Tag: #Bandungcity

  • 36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    Curioucity.id — Dago selalu punya cara membuat perjalanan terasa sedikit berbeda. Udara yang lebih sejuk, pepohonan di sepanjang jalan, dan suasana kawasan yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian Bandung.

    Di salah satu sudutnya, Sheraton Bandung Hotel & Towers telah menjalani perjalanan selama 36 tahun. Selama itu pula, berbagai orang datang dengan ceritanya masing-masing—keluarga yang menghabiskan waktu bersama, komunitas yang berkumpul, hingga tamu yang menjadikan Bandung sebagai bagian dari perjalanan mereka.

    Pada 2 Oktober 2026, Sheraton Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke-36 dengan tema “36 Years: Bringing People Together.” Perayaannya tidak hanya berlangsung sehari, tetapi hadir melalui rangkaian kegiatan hingga akhir Oktober.

    “Orang datang membawa cerita. Bertemu, berbagi, lalu pulang dengan cerita yang baru.”

    Dari Lobby, Pertemuan Itu Dimulai

    Cerita perayaan 36 tahun Sheraton Bandung dimulai dari sebuah ruang yang setiap hari dilewati banyak orang: lobby.

    Melalui Sheraton Market, area ini berubah menjadi ruang pertemuan dengan hadirnya berbagai produk dan karya dari pelaku usaha lokal. Berlangsung pada 21 September hingga 18 Oktober 2026, Sheraton Market menjadi kesempatan bagi tamu hotel dan masyarakat untuk mengenal sekaligus berinteraksi dengan komunitas dan UMKM.

    Rasanya cukup sederhana. Orang datang untuk melihat-lihat, menemukan sesuatu yang menarik, lalu mungkin berhenti sebentar untuk berbincang.

    Semangat yang sama juga hadir melalui Gatherings by Sheraton yang berlangsung setiap minggu. Berbagai aktivitas komunitas, wellness, dan social gatherings dirancang untuk membuka kesempatan bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi baru.

    Sebuah hotel akhirnya tidak hanya menjadi tempat orang menginap, tetapi juga ruang tempat orang bisa saling menemukan.

    Ada Percakapan di Balik Sebuah Meja

    Cerita tentang kebersamaan juga bisa ditemukan dari hal yang paling sederhana: makan bersama.

    Sepanjang Oktober, Feast Restaurant menghadirkan 36 menu pilihan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Sementara Toastina Pastry & Coffee House menghadirkan pilihan menu dengan penawaran khusus pada 1–5 Oktober 2026.

    Tapi mungkin bukan menunya yang paling menarik untuk diceritakan.
    Melainkan apa yang terjadi setelah makanan tersaji.

    Seseorang mulai bercerita. Yang lain ikut menanggapi. Percakapan yang awalnya sebentar ternyata berlangsung lebih lama.

    Sebab makanan memang sering punya cara sederhana untuk mempertemukan orang. Tidak banyak yang perlu direncanakan ketika beberapa orang sudah duduk di meja yang sama.

    Ketika Waktu Bersama Menjadi Cerita Keluarga

    Perjalanan bersama keluarga juga punya bentuknya sendiri.

    Tidak selalu tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang justru tentang bagaimana satu hari bisa digunakan untuk benar-benar bersama.

    Hal itu menjadi bagian dari Side by Side, program yang dihadirkan Sheraton Bandung untuk keluarga yang menginap. Orang tua dan anak diajak meluangkan waktu untuk bermain, belajar, dan menciptakan momen bersama.

    Ada anak yang sibuk dengan aktivitasnya. Ada orang tua yang menemani. Ada momen-momen kecil yang mungkin tidak terlihat istimewa saat terjadi, tetapi justru menjadi cerita ketika perjalanan itu sudah selesai.

    Termasuk menikmati gelato atau kukis yang menjadi bagian dari paket Family Staycation.

    Bukan soal apa yang didapat, tetapi tentang siapa yang menikmatinya bersama.

    Perayaan 36 Tahun, Berbagi untuk Sesama

    Jika melihat kembali perjalanan selama 36 tahun, mungkin yang paling menarik bukan hanya bagaimana sebuah hotel bertahan selama itu.

    Melainkan berapa banyak pertemuan yang pernah terjadi di dalamnya.

    Keluarga yang datang bersama. Komunitas yang menemukan ruang untuk berkumpul. Orang-orang yang bertemu untuk pertama kalinya. Hingga mereka yang datang untuk memberikan sesuatu bagi orang lain.

    Semangat itu juga hadir melalui kegiatan donor darah Serve 360, yang terbuka untuk umum dan dilakukan bersama Lions Club Bandung serta PMI.

    Pada akhirnya, usia mungkin hanya sebuah angka.

    Yang membuatnya punya arti adalah cerita yang terkumpul di sepanjang perjalanan.

    Dan mungkin, selama 36 tahun berada di Dago, Sheraton Bandung bukan hanya menyimpan cerita tentang tempatnya sendiri.

    Tetapi juga cerita dari orang-orang yang pernah datang, bertemu, menghabiskan waktu, lalu membawa pulang bagian kecil dari pengalaman itu.

    “Ke-36 tahun adalah sebuah perjalanan yang dibangun bersama tamu, associate, komunitas, partner, dan masyarakat. Melalui tema Bringing People Together, kami ingin menjadikan perayaan tahun ini bukan hanya sebagai perayaan usia, tetapi juga sebagai perayaan atas setiap hubungan, cerita, dan momen yang telah tercipta bersama.”— Herinova, General Manager Sheraton Bandung Hotel & Towers

  • Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Curioucity.id – Akhir pekan bersama keluarga di Bandung punya banyak cara untuk dihabiskan. Bisa mencari tempat makan, jalan-jalan, atau mencari ruang agar anak-anak bisa bermain. Kali ini, olahraga juga bisa menjadi bagian dari waktu bersama.

    Gagasan tersebut coba ditawarkan Basra Gym di Jalan Soekarno-Hatta No. 813, Cinambo, Bandung. Resmi menggelar Grand Opening pada 26 September 2026, Basra Gym hadir dengan konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” dan membawa pendekatan yang sedikit berbeda dari tempat gym pada umumnya.

    Di tempat ini, olahraga menjadi pintu masuk. Setelahnya, ada ruang untuk anak, keluarga, komunitas, sampai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

    Dari Niat Berolahraga, Basra Gym Mengajak Keluarga Melakukannya Bersama

    Pergi ke gym biasanya identik dengan satu tujuan: berolahraga. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan bersama keluarga, kebutuhan setiap orang tentu bisa berbeda.

    Basra Gym mencoba membaca hal tersebut melalui beberapa fasilitas yang berada dalam satu tempat. Area gym dipisahkan untuk ikhwan dan akhwat, sementara anak-anak memiliki Basra Kids dengan kelas fitness khusus serta Children Playground.

    Ada pula area calisthenics outdoor bagi mereka yang ingin berlatih di luar ruangan. Sementara bagi keluarga yang ingin sekadar makan atau berkumpul, Basra Cafe & Resto terbuka untuk umum, termasuk bagi pengunjung yang tidak sedang berolahraga atau tidak memiliki membership.

    Dengan begitu, satu kunjungan tidak harus memiliki aktivitas yang sama untuk semua anggota keluarga. Orang tua bisa berolahraga, anak-anak punya ruang untuk bergerak dan bermain, sementara anggota keluarga lainnya dapat menikmati waktu bersama.

    Ketika Anak Bisa Bermain dan Orang Tua Tetap Punya Ruang untuk Berolahraga

    Membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga sering kali bukan soal membuat semua orang melakukan hal yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana aktivitas tersebut bisa masuk ke dalam rutinitas tanpa terasa sebagai kewajiban yang berat.

    Basra Gym menempatkan keluarga sebagai bagian dari pengalaman itu. Kehadiran Basra Kids dan area bermain membuat anak-anak memiliki aktivitasnya sendiri, sementara orang tua tetap bisa menggunakan fasilitas olahraga.

    Di sisi lain, keberadaan Basra Hall membuka ruang untuk kegiatan yang lebih luas seperti seminar, kajian, dan aktivitas komunitas.

    Dari sini, konsep gym mulai terasa lebih luas. Bukan hanya tempat datang, berlatih, lalu pulang, tetapi ruang yang mencoba mempertemukan beberapa aktivitas dalam keseharian keluarga.

    Grand Opening Basra Gym Mempertemukan Olahraga dan Komunitas Bandung

    Semangat tersebut kemudian dibawa dalam rangkaian Grand Opening Basra Gym pada 26 September 2026.Alih-alih hanya mengandalkan seremoni pembukaan, kegiatan yang disiapkan juga mengajak pengunjung untuk ikut bergerak dan berkegiatan. Ada Fun Run dan Archery Competition, kemudian Seminar & Kajian, serta Community Bazaar.

    Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana Basra Gym ingin memperkenalkan tempatnya melalui aktivitas. Olahraga bertemu komunitas, sementara kegiatan keluarga dan ruang berkumpul menjadi bagian dari suasana pembukaan.

    Sejumlah hadiah dan doorprize juga disiapkan dalam rangkaian Grand Opening, termasuk promo membership khusus pada hari pembukaan.

    Namun, di balik rangkaian tersebut, ada gagasan yang ingin dibawa lebih jauh: menjadikan olahraga sebagai bagian dari perjalanan keluarga untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

    “Lebih Kuat, Lebih Taat” Konsep Yang Dibawa Basra Gym

    Nama Basra Gym tidak hanya membawa gagasan tentang tubuh yang lebih aktif. Konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” menjadi cara mereka menghubungkan kekuatan fisik dengan nilai spiritual.

    Hal tersebut disampaikan Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    “Kami ingin Basra Gym menjadi lebih dari sekadar tempat berolahraga. Ini adalah ruang bagi keluarga Muslim di Bandung untuk membangun kekuatan fisik sekaligus ketaatan spiritual, sejalan dengan semangat ‘Lebih Kuat, Lebih Taat’ yang kami usung,” ujar Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    Pada akhirnya, konsep tersebut kembali pada hal yang cukup dekat dengan keseharian: bagaimana olahraga bisa menjadi kebiasaan, bagaimana keluarga bisa saling mengajak untuk lebih aktif, dan bagaimana sebuah tempat dapat menjadi ruang bertemu bagi komunitas.

    Basra Gym membawa gagasan itu ke Bandung dengan menjadikan aktivitas fisik, keluarga, dan komunitas berada dalam satu pengalaman.

    “Karena menjadi lebih kuat bukan hanya tentang tubuh yang terus bergerak, tetapi juga tentang kebiasaan baik yang tumbuh bersama orang-orang yang kita sayangi.”

  • IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    Curioucity.id — Bandung punya banyak cara untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Ada yang mengajak anak bermain, mencari tempat makan, berjalan-jalan, atau sekadar keluar rumah setelah beberapa hari sibuk dengan rutinitas.

    Karena itu, ketika sebuah pameran keluarga kembali hadir di Bandung, menarik untuk melihatnya bukan hanya sebagai tempat berbelanja. Ada orang tua yang datang membawa kebutuhan, anak-anak yang punya kesenangan sendiri, dan orang-orang yang datang dengan tujuan berbeda tetapi akhirnya bertemu di tempat yang sama.

    Indonesia Mom and Baby and Kids Expo (IMOBY) akan kembali berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Sudirman Grand Ballroom Bandung. Setelah penyelenggaraan pada Februari lalu mendapat antusiasme besar, IMOBY kembali dengan skala yang lebih luas dan menghadirkan sekitar 120 tenant.

    Dari sini, cerita IMOBY di Bandung bisa dilihat lebih dekat. Bukan hanya tentang apa yang ada di dalam pameran, tetapi juga tentang bagaimana keluarga menghabiskan waktu bersama di dalamnya.

    Ada Banyak Alasan Keluarga Datang ke Sudirman Grand Ballroom

    Ketika pergi bersama keluarga, biasanya tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Orang tua mungkin sudah punya barang yang ingin dicari. Anak bisa saja lebih tertarik pada sesuatu yang bisa dilihat dan dimainkan. Ada pula yang sekadar ikut karena ingin menghabiskan waktu bersama.

    IMOBY mempertemukan berbagai kebutuhan itu dalam satu tempat. Tahun ini, sekitar 120 tenant akan hadir membawa produk untuk ibu, bayi, dan anak, termasuk Haloli, Sweety, Merries, Ovikids, Dialogue, dan SHP Toys. Pameran berlangsung selama tiga hari, mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

    Namun, sebuah pameran keluarga tentu tidak hanya terdiri dari deretan produk.

    Ada orang yang datang dengan daftar belanja, lalu menemukan hal lain yang tidak direncanakan. Ada yang awalnya hanya menemani, tetapi akhirnya ikut melihat-lihat. Dan ada anak yang mungkin tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang dicari orang tuanya.

    Di Bandung, IMOBY menjadi salah satu pilihan untuk mempertemukan berbagai kepentingan itu dalam satu akhir pekan.

    Ketika Kebutuhan Ibu dan Anak Bertemu dalam Satu Tempat

    Ada satu hal yang cukup menonjol dari IMOBY tahun ini: perhatian kepada ibu.

    Dalam keseharian keluarga, ibu sering kali menjadi sosok yang memikirkan banyak kebutuhan sekaligus. Ketika datang ke pameran yang memang ditujukan untuk keluarga, mereka tidak hanya ditempatkan sebagai orang yang mencari kebutuhan anak.

    Penyelenggara IMOBY menyebut kenyamanan psikologis dan kebahagiaan ibu sebagai salah satu prioritas acara. Bentuknya antara lain melalui free gift, program belanja, serta hiburan yang juga bisa dinikmati bersama anak.

    “Seorang ibu itu sangat butuh disayangi dan diapresiasi. Di IMOBY, kami tidak hanya sekadar berjualan, tapi kami benar-benar merangkul dan memanjakan mereka.”— Karen Wiraraharja, penyelenggara IMOBY Expo.

    Gagasan tersebut membuat kunjungan ke pameran tidak sepenuhnya berpusat pada kebutuhan anak.

    Ada pula ruang bagi ibu untuk menikmati waktunya sendiri, melihat-lihat sesuatu yang menarik perhatian, atau sekadar menikmati suasana bersama keluarga.Sederhana, tetapi justru dekat dengan keseharian.

    Anak-Anak Punya Agenda Mereka Sendiri

    Bagi anak, alasan datang ke sebuah pameran tentu berbeda.

    Mereka mungkin tidak datang karena ingin melihat produk tertentu. Yang lebih menarik bisa jadi adalah pertunjukan, permainan, atau aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak-anak lainnya.

    IMOBY menyiapkan sejumlah agenda untuk mengisi bagian tersebut. Selain berbagai lomba dan edukatif talkshow, ada special performance dari Babalilitata, Riko The Series, dan Uwa and Friends.

    Dengan begitu, anak tidak sekadar menjadi teman orang tua ketika berbelanja.Mereka punya alasan sendiri untuk menikmati kunjungan.

    Sementara orang tua melihat kebutuhan keluarga, anak bisa mengikuti aktivitas atau menonton pertunjukan. Setelahnya, mereka kembali bertemu dan melanjutkan hari bersama.Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama untuk bisa menikmati satu perjalanan.

    Dari Pengunjung hingga Jastiper, Semua Punya Perannya

    Di balik keluarga yang datang, ada pula kelompok lain yang ikut menjadi bagian dari cerita IMOBY: para pelaku jasa titip atau jastiper.

    Bagi jastiper, sebuah pameran bisa menjadi tempat mencari produk untuk orang lain. Karena itu, penyelenggara melihat mereka bukan sekadar sebagai pembeli dalam jumlah besar, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pameran.

    IMOBY menyiapkan program Top Spender dan doorprize yang dapat diikuti pengunjung umum maupun jastiper. Sementara bagi pengunjung yang berbelanja langsung, ada Gift With Purchase berdasarkan jumlah transaksi.

    Di balik semua itu, terlihat bahwa satu pameran ternyata mempertemukan cukup banyak peran.

    Ada brand yang membawa produknya ke Bandung. Ada orang tua yang mencari kebutuhan keluarga. Ada anak-anak yang datang untuk menikmati hiburan. Ada pula jastiper yang datang membawa kebutuhan orang lain.

    IMOBY juga melakukan kurasi dan rotasi brand agar pilihan produk yang hadir dapat berubah dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya. Untuk produk makanan dan kosmetik, penyelenggara menyebut proses kurasi juga memperhatikan kejelasan logo halal.

    Pada akhirnya, Bandung bukan hanya menjadi lokasi IMOBY 2026, tetapi latar tempat berbagai cerita keluarga itu bertemu.

    Ada yang datang karena memang sedang membutuhkan sesuatu. Ada yang ingin mengajak anak keluar. Ada yang datang untuk melihat-lihat. Ada juga yang menjadikan pameran sebagai bagian dari aktivitas ekonominya.

    Semua hadir dengan alasan masing-masing.

    Dan mungkin, seperti banyak perjalanan keluarga lainnya di Bandung, yang tersisa setelahnya bukan hanya barang yang dibawa pulang, tetapi cerita tentang bagaimana satu hari dihabiskan bersama.

    “Di Bandung, akhir pekan selalu punya banyak cara untuk dinikmati. Kali ini, ceritanya datang dari satu ruang yang mempertemukan keluarga dengan caranya masing-masing.”

  • Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Curioucity.id – Ada cara berbeda untuk melihat Bandung ketika pagi belum benar-benar ramai: menyusuri jalannya dengan berlari.

    Jalan yang biasanya dilewati kendaraan, kawasan yang akrab dengan aktivitas warga, sampai Balai Kota Bandung yang sehari-hari menjadi ruang pemerintahan, tiba-tiba memiliki suasana lain ketika ribuan orang datang dengan nomor peserta di dada dan sepatu lari di kaki.

    Pengalaman seperti ini sudah beberapa kali hadir melalui POCARI SWEAT Run. Pada 2025, Balai Kota Bandung menjadi titik start dan finish, dengan 16.000 pelari mengikuti kategori offline dan lebih dari 30 ribu peserta lainnya berlari secara virtual dari berbagai daerah di Indonesia.

    Namun, mungkin yang membuat POCARI SWEAT Run menarik bukan hanya jumlah orang yang berlari. Ada Bandung yang ikut hadir di sepanjang perjalanan—melalui komunitas, warga, kreativitas, sampai kepedulian terhadap lingkungan.

    Pada 19–20 September 2026, POCARI SWEAT Run kembali hadir di Bandung dengan kategori 10K dan Half Marathon. Kali ini, Bandung menjadi penutup rangkaian POCARI SWEAT Run 2026 sekaligus bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Bandung.

    POCARI SWEAT Run Menemukan Ceritanya di Bandung

    Sebuah rute lari sebenarnya bisa menjadi cara sederhana untuk membaca sebuah kota.

    Pelari tidak hanya melihat angka kilometer di jam tangan, tetapi juga melewati ruang-ruang yang selama ini mungkin hanya dikenal dari balik kaca kendaraan. Ada sudut kota yang terasa berbeda ketika dilalui dengan langkah sendiri, apalagi ketika jalan tersebut dipenuhi orang dengan tujuan yang sama.

    Itulah yang membuat Bandung memiliki cerita tersendiri dalam POCARI SWEAT Run.

    Pada penyelenggaraan 2025, perubahan rute dan waktu start dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan pelari sekaligus masyarakat Bandung. Pemilihan jalur pun melibatkan berbagai unsur pemerintah kota, karena sebuah event sebesar ini pada akhirnya tidak hanya berlangsung di lintasan, tetapi juga bersinggungan langsung dengan kehidupan kota.

    Balai Kota Bandung menjadi salah satu titik yang menarik untuk dibaca dalam cerita tersebut. Ia bukan sekadar tempat berkumpul sebelum berlari, melainkan salah satu ruang yang mempertemukan pelari dengan wajah Bandung sebagai kota.

    Pada 2026, rute kembali dirancang melewati titik-titik ikonik dan kawasan yang memiliki karakter, sehingga peserta dapat melihat sisi Bandung yang kreatif dan dinamis. Dengan dukungan masyarakat dan komunitas lokal di sepanjang jalur, pengalaman berlari pun menjadi lebih dari sekadar berpindah dari satu kilometer ke kilometer berikutnya.

    Barangkali, cara paling sederhana untuk mengenal sebuah kota adalah dengan berjalan cukup pelan untuk melihat siapa saja yang tinggal di dalam ceritanya.

    Ketika Lintasan Bertemu Wajah Bandung

    Jika hanya melihat garis start dan finish, POCARI SWEAT Run mungkin terlihat seperti kumpulan pelari.

    Padahal di sepanjang perjalanan ada banyak cerita lain yang membuat sebuah event bisa terasa hidup.

    Ada komunitas pelari yang menjadikan lari sebagai bagian dari rutinitas. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar catatan waktu, tetapi juga bertemu teman, berlatih bersama, dan menemukan alasan baru untuk tetap aktif.

    Ada pula warga Bandung yang ikut mengambil bagian dari suasana di sekitar rute. Pada 2025, masyarakat diberdayakan untuk terlibat melalui penyediaan kuliner, souvenir, hingga cheering point. Jadi, orang yang tidak ikut berlari pun tetap memiliki ruang untuk menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Di sisi lain, karakter Bandung yang dekat dengan kreativitas membuat kehadiran seni dan komunitas menjadi sesuatu yang terasa natural. Ketika sebuah kota memiliki tradisi berkumpul, berkarya, bermusik, dan membuat sesuatu bersama, event olahraga pun bisa bertemu dengan ekspresi lokal tanpa harus kehilangan identitasnya.

    Kemudian ada masyarakat di sekitar rute yang mungkin tidak mengenakan running shoes, tetapi ikut menyaksikan, menyemangati, dan merasakan perubahan ritme kota selama event berlangsung.

    Di titik ini, POCARI SWEAT Run menjadi semacam pertemuan. Pelari membawa energi olahraga, komunitas membawa kebiasaan, seniman membawa ekspresi, sementara warga membawa kehidupan sehari-hari Bandung ke dalam sebuah perhelatan yang berlangsung hanya beberapa hari.

    Ketika POCARI SWEAT Run Dimulai dari Kebiasaan Sehat

    Pada akhirnya, lari bukan hanya tentang hari perlombaan.Ada hari-hari sebelumnya ketika seseorang mulai berlatih lebih rutin. Ada keputusan untuk tidur lebih cukup, memperhatikan asupan, mengenali kemampuan tubuh, dan tentu saja memahami pentingnya hidrasi.

    POCARI SWEAT sendiri merupakan minuman pengganti ion yang diformulasikan untuk membantu mengembalikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang melalui keringat.

    Karena itu, pengalaman dalam sebuah running event sebenarnya bisa menjadi pengingat tentang hal-hal sederhana yang sering terlupakan ketika hidup berjalan terlalu cepat: tubuh perlu dijaga sebelum diminta bekerja lebih jauh.

    Hal tersebut juga yang membuat komunitas pelari punya peran penting. Kebiasaan hidup sehat sering kali lebih mudah bertahan ketika dilakukan bersama. Ada teman yang mengajak latihan, komunitas yang membuat seseorang kembali berlari, atau sekadar percakapan setelah latihan yang membuat olahraga terasa sebagai bagian dari kehidupan, bukan kewajiban.

    Dari sana, olahraga perlahan bergeser dari aktivitas sesekali menjadi lifestyle.

    Dan mungkin inilah salah satu alasan POCARI SWEAT Run terus berkembang. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014, jumlah pesertanya terus bertumbuh; pada 2025, total partisipasi mencapai 55.435 pelari.

    Sustainability yang Tidak Berhenti di Garis Finish

    Ada satu hal yang menarik dari sebuah event besar: setelah pelari meninggalkan garis finish, apa yang tersisa?

    Pertanyaan itu membawa sustainability ke cerita yang lebih panjang.

    Dalam penyelenggaraan POCARI SWEAT Run, upaya lingkungan telah dilakukan melalui inisiatif “Nol Sampah ke TPA”. Sepanjang 2022–2024, sebanyak 11,4 ton sampah disebut telah berhasil didaur ulang, kemudian pada 2025 komunitas muda Bandung dilibatkan untuk memungut sampah sepanjang rute.

    Tetapi cerita tentang kemasan juga punya perjalanan sendiri.

    Melalui Otsuka Blue Planet, kaleng bekas POCARI SWEAT dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk bank sampah dan komunitas pelari, lalu digunakan sebagai bagian dari instalasi seni bersama seniman lokal. Program ini memperlihatkan bahwa benda yang selesai digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang.

    Di sinilah olahraga, komunitas, seni, dan lingkungan kembali bertemu.

    Satu botol atau kaleng mungkin terlihat seperti benda sehari-hari. Namun ketika masyarakat mulai memilah, mengumpulkan, mengolah, dan melihat kembali nilai dari benda tersebut, sustainability berubah dari sebuah istilah menjadi kebiasaan yang bisa dilakukan dalam kehidupan nyata.

    Begitu pula dengan POCARI SWEAT Run di Bandung.

    Yang tertinggal setelah garis finish bukan hanya angka di race bib atau catatan waktu di smartwatch. Ada jalan-jalan kota yang kembali dilalui kendaraan, komunitas yang pulang membawa cerita, warga yang kembali menjalankan aktivitasnya, dan kebiasaan kecil yang mungkin terus dilakukan setelah event selesai.

    Mungkin itu yang membuat Bandung selalu punya cerita ketika POCARI SWEAT Run kembali hadir.

    Karena yang berlari bukan hanya mereka yang mengenakan nomor peserta. Bandung ikut berlari melalui orang-orangnya.

    “POCARI SWEAT Run mungkin selesai ketika langkah terakhir melewati garis finish. Tetapi bagi Bandung, cerita tentang bergerak, berbagi ruang, dan menjaga lingkungan masih terus berjalan.”

  • Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Curiocity.id — Di Tjihapit, pagi punya caranya sendiri untuk terasa hidup. Ada yang datang mencari sarapan, berjalan menyusuri kawasan, bertemu teman, atau sekadar mencari tempat untuk duduk sambil menikmati suasana kota.

    Di antara aktivitas itu, Little SUGU Bakehouse hadir sebagai salah satu sudut yang menarik untuk disinggahi. Bukan karena harus punya alasan khusus untuk datang, tetapi karena suasananya terasa cocok untuk berbagai cerita yang terjadi sepanjang hari.

    “Kadang, tempat yang menyenangkan adalah tempat yang tidak banyak menuntut. Datang, pilih sesuatu yang disuka, lalu biarkan percakapan menemukan arahnya sendiri.”

    Croissant, Kopi, dan Slow Morning di Tjihapit

    Salah satu hal yang langsung menarik perhatian di Little SUGU adalah pilihan croissant dan pastry yang tersedia. Bentuk dan variannya membuat proses memilih pun menjadi bagian dari pengalaman sebelum akhirnya menemukan satu yang paling ingin dinikmati.

    Ada sesuatu yang menyenangkan dari pagi yang dimulai dengan pastry hangat dan minuman favorit. Apalagi ketika suasana Tjihapit di luar ikut menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Tidak harus terburu-buru. Duduk, menikmati gigitan pertama, menyeruput kopi, lalu melihat aktivitas kawasan yang perlahan semakin ramai.

    Slow morning disini terasa lebih seperti menikmati bagaimana sebuah hari dimulai, bukan sekadar mencari tempat untuk sarapan.

    Tempat Bertemu dan Mengobrol Santai

    Little SUGU juga punya karakter yang cocok untuk berkumpul bersama sahabat.

    Meja menjadi titik temu untuk berbagai percakapan. Mulai dari cerita yang sudah lama ingin dibagikan, kabar terbaru dari teman, sampai obrolan sederhana yang awalnya hanya ingin berlangsung sebentar tetapi akhirnya menjadi panjang.

    Suasananya pun tidak terasa terlalu formal. Datang bersama teman, memilih pastry yang berbeda, lalu saling mencicipi pesanan bisa menjadi bagian kecil dari pengalaman yang justru paling mudah diingat.

    “Ada percakapan yang tidak membutuhkan tempat istimewa. Cukup sesuatu yang enak di meja dan orang-orang yang memang ingin ditemui.”

    Singgah Sebentar, Menikmati Suasana Tjihapit

    Salah satu daya tarik Little SUGU adalah bagaimana tempat ini bisa menjadi bagian dari perjalanan ketika sedang berada di Tjihapit.

    Mau mampir sebelum melanjutkan perjalanan, duduk sambil menikmati pastry, atau bertemu teman untuk menghabiskan waktu bersama, semuanya terasa natural.

    Letaknya di kawasan Tjihapit juga membuat pengalaman di Little SUGU tidak berdiri sendiri. Aktivitas di sekitar kawasan, suasana jalan, dan karakter lingkungan menjadi bagian dari cerita ketika seseorang datang ke sini.

    Little SUGU buka dari pagi hingga pukul tiga sore. Waktu tersebut membuatnya terasa dekat dengan momen-momen ketika orang biasanya mencari sarapan, menikmati brunch, atau bertemu sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya.

    Pada akhirnya, Little SUGU bukan hanya tentang apa yang tersaji di etalase. Ada pilihan croissant, percakapan bersama sahabat, dan suasana Tjihapit yang membuat kunjungan terasa seperti bagian alami dari perjalanan hari itu.

    Sebuah tempat untuk mampir, menikmati sesuatu yang disuka, lalu pulang membawa cerita yang sederhana.

  • Bandung Selalu Punya Ruang untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh. Film Dan Bandung Mencoba Menceritakannya.

    Bandung Selalu Punya Ruang untuk Mereka yang Sedang Bertumbuh. Film Dan Bandung Mencoba Menceritakannya.

    Curioucity.id — Ada alasan mengapa banyak cerita memilih Bandung sebagai tempat untuk pulang. Bukan semata karena udaranya yang sejuk atau jalan-jalan yang mudah dikenang, melainkan karena kota ini seolah memberi ruang bagi orang-orang yang sedang mencari dirinya sendiri.

    Di bangku taman, di kedai kopi yang ramai menjelang senja, atau di trotoar yang mulai lengang setelah hujan, Bandung menyimpan percakapan-percakapan kecil yang jarang terdengar. Tentang anak muda yang sedang jatuh cinta, tentang keluarga yang belum selesai dipahami, hingga tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama menuju kehidupan yang baru.

    Film Dan Bandung, adaptasi novel karya Pidi Baiq yang disutradarai Rudi Soedjarwo, memilih memulai ceritanya dari ruang yang akrab itu. Melalui teaser poster dan trailer yang diperkenalkan di Kota Bandung, film ini menghadirkan kisah dua remaja dengan latar kehidupan berbeda yang dipertemukan oleh cinta, namun diuji oleh lingkungan yang belum tentu menerima mereka.

    “Barangkali sebuah kota tidak dikenang karena gedung-gedungnya. Ia hidup karena cerita yang ditinggalkan orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya.”

    Bandung yang Tidak Sekadar Menjadi Latar

    Dalam banyak film, sebuah kota hanya menjadi pemandangan yang indah untuk dilihat. Namun dari cuplikan perdananya, Dan Bandung memperlakukan Bandung sebagai ruang yang ikut bernapas bersama para tokohnya.

    Sudut-sudut kota tidak hanya mempercantik visual, tetapi menjadi tempat lahirnya percakapan, keraguan, sekaligus keberanian. Kota ini seperti menyimpan jejak langkah Basil dan Elma yang perlahan belajar memahami dunia mereka sendiri.

    Hal itu pula yang membuat Bandung terasa dekat bagi banyak orang. Kita mungkin datang karena suasananya, tetapi sering kali pulang dengan membawa cerita yang tak pernah direncanakan.

    Ketika Persahabatan Menjadi Rumah

    Di balik romansa Basil dan Elma, ada cerita lain yang terasa lebih sunyi.

    Elma adalah seorang remaja perempuan yang tumbuh dibawah pola asuh yang ketat. Ia memikul trauma, rasa takut, dan pertanyaan yang tidak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata. Film ini kemudian memperlihatkan bahwa proses bertumbuh tidak selalu dimulai dari hubungan romantis, melainkan dari keberadaan orang-orang yang memilih tetap tinggal ketika hidup terasa berat.

    Persahabatan antar perempuan menjadi salah satu fondasi penting dalam cerita ini. Mereka bukan sekadar karakter pendukung, melainkan ruang aman yang membuat Elma perlahan berani membuka pintu menuju dunia yang selama ini terasa jauh.

    “Kadang, seseorang tidak membutuhkan jawaban. Ia hanya membutuhkan seseorang yang memilih untuk tetap tinggal.”

    Sebuah Cerita Baru dari Pidi Baiq

    Bagi Pidi Baiq, Dan Bandung menawarkan warna yang berbeda dibanding karya-karyanya terdahulu.

    “Berbeda dengan Dilan, Dan Bandung akan membawa cerita yang lebih fresh dan modern untuk anak-anak muda zaman sekarang,” ungkap Pidi Baiq.

    Sementara itu, Rudi Soedjarwo melihat film ini sebagai kisah tentang dua anak muda yang terus memperjuangkan perasaan mereka, meski lingkungan di sekelilingnya belum memberikan ruang yang cukup

    “Film ini akan membawakan cerita yang manis tentang dua anak muda yang tetap berjuang untuk perasaan mereka, walaupun lingkungan di sekitarnya tidak mendukung,” ujar Rudi Soedjarwo.

    Jejak yang Mungkin Tinggal Setelah Film Usai

    Barangkali Dan Bandung bukan hanya tentang romansa beda kasta.

    Film ini mengingatkan bahwa setiap orang pernah berada di fase ketika rumah terasa sempit, dunia terasa asing, dan keberanian datang perlahan melalui orang-orang yang hadir tanpa banyak syarat.

    Mungkin itulah alasan Bandung terus dipilih sebagai tempat bercerita. Kota ini tidak menjanjikan semua persoalan akan selesai. Namun, ia selalu menyediakan ruang bagi siapa saja yang sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

    Barangkali ketika Dan Bandung hadir di bioskop pada Agustus nanti, yang dibawa pulang penonton bukan hanya kisah cinta Elma dan Basil. Bisa jadi, mereka juga menemukan kembali satu hal yang sering terlupakan:

    “Setiap kota menyimpan cerita, tetapi tidak semua kota mampu membuat seseorang merasa dipeluk saat sedang mencari arah”

  • “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    Curioucity.id — Bandung selalu bergerak. Namun, di antara pergerakan itu, selalu ada ruang yang memilih untuk berjalan lebih lambat

    “Barangkali secangkir kopi bukan tentang mengusir kantuk. Kadang, ia hanya alasan agar seseorang mau berhenti sejenak.”

    Bandung mengenal banyak cara untuk membuat orang terus bergerak. Jalanan yang ramai, daftar pekerjaan yang terus bertambah, hingga percakapan yang datang silih berganti. Hari-hari seperti itu sering kali membuat jeda terasa seperti sesuatu yang mewah.

    Di kawasan Kacapiring, Bandung, ada sebuah ruang yang justru memelihara jeda itu. Namanya COMA—Coffee Matter.

    Nama itu menarik. Dalam dunia bahasa, comma adalah tanda baca yang memberi kesempatan sebuah kalimat mengambil napas sebelum melanjutkan cerita. COMA terasa memiliki gagasan yang serupa: bukan akhir dari perjalanan, melainkan ruang kecil untuk berhenti sebelum melangkah lagi.

    Aroma yang Datang Lebih Dulu

    Pintu terbuka, lalu aroma pastry hangat datang lebih dulu. Setelahnya, wangi kopi yang baru diseduh perlahan mengisi ruang, bercampur dengan percakapan dan aktivitas kecil yang berlangsung di sekitarnya.

    Tidak ada yang terasa berlebihan. Ruangan nyaman untuk ditempati, baik ketika seseorang datang untuk mengobrol maupun ketika hanya ingin punya waktu sendiri.

    Cahaya yang masuk ke dalam ruangan membuat suasananya terasa ringan. Ada meja yang dipenuhi percakapan, ada pula sudut yang cukup tenang untuk sekadar duduk dan membiarkan waktu berjalan.

    Di tempat seperti ini, kenyamanan bukan sesuatu yang perlu diumumkan. Ia terasa dari cara orang-orang bertahan lebih lama dari yang mereka rencanakan.

    Pagi yang Hangat, Sore yang Lebih Riuh

    Menariknya, COMA seperti memiliki dua wajah dalam satu hari.

    Pagi hari terasa lebih tenang. Keluarga datang menikmati waktu bersama, beberapa orang memulai aktivitas dengan kopi dan sarapan, sementara suasana di dalam ruang masih menyimpan ritme yang pelan.

    Menjelang sore, karakternya mulai berubah.

    Anak-anak muda mulai mengisi meja, percakapan menjadi lebih ramai, dan kopi dingin seperti Dirty Latte ikut menemani waktu setelah aktivitas seharian. Bukan keramaian yang membuat sesak, melainkan jenis riuh yang justru terasa akrab.

    “Satu ruang bisa terasa berbeda, tergantung siapa yang datang dan cerita apa yang sedang dibawa.”

    Perubahan itu menjadi salah satu hal menarik dari COMA. Tempat yang sama, tetapi pengalaman yang bisa terasa berbeda hanya karena waktu kedatangan.

    Dari Kopi hingga Butter Teok

    Jeda tentu tidak selalu harus ditemani kopi.

    COMA juga menghadirkan pilihan makanan dengan karakter yang cukup beragam, termasuk Butter Teok dan sejumlah menu fusion yang memadukan berbagai rasa. Pilihannya membuat meja tidak hanya menjadi tempat untuk menaruh secangkir kopi, tetapi juga ruang untuk berbagi makanan dan mencoba sesuatu yang berbeda.

    Butter Teok, misalnya, menjadi salah satu pilihan yang menarik perhatian karena menghadirkan olahan yang tidak terlalu biasa ditemui dalam keseharian kedai kopi.

    Sementara menu fusion lainnya memberikan pilihan yang lebih luas bagi mereka yang datang bukan hanya untuk minum, tetapi juga ingin makan sambil menghabiskan waktu.

    Pada akhirnya, makanan di sini tidak harus menjadi alasan utama untuk datang. Ia bisa menjadi bagian kecil dari percakapan yang berlangsung di atas meja.

    Tempat Nyaman untuk Berhenti Sejenak

    Ada tempat yang nyaman karena desainnya. Ada pula tempat yang terasa nyaman karena cara orang-orang di dalamnya menggunakannya.

    COMA berada di antara keduanya.

    Ruangnya cukup fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Datang bersama keluarga terasa masuk akal, bertemu teman setelah sore yang panjang juga terasa natural, begitu pula duduk sendiri tanpa banyak melakukan apa-apa.

    Tidak ada keharusan untuk terus produktif.

    Laptop boleh terbuka. Buku boleh terbaca setengah halaman. Percakapan pun boleh melebar ke mana-mana.

    Sebuah Tanda Baca di Tengah Kota

    Bandung akan terus bertambah ramai. Tempat-tempat baru akan terus bermunculan, masing-masing dengan cerita dan karakternya sendiri.

    Namun, sesekali kota juga membutuhkan ruang yang tidak meminta siapapun untuk terburu-buru. Ruang yang cukup nyaman untuk membiarkan pikiran beristirahat, percakapan berlangsung apa adanya, dan makanan datang untuk dinikmati tanpa perlu mengejar waktu.

    Mungkin, itulah makna yang diam-diam disimpan COMA.

    Bukan sebuah tujuan akhir.

    Melainkan sebuah tanda baca, tempat seseorang mengambil napas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya sendiri.

  • Wajah Baru Padma Hotel Bandung, Tempat yang Selalu Punya Cerita untuk Kembali

    Wajah Baru Padma Hotel Bandung, Tempat yang Selalu Punya Cerita untuk Kembali

    Curioucity.id – Kita sering menghabiskan waktu mencari destinasi baru setiap kali merencanakan liburan. Seolah tempat yang belum pernah didatangi selalu lebih menarik daripada tempat yang sudah kita kenal. Padahal, ada beberapa tempat yang justru terasa semakin berarti karena kita terus kembali ke sana.

    Bukan karena bangunannya tidak berubah. Bukan pula karena selalu menghadirkan sesuatu yang baru. Melainkan karena setiap kunjungan membawa cerita yang berbeda.

    Di Bandung, Padma Hotel di kawasan Ciumbuleuit adalah salah satu tempat yang memiliki hubungan seperti itu dengan banyak keluarga. Berdiri di antara perbukitan hijau di utara kota, hotel ini telah menjadi bagian dari berbagai momen, mulai dari libur sekolah, perayaan kecil bersama orang terdekat, hingga akhir pekan yang dipilih hanya untuk menikmati waktu bersama. Kini, setelah menghadirkan pembaruan di berbagai fasilitasnya, Padma Hotel Bandung membuka lembar baru tanpa meninggalkan karakter yang selama ini membuat banyak orang ingin kembali.

    “Sebuah tempat tidak selalu dikenang karena kemegahannya. Kadang, ia tinggal lebih lama dalam ingatan karena menjadi saksi dari cerita yang terus bertambah.”

    Setiap Anggota Keluarga Selalu Menemukan Versi Liburannya Sendiri

    Salah satu hal yang menarik dari perjalanan keluarga adalah tidak ada yang benar-benar mencari pengalaman yang sama.

    Anak-anak mungkin lebih dulu berlari menuju kolam renang. Orang tua memilih duduk sambil mengawasi dari kejauhan. Sementara sebagian lainnya merasa cukup menikmati udara Ciumbuleuit yang masih terasa segar.

    Melalui transformasi terbarunya, Padma Hotel Bandung menghadirkan pengalaman yang semakin lengkap. Heated Family Pool dengan seluncuran air memberi ruang bermain bagi anak-anak, sementara Heated Infinity Pool yang kini menggunakan teknologi salt-chlorinated water system serta area jacuzzi yang diperluas menawarkan pengalaman yang berbeda bagi tamu dewasa. Adventure Park pun tetap menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menikmati aktivitas luar ruang bersama keluarga.

    Yang berubah bukan hanya fasilitasnya, tetapi juga semakin banyak kemungkinan cerita yang bisa tercipta di dalamnya.

    Ada Percakapan yang Selalu Dimulai dari Meja Makan

    Hampir setiap perjalanan memiliki satu momen yang sama: semua orang akhirnya berkumpul di satu meja.

    Di sanalah cerita perjalanan dibagikan, tawa muncul tanpa direncanakan, dan rencana untuk esok hari lahir begitu saja.

    Wajah baru The Restaurant menghadirkan pengalaman bersantap yang memadukan hidangan Indonesia dengan sajian autentik Italia, mulai dari pasta artisan hingga pizza yang dipanggang segar setiap hari. Tak jauh dari sana, Goolali Gelato Bar & Patisserie menjadi tempat singgah yang menyenangkan dengan pilihan gelato premium dan pastry artisan

    Mungkin, yang paling diingat bukan hanya apa yang tersaji di atas meja, tetapi siapa yang duduk bersama di sekelilingnya.

    “Beberapa kenangan keluarga tidak lahir dari perjalanan yang jauh. Ia tumbuh dari percakapan sederhana yang terjadi ketika semua orang akhirnya punya waktu untuk berkumpul.”

    Selalu Ada Alasan Baru untuk Kembali

    Tidak ada dua kunjungan yang benar-benar sama.

    Saat libur sekolah, hotel dipenuhi tawa anak-anak yang mengeksplorasi setiap sudut permainan. Ketika musim hujan tiba, lembah Ciumbuleuit menghadirkan lanskap yang berbeda. Menjelang akhir tahun, suasananya kembali berubah menjadi ruang berkumpul bagi keluarga yang ingin menutup tahun bersama.

    Mungkin inilah yang membuat Padma Hotel Bandung tetap memiliki tempat di hati banyak orang.

    Ia terus bertumbuh mengikuti kebutuhan para tamunya, tetapi tidak kehilangan identitas yang membuat orang ingin datang kembali.

    Karena pada akhirnya, sebuah perjalanan bukan hanya tentang menemukan tempat baru. Kadang, perjalanan yang paling berkesan justru membawa kita kembali ke tempat yang sama, untuk menulis cerita yang berbeda bersama orang-orang yang kita sayangi.