Category: things to do

  • Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    CuriouCity.id — Sebuah karya seni tidak selalu meminta untuk langsung dimengerti. Kadang, ia hanya mengajak kita berhenti, melihat lebih dekat, lalu menyadari bahwa ada proses panjang di balik sesuatu yang tampak sederhana.

    Hal itu terasa ketika ARTOTEL Suites Aquila Bandung berkolaborasi dengan Pusat Informasi dan Kegiatan – Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK-POTADS) Jawa Barat dalam rangka Bulan Peduli Down Syndrome.

    Sepanjang Oktober 2026, area lobi ARTOTEL Suites Aquila menjadi ruang bagi 10 karya lukisan dan shibori hasil kreativitas anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat. Bukan sekadar memajang hasil karya, kolaborasi ini juga menghadirkan kesempatan untuk mengenal proses, kreativitas, dan cara mereka berekspresi.

    ARTOTEL Suites Aquila Nenjadi Ruang Untuk Berkarya

    Lobi hotel biasanya menjadi tempat orang datang, menunggu, kemudian melanjutkan perjalanan. Kali ini, langkah pengunjung justru bisa terhenti di depan karya-karya yang dibuat oleh anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat.

    Lukisan dan shibori menjadi medium yang memperlihatkan bahwa setiap orang dapat memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan sesuatu.

    Pembukaan pameran pun tidak dibuat hanya sebagai seremoni. Para awak media diajak merasakan langsung proses pembuatan shibori, sehingga karya yang kemudian dipandang di area pameran memiliki cerita yang lebih panjang.

    Sebab sebelum menjadi sebuah pola, kain perlu dilipat, diikat, dijepit, dipelintir, atau dijahit terlebih dahulu.

    Prosesnya sederhana, tetapi hasil akhirnya tidak pernah benar-benar bisa ditebak.

    Dari Kain Yang Dilipat, Lahir Pola Yang Tak Pernah Sama

    Shibori merupakan teknik pewarnaan kain tradisional Jepang. Kain diproses dengan berbagai cara sebelum dicelupkan ke pewarna, kemudian menghasilkan pola yang unik dan tidak beraturan.

    Pengalaman tersebut menjadi bagian menarik dari rangkaian kegiatan karena peserta tidak hanya melihat karya, tetapi ikut memahami bagaimana sebuah karya terbentuk.

    Hal serupa juga dapat dirasakan melalui lukisan yang dipamerkan.

    Yang terlihat pada akhirnya memang sebuah karya. Namun di baliknya ada proses mencoba, memilih, membuat, dan menemukan cara untuk berekspresi.

    Di titik ini, seni menjadi lebih dari sekadar hasil akhir.

    Ia menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai cara sendiri untuk berkarya.

    Ketika Seni Memberi Ruang Untuk Tampil

    Cerita hari itu kemudian bergerak dari karya yang berada di dinding menuju pertunjukan yang berlangsung di hadapan tamu dan awak media.

    Anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat turut menampilkan pertunjukan seni. Musik dan perkusi mengisi ruang, sementara para peserta tampil bersama dengan energi yang terasa jauh dari suasana pameran yang formal.

    Momen seperti ini memperlihatkan sisi lain dari sebuah karya.Bukan hanya tentang apa yang dibuat, tetapi juga tentang keberanian untuk menunjukkannya kepada orang lain.

    Ruang untuk tampil menjadi bagian penting dari proses tersebut. Karena apresiasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk penilaian. Terkadang, apresiasi cukup dimulai dengan memberikan kesempatan seseorang untuk menunjukkan apa yang bisa ia lakukan.

    Kolaborasi ini kemudian mempertemukan seni, komunitas, keluarga, media, dan masyarakat dalam satu ruang yang sama.

    Setiap Karya Membawa Cerita yang Berbeda

    Bagi ARTOTEL Suites Aquila, kolaborasi ini membawa pesan yang lebih luas daripada sebuah pameran.

    Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila, mengatakan bahwa setiap karya memiliki cerita. Karena itu, yang ingin diberikan bukan hanya tempat untuk memajang hasil karya, tetapi ruang agar keberanian, proses, dan kreativitas anak-anak Down Syndrome dapat dilihat serta diapresiasi lebih luas.

    “Bagi kami, setiap karya memiliki cerita.”— Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila

    Kalimat tersebut terasa relevan ketika melihat kembali rangkaian kegiatan hari itu.Sebuah lukisan bukan hanya warna di atas kanvas.

    Shibori bukan hanya pola yang terbentuk setelah kain dicelup.Dan pertunjukan bukan hanya tentang musik yang dimainkan.

    Di balik semuanya, ada proses dan kesempatan untuk berekspresi.Pada akhirnya, mungkin itulah yang ingin diberikan oleh sebuah ruang inklusif: bukan membuat semua orang menjadi sama, tetapi memberikan kesempatan yang sama untuk dilihat, didengar, dan diapresiasi.

    Pameran lukisan dan karya shibori anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat berlangsung sepanjang Oktober 2026 di ARTOTEL Suites Aquila Bandung.

    “Karena setiap karya punya cerita. Tinggal seberapa lama kita bersedia berhenti untuk melihatnya.”

  • 36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    Curioucity.id — Dago selalu punya cara membuat perjalanan terasa sedikit berbeda. Udara yang lebih sejuk, pepohonan di sepanjang jalan, dan suasana kawasan yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian Bandung.

    Di salah satu sudutnya, Sheraton Bandung Hotel & Towers telah menjalani perjalanan selama 36 tahun. Selama itu pula, berbagai orang datang dengan ceritanya masing-masing—keluarga yang menghabiskan waktu bersama, komunitas yang berkumpul, hingga tamu yang menjadikan Bandung sebagai bagian dari perjalanan mereka.

    Pada 2 Oktober 2026, Sheraton Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke-36 dengan tema “36 Years: Bringing People Together.” Perayaannya tidak hanya berlangsung sehari, tetapi hadir melalui rangkaian kegiatan hingga akhir Oktober.

    “Orang datang membawa cerita. Bertemu, berbagi, lalu pulang dengan cerita yang baru.”

    Dari Lobby, Pertemuan Itu Dimulai

    Cerita perayaan 36 tahun Sheraton Bandung dimulai dari sebuah ruang yang setiap hari dilewati banyak orang: lobby.

    Melalui Sheraton Market, area ini berubah menjadi ruang pertemuan dengan hadirnya berbagai produk dan karya dari pelaku usaha lokal. Berlangsung pada 21 September hingga 18 Oktober 2026, Sheraton Market menjadi kesempatan bagi tamu hotel dan masyarakat untuk mengenal sekaligus berinteraksi dengan komunitas dan UMKM.

    Rasanya cukup sederhana. Orang datang untuk melihat-lihat, menemukan sesuatu yang menarik, lalu mungkin berhenti sebentar untuk berbincang.

    Semangat yang sama juga hadir melalui Gatherings by Sheraton yang berlangsung setiap minggu. Berbagai aktivitas komunitas, wellness, dan social gatherings dirancang untuk membuka kesempatan bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi baru.

    Sebuah hotel akhirnya tidak hanya menjadi tempat orang menginap, tetapi juga ruang tempat orang bisa saling menemukan.

    Ada Percakapan di Balik Sebuah Meja

    Cerita tentang kebersamaan juga bisa ditemukan dari hal yang paling sederhana: makan bersama.

    Sepanjang Oktober, Feast Restaurant menghadirkan 36 menu pilihan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Sementara Toastina Pastry & Coffee House menghadirkan pilihan menu dengan penawaran khusus pada 1–5 Oktober 2026.

    Tapi mungkin bukan menunya yang paling menarik untuk diceritakan.
    Melainkan apa yang terjadi setelah makanan tersaji.

    Seseorang mulai bercerita. Yang lain ikut menanggapi. Percakapan yang awalnya sebentar ternyata berlangsung lebih lama.

    Sebab makanan memang sering punya cara sederhana untuk mempertemukan orang. Tidak banyak yang perlu direncanakan ketika beberapa orang sudah duduk di meja yang sama.

    Ketika Waktu Bersama Menjadi Cerita Keluarga

    Perjalanan bersama keluarga juga punya bentuknya sendiri.

    Tidak selalu tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang justru tentang bagaimana satu hari bisa digunakan untuk benar-benar bersama.

    Hal itu menjadi bagian dari Side by Side, program yang dihadirkan Sheraton Bandung untuk keluarga yang menginap. Orang tua dan anak diajak meluangkan waktu untuk bermain, belajar, dan menciptakan momen bersama.

    Ada anak yang sibuk dengan aktivitasnya. Ada orang tua yang menemani. Ada momen-momen kecil yang mungkin tidak terlihat istimewa saat terjadi, tetapi justru menjadi cerita ketika perjalanan itu sudah selesai.

    Termasuk menikmati gelato atau kukis yang menjadi bagian dari paket Family Staycation.

    Bukan soal apa yang didapat, tetapi tentang siapa yang menikmatinya bersama.

    Perayaan 36 Tahun, Berbagi untuk Sesama

    Jika melihat kembali perjalanan selama 36 tahun, mungkin yang paling menarik bukan hanya bagaimana sebuah hotel bertahan selama itu.

    Melainkan berapa banyak pertemuan yang pernah terjadi di dalamnya.

    Keluarga yang datang bersama. Komunitas yang menemukan ruang untuk berkumpul. Orang-orang yang bertemu untuk pertama kalinya. Hingga mereka yang datang untuk memberikan sesuatu bagi orang lain.

    Semangat itu juga hadir melalui kegiatan donor darah Serve 360, yang terbuka untuk umum dan dilakukan bersama Lions Club Bandung serta PMI.

    Pada akhirnya, usia mungkin hanya sebuah angka.

    Yang membuatnya punya arti adalah cerita yang terkumpul di sepanjang perjalanan.

    Dan mungkin, selama 36 tahun berada di Dago, Sheraton Bandung bukan hanya menyimpan cerita tentang tempatnya sendiri.

    Tetapi juga cerita dari orang-orang yang pernah datang, bertemu, menghabiskan waktu, lalu membawa pulang bagian kecil dari pengalaman itu.

    “Ke-36 tahun adalah sebuah perjalanan yang dibangun bersama tamu, associate, komunitas, partner, dan masyarakat. Melalui tema Bringing People Together, kami ingin menjadikan perayaan tahun ini bukan hanya sebagai perayaan usia, tetapi juga sebagai perayaan atas setiap hubungan, cerita, dan momen yang telah tercipta bersama.”— Herinova, General Manager Sheraton Bandung Hotel & Towers

  • Pangandarun 5K & 10K Mengajak Berlari Sambil Mengenal Pesisir Selatan Jawa Barat

    Pangandarun 5K & 10K Mengajak Berlari Sambil Mengenal Pesisir Selatan Jawa Barat

    Curioucity.id – Pangandaran akan punya cara lain untuk memperkenalkan pesisir selatan Jawa Barat pada Oktober mendatang. Kali ini, bukan hanya lewat pantai dan kawasan wisatanya, tetapi melalui lintasan lari yang mempertemukan atlet, komunitas, pelari pemula, hingga masyarakat umum.

    Pangandarun 5K & 10K akan berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026 di Bandar Udara Nusawiru, Kondangjajar, Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Open Tournament Piala Panglima TNI Pangandaran 2026 untuk memperingati HUT TNI ke-81.

    Penyelenggara membawa konsep sport tourism dalam ajang ini. Peserta tidak hanya datang untuk menyelesaikan jarak 5K atau 10K, tetapi juga diajak menikmati Pangandaran sebagai bagian dari perjalanan.
    Olahraga menjadi alasan untuk datang, sementara Pangandaran menjadi bagian dari pengalaman.

    Pangandaran Menjadi Bagian dari Lintasan

    Sebuah lomba lari biasanya selesai ketika peserta melewati garis finish. Namun, Pangandarun ingin membawa pengalaman itu sedikit lebih jauh.

    Mengusung semangat “Berlari untuk Prestasi, Menikmati Pangandaran, Menggerakkan Ekonomi Lokal,” kegiatan ini memadukan olahraga, gaya hidup, pariwisata, dan komunitas.

    Pangandarun terbuka bagi masyarakat umum, pelari pemula, komunitas lari, hingga atlet nasional. Latar kawasan pesisir selatan Pangandaran menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada para peserta.

    Bagi pelari yang datang dari luar daerah, perlombaan juga bisa menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Setelah menyelesaikan lintasan, masih ada Pangandaran yang bisa dinikmati bersama keluarga, teman, maupun komunitas.
    Dengan begitu, kedatangan peserta tidak berhenti pada urusan lomba. Mereka juga punya kesempatan mengenal daerah yang menjadi tuan rumah dengan cara yang berbeda.

    Persiapan, Kemampuan, dan Rasa Senang Saat Berlari

    Menempuh 5K atau 10K tetap membutuhkan persiapan. Stamina dan kondisi fisik menjadi hal yang perlu diperhatikan agar peserta dapat mengikuti lomba dengan baik.

    Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis mengingatkan peserta untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti Pangandarun.

    “Persiapan lari itu penting, perkuat stamina dan pantang menyerah. Siapkan fisik agar bisa melakukan yang terbaik untuk acara Pangandarun 5K & 10K dan menikmati keindahan alam Pesisir Pangandaran, Jawa Barat.”
    —
    Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis

    Persiapan tersebut kemudian bertemu dengan satu hal yang tidak kalah penting: menikmati proses berlari sesuai kemampuan masing-masing.

    Atjong Tio Purwanto melihat pengalaman mengikuti Pangandarun bukan semata-mata soal seberapa cepat seseorang menyelesaikan lintasan. Rasa senang, sehat, dan kemampuan untuk menyelesaikan lari dengan baik juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    “Ketika kita larinya happy, sesuai dengan kemampuan dan tujuannya, senang dan sehat. Bisa finish lari dengan strong dan bahagia, lalu lanjut rekreasi menikmati keindahan alam Pangandaran.”
    —
    Atjong Tio Purwanto

    Dua pesan tersebut bertemu pada satu hal yang sederhana: peserta perlu mempersiapkan diri, tetapi juga menikmati perjalanan yang sedang dijalani.

    Karena tidak semua orang datang dengan target yang sama. Ada yang mengejar prestasi, ada yang ingin menantang diri sendiri, dan ada pula yang ingin merasakan pengalaman berlari di Pangandaran.

    Ketika Pelari dan Komunitas Bertemu di Pangandaran

    Pangandarun juga menjadi ruang pertemuan bagi komunitas lari dari berbagai daerah.

    Komunitas dari Pangandaran, Jawa Barat, Jabodetabek, dan kota-kota lainnya akan menjadi bagian dari kegiatan ini. Kehadiran mereka diharapkan menjadi kesempatan untuk berkumpul, berkompetisi secara sehat, memperluas jejaring, dan membangun ekosistem olahraga yang lebih aktif.

    Selain komunitas, sejumlah tokoh juga dijadwalkan hadir dalam Pangandarun 5K & 10K. Rilis penyelenggara mencantumkan Mayjen TNI Kosasih, Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis, Atjong Tio Purwanto, serta Dian R. Sukmara atau Abah Dian selaku Race Director.

    Pertemuan antara pelari, komunitas, dan para tokoh tersebut membuat Pangandarun tidak hanya berbicara tentang kompetisi. Ada ruang untuk saling bertemu dan berbagi semangat sebelum, selama, maupun setelah perlombaan.
    Pada akhirnya, setiap peserta tetap membawa tujuan masing-masing ke garis start. Namun, mereka akan bertemu dalam lintasan yang sama dan menikmati pengalaman yang sama sebagai bagian dari Pangandarun.

    Setelah Finish, Lanjut Menikmati Indahnya Alam Pangandaran

    Konsep sport tourism yang dibawa Pangandarun juga memiliki kaitan dengan kehidupan di sekitar kawasan.

    Kedatangan peserta dari luar daerah bersama keluarga maupun komunitas berpotensi ikut menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi lokal, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, UMKM, perdagangan, hingga jasa pariwisata.
    Karena itu, garis finish bukan benar-benar akhir dari perjalanan.

    Setelah berlari, peserta masih bisa melanjutkan waktunya di Pangandaran. Menikmati alam, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar beristirahat setelah menyelesaikan lintasan menjadi bagian lain dari pengalaman yang ingin dibangun melalui Pangandarun.
    Pesan yang dibawa penyelenggara pun cukup sederhana:

    “Datang ke Pangandaran untuk berlari. Tinggal lebih lama untuk menikmati Pangandaran.”

    Pada 11 Oktober nanti, garis start di Bandar Udara Nusawiru akan mempertemukan peserta dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang mengejar catatan waktu, ada yang ingin menyelesaikan jarak 5K atau 10K, dan ada pula yang datang bersama komunitas.

    Namun, semuanya akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal Pangandaran dari lintasan.

    Sebuah perjalanan yang dimulai dengan lari, kemudian dilanjutkan dengan menikmati tempat yang menjadi tuan rumahnya.

  • Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Curioucity.id – Akhir pekan bersama keluarga di Bandung punya banyak cara untuk dihabiskan. Bisa mencari tempat makan, jalan-jalan, atau mencari ruang agar anak-anak bisa bermain. Kali ini, olahraga juga bisa menjadi bagian dari waktu bersama.

    Gagasan tersebut coba ditawarkan Basra Gym di Jalan Soekarno-Hatta No. 813, Cinambo, Bandung. Resmi menggelar Grand Opening pada 26 September 2026, Basra Gym hadir dengan konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” dan membawa pendekatan yang sedikit berbeda dari tempat gym pada umumnya.

    Di tempat ini, olahraga menjadi pintu masuk. Setelahnya, ada ruang untuk anak, keluarga, komunitas, sampai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

    Dari Niat Berolahraga, Basra Gym Mengajak Keluarga Melakukannya Bersama

    Pergi ke gym biasanya identik dengan satu tujuan: berolahraga. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan bersama keluarga, kebutuhan setiap orang tentu bisa berbeda.

    Basra Gym mencoba membaca hal tersebut melalui beberapa fasilitas yang berada dalam satu tempat. Area gym dipisahkan untuk ikhwan dan akhwat, sementara anak-anak memiliki Basra Kids dengan kelas fitness khusus serta Children Playground.

    Ada pula area calisthenics outdoor bagi mereka yang ingin berlatih di luar ruangan. Sementara bagi keluarga yang ingin sekadar makan atau berkumpul, Basra Cafe & Resto terbuka untuk umum, termasuk bagi pengunjung yang tidak sedang berolahraga atau tidak memiliki membership.

    Dengan begitu, satu kunjungan tidak harus memiliki aktivitas yang sama untuk semua anggota keluarga. Orang tua bisa berolahraga, anak-anak punya ruang untuk bergerak dan bermain, sementara anggota keluarga lainnya dapat menikmati waktu bersama.

    Ketika Anak Bisa Bermain dan Orang Tua Tetap Punya Ruang untuk Berolahraga

    Membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga sering kali bukan soal membuat semua orang melakukan hal yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana aktivitas tersebut bisa masuk ke dalam rutinitas tanpa terasa sebagai kewajiban yang berat.

    Basra Gym menempatkan keluarga sebagai bagian dari pengalaman itu. Kehadiran Basra Kids dan area bermain membuat anak-anak memiliki aktivitasnya sendiri, sementara orang tua tetap bisa menggunakan fasilitas olahraga.

    Di sisi lain, keberadaan Basra Hall membuka ruang untuk kegiatan yang lebih luas seperti seminar, kajian, dan aktivitas komunitas.

    Dari sini, konsep gym mulai terasa lebih luas. Bukan hanya tempat datang, berlatih, lalu pulang, tetapi ruang yang mencoba mempertemukan beberapa aktivitas dalam keseharian keluarga.

    Grand Opening Basra Gym Mempertemukan Olahraga dan Komunitas Bandung

    Semangat tersebut kemudian dibawa dalam rangkaian Grand Opening Basra Gym pada 26 September 2026.Alih-alih hanya mengandalkan seremoni pembukaan, kegiatan yang disiapkan juga mengajak pengunjung untuk ikut bergerak dan berkegiatan. Ada Fun Run dan Archery Competition, kemudian Seminar & Kajian, serta Community Bazaar.

    Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana Basra Gym ingin memperkenalkan tempatnya melalui aktivitas. Olahraga bertemu komunitas, sementara kegiatan keluarga dan ruang berkumpul menjadi bagian dari suasana pembukaan.

    Sejumlah hadiah dan doorprize juga disiapkan dalam rangkaian Grand Opening, termasuk promo membership khusus pada hari pembukaan.

    Namun, di balik rangkaian tersebut, ada gagasan yang ingin dibawa lebih jauh: menjadikan olahraga sebagai bagian dari perjalanan keluarga untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

    “Lebih Kuat, Lebih Taat” Konsep Yang Dibawa Basra Gym

    Nama Basra Gym tidak hanya membawa gagasan tentang tubuh yang lebih aktif. Konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” menjadi cara mereka menghubungkan kekuatan fisik dengan nilai spiritual.

    Hal tersebut disampaikan Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    “Kami ingin Basra Gym menjadi lebih dari sekadar tempat berolahraga. Ini adalah ruang bagi keluarga Muslim di Bandung untuk membangun kekuatan fisik sekaligus ketaatan spiritual, sejalan dengan semangat ‘Lebih Kuat, Lebih Taat’ yang kami usung,” ujar Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    Pada akhirnya, konsep tersebut kembali pada hal yang cukup dekat dengan keseharian: bagaimana olahraga bisa menjadi kebiasaan, bagaimana keluarga bisa saling mengajak untuk lebih aktif, dan bagaimana sebuah tempat dapat menjadi ruang bertemu bagi komunitas.

    Basra Gym membawa gagasan itu ke Bandung dengan menjadikan aktivitas fisik, keluarga, dan komunitas berada dalam satu pengalaman.

    “Karena menjadi lebih kuat bukan hanya tentang tubuh yang terus bergerak, tetapi juga tentang kebiasaan baik yang tumbuh bersama orang-orang yang kita sayangi.”

  • IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    Curioucity.id — Bandung punya banyak cara untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Ada yang mengajak anak bermain, mencari tempat makan, berjalan-jalan, atau sekadar keluar rumah setelah beberapa hari sibuk dengan rutinitas.

    Karena itu, ketika sebuah pameran keluarga kembali hadir di Bandung, menarik untuk melihatnya bukan hanya sebagai tempat berbelanja. Ada orang tua yang datang membawa kebutuhan, anak-anak yang punya kesenangan sendiri, dan orang-orang yang datang dengan tujuan berbeda tetapi akhirnya bertemu di tempat yang sama.

    Indonesia Mom and Baby and Kids Expo (IMOBY) akan kembali berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Sudirman Grand Ballroom Bandung. Setelah penyelenggaraan pada Februari lalu mendapat antusiasme besar, IMOBY kembali dengan skala yang lebih luas dan menghadirkan sekitar 120 tenant.

    Dari sini, cerita IMOBY di Bandung bisa dilihat lebih dekat. Bukan hanya tentang apa yang ada di dalam pameran, tetapi juga tentang bagaimana keluarga menghabiskan waktu bersama di dalamnya.

    Ada Banyak Alasan Keluarga Datang ke Sudirman Grand Ballroom

    Ketika pergi bersama keluarga, biasanya tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Orang tua mungkin sudah punya barang yang ingin dicari. Anak bisa saja lebih tertarik pada sesuatu yang bisa dilihat dan dimainkan. Ada pula yang sekadar ikut karena ingin menghabiskan waktu bersama.

    IMOBY mempertemukan berbagai kebutuhan itu dalam satu tempat. Tahun ini, sekitar 120 tenant akan hadir membawa produk untuk ibu, bayi, dan anak, termasuk Haloli, Sweety, Merries, Ovikids, Dialogue, dan SHP Toys. Pameran berlangsung selama tiga hari, mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

    Namun, sebuah pameran keluarga tentu tidak hanya terdiri dari deretan produk.

    Ada orang yang datang dengan daftar belanja, lalu menemukan hal lain yang tidak direncanakan. Ada yang awalnya hanya menemani, tetapi akhirnya ikut melihat-lihat. Dan ada anak yang mungkin tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang dicari orang tuanya.

    Di Bandung, IMOBY menjadi salah satu pilihan untuk mempertemukan berbagai kepentingan itu dalam satu akhir pekan.

    Ketika Kebutuhan Ibu dan Anak Bertemu dalam Satu Tempat

    Ada satu hal yang cukup menonjol dari IMOBY tahun ini: perhatian kepada ibu.

    Dalam keseharian keluarga, ibu sering kali menjadi sosok yang memikirkan banyak kebutuhan sekaligus. Ketika datang ke pameran yang memang ditujukan untuk keluarga, mereka tidak hanya ditempatkan sebagai orang yang mencari kebutuhan anak.

    Penyelenggara IMOBY menyebut kenyamanan psikologis dan kebahagiaan ibu sebagai salah satu prioritas acara. Bentuknya antara lain melalui free gift, program belanja, serta hiburan yang juga bisa dinikmati bersama anak.

    “Seorang ibu itu sangat butuh disayangi dan diapresiasi. Di IMOBY, kami tidak hanya sekadar berjualan, tapi kami benar-benar merangkul dan memanjakan mereka.”— Karen Wiraraharja, penyelenggara IMOBY Expo.

    Gagasan tersebut membuat kunjungan ke pameran tidak sepenuhnya berpusat pada kebutuhan anak.

    Ada pula ruang bagi ibu untuk menikmati waktunya sendiri, melihat-lihat sesuatu yang menarik perhatian, atau sekadar menikmati suasana bersama keluarga.Sederhana, tetapi justru dekat dengan keseharian.

    Anak-Anak Punya Agenda Mereka Sendiri

    Bagi anak, alasan datang ke sebuah pameran tentu berbeda.

    Mereka mungkin tidak datang karena ingin melihat produk tertentu. Yang lebih menarik bisa jadi adalah pertunjukan, permainan, atau aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak-anak lainnya.

    IMOBY menyiapkan sejumlah agenda untuk mengisi bagian tersebut. Selain berbagai lomba dan edukatif talkshow, ada special performance dari Babalilitata, Riko The Series, dan Uwa and Friends.

    Dengan begitu, anak tidak sekadar menjadi teman orang tua ketika berbelanja.Mereka punya alasan sendiri untuk menikmati kunjungan.

    Sementara orang tua melihat kebutuhan keluarga, anak bisa mengikuti aktivitas atau menonton pertunjukan. Setelahnya, mereka kembali bertemu dan melanjutkan hari bersama.Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama untuk bisa menikmati satu perjalanan.

    Dari Pengunjung hingga Jastiper, Semua Punya Perannya

    Di balik keluarga yang datang, ada pula kelompok lain yang ikut menjadi bagian dari cerita IMOBY: para pelaku jasa titip atau jastiper.

    Bagi jastiper, sebuah pameran bisa menjadi tempat mencari produk untuk orang lain. Karena itu, penyelenggara melihat mereka bukan sekadar sebagai pembeli dalam jumlah besar, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pameran.

    IMOBY menyiapkan program Top Spender dan doorprize yang dapat diikuti pengunjung umum maupun jastiper. Sementara bagi pengunjung yang berbelanja langsung, ada Gift With Purchase berdasarkan jumlah transaksi.

    Di balik semua itu, terlihat bahwa satu pameran ternyata mempertemukan cukup banyak peran.

    Ada brand yang membawa produknya ke Bandung. Ada orang tua yang mencari kebutuhan keluarga. Ada anak-anak yang datang untuk menikmati hiburan. Ada pula jastiper yang datang membawa kebutuhan orang lain.

    IMOBY juga melakukan kurasi dan rotasi brand agar pilihan produk yang hadir dapat berubah dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya. Untuk produk makanan dan kosmetik, penyelenggara menyebut proses kurasi juga memperhatikan kejelasan logo halal.

    Pada akhirnya, Bandung bukan hanya menjadi lokasi IMOBY 2026, tetapi latar tempat berbagai cerita keluarga itu bertemu.

    Ada yang datang karena memang sedang membutuhkan sesuatu. Ada yang ingin mengajak anak keluar. Ada yang datang untuk melihat-lihat. Ada juga yang menjadikan pameran sebagai bagian dari aktivitas ekonominya.

    Semua hadir dengan alasan masing-masing.

    Dan mungkin, seperti banyak perjalanan keluarga lainnya di Bandung, yang tersisa setelahnya bukan hanya barang yang dibawa pulang, tetapi cerita tentang bagaimana satu hari dihabiskan bersama.

    “Di Bandung, akhir pekan selalu punya banyak cara untuk dinikmati. Kali ini, ceritanya datang dari satu ruang yang mempertemukan keluarga dengan caranya masing-masing.”

  • Memaknai Sound to the Soul dalam Perayaan The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung

    Memaknai Sound to the Soul dalam Perayaan The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung

    Curiocity.id – Bandung punya cara sendiri dalam mendengarkan musik. Di kota ini, jazz tidak hanya hidup di atas panggung, tetapi juga tumbuh melalui pertemuan antar-musisi, komunitas, ruang kreatif, hingga berbagai bentuk kolaborasi yang membuatnya terus menemukan warna baru.

    Cara melihat jazz seperti itu terasa dalam tema “Sound to the Soul” yang dibawa The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026. Memasuki tahun ke-11, festival ini akan berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 di The Papandayan Bandung, dengan rangkaian program yang mempertemukan jazz, soul, fusion, eksplorasi lintas genre, budaya, dan komunitas.

    Bagi sebuah festival yang sudah berjalan lebih dari satu dekade, menarik untuk melihat bagaimana jazz terus dibaca ulang. Bukan hanya melalui siapa yang tampil, tetapi juga melalui lagu yang dipilih, kolaborasi yang dibentuk, dan ruang-ruang baru yang dibuka untuk mempertemukan musik dengan cerita lain di Bandung.

    “Sound to the Soul” Menjadi Cara TPJF 2026 Membaca Jazz

    Ada sesuatu yang menarik dari cara jazz berkembang. Ia tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama untuk tetap terasa sebagai jazz.

    Pada TPJF 2026, sekitar 70 persen program berada dalam spektrum jazz, mulai dari traditional jazz, fusion, soul, hingga eksplorasi lintas genre. Sisanya menjadi ruang bagi berbagai pertemuan musik dan kreativitas lain yang membuat pengalaman festival tidak berhenti pada satu definisi.

    Di sinilah “Sound to the Soul” terasa lebih dari sekadar tema tahunan. Ada upaya untuk melihat musik dari sisi pengalaman: apa yang terjadi ketika sebuah lagu lama dimainkan kembali, ketika jazz bertemu musik elektronik, ketika musisi muda belajar langsung dari seniornya, atau ketika musik bertemu tradisi budaya Bandung.

    Selama dua hari, TPJF 2026 akan menggunakan beberapa ruang di The Papandayan. Kota Baru Parahyangan Stage di Suagi Grand Ballroom menjadi panggung utama, sementara panggung lain tersebar di area festival dengan karakter program yang berbeda.

    Bagi Bandung yang punya sejarah panjang dengan musik dan komunitas kreatifnya, format seperti ini membuat festival terasa seperti sebuah pertemuan. Bukan hanya antara musisi dan penonton, tetapi juga antara berbagai generasi, referensi, dan cara menikmati musik.

    Koes Plus, Frank Sinatra, dan Jazz yang Menemukan Tafsir Baru

    Salah satu cara paling mudah melihat bagaimana jazz terus berubah adalah dengan memperhatikan lagu apa yang dibawanya kembali ke panggung.

    Pada hari pertama, TPJF menghadirkan Tribute to Koes Plus bersama The Gentlemen’s Club dengan Adikara, Bilal Indrajaya, dan Teza Sumendra. Di hari kedua, ada A Night of Frank Sinatra bersama Dwiki Dharmawan & Friends, Dira Sugandi, Dirly Dave, serta Bandung Jazz Orchestra.

    Dua nama tersebut datang dari zaman dan karakter musik yang berbeda. Namun ketika masuk ke dalam ruang jazz, keduanya memiliki kemungkinan untuk dibaca kembali melalui aransemen, vokal, improvisasi, dan karakter musisi yang membawakannya.

    Di titik ini, jazz menjadi semacam bahasa yang memungkinkan lagu lama terdengar kembali tanpa harus kehilangan ingatannya.

    Eksplorasi itu juga muncul melalui sejumlah kolaborasi lain. Ada Diskoria bersama Andien, Freedom Jazz Society bersama Rinni dengan keterlibatan DJ dan produser seperti Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, dan Winky Wiryawan, hingga berbagai kolaborasi di panggung lain yang mempertemukan jazz dengan soul, fusion, elektronik, dan lintas genre.

    Mungkin itu pula yang membuat jazz tidak pernah benar-benar berhenti pada satu bentuk. Ia bisa membawa masa lalu ke masa kini, lalu membiarkan generasi berikutnya memberikan tafsirnya sendiri.

    Ketika Jazz Membuka Ruang untuk Budaya dan Musisi Muda

    Namun cerita TPJF 2026 tidak berhenti pada musisi yang sudah lebih dulu dikenal.

    Di TP Stage, musik menjadi ruang belajar dan apresiasi bagi musisi muda melalui program masterclass bersama Sri Hanuraga dan Tommy Pratomo. Ada pula penampilan sejumlah kelompok dan musisi seperti SND, Dadaks, Yonathan Godjali Quartet, Funky Journal, hingga VMS Art Collective x Artsi bersama Oele Pattiselanno.

    Kemudian di Tropical Garden, Mojang Jajaka Stage membawa pertemuan yang berbeda. Panggung ini melibatkan kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung serta Mojang Jajaka Kota Bandung, bersama sejumlah penampil dan karya yang membawa unsur budaya dari berbagai daerah.

    Ada Barong Bekasi, Galumbira – Panen Durcing Raharja, hingga kolaborasi Ki Dalang Anom bersama Swara Katresna.

    Menariknya, pertemuan tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari festival jazz. Ia justru menjadi bagian dari cara TPJF memperluas percakapan tentang musik dan budaya.

    Karena di Bandung, musik memang sering tumbuh bukan sendirian. Ia hidup bersama komunitas, ruang kreatif, kebiasaan berkumpul, dan orang-orang yang terus mencoba membuat sesuatu yang baru.

    Maka ketika musisi muda bertemu seniornya, musik bertemu budaya, dan komunitas mendapatkan ruang untuk hadir, festival berubah menjadi lebih dari sekadar rangkaian pertunjukan.

    Pasar Jazz dan Cerita yang Berlanjut Setelah Panggung

    Ada bagian dari festival musik yang justru sering terasa setelah seseorang meninggalkan panggung utama.Bisa jadi ketika dua orang berhenti untuk membicarakan penampilan yang baru saja mereka lihat.

    Bisa juga ketika seseorang menemukan rilisan musik, pakaian, instrumen, makanan, atau karya lokal yang sebelumnya tidak mereka kenal.

    TPJF 2026 menempatkan Pasar Jazz di area parkir The Papandayan sebagai salah satu ruang tersebut. Selain aktivitas komunitas dan University Jazz Band, area ini akan diisi puluhan tenant dari kuliner, fashion, lifestyle, merchandise musik, hingga alat dan aksesori musik.

    Ruang seperti ini membuat pengalaman festival tidak memiliki garis akhir yang terlalu tegas. Musik bisa selesai di panggung, tetapi percakapan tentang musik justru dapat berlanjut di tempat lain.

    Pada akhirnya, mungkin itulah bagian paling menarik dari “Sound to the Soul”.

    Bukan tentang seberapa banyak lagu yang berhasil didengar dalam dua hari, melainkan tentang apakah ada satu suara yang ikut pulang bersama kita—entah karena mengingatkan pada sesuatu, memperkenalkan sesuatu yang baru, atau sekadar membuat kita ingin kembali mendengarkan musik dengan cara yang berbeda.

    Dan pada Oktober nanti, Bandung kembali menjadi tempat bagi pertemuan-pertemuan semacam itu.

    “Sebab musik yang sampai ke telinga mungkin berhenti ketika lagu selesai, tetapi yang sampai ke hati bisa tinggal jauh lebih lama.”

  • EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    Curioucity.id — Pagi di Jalan Sumatra biasanya punya ritmenya sendiri. Jalan mulai ramai, beberapa orang datang untuk berolahraga, sementara kawasan di sekitarnya perlahan dipenuhi aktivitas.

    Pada 12 September 2026, ada pemandangan lain di salah satu sudut jalan tersebut.

    Perempuan datang dengan pakaian olahraga. Beberapa mengikuti yoga, sebagian lainnya bersiap untuk fun run dan bersepeda. Di antara keramaian itu, ada ibu yang datang bersama anak-anak, komunitas yang saling menyapa, hingga pengunjung yang kemudian melihat-lihat ke dalam sebuah ruang baru.

    Hari itu adalah pembukaan EIGER Women Flagship Store pertama di Indonesia di Jalan Sumatra, Bandung. Secara bersamaan, toko ini juga menjadi toko EIGER Adventure ke-350 di Indonesia.

    Tetapi kalau hanya melihat angka tersebut, kita mungkin akan melewatkan hal yang justru paling terasa dari pagi itu.

    Pembukaannya tidak terasa seperti orang-orang datang untuk menyaksikan sebuah pintu toko dibuka.

    Rasanya lebih seperti sedang mengikuti sebuah kegiatan bersama.Dan dari sana, cerita tentang EIGER Women Bandung mulai terlihat.

    Ada Kegiatan Yoga Saat EIGER Women Membuka Pintu Pertamanya di Bandung

    Hal pertama yang terasa dari acara pagi itu adalah energi orang-orang yang datang.

    Belum banyak yang sibuk memilih produk. Sebagian justru sudah lebih dulu bergerak.

    Morning yoga menjadi salah satu aktivitas yang mengawali rangkaian acara. Setelahnya, ada women fun run dan bersepeda yang melibatkan perempuan serta komunitas.

    Dari pengamatan sederhana itu, pembukaan EIGER Women terasa punya cara sendiri dalam memperkenalkan ruang barunya.

    Ia tidak buru-buru berbicara tentang apa yang ada di dalam toko.

    Sebaliknya, orang-orang terlebih dahulu diajak merasakan aktivitas yang selama ini begitu dekat dengan identitas EIGER: bergerak, berada di luar ruang, dan melakukan sesuatu bersama.

    Morning yoga menjadi salah satu gambaran paling sederhana.

    Matras terbentang. Orang-orang mengikuti gerakan masing-masing. Suasananya tidak terlalu formal, dan untuk sesaat toko di belakang mereka terasa seperti bagian dari latar sebuah kegiatan pagi di Bandung.

    Dari sini, gagasan tentang perempuan dan perjalanan terasa lebih dekat.

    Agnes Lukito, Head Division EIGER Women & Junior, menyampaikan bahwa perjalanan perempuan tidak hanya tentang mendaki gunung. Ada perjalanan sebagai ibu rumah tangga, perempuan karier, pelajar, maupun seseorang yang sedang mencari passion.

    Ketika melihat orang-orang yang hadir pagi itu, kalimat tersebut terasa cukup masuk akal. Karena yang datang memang bukan hanya mereka yang sedang bersiap menuju alam. Ada perempuan dengan rutinitas dan ceritanya sendiri.

    Ketika Angklung Anak-Anak Ikut Mengisi Hari Pembukaan

    Kemudian suasananya berubah. Di antara aktivitas olahraga dan keramaian pengunjung, anak-anak mengambil bagian dalam acara.

    Angklung terdengar.

    Beberapa anak tampil bersama, sebagian mengenakan busana tradisional Sunda. Orang-orang yang sebelumnya sibuk dengan aktivitas masing-masing kemudian punya alasan untuk berhenti sejenak dan memperhatikan.

    Momen ini terasa menarik karena kehadiran anak-anak membuat pembukaan EIGER Women tidak lagi hanya bercerita tentang perempuan dewasa dan aktivitas outdoor.

    Ada keluarga di dalamnya.

    Ada budaya lokal.

    Ada anak-anak yang mendapatkan ruang untuk tampil.

    Dan ada orang-orang yang datang bukan karena sedang mencari perlengkapan outdoor, tetapi karena ingin menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung hari itu.

    Dalam materi pembukaan, EIGER memang menyebut sejumlah kegiatan yang melibatkan perempuan dan anak-anak, mulai dari workshop kreatif hingga aktivitas khusus perempuan, ibu, dan anak.

    Namun melihat rangkaian itu sebagai satu pengalaman memberikan kesan yang berbeda.

    Ada sesuatu yang terasa lebih cair ketika sebuah toko outdoor dipenuhi aktivitas yang begitu beragam.

    Yoga berlangsung di satu sisi.

    Anak-anak bermain angklung di sisi lainnya.

    Pengunjung melihat-lihat koleksi.

    Komunitas datang dan berinteraksi.

    Semuanya terjadi dalam satu pagi.

    Dan tanpa perlu banyak penjelasan, dari situ terlihat bahwa EIGER Women ingin ruang ini diisi lebih dari sekadar aktivitas jual beli.

    EIGER Women Menyiapkan Ruang untuk Komunitas

    Masuk ke dalam toko, suasananya kembali berubah.

    Rak-rak produk dan perlengkapan outdoor mengingatkan bahwa tempat ini tetap merupakan sebuah flagship store. Tetapi setelah melihat apa yang terjadi di luar, fungsi ruang tersebut terasa seperti memiliki lapisan lain.

    EIGER merancang flagship store Bandung dengan ukuran lebih besar dibandingkan EIGER Women sebelumnya di Surabaya dan Depok. Koleksi perlengkapan outdoor yang tersedia juga dibuat lebih lengkap.

    Tempat ini diharapkan menjadi ruang bagi komunitas outdoor maupun komunitas perempuan. Sebuah tempat untuk berbagi pengalaman, inspirasi, dan semangat pemberdayaan.

    Foto pengunjung yang sedang melihat koleksi mungkin terlihat seperti gambaran paling umum dari sebuah toko.

    Tetapi setelah mengikuti cerita sejak pagi, melihatnya terasa sedikit berbeda.

    Orang-orang yang datang bisa saja awalnya hanya ingin melihat produk.

    Tetapi ruang yang sama memungkinkan mereka bertemu komunitas, mengikuti kegiatan, atau menemukan aktivitas yang sebelumnya tidak terpikirkan.

    Di sinilah konsep “rumah komunitas” yang disebut EIGER mulai terasa lebih konkret. Bukan karena ruangnya harus terlihat seperti rumah, tetapi karena ada upaya untuk membuat orang memiliki alasan lain untuk kembali selain berbelanja.

    Dan Bandung sepertinya menjadi tempat yang tepat untuk percobaan semacam itu.

    Bandung Menjadi Awal Cerita EIGER Women tentang Perjalanan Perempuan

    Pada akhirnya, yang paling menarik dari pembukaan ini bukan bagaimana toko tersebut terlihat.

    Justru orang-orang yang mengisinya yang membuat ceritanya terasa berbeda.

    Ada perempuan yang datang untuk olahraga.

    Ada ibu yang membawa anak.

    Ada anak-anak yang tampil memainkan angklung.

    Ada komunitas yang berkumpul.

    Ada pengunjung yang masuk dan melihat koleksi.

    Mereka semua memiliki alasan yang berbeda untuk berada di Jalan Sumatra pagi itu.

    Perjalanan seorang perempuan bisa berupa perjalanan mencari passion.

    Bisa berupa usaha untuk kembali aktif setelah kesibukan.

    Bisa berupa menemukan komunitas baru.

    Atau sekadar memiliki waktu untuk melakukan sesuatu yang memang disukai.Tidak semuanya terlihat spektakuler.

    Tetapi semuanya tetap merupakan perjalanan.

    Itulah yang terasa ketika melihat pembukaan EIGER Women Flagship Store di Bandung dari dekat.

    Sebuah toko baru memang sedang dibuka.

    Tetapi yang memenuhi ruangnya pagi itu adalah cerita-cerita yang jauh lebih beragam.

    Dan untuk sebuah kota seperti Bandung, mungkin cerita tersebut memang paling tepat dimulai bukan dengan seremoni yang terlalu formal, melainkan dengan orang-orang yang datang, bergerak, berkumpul, lalu perlahan mengisi sebuah ruang dengan kehidupan.

    “Perjalanan perempuan punya banyak bentuk. Kadang ia dimulai dari sebuah langkah kecil, sebuah komunitas, atau sekadar keberanian untuk mencoba.”

  • Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Curioucity.id – Ada cara berbeda untuk melihat Bandung ketika pagi belum benar-benar ramai: menyusuri jalannya dengan berlari.

    Jalan yang biasanya dilewati kendaraan, kawasan yang akrab dengan aktivitas warga, sampai Balai Kota Bandung yang sehari-hari menjadi ruang pemerintahan, tiba-tiba memiliki suasana lain ketika ribuan orang datang dengan nomor peserta di dada dan sepatu lari di kaki.

    Pengalaman seperti ini sudah beberapa kali hadir melalui POCARI SWEAT Run. Pada 2025, Balai Kota Bandung menjadi titik start dan finish, dengan 16.000 pelari mengikuti kategori offline dan lebih dari 30 ribu peserta lainnya berlari secara virtual dari berbagai daerah di Indonesia.

    Namun, mungkin yang membuat POCARI SWEAT Run menarik bukan hanya jumlah orang yang berlari. Ada Bandung yang ikut hadir di sepanjang perjalanan—melalui komunitas, warga, kreativitas, sampai kepedulian terhadap lingkungan.

    Pada 19–20 September 2026, POCARI SWEAT Run kembali hadir di Bandung dengan kategori 10K dan Half Marathon. Kali ini, Bandung menjadi penutup rangkaian POCARI SWEAT Run 2026 sekaligus bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Bandung.

    POCARI SWEAT Run Menemukan Ceritanya di Bandung

    Sebuah rute lari sebenarnya bisa menjadi cara sederhana untuk membaca sebuah kota.

    Pelari tidak hanya melihat angka kilometer di jam tangan, tetapi juga melewati ruang-ruang yang selama ini mungkin hanya dikenal dari balik kaca kendaraan. Ada sudut kota yang terasa berbeda ketika dilalui dengan langkah sendiri, apalagi ketika jalan tersebut dipenuhi orang dengan tujuan yang sama.

    Itulah yang membuat Bandung memiliki cerita tersendiri dalam POCARI SWEAT Run.

    Pada penyelenggaraan 2025, perubahan rute dan waktu start dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan pelari sekaligus masyarakat Bandung. Pemilihan jalur pun melibatkan berbagai unsur pemerintah kota, karena sebuah event sebesar ini pada akhirnya tidak hanya berlangsung di lintasan, tetapi juga bersinggungan langsung dengan kehidupan kota.

    Balai Kota Bandung menjadi salah satu titik yang menarik untuk dibaca dalam cerita tersebut. Ia bukan sekadar tempat berkumpul sebelum berlari, melainkan salah satu ruang yang mempertemukan pelari dengan wajah Bandung sebagai kota.

    Pada 2026, rute kembali dirancang melewati titik-titik ikonik dan kawasan yang memiliki karakter, sehingga peserta dapat melihat sisi Bandung yang kreatif dan dinamis. Dengan dukungan masyarakat dan komunitas lokal di sepanjang jalur, pengalaman berlari pun menjadi lebih dari sekadar berpindah dari satu kilometer ke kilometer berikutnya.

    Barangkali, cara paling sederhana untuk mengenal sebuah kota adalah dengan berjalan cukup pelan untuk melihat siapa saja yang tinggal di dalam ceritanya.

    Ketika Lintasan Bertemu Wajah Bandung

    Jika hanya melihat garis start dan finish, POCARI SWEAT Run mungkin terlihat seperti kumpulan pelari.

    Padahal di sepanjang perjalanan ada banyak cerita lain yang membuat sebuah event bisa terasa hidup.

    Ada komunitas pelari yang menjadikan lari sebagai bagian dari rutinitas. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar catatan waktu, tetapi juga bertemu teman, berlatih bersama, dan menemukan alasan baru untuk tetap aktif.

    Ada pula warga Bandung yang ikut mengambil bagian dari suasana di sekitar rute. Pada 2025, masyarakat diberdayakan untuk terlibat melalui penyediaan kuliner, souvenir, hingga cheering point. Jadi, orang yang tidak ikut berlari pun tetap memiliki ruang untuk menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Di sisi lain, karakter Bandung yang dekat dengan kreativitas membuat kehadiran seni dan komunitas menjadi sesuatu yang terasa natural. Ketika sebuah kota memiliki tradisi berkumpul, berkarya, bermusik, dan membuat sesuatu bersama, event olahraga pun bisa bertemu dengan ekspresi lokal tanpa harus kehilangan identitasnya.

    Kemudian ada masyarakat di sekitar rute yang mungkin tidak mengenakan running shoes, tetapi ikut menyaksikan, menyemangati, dan merasakan perubahan ritme kota selama event berlangsung.

    Di titik ini, POCARI SWEAT Run menjadi semacam pertemuan. Pelari membawa energi olahraga, komunitas membawa kebiasaan, seniman membawa ekspresi, sementara warga membawa kehidupan sehari-hari Bandung ke dalam sebuah perhelatan yang berlangsung hanya beberapa hari.

    Ketika POCARI SWEAT Run Dimulai dari Kebiasaan Sehat

    Pada akhirnya, lari bukan hanya tentang hari perlombaan.Ada hari-hari sebelumnya ketika seseorang mulai berlatih lebih rutin. Ada keputusan untuk tidur lebih cukup, memperhatikan asupan, mengenali kemampuan tubuh, dan tentu saja memahami pentingnya hidrasi.

    POCARI SWEAT sendiri merupakan minuman pengganti ion yang diformulasikan untuk membantu mengembalikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang melalui keringat.

    Karena itu, pengalaman dalam sebuah running event sebenarnya bisa menjadi pengingat tentang hal-hal sederhana yang sering terlupakan ketika hidup berjalan terlalu cepat: tubuh perlu dijaga sebelum diminta bekerja lebih jauh.

    Hal tersebut juga yang membuat komunitas pelari punya peran penting. Kebiasaan hidup sehat sering kali lebih mudah bertahan ketika dilakukan bersama. Ada teman yang mengajak latihan, komunitas yang membuat seseorang kembali berlari, atau sekadar percakapan setelah latihan yang membuat olahraga terasa sebagai bagian dari kehidupan, bukan kewajiban.

    Dari sana, olahraga perlahan bergeser dari aktivitas sesekali menjadi lifestyle.

    Dan mungkin inilah salah satu alasan POCARI SWEAT Run terus berkembang. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014, jumlah pesertanya terus bertumbuh; pada 2025, total partisipasi mencapai 55.435 pelari.

    Sustainability yang Tidak Berhenti di Garis Finish

    Ada satu hal yang menarik dari sebuah event besar: setelah pelari meninggalkan garis finish, apa yang tersisa?

    Pertanyaan itu membawa sustainability ke cerita yang lebih panjang.

    Dalam penyelenggaraan POCARI SWEAT Run, upaya lingkungan telah dilakukan melalui inisiatif “Nol Sampah ke TPA”. Sepanjang 2022–2024, sebanyak 11,4 ton sampah disebut telah berhasil didaur ulang, kemudian pada 2025 komunitas muda Bandung dilibatkan untuk memungut sampah sepanjang rute.

    Tetapi cerita tentang kemasan juga punya perjalanan sendiri.

    Melalui Otsuka Blue Planet, kaleng bekas POCARI SWEAT dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk bank sampah dan komunitas pelari, lalu digunakan sebagai bagian dari instalasi seni bersama seniman lokal. Program ini memperlihatkan bahwa benda yang selesai digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang.

    Di sinilah olahraga, komunitas, seni, dan lingkungan kembali bertemu.

    Satu botol atau kaleng mungkin terlihat seperti benda sehari-hari. Namun ketika masyarakat mulai memilah, mengumpulkan, mengolah, dan melihat kembali nilai dari benda tersebut, sustainability berubah dari sebuah istilah menjadi kebiasaan yang bisa dilakukan dalam kehidupan nyata.

    Begitu pula dengan POCARI SWEAT Run di Bandung.

    Yang tertinggal setelah garis finish bukan hanya angka di race bib atau catatan waktu di smartwatch. Ada jalan-jalan kota yang kembali dilalui kendaraan, komunitas yang pulang membawa cerita, warga yang kembali menjalankan aktivitasnya, dan kebiasaan kecil yang mungkin terus dilakukan setelah event selesai.

    Mungkin itu yang membuat Bandung selalu punya cerita ketika POCARI SWEAT Run kembali hadir.

    Karena yang berlari bukan hanya mereka yang mengenakan nomor peserta. Bandung ikut berlari melalui orang-orangnya.

    “POCARI SWEAT Run mungkin selesai ketika langkah terakhir melewati garis finish. Tetapi bagi Bandung, cerita tentang bergerak, berbagi ruang, dan menjaga lingkungan masih terus berjalan.”

  • Garden Glow, Sebuah Lanskap Malam di Paris Van Java Bandung

    Garden Glow, Sebuah Lanskap Malam di Paris Van Java Bandung

    Curiocity.id — Ada bagian dari Bandung yang baru terasa berbeda ketika matahari mulai turun. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, udara mulai terasa lebih sejuk, dan tempat-tempat yang sebelumnya terlihat biasa saja perlahan mendapatkan suasana yang berbeda.

    Di Sky Level Paris Van Java, perubahan itu hadir melalui Garden Glow. Destinasi wisata malam ini membawa konsep immersive night garden, dengan taman yang dipenuhi instalasi cahaya artistik dan ruang interaktif di dalamnya. Bukan sekadar datang untuk melihat lampu, pengunjung diajak berjalan dari satu instalasi ke instalasi lain, menemukan bentuk, warna, suara, dan pengalaman yang berubah sepanjang perjalanan.

    Tagline “Where Wonder Glows” terasa cukup menggambarkan pengalaman tersebut. Garden Glow seperti membuat malam punya lanskapnya sendiri.

    Saat Taman Mulai Bercerita Lewat Cahaya

    Begitu malam datang, beberapa bagian Garden Glow mulai mengambil perannya masing-masing.

    Ada Tulip Glow, taman tulip yang dibuat bercahaya. Ada Moon Mist dengan bentuk Half Moon, Mirror of Light yang memanfaatkan spot kaca, hingga Luminous Melody, piano menyala yang merespons sentuhan pengunjung melalui nada dan efek cahaya berwarna.

    Rangkaian instalasi ini membuat pengalaman di Garden Glow tidak berhenti pada aktivitas melihat. Ada yang bisa disentuh, dimainkan, dinaiki, atau sekadar dijadikan titik untuk berhenti dan menikmati suasana.

    Salah satu pengalaman yang menarik adalah Dream Balloon. Instalasi ini memungkinkan pengunjung menaiki balon udara untuk melihat Garden Glow dari ketinggian, memberi perspektif lain terhadap taman yang sebelumnya dinikmati dari jalur pejalan kaki.

    Mungkin di sinilah karakter Garden Glow terasa: cahaya tidak hanya ditempatkan sebagai dekorasi, tetapi menjadi bagian dari cara pengunjung bergerak dan berinteraksi dengan ruang.

    Sky Mountain, Sebuah Landmark di Tengah Taman

    Di antara berbagai instalasi yang ada, Sky Mountain menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali.

    Garden Glow menempatkan Sky Mountain sebagai ikon utama sekaligus landmark kawasan. Yang membuatnya berbeda adalah kehadiran LED Show yang menggabungkan cahaya, animasi, dan musik untuk membawa sebuah cerita mengenai penciptaan dunia.

    Dari sini, pengalaman di Garden Glow memiliki lapisan yang sedikit berbeda. Pengunjung tidak hanya berpindah dari satu spot foto ke spot lainnya, tetapi juga menemukan sebuah pertunjukan yang menjadi titik perhatian di tengah perjalanan.

    Tidak mengherankan jika Sky Mountain menjadi salah satu instalasi yang paling banyak diminati. Half Moon, Lorong Cahaya, dan Balon Udara juga termasuk spot yang banyak digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen.

    Namun mungkin menariknya justru bukan pada satu spot tertentu. Garden Glow memberi alasan untuk terus berjalan, karena setiap sudut menawarkan bentuk pengalaman yang berbeda.

    Ketika Bandung Mulai Berubah Setelah Senja

    Ada waktu tertentu ketika sebuah tempat terlihat paling berbeda.

    Bukan saat pertama kali lampunya dinyalakan, tetapi beberapa saat setelahnya, ketika cahaya alami mulai hilang dan warna dari instalasi menjadi lebih jelas.

    Di Garden Glow, perubahan itu bisa diamati dari sore menuju malam. Instalasi yang sama terlihat berbeda ketika masih ada sisa cahaya di langit dan ketika malam sudah sepenuhnya turun.

    Pengunjung pun datang dengan waktu yang berbeda-beda.

    Sebagian datang ketika area mulai dibuka pada pukul 16.00 WIB. Sebagian lainnya baru terlihat ketika malam sudah ramai, terutama setelah pukul 18.00. Akhir pekan biasanya menjadi waktu yang lebih ramai dibandingkan hari biasa.

    Dari satu sudut, terdengar suara anak-anak. Dari sudut lain, orang-orang sedang mengambil gambar. Ada yang berjalan cepat menuju instalasi berikutnya, ada juga yang memilih tinggal sedikit lebih lama di satu tempat.

    Malam akhirnya terasa bukan hanya sebagai latar.
    Ia menjadi bagian dari cara orang melihat ruang tersebut.

    Membiarkan Malam Berjalan dengan Caranya Sendiri

    Garden Glow dikembangkan oleh tim Paris Van Java, termasuk konsep dan instalasi yang berada di dalamnya. Tahun ini, beberapa bagian seperti Piano Menyala dan Dream Balloon hadir bersama instalasi yang sudah menjadi bagian dari rangkaian taman.

    Tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Ada yang lebih tertarik pada bentuk-bentuk cahaya. Ada yang sibuk mencari sudut foto. Ada yang datang bersama keluarga dan membiarkan anak-anak mencoba instalasi interaktif. Ada pula yang sekadar mengikuti jalur taman sambil melihat apa yang ada di depan.

    Mungkin pengalaman di tempat seperti ini memang tidak perlu dijelaskan terlalu jauh.

    Karena sebagian besar ceritanya berlangsung ketika seseorang mulai berjalan.

    Dari tulip yang menyala, menuju lorong cahaya. Dari piano yang mengeluarkan suara ketika disentuh, menuju Sky Mountain yang tiba-tiba menjadi terang. Kemudian kembali berjalan, sementara warna-warna lain masih terlihat dari kejauhan.

    Garden Glow akhirnya terasa seperti sebuah taman yang punya kehidupan berbeda setelah matahari tenggelam.

    Bukan karena malam membuat tempat itu menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi karena cahaya membuat kita melihat ruang yang sama dengan cara yang berbeda

  • Dago untuk Keluarga, dari Menginap di Swiss-Belresort Dago Heritage hingga Bermain di Hompimplay

    Dago untuk Keluarga, dari Menginap di Swiss-Belresort Dago Heritage hingga Bermain di Hompimplay

    Curiocity.id — Membawa keluarga berlibur ke Bandung sering kali berarti membuat daftar yang cukup panjang. Tempat makan, tempat bermain, destinasi yang bisa dikunjungi anak-anak, sampai tempat menginap semuanya perlu dipikirkan supaya satu akhir pekan tetap menyenangkan untuk semua.

    Namun, bagaimana kalau semuanya dimulai dari satu kawasan?

    Di bagian utara Bandung, Dago punya cukup banyak kemungkinan untuk menjadi tempat menghabiskan waktu bersama keluarga. Kawasannya menawarkan suasana yang berbeda dari pusat kota, pilihan aktivitas untuk berbagai usia, sekaligus lanskap Bandung yang membuat perjalanan terasa punya karakter tersendiri.

    Salah satu cara menikmatinya bisa dirangkai melalui Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung dan Hompimplay.

    Bukan dengan membuat itinerary yang terlalu padat, tetapi dengan membiarkan satu perjalanan berisi beberapa hal sederhana: bangun dengan pemandangan pepohonan, sarapan bersama, mengajak anak bermain, lalu kembali ke hotel ketika hari mulai berganti sore.

    A family trip doesn’t have to be complicated. Sometimes, one good destination is enough to start the story.

    Dago Punya Banyak Cara untuk Dinikmati Bersama Keluarga

    Ada alasan mengapa Dago selalu terasa menarik ketika Bandung ingin dinikmati bersama keluarga.

    Semakin menuju Dago Atas, suasana kota perlahan berubah. Pepohonan semakin mudah ditemui, udara terasa lebih sejuk, dan dari beberapa titik, lanskap hijau menjadi bagian dari perjalanan.

    Untuk keluarga, karakter kawasan seperti ini membuat satu hari terasa lebih fleksibel.

    Pagi bisa dimulai dengan sarapan dan menikmati suasana sekitar, siang menjadi waktunya anak-anak bermain, sementara sore tidak harus selalu diisi dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

    Justru di sinilah menariknya merencanakan family getaway di Dago.

    Tidak semua waktu perlu diisi dengan aktivitas. Ada bagian perjalanan yang cukup dinikmati bersama, entah sambil makan, berenang, atau melihat anak-anak masih sibuk dengan dunianya sendiri.

    Dan ketika semuanya berada dalam satu kawasan, perjalanan terasa sedikit lebih mudah untuk dinikmati semua anggota keluarga.

    Dari Pagi di Swiss-Belresort hingga Waktunya Bermain di Hompimplay

    Untuk perjalanan satu malam, tempat menginap bisa menjadi bagian penting dari pengalaman.

    Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung berada di kawasan Dago Atas, di dalam kompleks Dago Heritage Golf Course. Lapangan golf tersebut memiliki sejarah panjang sejak 1917, sehingga suasana di sekitarnya terasa berbeda dari hotel yang berada di tengah kepadatan kota.

    Begitu masuk ke kamar, pemandangan pepohonan menjadi salah satu hal yang langsung menarik perhatian.

    Kamar dengan jendela besar menghadap area hijau membuat pagi di sini punya suasana tersendiri. Setelah sarapan, keluarga bisa menentukan agenda berikutnya tanpa harus buru-buru meninggalkan hotel.

    Untuk anak-anak, kolam renang air hangat dan kids club bisa menjadi pilihan aktivitas di area hotel. Sementara orang tua dapat memanfaatkan waktu dengan fasilitas seperti gym atau spa.

    Lalu ketika waktunya berganti aktivitas, Hompimplay bisa menjadi tujuan berikutnya.

    Di ruang bermain indoor, anak-anak punya tempat untuk bergerak, mencoba berbagai permainan, dan mengikuti rasa penasaran mereka sendiri.

    Ada sesuatu yang menyenangkan dari tempat bermain seperti ini: anak-anak tidak perlu banyak diarahkan untuk menemukan keseruannya.

    Cukup masuk, melihat sekeliling, lalu memilih sendiri permainan mana yang paling membuat mereka penasaran

    Saat Itinerary Tidak Perlu List Panjang

    Setelah beberapa jam bermain, makan siang tentu menjadi agenda berikutnya.

    Namun, perjalanan keluarga tidak selalu membutuhkan perpindahan lokasi setiap beberapa jam. Setelah bermain di Hompimplay, kembali ke Swiss-Belresort Dago Heritage bisa menjadi pilihan untuk melanjutkan hari dengan suasana yang berbeda.

    Swiss-Kitchen dapat menjadi tempat untuk makan, sebelum keluarga kembali menikmati fasilitas hotel.

    Anak-anak bisa kembali berenang atau bermain di kids club. Orang tua pun punya kesempatan untuk mengambil waktu sendiri dengan spa atau sekadar menikmati kamar.

    Detail seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru bisa menjadi bagian dari pengalaman menginap.

    Setelah seharian bermain, ada sesuatu yang menyenangkan dari kembali ke kamar, membuka tirai, lalu melihat pepohonan yang sama seperti ketika pagi tadi.

    Tidak ada keharusan untuk mencari tempat baru.

    Sore bisa berjalan di dalam hotel, makan bersama, atau sekadar membiarkan anak-anak beristirahat setelah puas bermain.

    Untuk perjalanan dua hari satu malam, hari berikutnya pun bisa dibuat sederhana. Sarapan, menikmati suasana hotel, check-out, lalu melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di kawasan Dago.

    Dengan begitu, hotel tidak hanya menjadi tempat untuk tidur, tetapi menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.

    Dago, Ketika Family Getaway Tidak Harus Rumit

    Mungkin itu yang membuat Dago selalu punya tempat sendiri dalam cerita liburan keluarga di Bandung.

    Ada pagi yang dimulai dari balik jendela kamar, ketika pepohonan terlihat lebih dulu sebelum hiruk-pikuk kota. Ada anak-anak yang menemukan keseruannya sendiri di Hompimplay, lalu kembali dengan cerita tentang permainan yang paling mereka sukai hari itu.

    Sementara orang tua punya waktu untuk menikmati hal-hal yang lebih sederhana. Sarapan tanpa terburu-buru, berenang, menikmati makanan, atau sekadar duduk bersama setelah seharian menemani anak bermain.

    Potongan-potongan kecil seperti inilah yang kemudian dipertemukan dalam Stay & Adventure Package 2026 dari Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung bersama Hompimplay.

    Konsepnya sederhana: satu malam di Dago, dengan pengalaman menginap dan bermain yang bisa dinikmati dalam satu perjalanan. Ada sarapan, akses bermain untuk orang dewasa, serta harga khusus untuk tiket anak, sementara beberapa fasilitas di hotel juga memiliki penawaran khusus selama periode program.

    Paket ini tersedia hingga 20 Desember 2026, di luar hari libur nasional dan festive season.

    Tetapi mungkin, hal yang paling menarik justru bukan daftar apa saja yang didapatkan. Melainkan kemungkinan bahwa satu perjalanan keluarga tidak perlu dibuat terlalu penuh untuk terasa menyenangkan.

    Sebab ketika anak punya tempat untuk bermain, orang tua punya ruang untuk menikmati waktu, dan Dago menyediakan suasana yang berbeda dari pusat kota, satu malam pun bisa terasa cukup panjang untuk menciptakan cerita.

    Perhaps a good family trip isn’t about going everywhere, but finding a place where everyone finds something to enjoy. Dan mungkin, kali ini, tempat itu adalah Dago.