Tag: #Staycurious

  • 19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    Curioucity.id— Sebuah perjalanan panjang tidak hanya dihitung dari berapa lama waktu berlalu, tetapi juga dari orang-orang yang ikut menjadi bagian di dalamnya. Bagi Amaris Hotel, 19 tahun menjadi penanda perjalanan sebuah brand perhotelan yang tumbuh bersama kebutuhan para traveller akan akomodasi yang praktis, nyaman, dan relevan dengan gaya hidup mereka.

    Perayaan ulang tahun ke-19 Amaris Hotel menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan tersebut. Mengusung semangat Smart Traveller, Smart Hotel, Amaris Hotel tidak hanya berbicara tentang tempat untuk beristirahat, tetapi juga bagaimana pengalaman bepergian bisa terasa lebih mudah bagi generasi yang semakin dinamis.

    Dari Kebutuhan Menginap hingga Gaya Hidup Traveller

    Bepergian kini menjadi bagian dari banyak cerita, mulai dari perjalanan pekerjaan, liburan singkat, hingga kesempatan untuk mengenal kota yang berbeda. Di tengah kebutuhan tersebut, akomodasi yang praktis menjadi salah satu bagian penting dalam merencanakan perjalanan.

    Amaris Hotel hadir dengan konsep Bed & Breakfast yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan bagi para tamunya. Sebagai bagian dari jaringan Santika Indonesia Hotels & Resorts, brand ini terus berkembang mengikuti kebutuhan traveller yang menginginkan pengalaman menginap tanpa banyak kerumitan.

    Hingga 2026, Amaris Hotel telah memiliki 60 unit yang tersebar di lebih dari 40 kota di Indonesia. Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan akan akomodasi yang mudah dijangkau menjadi bagian dari perjalanan banyak orang, baik untuk urusan pekerjaan maupun waktu bersama keluarga.

    Blok M Menjadi Ruang Perayaan yang Lebih Dekat dengan Generasi Muda

    Memasuki usia ke-19, Amaris Hotel memilih menghadirkan perayaan yang lebih interaktif melalui acara bertajuk The Fun Celebration. Kegiatan ini berlangsung pada 26–27 September 2026 di Santika Training Centre, Blok M, Jakarta Selatan.

    Alih-alih hanya menjadi seremoni ulang tahun, acara tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan antara brand dan masyarakat. Pengunjung dapat mencoba berbagai permainan seperti Catch the Stick dan Tornado Cube, menghias eco-tumbler menggunakan stiker, hingga mengabadikan momen di area photo booth.

    Rangkaian aktivitas tersebut membawa suasana perayaan yang lebih santai dan partisipatif. Ada permainan yang menguji ketangkasan, kegiatan kreatif yang bisa dilakukan langsung, serta kesempatan membawa pulang hadiah berupa puluhan voucher menginap di Amaris Hotel di berbagai kota di Indonesia.

    Pemilihan Blok M juga memiliki makna tersendiri. Kawasan ini menjadi salah satu titik pertemuan masyarakat urban dengan beragam aktivitas dan gaya hidup, sekaligus lokasi yang dekat dengan sejarah awal kehadiran Amaris Hotel di Jakarta melalui Amaris Hotel Panglima Polim 1.

    Hadiah dan Penawaran Menjadi Bagian dari Pengalaman

    Di tengah aktivitas perayaan, Amaris Hotel turut menghadirkan penawaran bagi pengunjung yang ingin merencanakan perjalanan berikutnya. Tersedia voucher potongan harga Rp190.000 tanpa minimum transaksi yang dapat digabungkan dengan promo Amaris Payday Sale yang berlangsung pada periode tersebut.

    Kesempatan ini melengkapi pengalaman acara, dari aktivitas yang bisa dinikmati di lokasi hingga pilihan untuk merencanakan perjalanan dengan penawaran yang lebih menarik. Pengunjung dapat mengikuti acara secara gratis dengan mendaftarkan diri sebagai anggota MYVALUE.

    Melalui pendekatan ini, perayaan ulang tahun tidak berhenti pada momen seremonial. Ada kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat layanan Amaris Hotel sekaligus menemukan pilihan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka.

    Menjaga Relevansi di Tengah Perjalanan yang Terus Berubah

    Bagi Amaris Hotel, bertambahnya usia juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan para tamu dan masyarakat. Prita Gero, Corp. Marcomm Manager Santika Indonesia Hotels & Resorts, menyampaikan bahwa perayaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan yang telah menyertai perjalanan brand tersebut.

    “Perjalanan 19 tahun menjadi pencapaian yang berarti bagi Amaris Hotel. Momen ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan para tamu serta seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,” ujar Prita Gero.

    Ia juga menjelaskan bahwa The Fun Celebration dirancang untuk mendekatkan Amaris Hotel dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Harapannya, Amaris Hotel tidak hanya dikenal sebagai penyedia akomodasi yang praktis dan nyaman, tetapi juga menjadi brand yang relevan dengan keseharian serta gaya hidup traveller masa kini.

    “Semua orang diundang ke acara ini dan acara ini gratis. Untuk ikutan keseruannya, tamu cukup mendaftar menjadi member MYVALUE,” tambahnya

    Sembilan belas tahun menjadi bagian dari perjalanan Amaris Hotel sekaligus pengingat bahwa kebutuhan traveller akan terus berkembang. Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang tujuan yang ingin dicapai, kota yang ingin dikenal, atau waktu yang ingin dihabiskan bersama orang-orang terdekat.

    Dan mungkin, relevansi sebuah hotel tidak hanya ditentukan oleh tempat seseorang beristirahat, tetapi juga oleh kemampuannya untuk terus memahami bagaimana orang-orang ingin menjalani perjalanan mereka.

  • 36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    Curioucity.id — Dago selalu punya cara membuat perjalanan terasa sedikit berbeda. Udara yang lebih sejuk, pepohonan di sepanjang jalan, dan suasana kawasan yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian Bandung.

    Di salah satu sudutnya, Sheraton Bandung Hotel & Towers telah menjalani perjalanan selama 36 tahun. Selama itu pula, berbagai orang datang dengan ceritanya masing-masing—keluarga yang menghabiskan waktu bersama, komunitas yang berkumpul, hingga tamu yang menjadikan Bandung sebagai bagian dari perjalanan mereka.

    Pada 2 Oktober 2026, Sheraton Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke-36 dengan tema “36 Years: Bringing People Together.” Perayaannya tidak hanya berlangsung sehari, tetapi hadir melalui rangkaian kegiatan hingga akhir Oktober.

    “Orang datang membawa cerita. Bertemu, berbagi, lalu pulang dengan cerita yang baru.”

    Dari Lobby, Pertemuan Itu Dimulai

    Cerita perayaan 36 tahun Sheraton Bandung dimulai dari sebuah ruang yang setiap hari dilewati banyak orang: lobby.

    Melalui Sheraton Market, area ini berubah menjadi ruang pertemuan dengan hadirnya berbagai produk dan karya dari pelaku usaha lokal. Berlangsung pada 21 September hingga 18 Oktober 2026, Sheraton Market menjadi kesempatan bagi tamu hotel dan masyarakat untuk mengenal sekaligus berinteraksi dengan komunitas dan UMKM.

    Rasanya cukup sederhana. Orang datang untuk melihat-lihat, menemukan sesuatu yang menarik, lalu mungkin berhenti sebentar untuk berbincang.

    Semangat yang sama juga hadir melalui Gatherings by Sheraton yang berlangsung setiap minggu. Berbagai aktivitas komunitas, wellness, dan social gatherings dirancang untuk membuka kesempatan bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi baru.

    Sebuah hotel akhirnya tidak hanya menjadi tempat orang menginap, tetapi juga ruang tempat orang bisa saling menemukan.

    Ada Percakapan di Balik Sebuah Meja

    Cerita tentang kebersamaan juga bisa ditemukan dari hal yang paling sederhana: makan bersama.

    Sepanjang Oktober, Feast Restaurant menghadirkan 36 menu pilihan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Sementara Toastina Pastry & Coffee House menghadirkan pilihan menu dengan penawaran khusus pada 1–5 Oktober 2026.

    Tapi mungkin bukan menunya yang paling menarik untuk diceritakan.
    Melainkan apa yang terjadi setelah makanan tersaji.

    Seseorang mulai bercerita. Yang lain ikut menanggapi. Percakapan yang awalnya sebentar ternyata berlangsung lebih lama.

    Sebab makanan memang sering punya cara sederhana untuk mempertemukan orang. Tidak banyak yang perlu direncanakan ketika beberapa orang sudah duduk di meja yang sama.

    Ketika Waktu Bersama Menjadi Cerita Keluarga

    Perjalanan bersama keluarga juga punya bentuknya sendiri.

    Tidak selalu tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang justru tentang bagaimana satu hari bisa digunakan untuk benar-benar bersama.

    Hal itu menjadi bagian dari Side by Side, program yang dihadirkan Sheraton Bandung untuk keluarga yang menginap. Orang tua dan anak diajak meluangkan waktu untuk bermain, belajar, dan menciptakan momen bersama.

    Ada anak yang sibuk dengan aktivitasnya. Ada orang tua yang menemani. Ada momen-momen kecil yang mungkin tidak terlihat istimewa saat terjadi, tetapi justru menjadi cerita ketika perjalanan itu sudah selesai.

    Termasuk menikmati gelato atau kukis yang menjadi bagian dari paket Family Staycation.

    Bukan soal apa yang didapat, tetapi tentang siapa yang menikmatinya bersama.

    Perayaan 36 Tahun, Berbagi untuk Sesama

    Jika melihat kembali perjalanan selama 36 tahun, mungkin yang paling menarik bukan hanya bagaimana sebuah hotel bertahan selama itu.

    Melainkan berapa banyak pertemuan yang pernah terjadi di dalamnya.

    Keluarga yang datang bersama. Komunitas yang menemukan ruang untuk berkumpul. Orang-orang yang bertemu untuk pertama kalinya. Hingga mereka yang datang untuk memberikan sesuatu bagi orang lain.

    Semangat itu juga hadir melalui kegiatan donor darah Serve 360, yang terbuka untuk umum dan dilakukan bersama Lions Club Bandung serta PMI.

    Pada akhirnya, usia mungkin hanya sebuah angka.

    Yang membuatnya punya arti adalah cerita yang terkumpul di sepanjang perjalanan.

    Dan mungkin, selama 36 tahun berada di Dago, Sheraton Bandung bukan hanya menyimpan cerita tentang tempatnya sendiri.

    Tetapi juga cerita dari orang-orang yang pernah datang, bertemu, menghabiskan waktu, lalu membawa pulang bagian kecil dari pengalaman itu.

    “Ke-36 tahun adalah sebuah perjalanan yang dibangun bersama tamu, associate, komunitas, partner, dan masyarakat. Melalui tema Bringing People Together, kami ingin menjadikan perayaan tahun ini bukan hanya sebagai perayaan usia, tetapi juga sebagai perayaan atas setiap hubungan, cerita, dan momen yang telah tercipta bersama.”— Herinova, General Manager Sheraton Bandung Hotel & Towers

  • Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Curioucity.id – Akhir pekan bersama keluarga di Bandung punya banyak cara untuk dihabiskan. Bisa mencari tempat makan, jalan-jalan, atau mencari ruang agar anak-anak bisa bermain. Kali ini, olahraga juga bisa menjadi bagian dari waktu bersama.

    Gagasan tersebut coba ditawarkan Basra Gym di Jalan Soekarno-Hatta No. 813, Cinambo, Bandung. Resmi menggelar Grand Opening pada 26 September 2026, Basra Gym hadir dengan konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” dan membawa pendekatan yang sedikit berbeda dari tempat gym pada umumnya.

    Di tempat ini, olahraga menjadi pintu masuk. Setelahnya, ada ruang untuk anak, keluarga, komunitas, sampai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

    Dari Niat Berolahraga, Basra Gym Mengajak Keluarga Melakukannya Bersama

    Pergi ke gym biasanya identik dengan satu tujuan: berolahraga. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan bersama keluarga, kebutuhan setiap orang tentu bisa berbeda.

    Basra Gym mencoba membaca hal tersebut melalui beberapa fasilitas yang berada dalam satu tempat. Area gym dipisahkan untuk ikhwan dan akhwat, sementara anak-anak memiliki Basra Kids dengan kelas fitness khusus serta Children Playground.

    Ada pula area calisthenics outdoor bagi mereka yang ingin berlatih di luar ruangan. Sementara bagi keluarga yang ingin sekadar makan atau berkumpul, Basra Cafe & Resto terbuka untuk umum, termasuk bagi pengunjung yang tidak sedang berolahraga atau tidak memiliki membership.

    Dengan begitu, satu kunjungan tidak harus memiliki aktivitas yang sama untuk semua anggota keluarga. Orang tua bisa berolahraga, anak-anak punya ruang untuk bergerak dan bermain, sementara anggota keluarga lainnya dapat menikmati waktu bersama.

    Ketika Anak Bisa Bermain dan Orang Tua Tetap Punya Ruang untuk Berolahraga

    Membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga sering kali bukan soal membuat semua orang melakukan hal yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana aktivitas tersebut bisa masuk ke dalam rutinitas tanpa terasa sebagai kewajiban yang berat.

    Basra Gym menempatkan keluarga sebagai bagian dari pengalaman itu. Kehadiran Basra Kids dan area bermain membuat anak-anak memiliki aktivitasnya sendiri, sementara orang tua tetap bisa menggunakan fasilitas olahraga.

    Di sisi lain, keberadaan Basra Hall membuka ruang untuk kegiatan yang lebih luas seperti seminar, kajian, dan aktivitas komunitas.

    Dari sini, konsep gym mulai terasa lebih luas. Bukan hanya tempat datang, berlatih, lalu pulang, tetapi ruang yang mencoba mempertemukan beberapa aktivitas dalam keseharian keluarga.

    Grand Opening Basra Gym Mempertemukan Olahraga dan Komunitas Bandung

    Semangat tersebut kemudian dibawa dalam rangkaian Grand Opening Basra Gym pada 26 September 2026.Alih-alih hanya mengandalkan seremoni pembukaan, kegiatan yang disiapkan juga mengajak pengunjung untuk ikut bergerak dan berkegiatan. Ada Fun Run dan Archery Competition, kemudian Seminar & Kajian, serta Community Bazaar.

    Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana Basra Gym ingin memperkenalkan tempatnya melalui aktivitas. Olahraga bertemu komunitas, sementara kegiatan keluarga dan ruang berkumpul menjadi bagian dari suasana pembukaan.

    Sejumlah hadiah dan doorprize juga disiapkan dalam rangkaian Grand Opening, termasuk promo membership khusus pada hari pembukaan.

    Namun, di balik rangkaian tersebut, ada gagasan yang ingin dibawa lebih jauh: menjadikan olahraga sebagai bagian dari perjalanan keluarga untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

    “Lebih Kuat, Lebih Taat” Konsep Yang Dibawa Basra Gym

    Nama Basra Gym tidak hanya membawa gagasan tentang tubuh yang lebih aktif. Konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” menjadi cara mereka menghubungkan kekuatan fisik dengan nilai spiritual.

    Hal tersebut disampaikan Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    “Kami ingin Basra Gym menjadi lebih dari sekadar tempat berolahraga. Ini adalah ruang bagi keluarga Muslim di Bandung untuk membangun kekuatan fisik sekaligus ketaatan spiritual, sejalan dengan semangat ‘Lebih Kuat, Lebih Taat’ yang kami usung,” ujar Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    Pada akhirnya, konsep tersebut kembali pada hal yang cukup dekat dengan keseharian: bagaimana olahraga bisa menjadi kebiasaan, bagaimana keluarga bisa saling mengajak untuk lebih aktif, dan bagaimana sebuah tempat dapat menjadi ruang bertemu bagi komunitas.

    Basra Gym membawa gagasan itu ke Bandung dengan menjadikan aktivitas fisik, keluarga, dan komunitas berada dalam satu pengalaman.

    “Karena menjadi lebih kuat bukan hanya tentang tubuh yang terus bergerak, tetapi juga tentang kebiasaan baik yang tumbuh bersama orang-orang yang kita sayangi.”

  • IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    Curioucity.id — Bandung punya banyak cara untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Ada yang mengajak anak bermain, mencari tempat makan, berjalan-jalan, atau sekadar keluar rumah setelah beberapa hari sibuk dengan rutinitas.

    Karena itu, ketika sebuah pameran keluarga kembali hadir di Bandung, menarik untuk melihatnya bukan hanya sebagai tempat berbelanja. Ada orang tua yang datang membawa kebutuhan, anak-anak yang punya kesenangan sendiri, dan orang-orang yang datang dengan tujuan berbeda tetapi akhirnya bertemu di tempat yang sama.

    Indonesia Mom and Baby and Kids Expo (IMOBY) akan kembali berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Sudirman Grand Ballroom Bandung. Setelah penyelenggaraan pada Februari lalu mendapat antusiasme besar, IMOBY kembali dengan skala yang lebih luas dan menghadirkan sekitar 120 tenant.

    Dari sini, cerita IMOBY di Bandung bisa dilihat lebih dekat. Bukan hanya tentang apa yang ada di dalam pameran, tetapi juga tentang bagaimana keluarga menghabiskan waktu bersama di dalamnya.

    Ada Banyak Alasan Keluarga Datang ke Sudirman Grand Ballroom

    Ketika pergi bersama keluarga, biasanya tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Orang tua mungkin sudah punya barang yang ingin dicari. Anak bisa saja lebih tertarik pada sesuatu yang bisa dilihat dan dimainkan. Ada pula yang sekadar ikut karena ingin menghabiskan waktu bersama.

    IMOBY mempertemukan berbagai kebutuhan itu dalam satu tempat. Tahun ini, sekitar 120 tenant akan hadir membawa produk untuk ibu, bayi, dan anak, termasuk Haloli, Sweety, Merries, Ovikids, Dialogue, dan SHP Toys. Pameran berlangsung selama tiga hari, mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

    Namun, sebuah pameran keluarga tentu tidak hanya terdiri dari deretan produk.

    Ada orang yang datang dengan daftar belanja, lalu menemukan hal lain yang tidak direncanakan. Ada yang awalnya hanya menemani, tetapi akhirnya ikut melihat-lihat. Dan ada anak yang mungkin tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang dicari orang tuanya.

    Di Bandung, IMOBY menjadi salah satu pilihan untuk mempertemukan berbagai kepentingan itu dalam satu akhir pekan.

    Ketika Kebutuhan Ibu dan Anak Bertemu dalam Satu Tempat

    Ada satu hal yang cukup menonjol dari IMOBY tahun ini: perhatian kepada ibu.

    Dalam keseharian keluarga, ibu sering kali menjadi sosok yang memikirkan banyak kebutuhan sekaligus. Ketika datang ke pameran yang memang ditujukan untuk keluarga, mereka tidak hanya ditempatkan sebagai orang yang mencari kebutuhan anak.

    Penyelenggara IMOBY menyebut kenyamanan psikologis dan kebahagiaan ibu sebagai salah satu prioritas acara. Bentuknya antara lain melalui free gift, program belanja, serta hiburan yang juga bisa dinikmati bersama anak.

    “Seorang ibu itu sangat butuh disayangi dan diapresiasi. Di IMOBY, kami tidak hanya sekadar berjualan, tapi kami benar-benar merangkul dan memanjakan mereka.”— Karen Wiraraharja, penyelenggara IMOBY Expo.

    Gagasan tersebut membuat kunjungan ke pameran tidak sepenuhnya berpusat pada kebutuhan anak.

    Ada pula ruang bagi ibu untuk menikmati waktunya sendiri, melihat-lihat sesuatu yang menarik perhatian, atau sekadar menikmati suasana bersama keluarga.Sederhana, tetapi justru dekat dengan keseharian.

    Anak-Anak Punya Agenda Mereka Sendiri

    Bagi anak, alasan datang ke sebuah pameran tentu berbeda.

    Mereka mungkin tidak datang karena ingin melihat produk tertentu. Yang lebih menarik bisa jadi adalah pertunjukan, permainan, atau aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak-anak lainnya.

    IMOBY menyiapkan sejumlah agenda untuk mengisi bagian tersebut. Selain berbagai lomba dan edukatif talkshow, ada special performance dari Babalilitata, Riko The Series, dan Uwa and Friends.

    Dengan begitu, anak tidak sekadar menjadi teman orang tua ketika berbelanja.Mereka punya alasan sendiri untuk menikmati kunjungan.

    Sementara orang tua melihat kebutuhan keluarga, anak bisa mengikuti aktivitas atau menonton pertunjukan. Setelahnya, mereka kembali bertemu dan melanjutkan hari bersama.Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama untuk bisa menikmati satu perjalanan.

    Dari Pengunjung hingga Jastiper, Semua Punya Perannya

    Di balik keluarga yang datang, ada pula kelompok lain yang ikut menjadi bagian dari cerita IMOBY: para pelaku jasa titip atau jastiper.

    Bagi jastiper, sebuah pameran bisa menjadi tempat mencari produk untuk orang lain. Karena itu, penyelenggara melihat mereka bukan sekadar sebagai pembeli dalam jumlah besar, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pameran.

    IMOBY menyiapkan program Top Spender dan doorprize yang dapat diikuti pengunjung umum maupun jastiper. Sementara bagi pengunjung yang berbelanja langsung, ada Gift With Purchase berdasarkan jumlah transaksi.

    Di balik semua itu, terlihat bahwa satu pameran ternyata mempertemukan cukup banyak peran.

    Ada brand yang membawa produknya ke Bandung. Ada orang tua yang mencari kebutuhan keluarga. Ada anak-anak yang datang untuk menikmati hiburan. Ada pula jastiper yang datang membawa kebutuhan orang lain.

    IMOBY juga melakukan kurasi dan rotasi brand agar pilihan produk yang hadir dapat berubah dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya. Untuk produk makanan dan kosmetik, penyelenggara menyebut proses kurasi juga memperhatikan kejelasan logo halal.

    Pada akhirnya, Bandung bukan hanya menjadi lokasi IMOBY 2026, tetapi latar tempat berbagai cerita keluarga itu bertemu.

    Ada yang datang karena memang sedang membutuhkan sesuatu. Ada yang ingin mengajak anak keluar. Ada yang datang untuk melihat-lihat. Ada juga yang menjadikan pameran sebagai bagian dari aktivitas ekonominya.

    Semua hadir dengan alasan masing-masing.

    Dan mungkin, seperti banyak perjalanan keluarga lainnya di Bandung, yang tersisa setelahnya bukan hanya barang yang dibawa pulang, tetapi cerita tentang bagaimana satu hari dihabiskan bersama.

    “Di Bandung, akhir pekan selalu punya banyak cara untuk dinikmati. Kali ini, ceritanya datang dari satu ruang yang mempertemukan keluarga dengan caranya masing-masing.”

  • Di Bandung RS Premier Bintaro Memperkenalkan Teknologi Navigasi Robotik Solusi Presisi Untuk Operasi Tulang Belakang

    Di Bandung RS Premier Bintaro Memperkenalkan Teknologi Navigasi Robotik Solusi Presisi Untuk Operasi Tulang Belakang

    Curioucity.id — Di tengah aktivitas Bandung yang membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam duduk, berdiri, berjalan, hingga berkendara, punggung sering menjadi bagian tubuh yang paling mudah terasa lelah.

    Nyeri punggung pun kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, tulang belakang bukan hanya terdiri dari tulang, melainkan juga sendi, diskus, ligamen, dan struktur saraf yang bekerja dalam satu sistem kompleks.

    Ketika masalah pada bagian ini berkembang, penanganannya dapat membutuhkan pendekatan yang lebih serius, termasuk tindakan pembedahan pada kondisi tertentu. Perkembangan teknologi kemudian ikut mengubah bagaimana dokter merencanakan dan menjalankan operasi tulang belakang.

    Hal tersebut menjadi pembahasan dalam media gathering “Penanganan Terkini Problem Tulang Belakang dengan Navigasi Robotic” yang digelar RS Premier Bintaro di Hotel Grand Tjokro Premiere Bandung, 17 September 2026. Acara ini menghadirkan dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine), Orthopaedic Spine Surgeon RS Premier Bintaro.

    Bukan semata tentang sebuah mesin, pertemuan tersebut membuka pembicaraan mengenai satu hal yang semakin penting dalam bedah tulang belakang: presisi.

    Tulang Belakang dan Beragam Masalah yang Bisa Mengikutinya

    Ada banyak alasan mengapa tulang belakang membutuhkan perhatian lebih dari sekadar mengatasi rasa pegal.

    Menurut dr. Asrafi, sejumlah kondisi dapat memengaruhi tulang belakang, mulai dari penyakit degeneratif, deformitas, trauma, hingga kondisi lainnya. Seiring bertambahnya usia, keluhan juga dapat berkembang dari nyeri punggung yang datang dan pergi menjadi nyeri kronis yang dapat disertai nyeri menjalar. Pada sebagian pasien, kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk operasi.

    Kompleksitasnya muncul karena begitu banyak struktur berada dalam satu area. Tulang, sendi, diskus, ligamen, dan saraf saling berkaitan sehingga penanganan terhadap satu bagian perlu mempertimbangkan anatomi di sekitarnya.

    Salah satu kondisi yang dibahas adalah skoliosis, ketika tulang belakang mengalami perubahan bentuk atau deformitas. Dalam situasi seperti ini, tindakan yang dilakukan membutuhkan perencanaan dan akurasi yang lebih tinggi.

    Hal tersebut membuat persoalan tulang belakang tidak bisa selalu dilihat hanya dari seberapa sakit punggung yang dirasakan. Diagnosis dan penilaian kondisi tetap menjadi bagian penting sebelum menentukan bentuk penanganan.

    “Tulang belakang merupakan struktur kompleks yang tidak hanya terdiri dari tulang, tetapi juga melibatkan sendi, diskus, ligamen, serta struktur saraf.”
    — dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

    Dari Operasi Konvensional ke Minimal Invasive Spine Surgery

    Perubahan dalam penanganan tulang belakang sebenarnya tidak baru dimulai ketika teknologi robotik hadir.

    Dalam perkembangannya, teknik bedah juga bergerak dari pendekatan konvensional menuju minimal invasive spine surgery. Teknik ini memungkinkan tindakan dilakukan dengan gangguan yang lebih minimal terhadap jaringan.

    Pendekatan tersebut ditujukan untuk meminimalkan cedera jaringan, mendukung pemulihan yang lebih cepat, serta membantu meningkatkan akurasi dalam penempatan implan.

    Namun, ada konsekuensi lain dari perkembangan tersebut: ketika kondisi tulang belakang yang ditangani semakin kompleks, kebutuhan terhadap perencanaan dan akurasi selama prosedur juga semakin tinggi.

    Dengan kata lain, pekerjaan dokter tidak hanya dimulai ketika operasi berlangsung. Ada proses membaca kondisi, menyusun perencanaan, menentukan posisi, kemudian memastikan rencana tersebut dapat dijalankan dengan tepat.

    Teknologi kemudian masuk sebagai salah satu alat yang membantu proses tersebut.

    Ketika Robotic Navigation Masuk ke Ruang Operasi

    Dalam bedah tulang belakang, akurasi dibutuhkan sejak sebelum operasi hingga tindakan berlangsung.

    Menurut materi yang disampaikan dr. Asrafi, teknologi robotic dapat membantu mulai dari pre-operative planning, penggunaan perangkat lunak, hingga intraoperative guidance atau panduan ketika prosedur sedang dilakukan.

    RS Premier Bintaro menggunakan Globus Excelsius GPS, sistem navigasi robotik yang dapat digunakan dalam berbagai prosedur bedah tulang belakang. Teknologi tersebut juga berperan dalam membantu penanganan anatomi yang kompleks, termasuk skoliosis dan kondisi dengan bentuk pedikel yang tidak normal.

    Salah satu bagian penting dalam prosedur tertentu adalah penempatan pedicle screw. Posisi implan perlu direncanakan dan dipandu secara akurat karena penempatan yang tidak tepat dapat menyebabkan implan berada di dalam kanal maupun keluar dari struktur tulang.

    Di sinilah pemahaman tentang “robotik” menjadi penting. Teknologi tersebut bukan berarti dokter menyerahkan tindakan kepada mesin.

    Dr. Asrafi justru menekankan bahwa teknologi robotik digunakan sebagai pendamping dalam menghadapi kompleksitas tindakan.

    “Penggunaan teknologi robotik bukan berarti menggantikan peran dokter, namun teknologi justru menjadi alat bantu bagi dokter.”
    —
    dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

    Kalimat tersebut menjadi salah satu poin penting dari pembahasan di Bandung: teknologi boleh semakin maju, tetapi keputusan medis dan pengalaman dokter tetap menjadi bagian utama dari sebuah tindakan.

    Teknologi sebagai Alat Bantu, Dokter sebagai Pengambil Keputusan

    Pada akhirnya, kecanggihan teknologi medis kembali pada satu pertanyaan yang lebih dekat dengan pasien: apa yang berubah dari proses penanganan yang mereka jalani?

    Materi media gathering menunjukkan bahwa penerapan teknologi robotic dalam operasi tulang belakang dapat mendukung pengurangan rasa nyeri, pemulihan yang lebih cepat, serta masa rawat inap yang lebih singkat. Bagi dokter, teknologi tersebut juga membantu mempermudah tindakan dan meningkatkan akurasi.

    Namun, informasi tersebut tidak berarti setiap masalah tulang belakang membutuhkan operasi dengan teknologi robotik. Teknologi menjadi bagian dari pilihan penanganan ketika kondisi dan prosedur yang dilakukan memang membutuhkan perencanaan serta panduan yang lebih presisi.

    Karena itu, pembicaraan mengenai teknologi robotik sebenarnya juga merupakan pembicaraan mengenai pentingnya memahami kondisi tulang belakang lebih jauh.

    RS Premier Bintaro sendiri memiliki Spine Center sebagai salah satu layanan unggulannya. Dalam pengembangan layanan tersebut, rumah sakit menyebut pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari upaya menghadirkan penanganan tulang belakang yang semakin modern, presisi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

    Kehadiran RS Premier Bintaro dalam media gathering di Bandung juga menjadi ruang untuk mendekatkan informasi mengenai perkembangan layanan kesehatan kepada masyarakat dan media di Bandung serta sekitarnya.

    Pada akhirnya, robotik hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang penanganan tulang belakang.

    Ada dokter yang membaca kondisi pasien, ada teknologi yang membantu memberikan panduan, dan ada pasien yang berharap dapat kembali menjalani aktivitasnya dengan lebih baik dan nyaman.

    “Teknologi membantu dokter menghadapi kompleksitas tindakan, meningkatkan akurasi, sekaligus mendukung keselamatan pasien.”
    — dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

  • Memaknai Sound to the Soul dalam Perayaan The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung

    Memaknai Sound to the Soul dalam Perayaan The Papandayan Jazz Fest 2026 di Bandung

    Curiocity.id – Bandung punya cara sendiri dalam mendengarkan musik. Di kota ini, jazz tidak hanya hidup di atas panggung, tetapi juga tumbuh melalui pertemuan antar-musisi, komunitas, ruang kreatif, hingga berbagai bentuk kolaborasi yang membuatnya terus menemukan warna baru.

    Cara melihat jazz seperti itu terasa dalam tema “Sound to the Soul” yang dibawa The Papandayan Jazz Fest (TPJF) 2026. Memasuki tahun ke-11, festival ini akan berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 di The Papandayan Bandung, dengan rangkaian program yang mempertemukan jazz, soul, fusion, eksplorasi lintas genre, budaya, dan komunitas.

    Bagi sebuah festival yang sudah berjalan lebih dari satu dekade, menarik untuk melihat bagaimana jazz terus dibaca ulang. Bukan hanya melalui siapa yang tampil, tetapi juga melalui lagu yang dipilih, kolaborasi yang dibentuk, dan ruang-ruang baru yang dibuka untuk mempertemukan musik dengan cerita lain di Bandung.

    “Sound to the Soul” Menjadi Cara TPJF 2026 Membaca Jazz

    Ada sesuatu yang menarik dari cara jazz berkembang. Ia tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang sama untuk tetap terasa sebagai jazz.

    Pada TPJF 2026, sekitar 70 persen program berada dalam spektrum jazz, mulai dari traditional jazz, fusion, soul, hingga eksplorasi lintas genre. Sisanya menjadi ruang bagi berbagai pertemuan musik dan kreativitas lain yang membuat pengalaman festival tidak berhenti pada satu definisi.

    Di sinilah “Sound to the Soul” terasa lebih dari sekadar tema tahunan. Ada upaya untuk melihat musik dari sisi pengalaman: apa yang terjadi ketika sebuah lagu lama dimainkan kembali, ketika jazz bertemu musik elektronik, ketika musisi muda belajar langsung dari seniornya, atau ketika musik bertemu tradisi budaya Bandung.

    Selama dua hari, TPJF 2026 akan menggunakan beberapa ruang di The Papandayan. Kota Baru Parahyangan Stage di Suagi Grand Ballroom menjadi panggung utama, sementara panggung lain tersebar di area festival dengan karakter program yang berbeda.

    Bagi Bandung yang punya sejarah panjang dengan musik dan komunitas kreatifnya, format seperti ini membuat festival terasa seperti sebuah pertemuan. Bukan hanya antara musisi dan penonton, tetapi juga antara berbagai generasi, referensi, dan cara menikmati musik.

    Koes Plus, Frank Sinatra, dan Jazz yang Menemukan Tafsir Baru

    Salah satu cara paling mudah melihat bagaimana jazz terus berubah adalah dengan memperhatikan lagu apa yang dibawanya kembali ke panggung.

    Pada hari pertama, TPJF menghadirkan Tribute to Koes Plus bersama The Gentlemen’s Club dengan Adikara, Bilal Indrajaya, dan Teza Sumendra. Di hari kedua, ada A Night of Frank Sinatra bersama Dwiki Dharmawan & Friends, Dira Sugandi, Dirly Dave, serta Bandung Jazz Orchestra.

    Dua nama tersebut datang dari zaman dan karakter musik yang berbeda. Namun ketika masuk ke dalam ruang jazz, keduanya memiliki kemungkinan untuk dibaca kembali melalui aransemen, vokal, improvisasi, dan karakter musisi yang membawakannya.

    Di titik ini, jazz menjadi semacam bahasa yang memungkinkan lagu lama terdengar kembali tanpa harus kehilangan ingatannya.

    Eksplorasi itu juga muncul melalui sejumlah kolaborasi lain. Ada Diskoria bersama Andien, Freedom Jazz Society bersama Rinni dengan keterlibatan DJ dan produser seperti Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, dan Winky Wiryawan, hingga berbagai kolaborasi di panggung lain yang mempertemukan jazz dengan soul, fusion, elektronik, dan lintas genre.

    Mungkin itu pula yang membuat jazz tidak pernah benar-benar berhenti pada satu bentuk. Ia bisa membawa masa lalu ke masa kini, lalu membiarkan generasi berikutnya memberikan tafsirnya sendiri.

    Ketika Jazz Membuka Ruang untuk Budaya dan Musisi Muda

    Namun cerita TPJF 2026 tidak berhenti pada musisi yang sudah lebih dulu dikenal.

    Di TP Stage, musik menjadi ruang belajar dan apresiasi bagi musisi muda melalui program masterclass bersama Sri Hanuraga dan Tommy Pratomo. Ada pula penampilan sejumlah kelompok dan musisi seperti SND, Dadaks, Yonathan Godjali Quartet, Funky Journal, hingga VMS Art Collective x Artsi bersama Oele Pattiselanno.

    Kemudian di Tropical Garden, Mojang Jajaka Stage membawa pertemuan yang berbeda. Panggung ini melibatkan kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung serta Mojang Jajaka Kota Bandung, bersama sejumlah penampil dan karya yang membawa unsur budaya dari berbagai daerah.

    Ada Barong Bekasi, Galumbira – Panen Durcing Raharja, hingga kolaborasi Ki Dalang Anom bersama Swara Katresna.

    Menariknya, pertemuan tersebut tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari festival jazz. Ia justru menjadi bagian dari cara TPJF memperluas percakapan tentang musik dan budaya.

    Karena di Bandung, musik memang sering tumbuh bukan sendirian. Ia hidup bersama komunitas, ruang kreatif, kebiasaan berkumpul, dan orang-orang yang terus mencoba membuat sesuatu yang baru.

    Maka ketika musisi muda bertemu seniornya, musik bertemu budaya, dan komunitas mendapatkan ruang untuk hadir, festival berubah menjadi lebih dari sekadar rangkaian pertunjukan.

    Pasar Jazz dan Cerita yang Berlanjut Setelah Panggung

    Ada bagian dari festival musik yang justru sering terasa setelah seseorang meninggalkan panggung utama.Bisa jadi ketika dua orang berhenti untuk membicarakan penampilan yang baru saja mereka lihat.

    Bisa juga ketika seseorang menemukan rilisan musik, pakaian, instrumen, makanan, atau karya lokal yang sebelumnya tidak mereka kenal.

    TPJF 2026 menempatkan Pasar Jazz di area parkir The Papandayan sebagai salah satu ruang tersebut. Selain aktivitas komunitas dan University Jazz Band, area ini akan diisi puluhan tenant dari kuliner, fashion, lifestyle, merchandise musik, hingga alat dan aksesori musik.

    Ruang seperti ini membuat pengalaman festival tidak memiliki garis akhir yang terlalu tegas. Musik bisa selesai di panggung, tetapi percakapan tentang musik justru dapat berlanjut di tempat lain.

    Pada akhirnya, mungkin itulah bagian paling menarik dari “Sound to the Soul”.

    Bukan tentang seberapa banyak lagu yang berhasil didengar dalam dua hari, melainkan tentang apakah ada satu suara yang ikut pulang bersama kita—entah karena mengingatkan pada sesuatu, memperkenalkan sesuatu yang baru, atau sekadar membuat kita ingin kembali mendengarkan musik dengan cara yang berbeda.

    Dan pada Oktober nanti, Bandung kembali menjadi tempat bagi pertemuan-pertemuan semacam itu.

    “Sebab musik yang sampai ke telinga mungkin berhenti ketika lagu selesai, tetapi yang sampai ke hati bisa tinggal jauh lebih lama.”

  • TP Jazz Universe Membawa Nostalgia Soundtrack Film di Kota Baru Parahyangan

    TP Jazz Universe Membawa Nostalgia Soundtrack Film di Kota Baru Parahyangan

    Curioucity.id — Bandung dan musik seperti punya percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Kali ini, percakapan itu membawa TP Jazz keluar menuju Kota Baru Parahyangan, bukan dengan sebuah festival besar, melainkan sebuah pertunjukan yang terasa seperti membuka kembali album kenangan.

    Pada Jumat, 4 September 2026, Mason Grand Ballroom, Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan menjadi tempat berlangsungnya TP Jazz Universe: Greatest Movie Soundtrack. Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to The Papandayan Jazz Fest 2026, mempertemukan sejumlah musisi dengan soundtrack film yang sudah lama tinggal di ingatan banyak orang.

    Ada sesuatu yang menarik dari pilihan tema tersebut. Sebelum musik dimainkan, lagu-lagunya sudah membawa cerita masing-masing. Ketika dimainkan kembali dengan sentuhan jazz, yang muncul bukan hanya nostalgia terhadap film, tetapi juga kenangan pribadi yang mungkin ikut tersimpan di dalamnya.

    Dari Kota Baru Parahyangan, TP Jazz Membuka Perjalanan dengan Soundtrack Film

    Malam itu, ballroom tidak langsung terasa seperti ruang konser biasa. Sajian multimedia dan special lighting show membawa visual sinematik ke dalam ruangan, sementara To The Band, pemenang The Papandayan International Online Jazz Competition 2022, membuka pertunjukan sebelum Dwiki Dharmawan mengambil alih panggung.

    Dwiki menjadi salah satu pusat musikal dalam perjalanan malam tersebut. Di tangannya, soundtrack yang sudah dikenal luas mendapat ruang untuk bergerak dalam warna jazz.

    Kemudian satu per satu lagu mulai membawa penonton kembali ke layar film.

    Dirly Dave membuka dengan Go The Distance dari Hercules dan Can You Feel The Love Tonight. Tidak lama kemudian, ia berduet dengan Dira Sugandi membawakan (I’ve Had) The Time of My Life dari Dirty Dancing.

    Pilihan lagu tersebut seperti mengingatkan bahwa soundtrack punya kemampuan yang unik. Kita mungkin sudah lupa detail filmnya, tetapi begitu musiknya terdengar, adegan dan perasaan tertentu bisa muncul kembali.

    Malam itu, Kota Baru Parahyangan menjadi tempat bagi ingatan-ingatan tersebut untuk diputar ulang—kali ini melalui panggung jazz.

    Dira, Dirly, Sandhy, dan Rimar Membawa Film Kembali ke Ingatan

    Setelah Dirly, giliran Dira Sugandi membawa suasana menjadi lebih emosional melalui I Will Always Love You dari The Bodyguard. Kekuatan vokalnya berpadu dengan permainan Dwiki Dharmawan, membuat lagu yang sudah sangat dikenal tersebut terdengar dengan karakter yang berbeda.

    Sandhy Sondoro kemudian mengubah warna malam melalui Eye of The Tiger dan Glory of Love. Dua soundtrack dengan karakter kuat tersebut mendapat interpretasi personal dari warna vokal Sandhy.

    Lalu hadir sebuah kolaborasi yang terasa seperti membawa penonton kembali ke dunia animasi: Sandhy bersama Rimar Callista membawakan A Whole New World dari Aladdin.

    Rimar kemudian melanjutkan dengan When You Wish Upon A Star, sebelum membawa nostalgia ke wilayah yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.

    Medley Hanya Untukmu, Semusim, Galih dan Ratna, hingga Ayat-Ayat Cinta menjadi salah satu bagian yang mempertemukan musik dengan memori film Indonesia. Cinta Sejati dari Habibie & Ainun kemudian meneruskan suasana tersebut.

    Menariknya, tidak semua soundtrack perlu berasal dari film yang sama generasinya untuk terasa dekat.

    Ada lagu yang mengingatkan masa kecil, ada yang membawa seseorang kembali ke masa remaja, ada pula yang mungkin hanya mengingatkan pada seseorang yang pernah menonton film tersebut bersama.

    Barangkali itulah alasan soundtrack film terasa berbeda ketika dibawakan secara langsung. Kita tidak hanya mendengarkan lagu. Kita mendengarkan kembali sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidup.

    Satu Panggung Menyatukan Banyak Cerita

    Menjelang akhir, energi pertunjukan kembali bergerak. Dirly Dave kembali melalui I Don’t Want To Miss A Thing dari Armageddon, sementara Dira Sugandi hadir dengan How Far I’ll Go dari Moana dan My Heart Will Go On dari Titanic.

    Kemudian seluruh penyanyi kembali berada di atas panggung untuk This Is Me dari The Greatest Showman.

    Pilihan lagu penutup ini terasa seperti merangkum keseluruhan malam. Ada film yang berbeda, karakter vokal yang berbeda, generasi penonton yang berbeda, tetapi semuanya bertemu di satu panggung.

    Di luar musiknya, TP Jazz Universe juga menjadi bagian dari kolaborasi TP Jazz Management dan Kota Baru Parahyangan yang membawa semangat Community Based Development. Musik menjadi ruang pertemuan antara masyarakat dan komunitas, sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi seni dan budaya yang lebih panjang.

    Maka, pre-event ini terasa seperti lebih dari sekadar pertunjukan pembuka.

    Ia menjadi sebuah cara untuk memperkenalkan kembali semangat TP Jazz sebelum memasuki perayaan utamanya.

    September Menjadi Pembuka, Oktober Melanjutkan Ceritanya

    Ada alasan mengapa perjalanan menuju sebuah festival terasa menarik ketika dimulai dari acara seperti ini.

    TP Jazz Universe memberi kesempatan kepada penonton untuk terlebih dahulu menikmati satu cerita, satu tema, dan satu pengalaman sebelum akhirnya bertemu dengan skala festival yang lebih besar.

    Cerita itu akan berlanjut pada The Papandayan Jazz Fest 2026, yang berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 di The Papandayan Hotel Bandung. Tahun ini, festival memasuki penyelenggaraan ke-11 dengan tema “Sound to the Soul”, membawa gagasan tentang musik sebagai pengalaman yang dapat menyentuh emosi dan membangun koneksi.

    Salah satu kelanjutannya hadir melalui Kota Baru Parahyangan Stage di Suagi Grand Ballroom. Panggung ini akan mempertemukan sejumlah nama yang juga memiliki hubungan dengan cerita di pre-event, termasuk Dwiki Dharmawan, Dira Sugandi, dan Dirly Dave bersama Bandung Jazz Orchestra dalam proyek A Night of Frank Sinatra.

    Dengan begitu, malam di Kota Baru Parahyangan bukanlah cerita yang selesai ketika lampu ballroom dimatikan.

    Ia menjadi bagian pertama dari perjalanan yang lebih panjang.

    Jika September mengajak penonton mengingat kembali lagu-lagu yang pernah hidup melalui layar film, Oktober akan membuka ruang yang lebih besar untuk menemukan cerita baru melalui jazz, kolaborasi, dan berbagai panggung TP Jazz Fest.

    Mungkin memang begitu cara sebuah festival seharusnya dimulai.

    Bukan tiba-tiba pada hari pertama acara, tetapi perlahan—melalui satu pertemuan, satu lagu, satu panggung, lalu rasa penasaran untuk melihat ke mana cerita berikutnya akan membawa kita.

    “Satu lagu bisa membawa kita kembali pada sebuah cerita, dan satu panggung bisa membuka cerita yang baru. Dari Kota Baru Parahyangan, TP Jazz memulainya—lalu membiarkan musik melanjutkan perjalanannya menuju Oktober.”

  • Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Curioucity.id – Ada cara berbeda untuk melihat Bandung ketika pagi belum benar-benar ramai: menyusuri jalannya dengan berlari.

    Jalan yang biasanya dilewati kendaraan, kawasan yang akrab dengan aktivitas warga, sampai Balai Kota Bandung yang sehari-hari menjadi ruang pemerintahan, tiba-tiba memiliki suasana lain ketika ribuan orang datang dengan nomor peserta di dada dan sepatu lari di kaki.

    Pengalaman seperti ini sudah beberapa kali hadir melalui POCARI SWEAT Run. Pada 2025, Balai Kota Bandung menjadi titik start dan finish, dengan 16.000 pelari mengikuti kategori offline dan lebih dari 30 ribu peserta lainnya berlari secara virtual dari berbagai daerah di Indonesia.

    Namun, mungkin yang membuat POCARI SWEAT Run menarik bukan hanya jumlah orang yang berlari. Ada Bandung yang ikut hadir di sepanjang perjalanan—melalui komunitas, warga, kreativitas, sampai kepedulian terhadap lingkungan.

    Pada 19–20 September 2026, POCARI SWEAT Run kembali hadir di Bandung dengan kategori 10K dan Half Marathon. Kali ini, Bandung menjadi penutup rangkaian POCARI SWEAT Run 2026 sekaligus bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Bandung.

    POCARI SWEAT Run Menemukan Ceritanya di Bandung

    Sebuah rute lari sebenarnya bisa menjadi cara sederhana untuk membaca sebuah kota.

    Pelari tidak hanya melihat angka kilometer di jam tangan, tetapi juga melewati ruang-ruang yang selama ini mungkin hanya dikenal dari balik kaca kendaraan. Ada sudut kota yang terasa berbeda ketika dilalui dengan langkah sendiri, apalagi ketika jalan tersebut dipenuhi orang dengan tujuan yang sama.

    Itulah yang membuat Bandung memiliki cerita tersendiri dalam POCARI SWEAT Run.

    Pada penyelenggaraan 2025, perubahan rute dan waktu start dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan pelari sekaligus masyarakat Bandung. Pemilihan jalur pun melibatkan berbagai unsur pemerintah kota, karena sebuah event sebesar ini pada akhirnya tidak hanya berlangsung di lintasan, tetapi juga bersinggungan langsung dengan kehidupan kota.

    Balai Kota Bandung menjadi salah satu titik yang menarik untuk dibaca dalam cerita tersebut. Ia bukan sekadar tempat berkumpul sebelum berlari, melainkan salah satu ruang yang mempertemukan pelari dengan wajah Bandung sebagai kota.

    Pada 2026, rute kembali dirancang melewati titik-titik ikonik dan kawasan yang memiliki karakter, sehingga peserta dapat melihat sisi Bandung yang kreatif dan dinamis. Dengan dukungan masyarakat dan komunitas lokal di sepanjang jalur, pengalaman berlari pun menjadi lebih dari sekadar berpindah dari satu kilometer ke kilometer berikutnya.

    Barangkali, cara paling sederhana untuk mengenal sebuah kota adalah dengan berjalan cukup pelan untuk melihat siapa saja yang tinggal di dalam ceritanya.

    Ketika Lintasan Bertemu Wajah Bandung

    Jika hanya melihat garis start dan finish, POCARI SWEAT Run mungkin terlihat seperti kumpulan pelari.

    Padahal di sepanjang perjalanan ada banyak cerita lain yang membuat sebuah event bisa terasa hidup.

    Ada komunitas pelari yang menjadikan lari sebagai bagian dari rutinitas. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar catatan waktu, tetapi juga bertemu teman, berlatih bersama, dan menemukan alasan baru untuk tetap aktif.

    Ada pula warga Bandung yang ikut mengambil bagian dari suasana di sekitar rute. Pada 2025, masyarakat diberdayakan untuk terlibat melalui penyediaan kuliner, souvenir, hingga cheering point. Jadi, orang yang tidak ikut berlari pun tetap memiliki ruang untuk menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Di sisi lain, karakter Bandung yang dekat dengan kreativitas membuat kehadiran seni dan komunitas menjadi sesuatu yang terasa natural. Ketika sebuah kota memiliki tradisi berkumpul, berkarya, bermusik, dan membuat sesuatu bersama, event olahraga pun bisa bertemu dengan ekspresi lokal tanpa harus kehilangan identitasnya.

    Kemudian ada masyarakat di sekitar rute yang mungkin tidak mengenakan running shoes, tetapi ikut menyaksikan, menyemangati, dan merasakan perubahan ritme kota selama event berlangsung.

    Di titik ini, POCARI SWEAT Run menjadi semacam pertemuan. Pelari membawa energi olahraga, komunitas membawa kebiasaan, seniman membawa ekspresi, sementara warga membawa kehidupan sehari-hari Bandung ke dalam sebuah perhelatan yang berlangsung hanya beberapa hari.

    Ketika POCARI SWEAT Run Dimulai dari Kebiasaan Sehat

    Pada akhirnya, lari bukan hanya tentang hari perlombaan.Ada hari-hari sebelumnya ketika seseorang mulai berlatih lebih rutin. Ada keputusan untuk tidur lebih cukup, memperhatikan asupan, mengenali kemampuan tubuh, dan tentu saja memahami pentingnya hidrasi.

    POCARI SWEAT sendiri merupakan minuman pengganti ion yang diformulasikan untuk membantu mengembalikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang melalui keringat.

    Karena itu, pengalaman dalam sebuah running event sebenarnya bisa menjadi pengingat tentang hal-hal sederhana yang sering terlupakan ketika hidup berjalan terlalu cepat: tubuh perlu dijaga sebelum diminta bekerja lebih jauh.

    Hal tersebut juga yang membuat komunitas pelari punya peran penting. Kebiasaan hidup sehat sering kali lebih mudah bertahan ketika dilakukan bersama. Ada teman yang mengajak latihan, komunitas yang membuat seseorang kembali berlari, atau sekadar percakapan setelah latihan yang membuat olahraga terasa sebagai bagian dari kehidupan, bukan kewajiban.

    Dari sana, olahraga perlahan bergeser dari aktivitas sesekali menjadi lifestyle.

    Dan mungkin inilah salah satu alasan POCARI SWEAT Run terus berkembang. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014, jumlah pesertanya terus bertumbuh; pada 2025, total partisipasi mencapai 55.435 pelari.

    Sustainability yang Tidak Berhenti di Garis Finish

    Ada satu hal yang menarik dari sebuah event besar: setelah pelari meninggalkan garis finish, apa yang tersisa?

    Pertanyaan itu membawa sustainability ke cerita yang lebih panjang.

    Dalam penyelenggaraan POCARI SWEAT Run, upaya lingkungan telah dilakukan melalui inisiatif “Nol Sampah ke TPA”. Sepanjang 2022–2024, sebanyak 11,4 ton sampah disebut telah berhasil didaur ulang, kemudian pada 2025 komunitas muda Bandung dilibatkan untuk memungut sampah sepanjang rute.

    Tetapi cerita tentang kemasan juga punya perjalanan sendiri.

    Melalui Otsuka Blue Planet, kaleng bekas POCARI SWEAT dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk bank sampah dan komunitas pelari, lalu digunakan sebagai bagian dari instalasi seni bersama seniman lokal. Program ini memperlihatkan bahwa benda yang selesai digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang.

    Di sinilah olahraga, komunitas, seni, dan lingkungan kembali bertemu.

    Satu botol atau kaleng mungkin terlihat seperti benda sehari-hari. Namun ketika masyarakat mulai memilah, mengumpulkan, mengolah, dan melihat kembali nilai dari benda tersebut, sustainability berubah dari sebuah istilah menjadi kebiasaan yang bisa dilakukan dalam kehidupan nyata.

    Begitu pula dengan POCARI SWEAT Run di Bandung.

    Yang tertinggal setelah garis finish bukan hanya angka di race bib atau catatan waktu di smartwatch. Ada jalan-jalan kota yang kembali dilalui kendaraan, komunitas yang pulang membawa cerita, warga yang kembali menjalankan aktivitasnya, dan kebiasaan kecil yang mungkin terus dilakukan setelah event selesai.

    Mungkin itu yang membuat Bandung selalu punya cerita ketika POCARI SWEAT Run kembali hadir.

    Karena yang berlari bukan hanya mereka yang mengenakan nomor peserta. Bandung ikut berlari melalui orang-orangnya.

    “POCARI SWEAT Run mungkin selesai ketika langkah terakhir melewati garis finish. Tetapi bagi Bandung, cerita tentang bergerak, berbagi ruang, dan menjaga lingkungan masih terus berjalan.”

  • Kamaku, Karya Lokal dengan Semangat Sustainability di Balik Merchandise The Papandayan Jazz Festival 2026

    Kamaku, Karya Lokal dengan Semangat Sustainability di Balik Merchandise The Papandayan Jazz Festival 2026

    Curiocity.id — Di sebuah festival musik, merchandise biasanya menjadi salah satu hal yang kita temui hampir tanpa sengaja. Ia berada di antara panggung, percakapan, dan keramaian orang-orang yang datang untuk menikmati musik.

    Tetapi pernahkah kita bertanya sedikit lebih jauh tentang benda yang akhirnya kita bawa pulang?

    Dari mana warnanya berasal? Siapa yang mengerjakannya? Dan apa yang ingin diceritakan melalui sebuah kaos, pouch, atau tote bag yang mungkin awalnya hanya terlihat sebagai bagian dari perlengkapan festival?

    Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam itu membawa cerita The Papandayan Jazz Festival 2026 ke arah yang berbeda.

    Di Bandung, festival yang mengusung tema Sound of The Soul ini akan berlangsung pada 3–4 Oktober 2026. Kamaku hadir sebagai Official Merchandise dengan membawa pendekatan yang tidak hanya berbicara tentang fashion, tetapi juga tentang alam, proses kreatif, dan manusia yang berada di baliknya.

    Di balik Kamaku ada Ratri Wijaya, sosok yang mengembangkan brand tersebut melalui filosofi effortless luxury, sustainability, dan inklusivitas.

    Semangat Effortless Luxury ke Panggung Jazz Bandung

    Ada titik temu antara jazz dan cara Kamaku memandang fashion: kebebasan.

    Jazz memberi ruang bagi improvisasi, perubahan tempo, dan karakter masing-masing pemain. Tidak semuanya harus berjalan seragam untuk menghasilkan harmoni.

    Pendekatan tersebut terasa dalam koleksi Kamaku. Sebagai lini Luxury Resort Wear, brand ini mengusung effortless luxury—gaya yang elegan, bebas, dan natural tanpa perlu tampil berlebihan.

    Untuk The Papandayan Jazz Fest 2026, energi musik jazz diterjemahkan melalui konsep Rhythm of Nature. Motif dan warna terinspirasi dari alam, sementara karakter yang tidak selalu seragam menjadi bagian dari estetika yang ingin ditampilkan.

    Alih-alih menjadikan jazz sebagai elemen visual secara harfiah, Kamaku menangkap semangatnya: dinamis, ekspresif, dan terbuka terhadap kemungkinan.

    Bagi Ratri Wijaya, fashion juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan. Apa yang dikenakan seseorang tidak hanya berhenti pada penampilan, tetapi dapat memperlihatkan pilihan terhadap material, proses, hingga nilai yang dianggap penting.

    Dari Pewarna Alam hingga Tangan Artisan Lokal

    Salah satu hal yang membuat koleksi Kamaku menarik untuk diperhatikan justru datang dari warnanya.

    Kamaku menggunakan serat alam dan pewarna alam Nusantara yang terinspirasi dari kekayaan hayati Pulau Jawa. Warna biru khas Kamaku berasal dari Indigofera tinctoria atau tarum, merah dari kayu secang, dan kuning dari kayu tegeran.

    Dengan pendekatan tersebut, alam tidak hanya menjadi sumber inspirasi visual, tetapi ikut hadir dalam proses pembuatannya.Kamaku juga menggunakan fiksator alami dalam proses pewarnaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis sekaligus menjaga ekosistem air.

    Bagi Kamaku, sustainability ditempatkan sebagai bagian dari DNA brand, bukan sekadar tren yang sedang ramai dibicarakan.

    Ada pula dimensi sosial yang berjalan beriringan.

    Dalam proses pembuatan merchandise The Papandayan Jazz Fest 2026, Kamaku melibatkan artisan lokal, termasuk teman-teman penyandang disabilitas dari PIK POTADS JABAR.

    Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana alam diperlakukan, tetapi juga bagaimana manusia diberi ruang untuk berkontribusi.

    Setiap tangan membawa kemampuan yang berbeda. Ketika kesempatan untuk berkarya terbuka lebih luas, sebuah produk pun memiliki nilai yang tidak hanya dapat diukur dari bentuk akhirnya.

    Ketika Merchandise Menjadi Bagian dari Pengalaman Festival

    Koleksi Official Merchandise Kamaku untuk The Papandayan Jazz Fest 2026 hadir dalam beberapa bentuk yang dekat dengan keseharian: tumbler, kaos, pouch, sarung bantal kursi, dan tote bag. Kehadiran koleksi ini menjadi bagian dari kolaborasi Kamaku dengan The Papandayan Jazz Fest 2026, menerjemahkan tema Sound of The Soul ke dalam bahasa yang berbeda melalui material, warna, dan pendekatan Kamaku terhadap alam.

    Pertemuan antara keduanya terasa menarik karena jazz dan Kamaku sama-sama memiliki ruang untuk eksplorasi. Jika musik menemukan ritmenya melalui bunyi dan improvisasi, Kamaku menerjemahkan gagasan serupa lewat warna, tekstur, bahan alami, serta proses yang melibatkan artisan lokal.

    Kolaborasi ini juga membawa perhatian pada hal-hal yang mungkin luput ketika sebuah merchandise hanya dilihat sebagai benda kenang-kenangan. Ada bahan yang berasal dari alam, proses yang mempertimbangkan lingkungan, serta keterlibatan artisan lokal, termasuk teman-teman penyandang disabilitas.

    Pada akhirnya, mungkin memang sederhana: musik hadir untuk didengar, sementara fashion hadir untuk dikenakan. Tetapi dalam kolaborasi ini, keduanya bertemu pada satu ruang yang sama—tentang kebebasan berekspresi, kekayaan alam, dan manusia yang berada di balik setiap prosesnya.

  • Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Curiocity.id — Bandung punya kebiasaan menarik dalam urusan makanan. Sesuatu yang sudah akrab di lidah bisa saja tiba-tiba hadir dalam bentuk berbeda, sementara bahan yang sederhana bisa dipertemukan dengan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

    Mungkin karena itu pula cerita tentang kuliner di kota ini tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada brand yang mencoba, tempat yang membuka ruang, dan kolaborasi yang membuat kita bertanya-tanya, “Kali ini akan jadi seperti apa?”

    Pertanyaan kecil tersebut menemukan jawabannya di Hutanika lewat Kolaborasa Hutanika, kolaborasi kuliner yang mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung selama Agustus hingga September 2026.

    Salah satunya adalah J&C Cookies, yang membawa dua sajian manis: Putri Salju Snow Ice dan Choco Crunchy Mochi.

    “Sometimes, the familiar becomes exciting when we see it from a different angle.”

    Ketika Putri Salju Keluar dari Kotak Kenangan

    Ada makanan yang membawa kita kembali ke suatu waktu hanya lewat satu nama.

    Putri salju mungkin salah satunya. Kue bertabur gula halus ini begitu dekat dengan momen perayaan dan meja keluarga, sampai rasanya kita tidak perlu melihat bentuknya untuk bisa membayangkannya.

    J&C Cookies kemudian mengambil ingatan tersebut dan membawanya ke arah yang berbeda melalui Putri Salju Snow Ice.

    Bukan lagi putri salju yang kita kenal dalam bentuk kue kering, tetapi sebuah sajian yang mengajak rasa familiar tadi bertemu dengan pengalaman baru. Nama lamanya masih ada, tetapi cara menikmatinya berubah.

    Menariknya, perubahan seperti ini tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit.

    Kadang cukup dengan memindahkan sebuah rasa ke konteks yang berbeda, lalu membiarkan orang yang mencobanya menemukan sendiri apa yang berubah.

    Di Hutanika, Putri Salju Snow Ice menjadi salah satu cara J&C Cookies memperkenalkan interpretasinya dalam Kolaborasa Hutanika.

    Cokelat, Mochi, dan Sedikit Kejutan di Gigitan Pertama

    Kalau Putri Salju Snow Ice bermain dengan memori, Choco Crunchy Mochi terasa seperti permainan yang berbeda.

    Dari namanya saja, kita sudah mendapatkan tiga petunjuk: cokelat, mochi, dan sesuatu yang crunchy.

    Mochi memberikan kelembutan, sementara elemen crunchy menghadirkan kontras. Cokelat kemudian menjadi rasa yang menyatukan semuanya.

    Ada kesenangan tersendiri ketika makanan tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga mengajak kita memperhatikan tekstur.

    Gigitan pertama mungkin membuat kita mengenali cokelat. Gigitan berikutnya membuat kita sadar ada sesuatu yang renyah di sana.

    Hal-hal kecil semacam ini yang membuat dessert tidak selalu harus menjadi penutup. Ia bisa menjadi bagian dari pengalaman mencoba sesuatu yang baru.

    Dan kali ini, pengalaman tersebut datang dari J&C Cookies, salah satu brand lokal Bandung yang ikut dalam Kolaborasa Hutanika.

    Lima Brand Bandung Bertemu dalam Satu Meja

    J&C Cookies tentu tidak berjalan sendirian.Kolaborasa Hutanika mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung: Rahsa Nusantara, Maicih, Tahu Tauhid, Cimol Bojot AA, dan J&C Cookies.

    Masing-masing datang dengan karakter yang berbeda.

    J&C Cookies mengambil bagian melalui dua dessert tadi.

    Menariknya, semua karakter tersebut tidak perlu dibuat sama. Justru perbedaannya yang membuat satu meja terasa lebih hidup.

    Hutanika menjadi ruang tempat berbagai rasa tersebut bertemu selama Agustus hingga September 2026, dalam momentum Bulan Kemerdekaan.

    “Different flavors can tell different stories, even when they share the same table.”

    Dari Satu Meja, Kita Bisa Melihat Bandung

    Kalau diperhatikan lebih dekat, kolaborasi seperti ini sebenarnya bercerita lebih banyak daripada sekadar menu baru.Ia memperlihatkan bagaimana brand lokal Bandung terus mencari cara untuk berkembang tanpa harus meninggalkan karakter yang membuat mereka dikenal.

    Ada keberanian untuk mencoba format baru. Ada keinginan mempertemukan produk dengan audiens yang berbeda. Ada pula ruang untuk belajar dari brand lain yang bergerak di bidang yang sama.

    Hutanika, dalam hal ini, bukan hanya menjadi tempat semua menu tersebut tersedia.

    Ia menjadi ruang pertemuan.

    Pengunjung dapat datang untuk makan, tetapi dalam satu kesempatan yang sama mereka bisa menemukan beberapa karakter kuliner lokal sekaligus.

    Dari yang pedas hingga manis. Dari camilan yang sudah familiar hingga menu yang mungkin baru pertama kali kita dengar.

    Bandung hadir bukan sebagai satu rasa.

    Ia hadir sebagai kumpulan banyak rasa yang terus berubah dan berkembang.

    Ternyata Bangga Nusantara Bisa Sesederhana Ini

    Kolaborasa Hutanika hadir dalam rangka menyambut dan merayakan Bulan Kemerdekaan dengan semangat Bangga Nusantara.

    Tetapi ada sesuatu yang menarik dari cara gagasan tersebut diterjemahkan.Tidak harus selalu dalam bentuk seremoni besar.

    Kadang rasa bangga terhadap karya lokal bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: memberi kesempatan sebuah brand untuk berkarya, datang untuk mencoba, kemudian memilih untuk kembali ketika ternyata rasanya cocok.

    J&C Cookies menjadi salah satu bagian dari cerita tersebut.

    Dua dessert yang dibawanya memperlihatkan bahwa kreativitas lokal tidak selalu harus tampil dengan sesuatu yang sepenuhnya asing. Sesuatu yang sudah kita kenal pun masih bisa diolah kembali dan menemukan bentuk baru.

    Begitu pula dengan empat brand lainnya.Ketika semuanya ditempatkan dalam satu ruang, kita mendapatkan gambaran kecil tentang betapa beragamnya cara brand lokal Bandung bercerita melalui makanan.

    Barangkali, Rasa Penasaran Adalah Pesanan Pertama

    Pada akhirnya, kita mungkin tidak datang ke Hutanika dengan niat mencari sebuah cerita.Mungkin hanya ingin makan. Mungkin sedang bertemu teman. Atau mungkin sekadar penasaran dengan menu yang baru dilihat.

    Tetapi justru dari rasa penasaran seperti itulah pengalaman baru biasanya dimulai.

    Putri Salju Snow Ice mungkin membuat kita teringat pada sesuatu yang familiar. Choco Crunchy Mochi mungkin membuat kita ingin tahu bagaimana cokelat, mochi, dan tekstur crunchy bertemu.

    Setelah itu, siapa tahu kita menemukan rasa lain dari empat brand Bandung yang ikut berada di meja yang sama.

    Kolaborasa Hutanika berlangsung selama Agustus hingga September 2026 di Hutanika, Bandung.

    Lima brand lokal. Beragam menu. Satu ruang pertemuan.Dan mungkin, dari semua itu, ada satu pesanan yang awalnya hanya dipilih karena penasaran—lalu diam-diam menjadi menu yang ingin dicoba lagi.