Author: Irma Rahmi Oktaviani

  • Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Curiocity.id — Di Tjihapit, pagi punya caranya sendiri untuk terasa hidup. Ada yang datang mencari sarapan, berjalan menyusuri kawasan, bertemu teman, atau sekadar mencari tempat untuk duduk sambil menikmati suasana kota.

    Di antara aktivitas itu, Little SUGU Bakehouse hadir sebagai salah satu sudut yang menarik untuk disinggahi. Bukan karena harus punya alasan khusus untuk datang, tetapi karena suasananya terasa cocok untuk berbagai cerita yang terjadi sepanjang hari.

    “Kadang, tempat yang menyenangkan adalah tempat yang tidak banyak menuntut. Datang, pilih sesuatu yang disuka, lalu biarkan percakapan menemukan arahnya sendiri.”

    Croissant, Kopi, dan Slow Morning di Tjihapit

    Salah satu hal yang langsung menarik perhatian di Little SUGU adalah pilihan croissant dan pastry yang tersedia. Bentuk dan variannya membuat proses memilih pun menjadi bagian dari pengalaman sebelum akhirnya menemukan satu yang paling ingin dinikmati.

    Ada sesuatu yang menyenangkan dari pagi yang dimulai dengan pastry hangat dan minuman favorit. Apalagi ketika suasana Tjihapit di luar ikut menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Tidak harus terburu-buru. Duduk, menikmati gigitan pertama, menyeruput kopi, lalu melihat aktivitas kawasan yang perlahan semakin ramai.

    Slow morning disini terasa lebih seperti menikmati bagaimana sebuah hari dimulai, bukan sekadar mencari tempat untuk sarapan.

    Tempat Bertemu dan Mengobrol Santai

    Little SUGU juga punya karakter yang cocok untuk berkumpul bersama sahabat.

    Meja menjadi titik temu untuk berbagai percakapan. Mulai dari cerita yang sudah lama ingin dibagikan, kabar terbaru dari teman, sampai obrolan sederhana yang awalnya hanya ingin berlangsung sebentar tetapi akhirnya menjadi panjang.

    Suasananya pun tidak terasa terlalu formal. Datang bersama teman, memilih pastry yang berbeda, lalu saling mencicipi pesanan bisa menjadi bagian kecil dari pengalaman yang justru paling mudah diingat.

    “Ada percakapan yang tidak membutuhkan tempat istimewa. Cukup sesuatu yang enak di meja dan orang-orang yang memang ingin ditemui.”

    Singgah Sebentar, Menikmati Suasana Tjihapit

    Salah satu daya tarik Little SUGU adalah bagaimana tempat ini bisa menjadi bagian dari perjalanan ketika sedang berada di Tjihapit.

    Mau mampir sebelum melanjutkan perjalanan, duduk sambil menikmati pastry, atau bertemu teman untuk menghabiskan waktu bersama, semuanya terasa natural.

    Letaknya di kawasan Tjihapit juga membuat pengalaman di Little SUGU tidak berdiri sendiri. Aktivitas di sekitar kawasan, suasana jalan, dan karakter lingkungan menjadi bagian dari cerita ketika seseorang datang ke sini.

    Little SUGU buka dari pagi hingga pukul tiga sore. Waktu tersebut membuatnya terasa dekat dengan momen-momen ketika orang biasanya mencari sarapan, menikmati brunch, atau bertemu sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya.

    Pada akhirnya, Little SUGU bukan hanya tentang apa yang tersaji di etalase. Ada pilihan croissant, percakapan bersama sahabat, dan suasana Tjihapit yang membuat kunjungan terasa seperti bagian alami dari perjalanan hari itu.

    Sebuah tempat untuk mampir, menikmati sesuatu yang disuka, lalu pulang membawa cerita yang sederhana.

  • Bandung Selalu Punya Ruang untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh. Film Dan Bandung Mencoba Menceritakannya.

    Bandung Selalu Punya Ruang untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh. Film Dan Bandung Mencoba Menceritakannya.

    Curioucity.id — Ada alasan mengapa banyak cerita memilih Bandung sebagai tempat untuk pulang. Bukan semata karena udaranya yang sejuk atau jalan-jalan yang mudah dikenang, melainkan karena kota ini seolah memberi ruang bagi orang-orang yang sedang mencari dirinya sendiri.

    Di bangku taman, di kedai kopi yang ramai menjelang senja, atau di trotoar yang mulai lengang setelah hujan, Bandung menyimpan percakapan-percakapan kecil yang jarang terdengar. Tentang anak muda yang sedang jatuh cinta, tentang keluarga yang belum selesai dipahami, hingga tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama menuju kehidupan yang baru.

    Film Dan Bandung, adaptasi novel karya Pidi Baiq yang disutradarai Rudi Soedjarwo, memilih memulai ceritanya dari ruang yang akrab itu. Melalui teaser poster dan trailer yang diperkenalkan di Kota Bandung, film ini menghadirkan kisah dua remaja dengan latar kehidupan berbeda yang dipertemukan oleh cinta, namun diuji oleh lingkungan yang belum tentu menerima mereka.

    “Barangkali sebuah kota tidak dikenang karena gedung-gedungnya. Ia hidup karena cerita yang ditinggalkan orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya.”

    Bandung yang Tidak Sekadar Menjadi Latar

    Dalam banyak film, sebuah kota hanya menjadi pemandangan yang indah untuk dilihat. Namun dari cuplikan perdananya, Dan Bandung memperlakukan Bandung sebagai ruang yang ikut bernapas bersama para tokohnya.

    Sudut-sudut kota tidak hanya mempercantik visual, tetapi menjadi tempat lahirnya percakapan, keraguan, sekaligus keberanian. Kota ini seperti menyimpan jejak langkah Basil dan Elma yang perlahan belajar memahami dunia mereka sendiri.

    Hal itu pula yang membuat Bandung terasa dekat bagi banyak orang. Kita mungkin datang karena suasananya, tetapi sering kali pulang dengan membawa cerita yang tak pernah direncanakan.

    Ketika Persahabatan Menjadi Rumah

    Di balik romansa Basil dan Elma, ada cerita lain yang terasa lebih sunyi.

    Elma adalah seorang remaja perempuan yang tumbuh dibawah pola asuh yang ketat. Ia memikul trauma, rasa takut, dan pertanyaan yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata. Film ini kemudian memperlihatkan bahwa proses bertumbuh tidak selalu dimulai dari hubungan romantis, melainkan dari keberadaan orang-orang yang memilih tetap tinggal ketika hidup terasa berat.

    Persahabatan antar perempuan menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita ini. Mereka bukan sekadar karakter pendukung, melainkan ruang aman yang membuat Elma perlahan berani membuka pintu menuju dunia yang selama ini terasa jauh.

    “Kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang memilih untuk tetap tinggal.”

    Sebuah Cerita Baru dari Pidi Baiq

    Bagi Pidi Baiq, Dan Bandung menawarkan warna yang berbeda dibanding karya-karyanya terdahulu.

    “Berbeda dengan Dilan, Dan Bandung akan membawa cerita yang lebih fresh dan modern untuk anak-anak muda zaman sekarang,” ungkap Pidi Baiq.

    Sementara itu, Rudi Soedjarwo melihat film ini sebagai kisah tentang dua anak muda yang terus memperjuangkan perasaan mereka, meski lingkungan di sekelilingnya belum memberikan ruang yang cukup

    “Film ini akan membawakan cerita yang manis tentang dua anak muda yang tetap berjuang untuk perasaan mereka, walaupun lingkungan di sekitarnya tidak mendukung,” ujar Rudi Soedjarwo.

    Jejak yang Mungkin Tinggal Setelah Film Usai

    Barangkali Dan Bandung bukan hanya tentang romansa beda kasta.

    Film ini mengingatkan bahwa setiap orang pernah berada di fase ketika rumah terasa sempit, dunia terasa asing, dan keberanian datang perlahan melalui orang-orang yang hadir tanpa banyak syarat.

    Mungkin itulah alasan Bandung terus dipilih sebagai tempat bercerita. Kota ini tidak menjanjikan semua persoalan akan selesai. Namun, ia selalu menyediakan ruang bagi siapa saja yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

    Barangkali ketika Dan Bandung hadir di bioskop pada Agustus nanti, yang dibawa pulang penonton bukan hanya kisah cinta Elma dan Basil. Bisa jadi, mereka juga menemukan kembali satu hal yang sering terlupakan:

    “Setiap kota menyimpan cerita, tetapi tidak semua kota mampu membuat seseorang merasa dipeluk saat sedang mencari arah”

  • “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    Curioucity.id — Bandung selalu bergerak. Namun, di antara pergerakan itu, selalu ada ruang yang memilih untuk berjalan lebih lambat

    “Barangkali secangkir kopi bukan tentang mengusir kantuk. Kadang, ia hanya alasan agar seseorang mau berhenti sejenak.”

    Bandung mengenal banyak cara untuk membuat orang terus bergerak. Jalanan yang ramai, daftar pekerjaan yang terus bertambah, hingga percakapan yang datang silih berganti. Hari-hari seperti itu sering kali membuat jeda terasa seperti sesuatu yang mewah.

    Di kawasan Kacapiring, Bandung, ada sebuah ruang yang justru memelihara jeda itu. Namanya COMA—Coffee Matter.

    Nama itu menarik. Dalam dunia bahasa, comma adalah tanda baca yang memberi kesempatan sebuah kalimat mengambil napas sebelum melanjutkan cerita. COMA terasa memiliki gagasan yang serupa: bukan akhir dari perjalanan, melainkan ruang kecil untuk berhenti sebelum melangkah lagi.

    Aroma yang Datang Lebih Dulu

    Pintu terbuka, lalu aroma pastry hangat datang lebih dulu. Setelahnya, wangi kopi yang baru diseduh perlahan mengisi ruang, bercampur dengan percakapan dan aktivitas kecil yang berlangsung di sekitarnya.

    Tidak ada yang terasa berlebihan. Ruangan nyaman untuk ditempati, baik ketika seseorang datang untuk mengobrol maupun ketika hanya ingin punya waktu sendiri.

    Cahaya yang masuk ke dalam ruangan membuat suasananya terasa ringan. Ada meja yang dipenuhi percakapan, ada pula sudut yang cukup tenang untuk sekadar duduk dan membiarkan waktu berjalan.

    Di tempat seperti ini, kenyamanan bukan sesuatu yang perlu diumumkan. Ia terasa dari cara orang-orang bertahan lebih lama dari yang mereka rencanakan.

    Pagi yang Hangat, Sore yang Lebih Riuh

    Menariknya, COMA seperti memiliki dua wajah dalam satu hari.

    Pagi hari terasa lebih tenang. Keluarga datang menikmati waktu bersama, beberapa orang memulai aktivitas dengan kopi dan sarapan, sementara suasana di dalam ruang masih menyimpan ritme yang pelan.

    Menjelang sore, karakternya mulai berubah.

    Anak-anak muda mulai mengisi meja, percakapan menjadi lebih ramai, dan kopi dingin seperti Dirty Latte ikut menemani waktu setelah aktivitas seharian. Bukan keramaian yang membuat sesak, melainkan jenis riuh yang justru terasa akrab.

    “Satu ruang bisa terasa berbeda, tergantung siapa yang datang dan cerita apa yang sedang dibawa.”

    Perubahan itu menjadi salah satu hal menarik dari COMA. Tempat yang sama, tetapi pengalaman yang bisa terasa berbeda hanya karena waktu kedatangan.

    Dari Kopi hingga Butter Teok

    Jeda tentu tidak selalu harus ditemani kopi.

    COMA juga menghadirkan pilihan makanan dengan karakter yang cukup beragam, termasuk Butter Teok dan sejumlah menu fusion yang memadukan berbagai rasa. Pilihannya membuat meja tidak hanya menjadi tempat untuk menaruh secangkir kopi, tetapi juga ruang untuk berbagi makanan dan mencoba sesuatu yang berbeda.

    Butter Teok, misalnya, menjadi salah satu pilihan yang menarik perhatian karena menghadirkan olahan yang tidak terlalu biasa ditemui dalam keseharian kedai kopi.

    Sementara menu fusion lainnya memberikan pilihan yang lebih luas bagi mereka yang datang bukan hanya untuk minum, tetapi juga ingin makan sambil menghabiskan waktu.

    Pada akhirnya, makanan di sini tidak harus menjadi alasan utama untuk datang. Ia bisa menjadi bagian kecil dari percakapan yang berlangsung di atas meja.

    Tempat Nyaman untuk Berhenti Sejenak

    Ada tempat yang nyaman karena desainnya. Ada pula tempat yang terasa nyaman karena cara orang-orang di dalamnya menggunakannya.

    COMA berada di antara keduanya.

    Ruangnya cukup fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Datang bersama keluarga terasa masuk akal, bertemu teman setelah sore yang panjang juga terasa natural, begitu pula duduk sendiri tanpa banyak melakukan apa-apa.

    Tidak ada keharusan untuk terus produktif.

    Laptop boleh terbuka. Buku boleh terbaca setengah halaman. Percakapan pun boleh melebar ke mana-mana.

    Sebuah Tanda Baca di Tengah Kota

    Bandung akan terus bertambah ramai. Tempat-tempat baru akan terus bermunculan, masing-masing dengan cerita dan karakternya sendiri.

    Namun, sesekali kota juga membutuhkan ruang yang tidak meminta siapapun untuk terburu-buru. Ruang yang cukup nyaman untuk membiarkan pikiran beristirahat, percakapan berlangsung apa adanya, dan makanan datang untuk dinikmati tanpa perlu mengejar waktu.

    Mungkin, itulah makna yang diam-diam disimpan COMA.

    Bukan sebuah tujuan akhir.

    Melainkan sebuah tanda baca, tempat seseorang mengambil napas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya sendiri.

  • Wajah Baru Padma Hotel Bandung, Tempat yang Selalu Punya Cerita untuk Kembali

    Wajah Baru Padma Hotel Bandung, Tempat yang Selalu Punya Cerita untuk Kembali

    Curioucity.id – Kita sering menghabiskan waktu mencari destinasi baru setiap kali merencanakan liburan. Seolah tempat yang belum pernah didatangi selalu lebih menarik daripada tempat yang sudah kita kenal. Padahal, ada beberapa tempat yang justru terasa semakin berarti karena kita terus kembali ke sana.

    Bukan karena bangunannya tidak berubah. Bukan pula karena selalu menghadirkan sesuatu yang baru. Melainkan karena setiap kunjungan membawa cerita yang berbeda.

    Di Bandung, Padma Hotel di kawasan Ciumbuleuit adalah salah satu tempat yang memiliki hubungan seperti itu dengan banyak keluarga. Berdiri di antara perbukitan hijau di utara kota, hotel ini telah menjadi bagian dari berbagai momen, mulai dari libur sekolah, perayaan kecil bersama orang terdekat, hingga akhir pekan yang dipilih hanya untuk menikmati waktu bersama. Kini, setelah menghadirkan pembaruan di berbagai fasilitasnya, Padma Hotel Bandung membuka lembar baru tanpa meninggalkan karakter yang selama ini membuat banyak orang ingin kembali.

    “Sebuah tempat tidak selalu dikenang karena kemegahannya. Kadang, ia tinggal lebih lama dalam ingatan karena menjadi saksi dari cerita yang terus bertambah.”

    Setiap Anggota Keluarga Selalu Menemukan Versi Liburannya Sendiri

    Salah satu hal yang menarik dari perjalanan keluarga adalah tidak ada yang benar-benar mencari pengalaman yang sama.

    Anak-anak mungkin lebih dulu berlari menuju kolam renang. Orang tua memilih duduk sambil mengawasi dari kejauhan. Sementara sebagian lainnya merasa cukup menikmati udara Ciumbuleuit yang masih terasa segar.

    Melalui transformasi terbarunya, Padma Hotel Bandung menghadirkan pengalaman yang semakin lengkap. Heated Family Pool dengan seluncuran air memberi ruang bermain bagi anak-anak, sementara Heated Infinity Pool yang kini menggunakan teknologi salt-chlorinated water system serta area jacuzzi yang diperluas menawarkan pengalaman yang berbeda bagi tamu dewasa. Adventure Park pun tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menikmati aktivitas luar ruang bersama keluarga.

    Yang berubah bukan hanya fasilitasnya, tetapi juga semakin banyak kemungkinan cerita yang bisa tercipta di dalamnya.

    Ada Percakapan yang Selalu Dimulai dari Meja Makan

    Hampir setiap perjalanan memiliki satu momen yang sama: semua orang akhirnya berkumpul di satu meja.

    Di sanalah cerita perjalanan dibagikan, tawa muncul tanpa direncanakan, dan rencana untuk esok hari lahir begitu saja.

    Wajah baru The Restaurant menghadirkan pengalaman bersantap yang memadukan hidangan Indonesia dengan sajian autentik Italia, mulai dari pasta artisan hingga pizza yang dipanggang segar setiap hari. Tak jauh dari sana, Goolali Gelato Bar & Patisserie menjadi tempat singgah yang menyenangkan dengan pilihan gelato premium dan pastry artisan

    Mungkin, yang paling diingat bukan hanya apa yang tersaji di atas meja, tetapi siapa yang duduk bersama di sekelilingnya.

    “Beberapa kenangan keluarga tidak lahir dari perjalanan yang jauh. Ia tumbuh dari percakapan sederhana yang terjadi ketika semua orang akhirnya punya waktu untuk berkumpul.”

    Selalu Ada Alasan Baru untuk Kembali

    Tidak ada dua kunjungan yang benar-benar sama.

    Saat libur sekolah, hotel dipenuhi tawa anak-anak yang mengeksplorasi setiap sudut permainan. Ketika musim hujan tiba, lembah Ciumbuleuit menghadirkan lanskap yang berbeda. Menjelang akhir tahun, suasananya kembali berubah menjadi ruang berkumpul bagi keluarga yang ingin menutup tahun bersama.

    Mungkin inilah yang membuat Padma Hotel Bandung tetap memiliki tempat di hati banyak orang.

    Ia terus bertumbuh mengikuti kebutuhan para tamunya, tetapi tidak kehilangan identitas yang membuat orang ingin datang kembali.

    Karena pada akhirnya, sebuah perjalanan bukan hanya tentang menemukan tempat baru. Kadang, perjalanan yang paling berkesan justru membawa kita kembali ke tempat yang sama, untuk menulis cerita yang berbeda bersama orang-orang yang kita sayangi.

  • Bukan Sekadar Menginap: Menemukan Jeda dan Privasi Utuh di PLAATS

    Bukan Sekadar Menginap: Menemukan Jeda dan Privasi Utuh di PLAATS

    Curioucity.id – Ada hari-hari ketika kita tidak ingin pergi terlalu jauh. Tidak sedang mengejar daftar destinasi atau berburu foto untuk dibagikan. Rasanya hanya ingin menemukan tempat yang membuat waktu berjalan sedikit lebih pelan, tanpa banyak distraksi dan tanpa merasa harus terus melakukan sesuatu.

    Di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, PLAATS Hotel menghadirkan pengalaman seperti itu. Sebuah hotel yang sejak pertama kali didatangi sudah memberi kesan bahwa semuanya boleh berlangsung dengan ritme masing-masing.Datang, Masuk, Lalu Nikmati WaktumuHal pertama yang terasa berbeda justru bukan desain bangunannya, melainkan cara mereka menyambut tamu.

    Di PLAATS Hotel, proses self check-in membuat semuanya terasa lebih sederhana. Tidak ada antrean panjang atau prosedur yang membuat kita harus berhenti lebih lama dari yang diperlukan. Tinggal mengikuti instruksi, membuka pintu, lalu membiarkan waktu berjalan dengan sendirinya.

    Kalau sewaktu-waktu membutuhkan bantuan, tim hospitality tetap siap membantu. Namun selebihnya, mereka membiarkan setiap tamu menikmati momennya sendiri.

    “Barangkali, kemewahan hari ini bukan lagi tentang sesuatu yang serba mewah. Melainkan bisa memiliki waktu yang benar-benar terasa milik sendiri.”

    Setiap Kamar Punya Ceritanya Sendiri

    Dari luar, tampilannya memang langsung menarik perhatian. Garis-garis arsitektur yang bersih dipadukan dengan detail artistik yang terasa personal. Bukan tipe bangunan yang ramai oleh dekorasi, tetapi justru menyenangkan untuk diamati sedikit demi sedikit.

    PLAATS Hotel hanya memiliki 14 kamar, dan tidak ada satu pun yang dibuat sama.

    Masing-masing memiliki karakter, tata letak, hingga suasana yang berbeda. Itu sebabnya, menginap untuk kedua kalinya pun tidak akan terasa seperti mengulang pengalaman yang sama. Meski tampil modern dan dekat dengan selera anak muda, atmosfernya tetap terasa hangat untuk pasangan, keluarga, maupun siapa saja yang ingin menikmati waktu tanpa tergesa.

    Saat Musik Menggantikan Notifikasi

    Ada satu detail kecil yang membuat pengalaman menginap terasa semakin personal.

    Di setiap kamar tersedia sebuah vinyl player yang siap dimainkan kapan saja. Cukup letakkan piringan hitam, turunkan jarumnya perlahan, lalu biarkan musik memenuhi sudut-sudut kamar.

    Di sela alunan lagu-lagu R&B yang lembut, mata juga akan menemukan berbagai karya seniman lokal yang menjadi bagian dari interior hotel. Kombinasi keduanya menciptakan suasana yang membuat kita tanpa sadar memilih menaruh ponsel sedikit lebih jauh.

    Pesan Vacation Often yang mereka usung pun terasa masuk akal. Bukan sekadar ajakan untuk lebih sering bepergian, tetapi pengingat bahwa sesekali menikmati waktu tanpa agenda juga sama pentingnya.

    “Sometimes, the best part of a vacation is having nowhere else to be.”

    Tidak semua perjalanan harus dipenuhi banyak tujuan. Kadang, satu sore yang dinikmati tanpa tergesa sudah terasa cukup.

    Ketika Keluar Kamar Bukan Lagi Prioritas

    Padahal, letaknya hanya beberapa langkah dari deretan kedai kopi, restoran, dan berbagai sudut menarik di kawasan Ciumbuleuit.

    Namun anehnya, keinginan untuk keluar justru sering berubah pikiran. Duduk sedikit lebih lama, memutar satu album lagi, berendam di jacuzzi, atau menyiapkan sesuatu di dapur terasa sama menyenangkannya.

    Di titik itu, kamar bukan lagi sekadar tempat untuk tidur setelah seharian bepergian. Ia menjadi bagian dari pengalaman menginap itu sendiri.

    Mungkin memang bukan selalu tentang ke mana kita pergi. Ada kalanya yang dicari hanyalah tempat yang membuat kita bisa menikmati privasi tanpa merasa sendirian, melakukan hal-hal sederhana tanpa terburu-buru, lalu pulang dengan perasaan yang terasa lebih ringan daripada saat datang.

    Dan mungkin, itu alasan mengapa di PLAATS Hotel, keluar kamar bukan lagi sebuah keharusan.

  • Menepi Sejenak di Sudut Kota: Menikmati Waktu dan Cerita di Ground N Gather

    Curioucity.id — Ada kebiasaan kecil yang sering terjadi tanpa disadari. Kita membuat janji bertemu selama satu jam, tetapi pulang dua atau tiga jam kemudian. Bukan karena obrolannya belum selesai, melainkan karena tempatnya terasa terlalu nyaman untuk segera ditinggalkan.

    Perasaan seperti itu terkadang muncul dari tempat-tempat yang tidak banyak membuat kegaduhan. Di kawasan Pasirkaliki, yang sejak pagi hingga malam nyaris selalu dipenuhi lalu lalang kendaraan dan aktivitas, Ground N Gather hadir dengan cara yang sederhana. Ia tidak mencoba mencuri perhatian dari keramaian di sekitarnya, tetapi menawarkan suasana yang membuat orang ingin menikmati waktu sedikit lebih lama.

    “Ada tempat yang membuat kita datang karena lokasi. Ada pula tempat yang membuat kita kembali karena suasananya.”

    Ketika Suasana Menjadi Alasan untuk Singgah

    Begitu memasuki area dalam, ritme di luar perlahan terasa menjauh. Cahaya alami menyelinap melalui jendela, menyentuh permukaan meja kayu yang hangat. Di balik meja bar, aroma kopi yang baru diracik bercampur dengan wangi hidangan yang baru keluar dari dapur.

    Tidak ada kesan yang dibuat berlebihan. Justru detail-detail kecil itulah yang membangun suasana; suara cangkir yang diletakkan di atas meja, percakapan yang mengalir tanpa saling mendominasi, hingga orang-orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing.

    Setiap Meja Menyimpan Ceritanya Sendiri

    Ground N Gather terasa hidup bukan karena ramainya pengunjung, melainkan karena setiap orang membawa tujuan yang berbeda.Ada yang datang untuk memulai hari dengan secangkir kopi. Ada yang menjadikan sudut ruangan sebagai tempat menyelesaikan pekerjaan. Ada pula yang sekadar bertemu teman lama, lalu membiarkan percakapan berkembang tanpa terburu melihat waktu.

    Suasana seperti inilah yang membuat sebuah tempat terasa akrab. Bukan karena semua orang saling mengenal, tetapi karena setiap aktivitas dapat berlangsung berdampingan dengan nyaman.

    Hidangan yang Menemani Momen

    Pilihan makanan di Ground N Gather menghadirkan cita rasa yang dekat dengan keseharian. Sementara kopi dan beragam minuman lain diracik untuk menemani berbagai suasana; dari obrolan santai, pertemuan singkat, hingga waktu yang dinikmati sendirian.

    Tak ada yang terasa berlebihan. Semuanya seperti menemukan porsinya masing-masing, sebagaimana tempat ini membiarkan setiap pengunjung menikmati waktunya dengan cara yang berbeda.

    Pada akhirnya, mungkin itulah yang membuat Ground N Gather memiliki daya tariknya sendiri. Di tengah kawasan Pasirkaliki yang terus bergerak, tempat ini menjadi salah satu sudut yang mengingatkan bahwa tidak semua perjalanan harus dilakukan dengan tergesa.

    Kadang, yang paling diingat dari sebuah kunjungan bukan hanya apa yang tersaji di atas meja, melainkan bagaimana sebuah tempat membuat kita merasa cukup nyaman untuk tinggal sedikit lebih lama.