untuk berekspresi.

    Di titik ini, seni menjadi lebih dari sekadar hasil akhir.

    Ia menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai cara sendiri untuk berkarya.

    Ketika Seni Memberi Ruang Untuk Tampil

    Cerita hari itu kemudian bergerak dari karya yang berada di dinding menuju pertunjukan yang berlangsung di hadapan tamu dan awak media.

    Anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat turut menampilkan pertunjukan seni. Musik dan perkusi mengisi ruang, sementara para peserta tampil bersama dengan energi yang terasa jauh dari suasana pameran yang formal.

    Momen seperti ini memperlihatkan sisi lain dari sebuah karya.Bukan hanya tentang apa yang dibuat, tetapi juga tentang keberanian untuk menunjukkannya kepada orang lain.

    Ruang untuk tampil menjadi bagian penting dari proses tersebut. Karena apresiasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk penilaian. Terkadang, apresiasi cukup dimulai dengan memberikan kesempatan seseorang untuk menunjukkan apa yang bisa ia lakukan.

    Kolaborasi ini kemudian mempertemukan seni, komunitas, keluarga, media, dan masyarakat dalam satu ruang yang sama.

    Setiap Karya Membawa Cerita yang Berbeda

    Bagi ARTOTEL Suites Aquila, kolaborasi ini membawa pesan yang lebih luas daripada sebuah pameran.

    Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila, mengatakan bahwa setiap karya memiliki cerita. Karena itu, yang ingin diberikan bukan hanya tempat untuk memajang hasil karya, tetapi ruang agar keberanian, proses, dan kreativitas anak-anak Down Syndrome dapat dilihat serta diapresiasi lebih luas.

    “Bagi kami, setiap karya memiliki cerita.”— Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila

    Kalimat tersebut terasa relevan ketika melihat kembali rangkaian kegiatan hari itu.Sebuah lukisan bukan hanya warna di atas kanvas.

    Shibori bukan hanya pola yang terbentuk setelah kain dicelup.Dan pertunjukan bukan hanya tentang musik yang dimainkan.

    Di balik semuanya, ada proses dan kesempatan untuk berekspresi.Pada akhirnya, mungkin itulah yang ingin diberikan oleh sebuah ruang inklusif: bukan membuat semua orang menjadi sama, tetapi memberikan kesempatan yang sama untuk dilihat, didengar, dan diapresiasi.

    Pameran lukisan dan karya shibori anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat berlangsung sepanjang Oktober 2026 di ARTOTEL Suites Aquila Bandung.

    “Karena setiap karya punya cerita. Tinggal seberapa lama kita bersedia berhenti untuk melihatnya.”

  • 36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    Curioucity.id — Dago selalu punya cara membuat perjalanan terasa sedikit berbeda. Udara yang lebih sejuk, pepohonan di sepanjang jalan, dan suasana kawasan yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian Bandung.

    Di salah satu sudutnya, Sheraton Bandung Hotel & Towers telah menjalani perjalanan selama 36 tahun. Selama itu pula, berbagai orang datang dengan ceritanya masing-masing—keluarga yang menghabiskan waktu bersama, komunitas yang berkumpul, hingga tamu yang menjadikan Bandung sebagai bagian dari perjalanan mereka.

    Pada 2 Oktober 2026, Sheraton Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke-36 dengan tema “36 Years: Bringing People Together.” Perayaannya tidak hanya berlangsung sehari, tetapi hadir melalui rangkaian kegiatan hingga akhir Oktober.

    “Orang datang membawa cerita. Bertemu, berbagi, lalu pulang dengan cerita yang baru.”

    Dari Lobby, Pertemuan Itu Dimulai

    Cerita perayaan 36 tahun Sheraton Bandung dimulai dari sebuah ruang yang setiap hari dilewati banyak orang: lobby.

    Melalui Sheraton Market, area ini berubah menjadi ruang pertemuan dengan hadirnya berbagai produk dan karya dari pelaku usaha lokal. Berlangsung pada 21 September hingga 18 Oktober 2026, Sheraton Market menjadi kesempatan bagi tamu hotel dan masyarakat untuk mengenal sekaligus berinteraksi dengan komunitas dan UMKM.

    Rasanya cukup sederhana. Orang datang untuk melihat-lihat, menemukan sesuatu yang menarik, lalu mungkin berhenti sebentar untuk berbincang.

    Semangat yang sama juga hadir melalui Gatherings by Sheraton yang berlangsung setiap minggu. Berbagai aktivitas komunitas, wellness, dan social gatherings dirancang untuk membuka kesempatan bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi baru.

    Sebuah hotel akhirnya tidak hanya menjadi tempat orang menginap, tetapi juga ruang tempat orang bisa saling menemukan.

    Ada Percakapan di Balik Sebuah Meja

    Cerita tentang kebersamaan juga bisa ditemukan dari hal yang paling sederhana: makan bersama.

    Sepanjang Oktober, Feast Restaurant menghadirkan 36 menu pilihan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Sementara Toastina Pastry & Coffee House menghadirkan pilihan menu dengan penawaran khusus pada 1–5 Oktober 2026.

    Tapi mungkin bukan menunya yang paling menarik untuk diceritakan.
    Melainkan apa yang terjadi setelah makanan tersaji.

    Seseorang mulai bercerita. Yang lain ikut menanggapi. Percakapan yang awalnya sebentar ternyata berlangsung lebih lama.

    Sebab makanan memang sering punya cara sederhana untuk mempertemukan orang. Tidak banyak yang perlu direncanakan ketika beberapa orang sudah duduk di meja yang sama.

    Ketika Waktu Bersama Menjadi Cerita Keluarga

    Perjalanan bersama keluarga juga punya bentuknya sendiri.

    Tidak selalu tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang justru tentang bagaimana satu hari bisa digunakan untuk benar-benar bersama.

    Hal itu menjadi bagian dari Side by Side, program yang dihadirkan Sheraton Bandung untuk keluarga yang menginap. Orang tua dan anak diajak meluangkan waktu untuk bermain, belajar, dan menciptakan momen bersama.

    Ada anak yang sibuk dengan aktivitasnya. Ada orang tua yang menemani. Ada momen-momen kecil yang mungkin tidak terlihat istimewa saat terjadi, tetapi justru menjadi cerita ketika perjalanan itu sudah selesai.

    Termasuk menikmati gelato atau kukis yang menjadi bagian dari paket Family Staycation.

    Bukan soal apa yang didapat, tetapi tentang siapa yang menikmatinya bersama.

    Perayaan 36 Tahun, Berbagi untuk Sesama

    Jika melihat kembali perjalanan selama 36 tahun, mungkin yang paling menarik bukan hanya bagaimana sebuah hotel bertahan selama itu.

    Melainkan berapa banyak pertemuan yang pernah terjadi di dalamnya.

    Keluarga yang datang bersama. Komunitas yang menemukan ruang untuk berkumpul. Orang-orang yang bertemu untuk pertama kalinya. Hingga mereka yang datang untuk memberikan sesuatu bagi orang lain.

    Semangat itu juga hadir melalui kegiatan donor darah Serve 360, yang terbuka untuk umum dan dilakukan bersama Lions Club Bandung serta PMI.

    Pada akhirnya, usia mungkin hanya sebuah angka.

    Yang membuatnya punya arti adalah cerita yang terkumpul di sepanjang perjalanan.

    Dan mungkin, selama 36 tahun berada di Dago, Sheraton Bandung bukan hanya menyimpan cerita tentang tempatnya sendiri.

    Tetapi juga cerita dari orang-orang yang pernah datang, bertemu, menghabiskan waktu, lalu membawa pulang bagian kecil dari pengalaman itu.

    “Ke-36 tahun adalah sebuah perjalanan yang dibangun bersama tamu, associate, komunitas, partner, dan masyarakat. Melalui tema Bringing People Together, kami ingin menjadikan perayaan tahun ini bukan hanya sebagai perayaan usia, tetapi juga sebagai perayaan atas setiap hubungan, cerita, dan momen yang telah tercipta bersama.”— Herinova, General Manager Sheraton Bandung Hotel & Towers

  • Pangandarun 5K & 10K Mengajak Berlari Sambil Mengenal Pesisir Selatan Jawa Barat

    Pangandarun 5K & 10K Mengajak Berlari Sambil Mengenal Pesisir Selatan Jawa Barat

    Curioucity.id – Pangandaran akan punya cara lain untuk memperkenalkan pesisir selatan Jawa Barat pada Oktober mendatang. Kali ini, bukan hanya lewat pantai dan kawasan wisatanya, tetapi melalui lintasan lari yang mempertemukan atlet, komunitas, pelari pemula, hingga masyarakat umum.

    Pangandarun 5K & 10K akan berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026 di Bandar Udara Nusawiru, Kondangjajar, Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Open Tournament Piala Panglima TNI Pangandaran 2026 untuk memperingati HUT TNI ke-81.

    Penyelenggara membawa konsep sport tourism dalam ajang ini. Peserta tidak hanya datang untuk menyelesaikan jarak 5K atau 10K, tetapi juga diajak menikmati Pangandaran sebagai bagian dari perjalanan.
    Olahraga menjadi alasan untuk datang, sementara Pangandaran menjadi bagian dari pengalaman.

    Pangandaran Menjadi Bagian dari Lintasan

    Sebuah lomba lari biasanya selesai ketika peserta melewati garis finish. Namun, Pangandarun ingin membawa pengalaman itu sedikit lebih jauh.

    Mengusung semangat “Berlari untuk Prestasi, Menikmati Pangandaran, Menggerakkan Ekonomi Lokal,” kegiatan ini memadukan olahraga, gaya hidup, pariwisata, dan komunitas.

    Pangandarun terbuka bagi masyarakat umum, pelari pemula, komunitas lari, hingga atlet nasional. Latar kawasan pesisir selatan Pangandaran menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada para peserta.

    Bagi pelari yang datang dari luar daerah, perlombaan juga bisa menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Setelah menyelesaikan lintasan, masih ada Pangandaran yang bisa dinikmati bersama keluarga, teman, maupun komunitas.
    Dengan begitu, kedatangan peserta tidak berhenti pada urusan lomba. Mereka juga punya kesempatan mengenal daerah yang menjadi tuan rumah dengan cara yang berbeda.

    Persiapan, Kemampuan, dan Rasa Senang Saat Berlari

    Menempuh 5K atau 10K tetap membutuhkan persiapan. Stamina dan kondisi fisik menjadi hal yang perlu diperhatikan agar peserta dapat mengikuti lomba dengan baik.

    Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis mengingatkan peserta untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti Pangandarun.

    “Persiapan lari itu penting, perkuat stamina dan pantang menyerah. Siapkan fisik agar bisa melakukan yang terbaik untuk acara Pangandarun 5K & 10K dan menikmati keindahan alam Pesisir Pangandaran, Jawa Barat.”
    —
    Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis

    Persiapan tersebut kemudian bertemu dengan satu hal yang tidak kalah penting: menikmati proses berlari sesuai kemampuan masing-masing.

    Atjong Tio Purwanto melihat pengalaman mengikuti Pangandarun bukan semata-mata soal seberapa cepat seseorang menyelesaikan lintasan. Rasa senang, sehat, dan kemampuan untuk menyelesaikan lari dengan baik juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    “Ketika kita larinya happy, sesuai dengan kemampuan dan tujuannya, senang dan sehat. Bisa finish lari dengan strong dan bahagia, lalu lanjut rekreasi menikmati keindahan alam Pangandaran.”
    —
    Atjong Tio Purwanto

    Dua pesan tersebut bertemu pada satu hal yang sederhana: peserta perlu mempersiapkan diri, tetapi juga menikmati perjalanan yang sedang dijalani.

    Karena tidak semua orang datang dengan target yang sama. Ada yang mengejar prestasi, ada yang ingin menantang diri sendiri, dan ada pula yang ingin merasakan pengalaman berlari di Pangandaran.

    Ketika Pelari dan Komunitas Bertemu di Pangandaran

    Pangandarun juga menjadi ruang pertemuan bagi komunitas lari dari berbagai daerah.

    Komunitas dari Pangandaran, Jawa Barat, Jabodetabek, dan kota-kota lainnya akan menjadi bagian dari kegiatan ini. Kehadiran mereka diharapkan menjadi kesempatan untuk berkumpul, berkompetisi secara sehat, memperluas jejaring, dan membangun ekosistem olahraga yang lebih aktif.

    Selain komunitas, sejumlah tokoh juga dijadwalkan hadir dalam Pangandarun 5K & 10K. Rilis penyelenggara mencantumkan Mayjen TNI Kosasih, Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis, Atjong Tio Purwanto, serta Dian R. Sukmara atau Abah Dian selaku Race Director.

    Pertemuan antara pelari, komunitas, dan para tokoh tersebut membuat Pangandarun tidak hanya berbicara tentang kompetisi. Ada ruang untuk saling bertemu dan berbagi semangat sebelum, selama, maupun setelah perlombaan.
    Pada akhirnya, setiap peserta tetap membawa tujuan masing-masing ke garis start. Namun, mereka akan bertemu dalam lintasan yang sama dan menikmati pengalaman yang sama sebagai bagian dari Pangandarun.

    Setelah Finish, Lanjut Menikmati Indahnya Alam Pangandaran

    Konsep sport tourism yang dibawa Pangandarun juga memiliki kaitan dengan kehidupan di sekitar kawasan.

    Kedatangan peserta dari luar daerah bersama keluarga maupun komunitas berpotensi ikut menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi lokal, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, UMKM, perdagangan, hingga jasa pariwisata.
    Karena itu, garis finish bukan benar-benar akhir dari perjalanan.

    Setelah berlari, peserta masih bisa melanjutkan waktunya di Pangandaran. Menikmati alam, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar beristirahat setelah menyelesaikan lintasan menjadi bagian lain dari pengalaman yang ingin dibangun melalui Pangandarun.
    Pesan yang dibawa penyelenggara pun cukup sederhana:

    “Datang ke Pangandaran untuk berlari. Tinggal lebih lama untuk menikmati Pangandaran.”

    Pada 11 Oktober nanti, garis start di Bandar Udara Nusawiru akan mempertemukan peserta dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang mengejar catatan waktu, ada yang ingin menyelesaikan jarak 5K atau 10K, dan ada pula yang datang bersama komunitas.

    Namun, semuanya akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal Pangandaran dari lintasan.

    Sebuah perjalanan yang dimulai dengan lari, kemudian dilanjutkan dengan menikmati tempat yang menjadi tuan rumahnya.

  • Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Curioucity.id – Akhir pekan bersama keluarga di Bandung punya banyak cara untuk dihabiskan. Bisa mencari tempat makan, jalan-jalan, atau mencari ruang agar anak-anak bisa bermain. Kali ini, olahraga juga bisa menjadi bagian dari waktu bersama.

    Gagasan tersebut coba ditawarkan Basra Gym di Jalan Soekarno-Hatta No. 813, Cinambo, Bandung. Resmi menggelar Grand Opening pada 26 September 2026, Basra Gym hadir dengan konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” dan membawa pendekatan yang sedikit berbeda dari tempat gym pada umumnya.

    Di tempat ini, olahraga menjadi pintu masuk. Setelahnya, ada ruang untuk anak, keluarga, komunitas, sampai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

    Dari Niat Berolahraga, Basra Gym Mengajak Keluarga Melakukannya Bersama

    Pergi ke gym biasanya identik dengan satu tujuan: berolahraga. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan bersama keluarga, kebutuhan setiap orang tentu bisa berbeda.

    Basra Gym mencoba membaca hal tersebut melalui beberapa fasilitas yang berada dalam satu tempat. Area gym dipisahkan untuk ikhwan dan akhwat, sementara anak-anak memiliki Basra Kids dengan kelas fitness khusus serta Children Playground.

    Ada pula area calisthenics outdoor bagi mereka yang ingin berlatih di luar ruangan. Sementara bagi keluarga yang ingin sekadar makan atau berkumpul, Basra Cafe & Resto terbuka untuk umum, termasuk bagi pengunjung yang tidak sedang berolahraga atau tidak memiliki membership.

    Dengan begitu, satu kunjungan tidak harus memiliki aktivitas yang sama untuk semua anggota keluarga. Orang tua bisa berolahraga, anak-anak punya ruang untuk bergerak dan bermain, sementara anggota keluarga lainnya dapat menikmati waktu bersama.

    Ketika Anak Bisa Bermain dan Orang Tua Tetap Punya Ruang untuk Berolahraga

    Membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga sering kali bukan soal membuat semua orang melakukan hal yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana aktivitas tersebut bisa masuk ke dalam rutinitas tanpa terasa sebagai kewajiban yang berat.

    Basra Gym menempatkan keluarga sebagai bagian dari pengalaman itu. Kehadiran Basra Kids dan area bermain membuat anak-anak memiliki aktivitasnya sendiri, sementara orang tua tetap bisa menggunakan fasilitas olahraga.

    Di sisi lain, keberadaan Basra Hall membuka ruang untuk kegiatan yang lebih luas seperti seminar, kajian, dan aktivitas komunitas.

    Dari sini, konsep gym mulai terasa lebih luas. Bukan hanya tempat datang, berlatih, lalu pulang, tetapi ruang yang mencoba mempertemukan beberapa aktivitas dalam keseharian keluarga.

    Grand Opening Basra Gym Mempertemukan Olahraga dan Komunitas Bandung

    Semangat tersebut kemudian dibawa dalam rangkaian Grand Opening Basra Gym pada 26 September 2026.Alih-alih hanya mengandalkan seremoni pembukaan, kegiatan yang disiapkan juga mengajak pengunjung untuk ikut bergerak dan berkegiatan. Ada Fun Run dan Archery Competition, kemudian Seminar & Kajian, serta Community Bazaar.

    Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana Basra Gym ingin memperkenalkan tempatnya melalui aktivitas. Olahraga bertemu komunitas, sementara kegiatan keluarga dan ruang berkumpul menjadi bagian dari suasana pembukaan.

    Sejumlah hadiah dan doorprize juga disiapkan dalam rangkaian Grand Opening, termasuk promo membership khusus pada hari pembukaan.

    Namun, di balik rangkaian tersebut, ada gagasan yang ingin dibawa lebih jauh: menjadikan olahraga sebagai bagian dari perjalanan keluarga untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

    “Lebih Kuat, Lebih Taat” Konsep Yang Dibawa Basra Gym

    Nama Basra Gym tidak hanya membawa gagasan tentang tubuh yang lebih aktif. Konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” menjadi cara mereka menghubungkan kekuatan fisik dengan nilai spiritual.

    Hal tersebut disampaikan Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    “Kami ingin Basra Gym menjadi lebih dari sekadar tempat berolahraga. Ini adalah ruang bagi keluarga Muslim di Bandung untuk membangun kekuatan fisik sekaligus ketaatan spiritual, sejalan dengan semangat ‘Lebih Kuat, Lebih Taat’ yang kami usung,” ujar Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    Pada akhirnya, konsep tersebut kembali pada hal yang cukup dekat dengan keseharian: bagaimana olahraga bisa menjadi kebiasaan, bagaimana keluarga bisa saling mengajak untuk lebih aktif, dan bagaimana sebuah tempat dapat menjadi ruang bertemu bagi komunitas.

    Basra Gym membawa gagasan itu ke Bandung dengan menjadikan aktivitas fisik, keluarga, dan komunitas berada dalam satu pengalaman.

    “Karena menjadi lebih kuat bukan hanya tentang tubuh yang terus bergerak, tetapi juga tentang kebiasaan baik yang tumbuh bersama orang-orang yang kita sayangi.”

  • IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    Curioucity.id — Bandung punya banyak cara untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Ada yang mengajak anak bermain, mencari tempat makan, berjalan-jalan, atau sekadar keluar rumah setelah beberapa hari sibuk dengan rutinitas.

    Karena itu, ketika sebuah pameran keluarga kembali hadir di Bandung, menarik untuk melihatnya bukan hanya sebagai tempat berbelanja. Ada orang tua yang datang membawa kebutuhan, anak-anak yang punya kesenangan sendiri, dan orang-orang yang datang dengan tujuan berbeda tetapi akhirnya bertemu di tempat yang sama.

    Indonesia Mom and Baby and Kids Expo (IMOBY) akan kembali berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Sudirman Grand Ballroom Bandung. Setelah penyelenggaraan pada Februari lalu mendapat antusiasme besar, IMOBY kembali dengan skala yang lebih luas dan menghadirkan sekitar 120 tenant.

    Dari sini, cerita IMOBY di Bandung bisa dilihat lebih dekat. Bukan hanya tentang apa yang ada di dalam pameran, tetapi juga tentang bagaimana keluarga menghabiskan waktu bersama di dalamnya.

    Ada Banyak Alasan Keluarga Datang ke Sudirman Grand Ballroom

    Ketika pergi bersama keluarga, biasanya tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Orang tua mungkin sudah punya barang yang ingin dicari. Anak bisa saja lebih tertarik pada sesuatu yang bisa dilihat dan dimainkan. Ada pula yang sekadar ikut karena ingin menghabiskan waktu bersama.

    IMOBY mempertemukan berbagai kebutuhan itu dalam satu tempat. Tahun ini, sekitar 120 tenant akan hadir membawa produk untuk ibu, bayi, dan anak, termasuk Haloli, Sweety, Merries, Ovikids, Dialogue, dan SHP Toys. Pameran berlangsung selama tiga hari, mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

    Namun, sebuah pameran keluarga tentu tidak hanya terdiri dari deretan produk.

    Ada orang yang datang dengan daftar belanja, lalu menemukan hal lain yang tidak direncanakan. Ada yang awalnya hanya menemani, tetapi akhirnya ikut melihat-lihat. Dan ada anak yang mungkin tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang dicari orang tuanya.

    Di Bandung, IMOBY menjadi salah satu pilihan untuk mempertemukan berbagai kepentingan itu dalam satu akhir pekan.

    Ketika Kebutuhan Ibu dan Anak Bertemu dalam Satu Tempat

    Ada satu hal yang cukup menonjol dari IMOBY tahun ini: perhatian kepada ibu.

    Dalam keseharian keluarga, ibu sering kali menjadi sosok yang memikirkan banyak kebutuhan sekaligus. Ketika datang ke pameran yang memang ditujukan untuk keluarga, mereka tidak hanya ditempatkan sebagai orang yang mencari kebutuhan anak.

    Penyelenggara IMOBY menyebut kenyamanan psikologis dan kebahagiaan ibu sebagai salah satu prioritas acara. Bentuknya antara lain melalui free gift, program belanja, serta hiburan yang juga bisa dinikmati bersama anak.

    “Seorang ibu itu sangat butuh disayangi dan diapresiasi. Di IMOBY, kami tidak hanya sekadar berjualan, tapi kami benar-benar merangkul dan memanjakan mereka.”— Karen Wiraraharja, penyelenggara IMOBY Expo.

    Gagasan tersebut membuat kunjungan ke pameran tidak sepenuhnya berpusat pada kebutuhan anak.

    Ada pula ruang bagi ibu untuk menikmati waktunya sendiri, melihat-lihat sesuatu yang menarik perhatian, atau sekadar menikmati suasana bersama keluarga.Sederhana, tetapi justru dekat dengan keseharian.

    Anak-Anak Punya Agenda Mereka Sendiri

    Bagi anak, alasan datang ke sebuah pameran tentu berbeda.

    Mereka mungkin tidak datang karena ingin melihat produk tertentu. Yang lebih menarik bisa jadi adalah pertunjukan, permainan, atau aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak-anak lainnya.

    IMOBY menyiapkan sejumlah agenda untuk mengisi bagian tersebut. Selain berbagai lomba dan edukatif talkshow, ada special performance dari Babalilitata, Riko The Series, dan Uwa and Friends.

    Dengan begitu, anak tidak sekadar menjadi teman orang tua ketika berbelanja.Mereka punya alasan sendiri untuk menikmati kunjungan.

    Sementara orang tua melihat kebutuhan keluarga, anak bisa mengikuti aktivitas atau menonton pertunjukan. Setelahnya, mereka kembali bertemu dan melanjutkan hari bersama.Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama untuk bisa menikmati satu perjalanan.

    Dari Pengunjung hingga Jastiper, Semua Punya Perannya

    Di balik keluarga yang datang, ada pula kelompok lain yang ikut menjadi bagian dari cerita IMOBY: para pelaku jasa titip atau jastiper.

    Bagi jastiper, sebuah pameran bisa menjadi tempat mencari produk untuk orang lain. Karena itu, penyelenggara melihat mereka bukan sekadar sebagai pembeli dalam jumlah besar, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pameran.

    IMOBY menyiapkan program Top Spender dan doorprize yang dapat diikuti pengunjung umum maupun jastiper. Sementara bagi pengunjung yang berbelanja langsung, ada Gift With Purchase berdasarkan jumlah transaksi.

    Di balik semua itu, terlihat bahwa satu pameran ternyata mempertemukan cukup banyak peran.

    Ada brand yang membawa produknya ke Bandung. Ada orang tua yang mencari kebutuhan keluarga. Ada anak-anak yang datang untuk menikmati hiburan. Ada pula jastiper yang datang membawa kebutuhan orang lain.

    IMOBY juga melakukan kurasi dan rotasi brand agar pilihan produk yang hadir dapat berubah dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya. Untuk produk makanan dan kosmetik, penyelenggara menyebut proses kurasi juga memperhatikan kejelasan logo halal.

    Pada akhirnya, Bandung bukan hanya menjadi lokasi IMOBY 2026, tetapi latar tempat berbagai cerita keluarga itu bertemu.

    Ada yang datang karena memang sedang membutuhkan sesuatu. Ada yang ingin mengajak anak keluar. Ada yang datang untuk melihat-lihat. Ada juga yang menjadikan pameran sebagai bagian dari aktivitas ekonominya.

    Semua hadir dengan alasan masing-masing.

    Dan mungkin, seperti banyak perjalanan keluarga lainnya di Bandung, yang tersisa setelahnya bukan hanya barang yang dibawa pulang, tetapi cerita tentang bagaimana satu hari dihabiskan bersama.

    “Di Bandung, akhir pekan selalu punya banyak cara untuk dinikmati. Kali ini, ceritanya datang dari satu ruang yang mempertemukan keluarga dengan caranya masing-masing.”

  • Di Bandung RS Premier Bintaro Memperkenalkan Teknologi Navigasi Robotik Solusi Presisi Untuk Operasi Tulang Belakang

    Di Bandung RS Premier Bintaro Memperkenalkan Teknologi Navigasi Robotik Solusi Presisi Untuk Operasi Tulang Belakang

    Curioucity.id — Di tengah aktivitas Bandung yang membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam duduk, berdiri, berjalan, hingga berkendara, punggung sering menjadi bagian tubuh yang paling mudah terasa lelah.

    Nyeri punggung pun kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, tulang belakang bukan hanya terdiri dari tulang, melainkan juga sendi, diskus, ligamen, dan struktur saraf yang bekerja dalam satu sistem kompleks.

    Ketika masalah pada bagian ini berkembang, penanganannya dapat membutuhkan pendekatan yang lebih serius, termasuk tindakan pembedahan pada kondisi tertentu. Perkembangan teknologi kemudian ikut mengubah bagaimana dokter merencanakan dan menjalankan operasi tulang belakang.

    Hal tersebut menjadi pembahasan dalam media gathering “Penanganan Terkini Problem Tulang Belakang dengan Navigasi Robotic” yang digelar RS Premier Bintaro di Hotel Grand Tjokro Premiere Bandung, 17 September 2026. Acara ini menghadirkan dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine), Orthopaedic Spine Surgeon RS Premier Bintaro.

    Bukan semata tentang sebuah mesin, pertemuan tersebut membuka pembicaraan mengenai satu hal yang semakin penting dalam bedah tulang belakang: presisi.

    Tulang Belakang dan Beragam Masalah yang Bisa Mengikutinya

    Ada banyak alasan mengapa tulang belakang membutuhkan perhatian lebih dari sekadar mengatasi rasa pegal.

    Menurut dr. Asrafi, sejumlah kondisi dapat memengaruhi tulang belakang, mulai dari penyakit degeneratif, deformitas, trauma, hingga kondisi lainnya. Seiring bertambahnya usia, keluhan juga dapat berkembang dari nyeri punggung yang datang dan pergi menjadi nyeri kronis yang dapat disertai nyeri menjalar. Pada sebagian pasien, kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk operasi.

    Kompleksitasnya muncul karena begitu banyak struktur berada dalam satu area. Tulang, sendi, diskus, ligamen, dan saraf saling berkaitan sehingga penanganan terhadap satu bagian perlu mempertimbangkan anatomi di sekitarnya.

    Salah satu kondisi yang dibahas adalah skoliosis, ketika tulang belakang mengalami perubahan bentuk atau deformitas. Dalam situasi seperti ini, tindakan yang dilakukan membutuhkan perencanaan dan akurasi yang lebih tinggi.

    Hal tersebut membuat persoalan tulang belakang tidak bisa selalu dilihat hanya dari seberapa sakit punggung yang dirasakan. Diagnosis dan penilaian kondisi tetap menjadi bagian penting sebelum menentukan bentuk penanganan.

    “Tulang belakang merupakan struktur kompleks yang tidak hanya terdiri dari tulang, tetapi juga melibatkan sendi, diskus, ligamen, serta struktur saraf.”
    — dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

    Dari Operasi Konvensional ke Minimal Invasive Spine Surgery

    Perubahan dalam penanganan tulang belakang sebenarnya tidak baru dimulai ketika teknologi robotik hadir.

    Dalam perkembangannya, teknik bedah juga bergerak dari pendekatan konvensional menuju minimal invasive spine surgery. Teknik ini memungkinkan tindakan dilakukan dengan gangguan yang lebih minimal terhadap jaringan.

    Pendekatan tersebut ditujukan untuk meminimalkan cedera jaringan, mendukung pemulihan yang lebih cepat, serta membantu meningkatkan akurasi dalam penempatan implan.

    Namun, ada konsekuensi lain dari perkembangan tersebut: ketika kondisi tulang belakang yang ditangani semakin kompleks, kebutuhan terhadap perencanaan dan akurasi selama prosedur juga semakin tinggi.

    Dengan kata lain, pekerjaan dokter tidak hanya dimulai ketika operasi berlangsung. Ada proses membaca kondisi, menyusun perencanaan, menentukan posisi, kemudian memastikan rencana tersebut dapat dijalankan dengan tepat.

    Teknologi kemudian masuk sebagai salah satu alat yang membantu proses tersebut.

    Ketika Robotic Navigation Masuk ke Ruang Operasi

    Dalam bedah tulang belakang, akurasi dibutuhkan sejak sebelum operasi hingga tindakan berlangsung.

    Menurut materi yang disampaikan dr. Asrafi, teknologi robotic dapat membantu mulai dari pre-operative planning, penggunaan perangkat lunak, hingga intraoperative guidance atau panduan ketika prosedur sedang dilakukan.

    RS Premier Bintaro menggunakan Globus Excelsius GPS, sistem navigasi robotik yang dapat digunakan dalam berbagai prosedur bedah tulang belakang. Teknologi tersebut juga berperan dalam membantu penanganan anatomi yang kompleks, termasuk skoliosis dan kondisi dengan bentuk pedikel yang tidak normal.

    Salah satu bagian penting dalam prosedur tertentu adalah penempatan pedicle screw. Posisi implan perlu direncanakan dan dipandu secara akurat karena penempatan yang tidak tepat dapat menyebabkan implan berada di dalam kanal maupun keluar dari struktur tulang.

    Di sinilah pemahaman tentang “robotik” menjadi penting. Teknologi tersebut bukan berarti dokter menyerahkan tindakan kepada mesin.

    Dr. Asrafi justru menekankan bahwa teknologi robotik digunakan sebagai pendamping dalam menghadapi kompleksitas tindakan.

    “Penggunaan teknologi robotik bukan berarti menggantikan peran dokter, namun teknologi justru menjadi alat bantu bagi dokter.”
    —
    dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

    Kalimat tersebut menjadi salah satu poin penting dari pembahasan di Bandung: teknologi boleh semakin maju, tetapi keputusan medis dan pengalaman dokter tetap menjadi bagian utama dari sebuah tindakan.

    Teknologi sebagai Alat Bantu, Dokter sebagai Pengambil Keputusan

    Pada akhirnya, kecanggihan teknologi medis kembali pada satu pertanyaan yang lebih dekat dengan pasien: apa yang berubah dari proses penanganan yang mereka jalani?

    Materi media gathering menunjukkan bahwa penerapan teknologi robotic dalam operasi tulang belakang dapat mendukung pengurangan rasa nyeri, pemulihan yang lebih cepat, serta masa rawat inap yang lebih singkat. Bagi dokter, teknologi tersebut juga membantu mempermudah tindakan dan meningkatkan akurasi.

    Namun, informasi tersebut tidak berarti setiap masalah tulang belakang membutuhkan operasi dengan teknologi robotik. Teknologi menjadi bagian dari pilihan penanganan ketika kondisi dan prosedur yang dilakukan memang membutuhkan perencanaan serta panduan yang lebih presisi.

    Karena itu, pembicaraan mengenai teknologi robotik sebenarnya juga merupakan pembicaraan mengenai pentingnya memahami kondisi tulang belakang lebih jauh.

    RS Premier Bintaro sendiri memiliki Spine Center sebagai salah satu layanan unggulannya. Dalam pengembangan layanan tersebut, rumah sakit menyebut pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari upaya menghadirkan penanganan tulang belakang yang semakin modern, presisi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

    Kehadiran RS Premier Bintaro dalam media gathering di Bandung juga menjadi ruang untuk mendekatkan informasi mengenai perkembangan layanan kesehatan kepada masyarakat dan media di Bandung serta sekitarnya.

    Pada akhirnya, robotik hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang penanganan tulang belakang.

    Ada dokter yang membaca kondisi pasien, ada teknologi yang membantu memberikan panduan, dan ada pasien yang berharap dapat kembali menjalani aktivitasnya dengan lebih baik dan nyaman.

    “Teknologi membantu dokter menghadapi kompleksitas tindakan, meningkatkan akurasi, sekaligus mendukung keselamatan pasien.”
    — dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

  • Memaknai Sound to the Soul dalam Perayaan The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung

    Memaknai Sound to the Soul dalam Perayaan The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung

    Curiocity.id – Bandung punya cara sendiri dalam mendengarkan musik. Di kota ini, jazz tidak hanya hidup di atas panggung, tetapi juga tumbuh melalui pertemuan antar-musisi, komunitas, ruang kreatif, hingga berbagai bentuk kolaborasi yang membuatnya terus menemukan warna baru.

    Cara melihat jazz seperti itu terasa dalam tema “Sound to the Soul” yang dibawa The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026. Memasuki tahun ke-11, festival ini akan berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 di The Papandayan Bandung, dengan rangkaian program yang mempertemukan jazz, soul, fusion, eksplorasi lintas genre, budaya, dan komunitas.

    Bagi sebuah festival yang sudah berjalan lebih dari satu dekade, menarik untuk melihat bagaimana jazz terus dibaca ulang. Bukan hanya melalui siapa yang tampil, tetapi juga melalui lagu yang dipilih, kolaborasi yang dibentuk, dan ruang-ruang baru yang dibuka untuk mempertemukan musik dengan cerita lain di Bandung.

    “Sound to the Soul” Menjadi Cara TPJF 2026 Membaca Jazz

    Ada sesuatu yang menarik dari cara jazz berkembang. Ia tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama untuk tetap terasa sebagai jazz.

    Pada TPJF 2026, sekitar 70 persen program berada dalam spektrum jazz, mulai dari traditional jazz, fusion, soul, hingga eksplorasi lintas genre. Sisanya menjadi ruang bagi berbagai pertemuan musik dan kreativitas lain yang membuat pengalaman festival tidak berhenti pada satu definisi.

    Di sinilah “Sound to the Soul” terasa lebih dari sekadar tema tahunan. Ada upaya untuk melihat musik dari sisi pengalaman: apa yang terjadi ketika sebuah lagu lama dimainkan kembali, ketika jazz bertemu musik elektronik, ketika musisi muda belajar langsung dari seniornya, atau ketika musik bertemu tradisi budaya Bandung.

    Selama dua hari, TPJF 2026 akan menggunakan beberapa ruang di The Papandayan. Kota Baru Parahyangan Stage di Suagi Grand Ballroom menjadi panggung utama, sementara panggung lain tersebar di area festival dengan karakter program yang berbeda.

    Bagi Bandung yang punya sejarah panjang dengan musik dan komunitas kreatifnya, format seperti ini membuat festival terasa seperti sebuah pertemuan. Bukan hanya antara musisi dan penonton, tetapi juga antara berbagai generasi, referensi, dan cara menikmati musik.

    Koes Plus, Frank Sinatra, dan Jazz yang Menemukan Tafsir Baru

    Salah satu cara paling mudah melihat bagaimana jazz terus berubah adalah dengan memperhatikan lagu apa yang dibawanya kembali ke panggung.

    Pada hari pertama, TPJF menghadirkan Tribute to Koes Plus bersama The Gentlemen’s Club dengan Adikara, Bilal Indrajaya, dan Teza Sumendra. Di hari kedua, ada A Night of Frank Sinatra bersama Dwiki Dharmawan & Friends, Dira Sugandi, Dirly Dave, serta Bandung Jazz Orchestra.

    Dua nama tersebut datang dari zaman dan karakter musik yang berbeda. Namun ketika masuk ke dalam ruang jazz, keduanya memiliki kemungkinan untuk dibaca kembali melalui aransemen, vokal, improvisasi, dan karakter musisi yang membawakannya.

    Di titik ini, jazz menjadi semacam bahasa yang memungkinkan lagu lama terdengar kembali tanpa harus kehilangan ingatannya.

    Eksplorasi itu juga muncul melalui sejumlah kolaborasi lain. Ada Diskoria bersama Andien, Freedom Jazz Society bersama Rinni dengan keterlibatan DJ dan produser seperti Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, dan Winky Wiryawan, hingga berbagai kolaborasi di panggung lain yang mempertemukan jazz dengan soul, fusion, elektronik, dan lintas genre.

    Mungkin itu pula yang membuat jazz tidak pernah benar-benar berhenti pada satu bentuk. Ia bisa membawa masa lalu ke masa kini, lalu membiarkan generasi berikutnya memberikan tafsirnya sendiri.

    Ketika Jazz Membuka Ruang untuk Budaya dan Musisi Muda

    Namun cerita TPJF 2026 tidak berhenti pada musisi yang sudah lebih dulu dikenal.

    Di TP Stage, musik menjadi ruang belajar dan apresiasi bagi musisi muda melalui program masterclass bersama Sri Hanuraga dan Tommy Pratomo. Ada pula penampilan sejumlah kelompok dan musisi seperti SND, Dadaks, Yonathan Godjali Quartet, Funky Journal, hingga VMS Art Collective x Artsi bersama Oele Pattiselanno.

    Kemudian di Tropical Garden, Mojang Jajaka Stage membawa pertemuan yang berbeda. Panggung ini melibatkan kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung serta Mojang Jajaka Kota Bandung, bersama sejumlah penampil dan karya yang membawa unsur budaya dari berbagai daerah.

    Ada Barong Bekasi, Galumbira – Panen Durcing Raharja, hingga kolaborasi Ki Dalang Anom bersama Swara Katresna.

    Menariknya, pertemuan tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari festival jazz. Ia justru menjadi bagian dari cara TPJF memperluas percakapan tentang musik dan budaya.

    Karena di Bandung, musik memang sering tumbuh bukan sendirian. Ia hidup bersama komunitas, ruang kreatif, kebiasaan berkumpul, dan orang-orang yang terus mencoba membuat sesuatu yang baru.

    Maka ketika musisi muda bertemu seniornya, musik bertemu budaya, dan komunitas mendapatkan ruang untuk hadir, festival berubah menjadi lebih dari sekadar rangkaian pertunjukan.

    Pasar Jazz dan Cerita yang Berlanjut Setelah Panggung

    Ada bagian dari festival musik yang justru sering terasa setelah seseorang meninggalkan panggung utama.Bisa jadi ketika dua orang berhenti untuk membicarakan penampilan yang baru saja mereka lihat.

    Bisa juga ketika seseorang menemukan rilisan musik, pakaian, instrumen, makanan, atau karya lokal yang sebelumnya tidak mereka kenal.

    TPJF 2026 menempatkan Pasar Jazz di area parkir The Papandayan sebagai salah satu ruang tersebut. Selain aktivitas komunitas dan University Jazz Band, area ini akan diisi puluhan tenant dari kuliner, fashion, lifestyle, merchandise musik, hingga alat dan aksesori musik.

    Ruang seperti ini membuat pengalaman festival tidak memiliki garis akhir yang terlalu tegas. Musik bisa selesai di panggung, tetapi percakapan tentang musik justru dapat berlanjut di tempat lain.

    Pada akhirnya, mungkin itulah bagian paling menarik dari “Sound to the Soul”.

    Bukan tentang seberapa banyak lagu yang berhasil didengar dalam dua hari, melainkan tentang apakah ada satu suara yang ikut pulang bersama kita—entah karena mengingatkan pada sesuatu, memperkenalkan sesuatu yang baru, atau sekadar membuat kita ingin kembali mendengarkan musik dengan cara yang berbeda.

    Dan pada Oktober nanti, Bandung kembali menjadi tempat bagi pertemuan-pertemuan semacam itu.

    “Sebab musik yang sampai ke telinga mungkin berhenti ketika lagu selesai, tetapi yang sampai ke hati bisa tinggal jauh lebih lama.”

  • EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    Curioucity.id — Pagi di Jalan Sumatra biasanya punya ritmenya sendiri. Jalan mulai ramai, beberapa orang datang untuk berolahraga, sementara kawasan di sekitarnya perlahan dipenuhi aktivitas.

    Pada 12 September 2026, ada pemandangan lain di salah satu sudut jalan tersebut.

    Perempuan datang dengan pakaian olahraga. Beberapa mengikuti yoga, sebagian lainnya bersiap untuk fun run dan bersepeda. Di antara keramaian itu, ada ibu yang datang bersama anak-anak, komunitas yang saling menyapa, hingga pengunjung yang kemudian melihat-lihat ke dalam sebuah ruang baru.

    Hari itu adalah pembukaan EIGER Women Flagship Store pertama di Indonesia di Jalan Sumatra, Bandung. Secara bersamaan, toko ini juga menjadi toko EIGER Adventure ke-350 di Indonesia.

    Tetapi kalau hanya melihat angka tersebut, kita mungkin akan melewatkan hal yang justru paling terasa dari pagi itu.

    Pembukaannya tidak terasa seperti orang-orang datang untuk menyaksikan sebuah pintu toko dibuka.

    Rasanya lebih seperti sedang mengikuti sebuah kegiatan bersama.Dan dari sana, cerita tentang EIGER Women Bandung mulai terlihat.

    Ada Kegiatan Yoga Saat EIGER Women Membuka Pintu Pertamanya di Bandung

    Hal pertama yang terasa dari acara pagi itu adalah energi orang-orang yang datang.

    Belum banyak yang sibuk memilih produk. Sebagian justru sudah lebih dulu bergerak.

    Morning yoga menjadi salah satu aktivitas yang mengawali rangkaian acara. Setelahnya, ada women fun run dan bersepeda yang melibatkan perempuan serta komunitas.

    Dari pengamatan sederhana itu, pembukaan EIGER Women terasa punya cara sendiri dalam memperkenalkan ruang barunya.

    Ia tidak buru-buru berbicara tentang apa yang ada di dalam toko.

    Sebaliknya, orang-orang terlebih dahulu diajak merasakan aktivitas yang selama ini begitu dekat dengan identitas EIGER: bergerak, berada di luar ruang, dan melakukan sesuatu bersama.

    Morning yoga menjadi salah satu gambaran paling sederhana.

    Matras terbentang. Orang-orang mengikuti gerakan masing-masing. Suasananya tidak terlalu formal, dan untuk sesaat toko di belakang mereka terasa seperti bagian dari latar sebuah kegiatan pagi di Bandung.

    Dari sini, gagasan tentang perempuan dan perjalanan terasa lebih dekat.

    Agnes Lukito, Head Division EIGER Women & Junior, menyampaikan bahwa perjalanan perempuan tidak hanya tentang mendaki gunung. Ada perjalanan sebagai ibu rumah tangga, perempuan karier, pelajar, maupun seseorang yang sedang mencari passion.

    Ketika melihat orang-orang yang hadir pagi itu, kalimat tersebut terasa cukup masuk akal. Karena yang datang memang bukan hanya mereka yang sedang bersiap menuju alam. Ada perempuan dengan rutinitas dan ceritanya sendiri.

    Ketika Angklung Anak-Anak Ikut Mengisi Hari Pembukaan

    Kemudian suasananya berubah. Di antara aktivitas olahraga dan keramaian pengunjung, anak-anak mengambil bagian dalam acara.

    Angklung terdengar.

    Beberapa anak tampil bersama, sebagian mengenakan busana tradisional Sunda. Orang-orang yang sebelumnya sibuk dengan aktivitas masing-masing kemudian punya alasan untuk berhenti sejenak dan memperhatikan.

    Momen ini terasa menarik karena kehadiran anak-anak membuat pembukaan EIGER Women tidak lagi hanya bercerita tentang perempuan dewasa dan aktivitas outdoor.

    Ada keluarga di dalamnya.

    Ada budaya lokal.

    Ada anak-anak yang mendapatkan ruang untuk tampil.

    Dan ada orang-orang yang datang bukan karena sedang mencari perlengkapan outdoor, tetapi karena ingin menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung hari itu.

    Dalam materi pembukaan, EIGER memang menyebut sejumlah kegiatan yang melibatkan perempuan dan anak-anak, mulai dari workshop kreatif hingga aktivitas khusus perempuan, ibu, dan anak.

    Namun melihat rangkaian itu sebagai satu pengalaman memberikan kesan yang berbeda.

    Ada sesuatu yang terasa lebih cair ketika sebuah toko outdoor dipenuhi aktivitas yang begitu beragam.

    Yoga berlangsung di satu sisi.

    Anak-anak bermain angklung di sisi lainnya.

    Pengunjung melihat-lihat koleksi.

    Komunitas datang dan berinteraksi.

    Semuanya terjadi dalam satu pagi.

    Dan tanpa perlu banyak penjelasan, dari situ terlihat bahwa EIGER Women ingin ruang ini diisi lebih dari sekadar aktivitas jual beli.

    EIGER Women Menyiapkan Ruang untuk Komunitas

    Masuk ke dalam toko, suasananya kembali berubah.

    Rak-rak produk dan perlengkapan outdoor mengingatkan bahwa tempat ini tetap merupakan sebuah flagship store. Tetapi setelah melihat apa yang terjadi di luar, fungsi ruang tersebut terasa seperti memiliki lapisan lain.

    EIGER merancang flagship store Bandung dengan ukuran lebih besar dibandingkan EIGER Women sebelumnya di Surabaya dan Depok. Koleksi perlengkapan outdoor yang tersedia juga dibuat lebih lengkap.

    Tempat ini diharapkan menjadi ruang bagi komunitas outdoor maupun komunitas perempuan. Sebuah tempat untuk berbagi pengalaman, inspirasi, dan semangat pemberdayaan.

    Foto pengunjung yang sedang melihat koleksi mungkin terlihat seperti gambaran paling umum dari sebuah toko.

    Tetapi setelah mengikuti cerita sejak pagi, melihatnya terasa sedikit berbeda.

    Orang-orang yang datang bisa saja awalnya hanya ingin melihat produk.

    Tetapi ruang yang sama memungkinkan mereka bertemu komunitas, mengikuti kegiatan, atau menemukan aktivitas yang sebelumnya tidak terpikirkan.

    Di sinilah konsep “rumah komunitas” yang disebut EIGER mulai terasa lebih konkret. Bukan karena ruangnya harus terlihat seperti rumah, tetapi karena ada upaya untuk membuat orang memiliki alasan lain untuk kembali selain berbelanja.

    Dan Bandung sepertinya menjadi tempat yang tepat untuk percobaan semacam itu.

    Bandung Menjadi Awal Cerita EIGER Women tentang Perjalanan Perempuan

    Pada akhirnya, yang paling menarik dari pembukaan ini bukan bagaimana toko tersebut terlihat.

    Justru orang-orang yang mengisinya yang membuat ceritanya terasa berbeda.

    Ada perempuan yang datang untuk olahraga.

    Ada ibu yang membawa anak.

    Ada anak-anak yang tampil memainkan angklung.

    Ada komunitas yang berkumpul.

    Ada pengunjung yang masuk dan melihat koleksi.

    Mereka semua memiliki alasan yang berbeda untuk berada di Jalan Sumatra pagi itu.

    Perjalanan seorang perempuan bisa berupa perjalanan mencari passion.

    Bisa berupa usaha untuk kembali aktif setelah kesibukan.

    Bisa berupa menemukan komunitas baru.

    Atau sekadar memiliki waktu untuk melakukan sesuatu yang memang disukai.Tidak semuanya terlihat spektakuler.

    Tetapi semuanya tetap merupakan perjalanan.

    Itulah yang terasa ketika melihat pembukaan EIGER Women Flagship Store di Bandung dari dekat.

    Sebuah toko baru memang sedang dibuka.

    Tetapi yang memenuhi ruangnya pagi itu adalah cerita-cerita yang jauh lebih beragam.

    Dan untuk sebuah kota seperti Bandung, mungkin cerita tersebut memang paling tepat dimulai bukan dengan seremoni yang terlalu formal, melainkan dengan orang-orang yang datang, bergerak, berkumpul, lalu perlahan mengisi sebuah ruang dengan kehidupan.

    “Perjalanan perempuan punya banyak bentuk. Kadang ia dimulai dari sebuah langkah kecil, sebuah komunitas, atau sekadar keberanian untuk mencoba.”