⏱ … menit membaca
Daftar Isi

Bandung Selalu Punya Ruang untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh. Film Dan Bandung Mencoba Menceritakannya.

Irma Rahmi Oktaviani Avatar

Curioucity.id — Ada alasan mengapa banyak cerita memilih Bandung sebagai tempat untuk pulang. Bukan semata karena udaranya yang sejuk atau jalan-jalan yang mudah dikenang, melainkan karena kota ini seolah memberi ruang bagi orang-orang yang sedang mencari dirinya sendiri.

Di bangku taman, di kedai kopi yang ramai menjelang senja, atau di trotoar yang mulai lengang setelah hujan, Bandung menyimpan percakapan-percakapan kecil yang jarang terdengar. Tentang anak muda yang sedang jatuh cinta, tentang keluarga yang belum selesai dipahami, hingga tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama menuju kehidupan yang baru.

Film Dan Bandung, adaptasi novel karya Pidi Baiq yang disutradarai Rudi Soedjarwo, memilih memulai ceritanya dari ruang yang akrab itu. Melalui teaser poster dan trailer yang diperkenalkan di Kota Bandung, film ini menghadirkan kisah dua remaja dengan latar kehidupan berbeda yang dipertemukan oleh cinta, namun diuji oleh lingkungan yang belum tentu menerima mereka.

“Barangkali sebuah kota tidak dikenang karena gedung-gedungnya. Ia hidup karena cerita yang ditinggalkan orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya.”

Bandung yang Tidak Sekadar Menjadi Latar

Dalam banyak film, sebuah kota hanya menjadi pemandangan yang indah untuk dilihat. Namun dari cuplikan perdananya, Dan Bandung memperlakukan Bandung sebagai ruang yang ikut bernapas bersama para tokohnya.

Sudut-sudut kota tidak hanya mempercantik visual, tetapi menjadi tempat lahirnya percakapan, keraguan, sekaligus keberanian. Kota ini seperti menyimpan jejak langkah Basil dan Elma yang perlahan belajar memahami dunia mereka sendiri.

Hal itu pula yang membuat Bandung terasa dekat bagi banyak orang. Kita mungkin datang karena suasananya, tetapi sering kali pulang dengan membawa cerita yang tak pernah direncanakan.

Ketika Persahabatan Menjadi Rumah

Di balik romansa Basil dan Elma, ada cerita lain yang terasa lebih sunyi.

Elma adalah seorang remaja perempuan yang tumbuh dibawah pola asuh yang ketat. Ia memikul trauma, rasa takut, dan pertanyaan yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata. Film ini kemudian memperlihatkan bahwa proses bertumbuh tidak selalu dimulai dari hubungan romantis, melainkan dari keberadaan orang-orang yang memilih tetap tinggal ketika hidup terasa berat.

Persahabatan antar perempuan menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita ini. Mereka bukan sekadar karakter pendukung, melainkan ruang aman yang membuat Elma perlahan berani membuka pintu menuju dunia yang selama ini terasa jauh.

“Kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang memilih untuk tetap tinggal.”

Sebuah Cerita Baru dari Pidi Baiq

Bagi Pidi Baiq, Dan Bandung menawarkan warna yang berbeda dibanding karya-karyanya terdahulu.

“Berbeda dengan Dilan, Dan Bandung akan membawa cerita yang lebih fresh dan modern untuk anak-anak muda zaman sekarang,” ungkap Pidi Baiq.

Sementara itu, Rudi Soedjarwo melihat film ini sebagai kisah tentang dua anak muda yang terus memperjuangkan perasaan mereka, meski lingkungan di sekelilingnya belum memberikan ruang yang cukup

“Film ini akan membawakan cerita yang manis tentang dua anak muda yang tetap berjuang untuk perasaan mereka, walaupun lingkungan di sekitarnya tidak mendukung,” ujar Rudi Soedjarwo.

Jejak yang Mungkin Tinggal Setelah Film Usai

Barangkali Dan Bandung bukan hanya tentang romansa beda kasta.

Film ini mengingatkan bahwa setiap orang pernah berada di fase ketika rumah terasa sempit, dunia terasa asing, dan keberanian datang perlahan melalui orang-orang yang hadir tanpa banyak syarat.

Mungkin itulah alasan Bandung terus dipilih sebagai tempat bercerita. Kota ini tidak menjanjikan semua persoalan akan selesai. Namun, ia selalu menyediakan ruang bagi siapa saja yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

Barangkali ketika Dan Bandung hadir di bioskop pada Agustus nanti, yang dibawa pulang penonton bukan hanya kisah cinta Elma dan Basil. Bisa jadi, mereka juga menemukan kembali satu hal yang sering terlupakan:

“Setiap kota menyimpan cerita, tetapi tidak semua kota mampu membuat seseorang merasa dipeluk saat sedang mencari arah”