Category: things to do

  • Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Curiocity.id — Bandung punya kebiasaan menarik dalam urusan makanan. Sesuatu yang sudah akrab di lidah bisa saja tiba-tiba hadir dalam bentuk berbeda, sementara bahan yang sederhana bisa dipertemukan dengan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

    Mungkin karena itu pula cerita tentang kuliner di kota ini tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada brand yang mencoba, tempat yang membuka ruang, dan kolaborasi yang membuat kita bertanya-tanya, “Kali ini akan jadi seperti apa?”

    Pertanyaan kecil tersebut menemukan jawabannya di Hutanika lewat Kolaborasa Hutanika, kolaborasi kuliner yang mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung selama Agustus hingga September 2026.

    Salah satunya adalah J&C Cookies, yang membawa dua sajian manis: Putri Salju Snow Ice dan Choco Crunchy Mochi.

    “Sometimes, the familiar becomes exciting when we see it from a different angle.”

    Ketika Putri Salju Keluar dari Kotak Kenangan

    Ada makanan yang membawa kita kembali ke suatu waktu hanya lewat satu nama.

    Putri salju mungkin salah satunya. Kue bertabur gula halus ini begitu dekat dengan momen perayaan dan meja keluarga, sampai rasanya kita tidak perlu melihat bentuknya untuk bisa membayangkannya.

    J&C Cookies kemudian mengambil ingatan tersebut dan membawanya ke arah yang berbeda melalui Putri Salju Snow Ice.

    Bukan lagi putri salju yang kita kenal dalam bentuk kue kering, tetapi sebuah sajian yang mengajak rasa familiar tadi bertemu dengan pengalaman baru. Nama lamanya masih ada, tetapi cara menikmatinya berubah.

    Menariknya, perubahan seperti ini tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit.

    Kadang cukup dengan memindahkan sebuah rasa ke konteks yang berbeda, lalu membiarkan orang yang mencobanya menemukan sendiri apa yang berubah.

    Di Hutanika, Putri Salju Snow Ice menjadi salah satu cara J&C Cookies memperkenalkan interpretasinya dalam Kolaborasa Hutanika.

    Cokelat, Mochi, dan Sedikit Kejutan di Gigitan Pertama

    Kalau Putri Salju Snow Ice bermain dengan memori, Choco Crunchy Mochi terasa seperti permainan yang berbeda.

    Dari namanya saja, kita sudah mendapatkan tiga petunjuk: cokelat, mochi, dan sesuatu yang crunchy.

    Mochi memberikan kelembutan, sementara elemen crunchy menghadirkan kontras. Cokelat kemudian menjadi rasa yang menyatukan semuanya.

    Ada kesenangan tersendiri ketika makanan tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga mengajak kita memperhatikan tekstur.

    Gigitan pertama mungkin membuat kita mengenali cokelat. Gigitan berikutnya membuat kita sadar ada sesuatu yang renyah di sana.

    Hal-hal kecil semacam ini yang membuat dessert tidak selalu harus menjadi penutup. Ia bisa menjadi bagian dari pengalaman mencoba sesuatu yang baru.

    Dan kali ini, pengalaman tersebut datang dari J&C Cookies, salah satu brand lokal Bandung yang ikut dalam Kolaborasa Hutanika.

    Lima Brand Bandung Bertemu dalam Satu Meja

    J&C Cookies tentu tidak berjalan sendirian.Kolaborasa Hutanika mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung: Rahsa Nusantara, Maicih, Tahu Tauhid, Cimol Bojot AA, dan J&C Cookies.

    Masing-masing datang dengan karakter yang berbeda.

    J&C Cookies mengambil bagian melalui dua dessert tadi.

    Menariknya, semua karakter tersebut tidak perlu dibuat sama. Justru perbedaannya yang membuat satu meja terasa lebih hidup.

    Hutanika menjadi ruang tempat berbagai rasa tersebut bertemu selama Agustus hingga September 2026, dalam momentum Bulan Kemerdekaan.

    “Different flavors can tell different stories, even when they share the same table.”

    Dari Satu Meja, Kita Bisa Melihat Bandung

    Kalau diperhatikan lebih dekat, kolaborasi seperti ini sebenarnya bercerita lebih banyak daripada sekadar menu baru.Ia memperlihatkan bagaimana brand lokal Bandung terus mencari cara untuk berkembang tanpa harus meninggalkan karakter yang membuat mereka dikenal.

    Ada keberanian untuk mencoba format baru. Ada keinginan mempertemukan produk dengan audiens yang berbeda. Ada pula ruang untuk belajar dari brand lain yang bergerak di bidang yang sama.

    Hutanika, dalam hal ini, bukan hanya menjadi tempat semua menu tersebut tersedia.

    Ia menjadi ruang pertemuan.

    Pengunjung dapat datang untuk makan, tetapi dalam satu kesempatan yang sama mereka bisa menemukan beberapa karakter kuliner lokal sekaligus.

    Dari yang pedas hingga manis. Dari camilan yang sudah familiar hingga menu yang mungkin baru pertama kali kita dengar.

    Bandung hadir bukan sebagai satu rasa.

    Ia hadir sebagai kumpulan banyak rasa yang terus berubah dan berkembang.

    Ternyata Bangga Nusantara Bisa Sesederhana Ini

    Kolaborasa Hutanika hadir dalam rangka menyambut dan merayakan Bulan Kemerdekaan dengan semangat Bangga Nusantara.

    Tetapi ada sesuatu yang menarik dari cara gagasan tersebut diterjemahkan.Tidak harus selalu dalam bentuk seremoni besar.

    Kadang rasa bangga terhadap karya lokal bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: memberi kesempatan sebuah brand untuk berkarya, datang untuk mencoba, kemudian memilih untuk kembali ketika ternyata rasanya cocok.

    J&C Cookies menjadi salah satu bagian dari cerita tersebut.

    Dua dessert yang dibawanya memperlihatkan bahwa kreativitas lokal tidak selalu harus tampil dengan sesuatu yang sepenuhnya asing. Sesuatu yang sudah kita kenal pun masih bisa diolah kembali dan menemukan bentuk baru.

    Begitu pula dengan empat brand lainnya.Ketika semuanya ditempatkan dalam satu ruang, kita mendapatkan gambaran kecil tentang betapa beragamnya cara brand lokal Bandung bercerita melalui makanan.

    Barangkali, Rasa Penasaran Adalah Pesanan Pertama

    Pada akhirnya, kita mungkin tidak datang ke Hutanika dengan niat mencari sebuah cerita.Mungkin hanya ingin makan. Mungkin sedang bertemu teman. Atau mungkin sekadar penasaran dengan menu yang baru dilihat.

    Tetapi justru dari rasa penasaran seperti itulah pengalaman baru biasanya dimulai.

    Putri Salju Snow Ice mungkin membuat kita teringat pada sesuatu yang familiar. Choco Crunchy Mochi mungkin membuat kita ingin tahu bagaimana cokelat, mochi, dan tekstur crunchy bertemu.

    Setelah itu, siapa tahu kita menemukan rasa lain dari empat brand Bandung yang ikut berada di meja yang sama.

    Kolaborasa Hutanika berlangsung selama Agustus hingga September 2026 di Hutanika, Bandung.

    Lima brand lokal. Beragam menu. Satu ruang pertemuan.Dan mungkin, dari semua itu, ada satu pesanan yang awalnya hanya dipilih karena penasaran—lalu diam-diam menjadi menu yang ingin dicoba lagi.

  • Dari Budaya Belanja Bandung ke Kreativitas Lokal, Bandung X Beauty 2026 Menjadi Ruang Pertemuan

    Dari Budaya Belanja Bandung ke Kreativitas Lokal, Bandung X Beauty 2026 Menjadi Ruang Pertemuan

    Curiocity.id — Ada satu kebiasaan yang rasanya sulit dipisahkan dari Bandung: jalan-jalan sambil melihat-lihat sesuatu yang menarik.

    Kadang mulainya dari pakaian. Masuk ke satu toko karena melihat display dari luar, kemudian menemukan brand lokal yang sebelumnya belum pernah dikenal. Dari sana perjalanan bisa berlanjut ke tempat lain, melihat koleksi berbeda, mencicipi makanan, atau sekadar membawa pulang sesuatu yang awalnya tidak ada dalam daftar.

    Belanja di Bandung sering kali bukan hanya soal apa yang ingin dibeli. Ada unsur melihat, menemukan, mencoba, lalu memutuskan.

    Kebiasaan itu pula yang membuat kota ini menarik ketika bicara tentang kecantikan. Sebab di balik banyaknya tempat belanja dan brand lokal yang tumbuh di Bandung, ada kreativitas yang terus mencari bentuk—termasuk melalui produk skincare, makeup, haircare, bodycare, hingga fragrance.

    Di titik inilah Bandung X Beauty 2026 menjadi menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai beauty event, melainkan sebagai ruang untuk melihat bagaimana budaya belanja, kreativitas, dan brand lokal bertemu dalam satu kota.

    Bandung, Tempat Belanja dan Kreativitas Bertemu

    “Bandung sudah lama memiliki hubungan yang dekat dengan kreativitas.”

    Dari fashion dan distro yang pernah menjadi bagian penting dari wajah kota, hingga berbagai brand lokal yang muncul dari studio, toko, rumah produksi, maupun komunitas kecil, ada kebiasaan yang terus berulang: membuat sesuatu sendiri lalu mempertemukannya dengan orang lain.

    Budaya belanja kemudian menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

    Orang datang ke Bandung untuk melihat apa yang sedang dibuat, mencari sesuatu yang berbeda, atau menemukan produk yang mungkin belum mereka kenal sebelumnya. Dalam proses itu, toko dan ruang belanja bukan hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga tempat sebuah karya bertemu dengan orang yang menggunakannya.

    Hal serupa mulai terasa dalam dunia kecantikan.

    Skincare, makeup, fragrance, haircare, dan personal care tidak lagi hanya hadir sebagai produk yang dibeli karena kebutuhan. Di baliknya ada formulasi, kemasan, identitas visual, cara berkomunikasi, sampai keputusan tentang masalah apa yang ingin diselesaikan oleh sebuah produk.

    Bandung X Beauty 2026 datang di tengah cerita tersebut.

    Bukan untuk mengubah cara Bandung berbelanja, tetapi menghadirkan satu ruang tempat kebiasaan itu bisa terlihat dalam bentuk yang berbeda: orang datang, melihat produk secara langsung, mencoba, membandingkan, bertanya, lalu menemukan sesuatu yang mungkin sebelumnya belum masuk dalam daftar.

    Dari Kebiasaan Belanja ke Produk yang Diciptakan

    Ada perbedaan ketika sebuah produk hanya muncul di layar dengan ketika kita berdiri tepat di depannya.

    Tekstur skincare bisa dilihat. Warna makeup bisa dicoba. Fragrance bisa dikenali aromanya. Kita juga bisa bertanya langsung tentang sesuatu yang selama ini hanya dibaca dari kolom deskripsi.

    Di situlah pengalaman berbelanja menjadi lebih dari sekadar checkout.

    Kadang seseorang datang dengan wishlist yang sudah panjang. Namun setelah melihat produk secara langsung, pilihannya bisa berubah. Produk yang sudah lama ingin dibeli ternyata belum tentu cocok, sementara nama yang sebelumnya tidak dikenal justru menarik perhatian.

    Rasa penasaran menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.

    Dan untuk brand, pertemuan langsung seperti ini juga memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu terlihat melalui angka penjualan: bagaimana orang bereaksi ketika melihat produk untuk pertama kalinya, pertanyaan apa yang muncul, dan bagian mana dari sebuah produk yang membuat mereka ingin tahu lebih jauh.

    Bandung X Beauty 2026 membawa pengalaman itu selama tiga hari, 4–6 September 2026, di Trans Convention Centre Bandung, dengan jam acara 10.00–22.00 WIB. Tahun ini, tema “The Wholeness Era” membawa tiga nilai yang menjadi pijakan acara: sustainability, innovation, dan inclusivity.

    Yang lebih menarik adalah apa yang terjadi ketika puluhan ribu orang datang ke satu ruang dengan rasa ingin tahu yang berbeda-beda.

    Brand Lokal Punya Kota untuk Bertumbuh

    Salah satu bagian yang terasa penting dalam Bandung X Beauty 2026 adalah #FDLocalNewcomers.

    Namanya sederhana, tetapi gagasannya cukup dekat dengan karakter Bandung: memberikan kesempatan bagi brand lokal untuk diperkenalkan dan menemukan orang-orang yang mungkin sebelumnya belum pernah mendengar namanya.

    Bagi pengunjung, kehadiran brand baru membuat pengalaman berbelanja tidak berhenti pada nama-nama yang sudah familiar.

    Ada kemungkinan menemukan produk yang lahir dari kota sendiri, mengetahui bagaimana sebuah brand membangun identitasnya, lalu melihat bahwa sesuatu yang dimulai dari Bandung bisa memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang.

    Di sinilah kreativitas lokal menjadi menarik untuk diperhatikan.

    Sebuah produk kecantikan mungkin terlihat sederhana ketika sudah berada di rak. Tetapi sebelum sampai ke sana, ada proses memilih bahan, menyusun formulasi, menentukan kemasan, memikirkan cara penggunaan, hingga mencari bahasa yang tepat untuk berbicara kepada konsumennya.

    Perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita sebuah brand.

    Dalam wawancara mengenai Bandung X Beauty 2026, Putri Tanjung, CEO Trans Digital Lifestyle Group & Female Daily Network, mengatakan bahwa Female Daily ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berbicara tentang kecantikan, tetapi juga kesehatan jiwa dan raga serta komunitas kecantikan.

    “Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda, yang tidak hanya soal kecantikan, tetapi juga pentingnya kesehatan jiwa dan raga, serta membangun komunitas kecantikan.”

    Sementara itu, Berliana Naftali Esmalia, Head of Creative Marketing Female Daily Network, melihat pengalaman beauty sebagai sesuatu yang bisa menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti pada aktivitas berbelanja.

    Karena itu, Bandung X Beauty 2026 juga menghadirkan The Curated Club, yang mempertemukan dunia beauty dengan tenant di luar kategori tersebut, termasuk food dan lifestyle. Ada pula School of Beauty, Male Daily Cave, #FDSustainabeauty Booth, #YourBeautyMission, FD Beauty Review Activity, hingga Future of Beauty Installations.

    Dengan begitu, pengunjung tidak hanya berpindah dari satu booth ke booth lain, tetapi juga melihat bagaimana beauty terus bersinggungan dengan cara hidup yang lebih luas.

    Kecantikan, Kreativitas, dan Cerita yang Tumbuh di Bandung

    Mungkin itu yang membuat Bandung tetap menarik sebagai kota belanja.

    Orang datang bukan hanya karena ada sesuatu yang ingin dibeli, tetapi karena selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang belum direncanakan.

    Dalam konteks kecantikan, kemungkinan tersebut terasa semakin luas. Ada produk yang ingin dicoba, brand yang ingin dikenal, cerita kreator yang ingin dipahami, hingga gagasan baru tentang bagaimana seseorang merawat dan mengenali dirinya sendiri.

    Bandung X Beauty 2026 hadir dalam ruang yang sudah memiliki kebiasaan tersebut.

    Selama tiga hari, Trans Convention Centre Bandung menjadi tempat bertemunya brand, produk, kreator, komunitas, dan pengunjung. Musik dari Hydro Koplo dan Sori Jilleo, aktivitas FD Babes & FD Dudes in The Morning, hingga berbagai program lainnya membuat pengalaman tidak berdiri sendiri.

    Pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak produk yang dibawa pulang.

    Bisa jadi yang lebih menarik adalah menemukan satu brand lokal yang sebelumnya tidak dikenal. Mencoba sebuah produk dan menyadari bahwa ternyata cocok. Atau melihat bagaimana sebuah ide yang tumbuh di Bandung perlahan menemukan jalannya ke lebih banyak orang.

    “Sebab kota yang punya budaya belanja tidak hanya menyediakan tempat untuk membeli. Ia juga memberi ruang bagi orang untuk menemukan, bagi kreator untuk mencoba, dan bagi brand lokal untuk tumbuh.”

  • Kebun ke Kriya Vol. 3: Menghargai Cerita di Balik Kriya Lokal Bandung

    Kebun ke Kriya Vol. 3: Menghargai Cerita di Balik Kriya Lokal Bandung

    Curioucity.id – Kita biasanya membawa pulang tanaman dari kebun. Kali ini, yang dibawa ke kota justru ceritanya.

    Di tengah rutinitas yang kian lekat dengan layar, ada sensasi berbeda ketika kita bisa melihat sebuah karya secara langsung, menyentuh tekstur materialnya, lalu bertegur sapa langsung dengan sang pembuat. Kehangatan inilah yang ditawarkan dalam Kebun ke Kriya Vol. 3, sebuah kolaborasi manis antara Ruang Putih Bandung dan Kabin Kebun yang mempertemukan elemen kebun, kriya, kuliner, serta orang-orang yang masih menaruh cinta pada proses kekaryaan lewat tangan.

    Dari Cisarua, Ceritanya Berawal

    Cerita ini bermula dari Kabin Kebun, sebuah rumah sekaligus kebun keluarga di Kampung Panyandaan, Cisarua, Bandung Barat. Sejak 2016, mereka konsisten memperkenalkan gaya hidup slow living. Dari kebun inilah, apa yang disediakan alam dimanfaatkan kembali, termasuk mengolah material sisa menjadi karya upcycle yang bernilai.

    Dalam Kebun ke Kriya, alam tidak berhenti sebagai sekadar pemandangan pasif yang dinikmati dari jauh. Ia menjelma menjadi sumber ide untuk menciptakan produk, hidangan, hingga cara-cara baru dalam berinteraksi. Konsep ini membawa sesuatu yang segar ke tengah Kota Bandung, bukan sekadar memamerkan produk jadi, melainkan membawa cerita utuh tentang proses dan relasi manusia dengan alamnya.

    Jalan Bungur Bandung Sebagai Ruang Temu

    Cerita dari kebun kemudian bertemu dengan karakter kreatif Jalan Bungur melalui Ruang Putih Bandung.

    Ruang yang berdiri sejak 2010 ini awalnya dikenal sebagai venue musik Blues, Jazz, dan Folks. Seiring waktu, terutama sejak 2024, Ruang Putih berkembang menjadi ekosistem usaha kreatif yang mempertemukan F&B, bunga, pakaian natural, kios kado, hingga kelas seni dan musik.

    Kebun ke Kriya terasa seperti bagian yang natural dari ekosistem tersebut. Karya dari kebun bertemu dengan ruang kreatif kota, lalu menciptakan alasan baru bagi orang Bandung untuk datang, melihat, dan saling mengenal.

    Saat Kriya Bukan Hanya untuk Dilihat

    Pada edisi ketiganya kali ini, Kebun ke Kriya menggandeng delapan artisan kriya dan kuliner lokal, yakni: Mirdik & Leuwi Goeng, Crea Botanica, Pamolahan Sangkuriang, Renjana, Kinkinesia, Mewujud by Kabin Kebun, Nabsye Natural, serta Mulberry.

    Yang membuatnya istimewa, pengalaman di sini tidak berhenti pada sekadar melihat atau bertransaksi. Pengunjung diajak menyelami bagaimana material alam, ketelatenan tangan, dan ide kreatif dilebur menjadi karya yang bisa dibawa pulang. Tak hanya itu, hadir pula sesi Interactive Workshop: Understanding Climate Change bersama Ivan Berkebun yang mengajak pengunjung untuk lebih peka terhadap isu perubahan iklim, sekaligus mendiskusikan langkah-langkah solutif sehari-hari.

    Karya lokal terasa berbeda ketika kita mengenal tangan dan proses di baliknya.

    Menikmati Kriya Lokal, Menghargai Proses di Baliknya

    Mungkin itu yang membuat Kebun ke Kriya terasa dekat dengan karakter Bandung. Kota ini punya banyak ruang tempat karya lokal tumbuh melalui pertemuan, komunitas, dan eksperimen kecil yang berlangsung dari waktu ke waktu. Ruang Putih menjadi salah satu tempat yang menjaga kemungkinan itu tetap terbuka, dengan berbagai kegiatan kreatif dan kolaborasi yang terus berjalan.

    Pada Sabtu, 5 September 2026, cerita dari kebun dan para artisan tersebut hadir dalam Kebun ke Kriya Vol. 3 di Ruang Putih Bandung. Bukan sekadar sebuah tanggal dalam agenda kota, tetapi menjadi satu momen ketika karya, alam, dan orang-orang yang mengerjakannya bisa bertemu secara langsung.

    Kebun ke Kriya kemudian membawa satu hal sederhana untuk diingat: ketika kita membeli atau menikmati sebuah karya, ada baiknya sesekali melihat lebih jauh dari benda yang ada di depan mata.

    Sebab di balik sebuah kriya lokal, bisa saja ada cerita tentang kebun Cisarua, material yang diselamatkan, tangan yang mengolahnya, dan Bandung yang memberi ruang agar cerita itu sampai kepada kita.

  • Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Curiocity.id — Di Tjihapit, pagi punya caranya sendiri untuk terasa hidup. Ada yang datang mencari sarapan, berjalan menyusuri kawasan, bertemu teman, atau sekadar mencari tempat untuk duduk sambil menikmati suasana kota.

    Di antara aktivitas itu, Little SUGU Bakehouse hadir sebagai salah satu sudut yang menarik untuk disinggahi. Bukan karena harus punya alasan khusus untuk datang, tetapi karena suasananya terasa cocok untuk berbagai cerita yang terjadi sepanjang hari.

    “Kadang, tempat yang menyenangkan adalah tempat yang tidak banyak menuntut. Datang, pilih sesuatu yang disuka, lalu biarkan percakapan menemukan arahnya sendiri.”

    Croissant, Kopi, dan Slow Morning di Tjihapit

    Salah satu hal yang langsung menarik perhatian di Little SUGU adalah pilihan croissant dan pastry yang tersedia. Bentuk dan variannya membuat proses memilih pun menjadi bagian dari pengalaman sebelum akhirnya menemukan satu yang paling ingin dinikmati.

    Ada sesuatu yang menyenangkan dari pagi yang dimulai dengan pastry hangat dan minuman favorit. Apalagi ketika suasana Tjihapit di luar ikut menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Tidak harus terburu-buru. Duduk, menikmati gigitan pertama, menyeruput kopi, lalu melihat aktivitas kawasan yang perlahan semakin ramai.

    Slow morning disini terasa lebih seperti menikmati bagaimana sebuah hari dimulai, bukan sekadar mencari tempat untuk sarapan.

    Tempat Bertemu dan Mengobrol Santai

    Little SUGU juga punya karakter yang cocok untuk berkumpul bersama sahabat.

    Meja menjadi titik temu untuk berbagai percakapan. Mulai dari cerita yang sudah lama ingin dibagikan, kabar terbaru dari teman, sampai obrolan sederhana yang awalnya hanya ingin berlangsung sebentar tetapi akhirnya menjadi panjang.

    Suasananya pun tidak terasa terlalu formal. Datang bersama teman, memilih pastry yang berbeda, lalu saling mencicipi pesanan bisa menjadi bagian kecil dari pengalaman yang justru paling mudah diingat.

    “Ada percakapan yang tidak membutuhkan tempat istimewa. Cukup sesuatu yang enak di meja dan orang-orang yang memang ingin ditemui.”

    Singgah Sebentar, Menikmati Suasana Tjihapit

    Salah satu daya tarik Little SUGU adalah bagaimana tempat ini bisa menjadi bagian dari perjalanan ketika sedang berada di Tjihapit.

    Mau mampir sebelum melanjutkan perjalanan, duduk sambil menikmati pastry, atau bertemu teman untuk menghabiskan waktu bersama, semuanya terasa natural.

    Letaknya di kawasan Tjihapit juga membuat pengalaman di Little SUGU tidak berdiri sendiri. Aktivitas di sekitar kawasan, suasana jalan, dan karakter lingkungan menjadi bagian dari cerita ketika seseorang datang ke sini.

    Little SUGU buka dari pagi hingga pukul tiga sore. Waktu tersebut membuatnya terasa dekat dengan momen-momen ketika orang biasanya mencari sarapan, menikmati brunch, atau bertemu sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya.

    Pada akhirnya, Little SUGU bukan hanya tentang apa yang tersaji di etalase. Ada pilihan croissant, percakapan bersama sahabat, dan suasana Tjihapit yang membuat kunjungan terasa seperti bagian alami dari perjalanan hari itu.

    Sebuah tempat untuk mampir, menikmati sesuatu yang disuka, lalu pulang membawa cerita yang sederhana.

  • Bandung Selalu Punya Ruang untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh. Film Dan Bandung Mencoba Menceritakannya.

    Bandung Selalu Punya Ruang untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh. Film Dan Bandung Mencoba Menceritakannya.

    Curioucity.id — Ada alasan mengapa banyak cerita memilih Bandung sebagai tempat untuk pulang. Bukan semata karena udaranya yang sejuk atau jalan-jalan yang mudah dikenang, melainkan karena kota ini seolah memberi ruang bagi orang-orang yang sedang mencari dirinya sendiri.

    Di bangku taman, di kedai kopi yang ramai menjelang senja, atau di trotoar yang mulai lengang setelah hujan, Bandung menyimpan percakapan-percakapan kecil yang jarang terdengar. Tentang anak muda yang sedang jatuh cinta, tentang keluarga yang belum selesai dipahami, hingga tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama menuju kehidupan yang baru.

    Film Dan Bandung, adaptasi novel karya Pidi Baiq yang disutradarai Rudi Soedjarwo, memilih memulai ceritanya dari ruang yang akrab itu. Melalui teaser poster dan trailer yang diperkenalkan di Kota Bandung, film ini menghadirkan kisah dua remaja dengan latar kehidupan berbeda yang dipertemukan oleh cinta, namun diuji oleh lingkungan yang belum tentu menerima mereka.

    “Barangkali sebuah kota tidak dikenang karena gedung-gedungnya. Ia hidup karena cerita yang ditinggalkan orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya.”

    Bandung yang Tidak Sekadar Menjadi Latar

    Dalam banyak film, sebuah kota hanya menjadi pemandangan yang indah untuk dilihat. Namun dari cuplikan perdananya, Dan Bandung memperlakukan Bandung sebagai ruang yang ikut bernapas bersama para tokohnya.

    Sudut-sudut kota tidak hanya mempercantik visual, tetapi menjadi tempat lahirnya percakapan, keraguan, sekaligus keberanian. Kota ini seperti menyimpan jejak langkah Basil dan Elma yang perlahan belajar memahami dunia mereka sendiri.

    Hal itu pula yang membuat Bandung terasa dekat bagi banyak orang. Kita mungkin datang karena suasananya, tetapi sering kali pulang dengan membawa cerita yang tak pernah direncanakan.

    Ketika Persahabatan Menjadi Rumah

    Di balik romansa Basil dan Elma, ada cerita lain yang terasa lebih sunyi.

    Elma adalah seorang remaja perempuan yang tumbuh dibawah pola asuh yang ketat. Ia memikul trauma, rasa takut, dan pertanyaan yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata. Film ini kemudian memperlihatkan bahwa proses bertumbuh tidak selalu dimulai dari hubungan romantis, melainkan dari keberadaan orang-orang yang memilih tetap tinggal ketika hidup terasa berat.

    Persahabatan antar perempuan menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita ini. Mereka bukan sekadar karakter pendukung, melainkan ruang aman yang membuat Elma perlahan berani membuka pintu menuju dunia yang selama ini terasa jauh.

    “Kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang memilih untuk tetap tinggal.”

    Sebuah Cerita Baru dari Pidi Baiq

    Bagi Pidi Baiq, Dan Bandung menawarkan warna yang berbeda dibanding karya-karyanya terdahulu.

    “Berbeda dengan Dilan, Dan Bandung akan membawa cerita yang lebih fresh dan modern untuk anak-anak muda zaman sekarang,” ungkap Pidi Baiq.

    Sementara itu, Rudi Soedjarwo melihat film ini sebagai kisah tentang dua anak muda yang terus memperjuangkan perasaan mereka, meski lingkungan di sekelilingnya belum memberikan ruang yang cukup

    “Film ini akan membawakan cerita yang manis tentang dua anak muda yang tetap berjuang untuk perasaan mereka, walaupun lingkungan di sekitarnya tidak mendukung,” ujar Rudi Soedjarwo.

    Jejak yang Mungkin Tinggal Setelah Film Usai

    Barangkali Dan Bandung bukan hanya tentang romansa beda kasta.

    Film ini mengingatkan bahwa setiap orang pernah berada di fase ketika rumah terasa sempit, dunia terasa asing, dan keberanian datang perlahan melalui orang-orang yang hadir tanpa banyak syarat.

    Mungkin itulah alasan Bandung terus dipilih sebagai tempat bercerita. Kota ini tidak menjanjikan semua persoalan akan selesai. Namun, ia selalu menyediakan ruang bagi siapa saja yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

    Barangkali ketika Dan Bandung hadir di bioskop pada Agustus nanti, yang dibawa pulang penonton bukan hanya kisah cinta Elma dan Basil. Bisa jadi, mereka juga menemukan kembali satu hal yang sering terlupakan:

    “Setiap kota menyimpan cerita, tetapi tidak semua kota mampu membuat seseorang merasa dipeluk saat sedang mencari arah”

  • “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    Curioucity.id — Bandung selalu bergerak. Namun, di antara pergerakan itu, selalu ada ruang yang memilih untuk berjalan lebih lambat

    “Barangkali secangkir kopi bukan tentang mengusir kantuk. Kadang, ia hanya alasan agar seseorang mau berhenti sejenak.”

    Bandung mengenal banyak cara untuk membuat orang terus bergerak. Jalanan yang ramai, daftar pekerjaan yang terus bertambah, hingga percakapan yang datang silih berganti. Hari-hari seperti itu sering kali membuat jeda terasa seperti sesuatu yang mewah.

    Di kawasan Kacapiring, Bandung, ada sebuah ruang yang justru memelihara jeda itu. Namanya COMA—Coffee Matter.

    Nama itu menarik. Dalam dunia bahasa, comma adalah tanda baca yang memberi kesempatan sebuah kalimat mengambil napas sebelum melanjutkan cerita. COMA terasa memiliki gagasan yang serupa: bukan akhir dari perjalanan, melainkan ruang kecil untuk berhenti sebelum melangkah lagi.

    Aroma yang Datang Lebih Dulu

    Pintu terbuka, lalu aroma pastry hangat datang lebih dulu. Setelahnya, wangi kopi yang baru diseduh perlahan mengisi ruang, bercampur dengan percakapan dan aktivitas kecil yang berlangsung di sekitarnya.

    Tidak ada yang terasa berlebihan. Ruangan nyaman untuk ditempati, baik ketika seseorang datang untuk mengobrol maupun ketika hanya ingin punya waktu sendiri.

    Cahaya yang masuk ke dalam ruangan membuat suasananya terasa ringan. Ada meja yang dipenuhi percakapan, ada pula sudut yang cukup tenang untuk sekadar duduk dan membiarkan waktu berjalan.

    Di tempat seperti ini, kenyamanan bukan sesuatu yang perlu diumumkan. Ia terasa dari cara orang-orang bertahan lebih lama dari yang mereka rencanakan.

    Pagi yang Hangat, Sore yang Lebih Riuh

    Menariknya, COMA seperti memiliki dua wajah dalam satu hari.

    Pagi hari terasa lebih tenang. Keluarga datang menikmati waktu bersama, beberapa orang memulai aktivitas dengan kopi dan sarapan, sementara suasana di dalam ruang masih menyimpan ritme yang pelan.

    Menjelang sore, karakternya mulai berubah.

    Anak-anak muda mulai mengisi meja, percakapan menjadi lebih ramai, dan kopi dingin seperti Dirty Latte ikut menemani waktu setelah aktivitas seharian. Bukan keramaian yang membuat sesak, melainkan jenis riuh yang justru terasa akrab.

    “Satu ruang bisa terasa berbeda, tergantung siapa yang datang dan cerita apa yang sedang dibawa.”

    Perubahan itu menjadi salah satu hal menarik dari COMA. Tempat yang sama, tetapi pengalaman yang bisa terasa berbeda hanya karena waktu kedatangan.

    Dari Kopi hingga Butter Teok

    Jeda tentu tidak selalu harus ditemani kopi.

    COMA juga menghadirkan pilihan makanan dengan karakter yang cukup beragam, termasuk Butter Teok dan sejumlah menu fusion yang memadukan berbagai rasa. Pilihannya membuat meja tidak hanya menjadi tempat untuk menaruh secangkir kopi, tetapi juga ruang untuk berbagi makanan dan mencoba sesuatu yang berbeda.

    Butter Teok, misalnya, menjadi salah satu pilihan yang menarik perhatian karena menghadirkan olahan yang tidak terlalu biasa ditemui dalam keseharian kedai kopi.

    Sementara menu fusion lainnya memberikan pilihan yang lebih luas bagi mereka yang datang bukan hanya untuk minum, tetapi juga ingin makan sambil menghabiskan waktu.

    Pada akhirnya, makanan di sini tidak harus menjadi alasan utama untuk datang. Ia bisa menjadi bagian kecil dari percakapan yang berlangsung di atas meja.

    Tempat Nyaman untuk Berhenti Sejenak

    Ada tempat yang nyaman karena desainnya. Ada pula tempat yang terasa nyaman karena cara orang-orang di dalamnya menggunakannya.

    COMA berada di antara keduanya.

    Ruangnya cukup fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Datang bersama keluarga terasa masuk akal, bertemu teman setelah sore yang panjang juga terasa natural, begitu pula duduk sendiri tanpa banyak melakukan apa-apa.

    Tidak ada keharusan untuk terus produktif.

    Laptop boleh terbuka. Buku boleh terbaca setengah halaman. Percakapan pun boleh melebar ke mana-mana.

    Sebuah Tanda Baca di Tengah Kota

    Bandung akan terus bertambah ramai. Tempat-tempat baru akan terus bermunculan, masing-masing dengan cerita dan karakternya sendiri.

    Namun, sesekali kota juga membutuhkan ruang yang tidak meminta siapapun untuk terburu-buru. Ruang yang cukup nyaman untuk membiarkan pikiran beristirahat, percakapan berlangsung apa adanya, dan makanan datang untuk dinikmati tanpa perlu mengejar waktu.

    Mungkin, itulah makna yang diam-diam disimpan COMA.

    Bukan sebuah tujuan akhir.

    Melainkan sebuah tanda baca, tempat seseorang mengambil napas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya sendiri.