Author: Irma Rahmi Oktaviani

  • Lebih dari Sepak Bola Klub Persib Sebagai Identitas dan Budaya Kota Bandung

    Lebih dari Sepak Bola Klub Persib Sebagai Identitas dan Budaya Kota Bandung

    Curioucity.id — Di Bandung, ada percakapan yang bisa dimulai tanpa perlu banyak pembuka. Cukup menyebut Persib, lalu obrolan bisa bergerak ke mana saja—pemain, pertandingan, kenangan lama, sampai cerita tentang bagaimana seseorang pertama kali mengenal klub yang satu ini.

    Persib punya cara sendiri untuk masuk ke kehidupan kota. Bukan hanya ketika pertandingan berlangsung, tetapi juga dalam jersey yang dipakai keluar rumah, nama pemain yang tiba-tiba muncul di meja makan, atau obrolan antarteman yang terdengar di tengah aktivitas sehari-hari.

    Menariknya, orang-orang yang berbicara tentang Persib tidak selalu datang dari cerita yang sama.

    Ada yang sejak kecil diajak menonton oleh orang tuanya. Ada yang mengenal Persib melalui teman dan komunitas. Ada pula generasi yang tumbuh ketika media sosial membuat hubungan antara klub dan penggemarnya semakin dekat.

    Mereka disebut Bobotoh, tetapi masing-masing membawa pengalaman sendiri.

    Mungkin itu yang membuat Persib terasa lebih besar daripada pertandingan 90 menit. Di Bandung, ia tumbuh sebagai bagian dari ingatan, pertemanan, keluarga, dan kebiasaan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Persib Tumbuh Bersama Kehidupan Bandung

    Sepak bola memang punya kemampuan untuk mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dalam konteks Persib, pertemuan itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih panjang daripada durasi sebuah pertandingan.

    Penelitian Mulyana, Qonitah, dan Salsabilla dari Universitas Padjadjaran pada 2024 melihat Bobotoh sebagai sebuah fandom dengan budaya partisipasi yang aktif. Mereka menemukan empat bentuk partisipasi: afiliasi, ekspresi, kolaborasi, dan sirkulasi.

    Afiliasi terlihat dari terbentuknya berbagai komunitas dan ruang pertemanan Bobotoh. Ekspresi hadir lewat meme, video penggemar, koreografi, hingga berbagai bentuk kreativitas di media sosial.

    Sementara itu, kolaborasi dan sirkulasi menunjukkan bahwa hubungan Bobotoh dengan Persib tidak berhenti pada memberikan dukungan ketika pertandingan berlangsung. Informasi, gagasan, hingga kepedulian bisa bergerak dari satu orang ke orang lain.

    Artinya, Persib punya kehidupan lain di luar lapangan. Ia tumbuh melalui orang-orang yang terus membuat hubungan dengan klub dan sesama Bobotoh menjadi bagian dari keseharian.

    Di titik ini, sepak bola mulai terasa seperti budaya.

    “Persib bukan hanya klub yang ditonton, tetapi cerita yang terus dibuat bersama oleh orang-orang yang merasa menjadi bagian darinya.”

    Ada yang Mewarisi Persib, Ada yang Menemukan Ceritanya Sendiri

    Setiap Bobotoh mungkin punya satu cerita tentang awal mula semuanya.

    Bisa jadi dari seorang ayah yang selalu menyalakan televisi ketika Persib bermain. Bisa juga dari ibu, kakak, teman sekolah, atau lingkungan pergaulan yang perlahan mengenalkan nama-nama pemain dan cerita di balik sebuah klub.

    Ada pula yang menemukan Persib ketika sudah lebih dewasa.

    Hal seperti ini membuat hubungan antara Persib dan Bobotoh terasa personal. Sebab, kecintaan terhadap klub tidak selalu dimulai dari pertandingan yang paling berkesan. Kadang justru tumbuh dari hal sederhana yang dilakukan berulang kali sampai akhirnya menjadi bagian dari identitas seseorang.

    Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia mengenai loyalitas suporter Persib pada 2025 menemukan bahwa loyalitas Bobotoh tidak hanya berkaitan dengan dukungan terhadap klub. Para peneliti menemukan makna lain di dalamnya, seperti warisan keluarga, kebanggaan terhadap daerah, identitas pribadi, dan solidaritas sosial.

    Di situlah Bandung menjadi penting.

    Persib bukan klub yang berdiri jauh dari kehidupan kota. Nama Bandung bahkan melekat langsung pada identitasnya. Maka ketika seseorang mencintai Persib, di dalamnya bisa ada rasa dekat dengan kota, kenangan masa kecil, atau pengalaman hidup yang tidak mudah diterjemahkan dengan sekadar kata “suporter”.

    Satu generasi mengenalkan kepada generasi berikutnya.

    Lalu generasi berikutnya menemukan cara mereka sendiri untuk meneruskannya.

    Ketika Persib Menjadi Bahasa Bersama

    Sebuah budaya sering kali tumbuh dari sesuatu yang dilakukan bersama secara terus-menerus.Dalam Persib, kita bisa melihatnya melalui berbagai bentuk ekspresi Bobotoh. Chant yang dinyanyikan bersama, koreografi di tribun, bendera, atribut, konten digital, sampai komunitas yang membuat kegiatan di luar pertandingan.

    Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana jika berdiri sendiri. Tetapi ketika dilakukan oleh banyak orang dan diwariskan dari waktu ke waktu, ia menjadi bagian dari pengalaman bersama.

    Penelitian Universitas Padjadjaran tentang Bobotoh juga menunjukkan bagaimana fandom Persib berkembang menjadi budaya partisipatif. Penggemar tidak hanya menerima informasi dari klub, tetapi turut membuat, membagikan, dan mengembangkan berbagai bentuk ekspresi mengenai Persib. Bahkan, partisipasi tersebut dapat bergerak menuju aktivitas sosial dan kepedulian bersama.

    Sementara itu, penelitian mengenai pembentukan identitas sosial Bobotoh dari Universitas Pendidikan Indonesia melihat bahwa rasa memiliki terhadap Persib dan komunitas menjadi bagian dari proses terbentuknya identitas sosial. Pengalaman bersama, lingkungan sosial, media, serta keterlibatan dalam komunitas ikut membentuk rasa kebersamaan tersebut.

    Mungkin itu sebabnya percakapan tentang Persib terasa seperti sebuah bahasa yang sudah dipahami oleh banyak orang Bandung.

    Tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang.

    Satu jersey bisa membuka percakapan. Satu nama pemain bisa mengingatkan pada pertandingan tertentu. Satu chant bisa membawa kembali seseorang pada suasana tribun yang pernah ia rasakan.

    Persib menjadi titik temu.

    Bukan karena semua orang di dalamnya sama, tetapi karena perbedaan itu bisa hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama

    Pada akhirnya, mungkin yang membuat Persib begitu dekat dengan Bandung bukan hanya sejarah klub atau deretan pencapaiannya.

    Ada manusia di balik semua itu.Ada keluarga yang menyimpan cerita tentang pertandingan dari bertahun-tahun lalu. Ada teman yang pertama kali bertemu karena sama-sama Bobotoh. Ada komunitas yang menjadikan kecintaan terhadap Persib sebagai alasan untuk berkumpul dan berkarya.

    Ada pula generasi baru yang membawa cara mereka sendiri untuk mengenal klub ini.

    Mereka datang dari kehidupan yang berbeda, menjalani hari dengan kesibukan masing-masing, dan mungkin memiliki alasan yang berbeda pula ketika ditanya mengapa mencintai Persib.

    Namun ketika nama itu disebut, ada pengalaman yang terasa sama: rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.Itulah yang membuat Persib tidak berhenti sebagai klub sepak bola.

    Di Bandung, ia menjadi bagian dari budaya yang dibentuk bersama—melalui kebiasaan, simbol, keluarga, komunitas, kreativitas, dan ingatan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Satu Persib tidak menghasilkan satu cerita.

    Ia menghasilkan ribuan cerita yang tumbuh di kota, di stadion, di rumah, di antara pertemanan, dan di dalam kehidupan orang-orang yang menyebut dirinya Bobotoh.

    Dan mungkin, selama cerita itu terus diwariskan sekaligus menemukan bentuk-bentuk baru, Persib akan selalu punya tempat di Bandung.

    Bukan hanya sebagai nama di papan skor.

    Tetapi sebagai bagian dari cerita kota yang terus berjalan.

    “Satu Persib mungkin punya satu warna, tetapi Bandung selalu punya ribuan cara untuk mencintainya.”

    Referensi penelitian yang digunakan:
    Mulyana, D. A., Qonitah, A., & Salsabilla, S. A. (2024), Bentuk budaya partisipasi: Studi deskriptif kualitatif pada fandom bobotoh, Universitas Padjadjaran.

    Junaedi & Williyanto, S. (2025), Makna Loyalitas dalam Identitas Suporter: Studi Kualitatif pada Suporter Persib Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia.


    Destian, A., Bestari, P., & Mahfudz, A. (2025), Pembentukan Identitas Sosial Bobotoh Persib Bandung melalui Keterlibatan Sosial dan Politik, Universitas Pendidikan Indonesia.

  • TP Jazz Universe Membawa Nostalgia Soundtrack Film di Kota Baru Parahyangan

    TP Jazz Universe Membawa Nostalgia Soundtrack Film di Kota Baru Parahyangan

    Curioucity.id — Bandung dan musik seperti punya percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Kali ini, percakapan itu membawa TP Jazz keluar menuju Kota Baru Parahyangan, bukan dengan sebuah festival besar, melainkan sebuah pertunjukan yang terasa seperti membuka kembali album kenangan.

    Pada Jumat, 4 September 2026, Mason Grand Ballroom, Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan menjadi tempat berlangsungnya TP Jazz Universe: Greatest Movie Soundtrack. Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to The Papandayan Jazz Fest 2026, mempertemukan sejumlah musisi dengan soundtrack film yang sudah lama tinggal di ingatan banyak orang.

    Ada sesuatu yang menarik dari pilihan tema tersebut. Sebelum musik dimainkan, lagu-lagunya sudah membawa cerita masing-masing. Ketika dimainkan kembali dengan sentuhan jazz, yang muncul bukan hanya nostalgia terhadap film, tetapi juga kenangan pribadi yang mungkin ikut tersimpan di dalamnya.

    Dari Kota Baru Parahyangan, TP Jazz Membuka Perjalanan dengan Soundtrack Film

    Malam itu, ballroom tidak langsung terasa seperti ruang konser biasa. Sajian multimedia dan special lighting show membawa visual sinematik ke dalam ruangan, sementara To The Band, pemenang The Papandayan International Online Jazz Competition 2022, membuka pertunjukan sebelum Dwiki Dharmawan mengambil alih panggung.

    Dwiki menjadi salah satu pusat musikal dalam perjalanan malam tersebut. Di tangannya, soundtrack yang sudah dikenal luas mendapat ruang untuk bergerak dalam warna jazz.

    Kemudian satu per satu lagu mulai membawa penonton kembali ke layar film.

    Dirly Dave membuka dengan Go The Distance dari Hercules dan Can You Feel The Love Tonight. Tidak lama kemudian, ia berduet dengan Dira Sugandi membawakan (I’ve Had) The Time of My Life dari Dirty Dancing.

    Pilihan lagu tersebut seperti mengingatkan bahwa soundtrack punya kemampuan yang unik. Kita mungkin sudah lupa detail filmnya, tetapi begitu musiknya terdengar, adegan dan perasaan tertentu bisa muncul kembali.

    Malam itu, Kota Baru Parahyangan menjadi tempat bagi ingatan-ingatan tersebut untuk diputar ulang—kali ini melalui panggung jazz.

    Dira, Dirly, Sandhy, dan Rimar Membawa Film Kembali ke Ingatan

    Setelah Dirly, giliran Dira Sugandi membawa suasana menjadi lebih emosional melalui I Will Always Love You dari The Bodyguard. Kekuatan vokalnya berpadu dengan permainan Dwiki Dharmawan, membuat lagu yang sudah sangat dikenal tersebut terdengar dengan karakter yang berbeda.

    Sandhy Sondoro kemudian mengubah warna malam melalui Eye of The Tiger dan Glory of Love. Dua soundtrack dengan karakter kuat tersebut mendapat interpretasi personal dari warna vokal Sandhy.

    Lalu hadir sebuah kolaborasi yang terasa seperti membawa penonton kembali ke dunia animasi: Sandhy bersama Rimar Callista membawakan A Whole New World dari Aladdin.

    Rimar kemudian melanjutkan dengan When You Wish Upon A Star, sebelum membawa nostalgia ke wilayah yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.

    Medley Hanya Untukmu, Semusim, Galih dan Ratna, hingga Ayat-Ayat Cinta menjadi salah satu bagian yang mempertemukan musik dengan memori film Indonesia. Cinta Sejati dari Habibie & Ainun kemudian meneruskan suasana tersebut.

    Menariknya, tidak semua soundtrack perlu berasal dari film yang sama generasinya untuk terasa dekat.

    Ada lagu yang mengingatkan masa kecil, ada yang membawa seseorang kembali ke masa remaja, ada pula yang mungkin hanya mengingatkan pada seseorang yang pernah menonton film tersebut bersama.

    Barangkali itulah alasan soundtrack film terasa berbeda ketika dibawakan secara langsung. Kita tidak hanya mendengarkan lagu. Kita mendengarkan kembali sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidup.

    Satu Panggung Menyatukan Banyak Cerita

    Menjelang akhir, energi pertunjukan kembali bergerak. Dirly Dave kembali melalui I Don’t Want To Miss A Thing dari Armageddon, sementara Dira Sugandi hadir dengan How Far I’ll Go dari Moana dan My Heart Will Go On dari Titanic.

    Kemudian seluruh penyanyi kembali berada di atas panggung untuk This Is Me dari The Greatest Showman.

    Pilihan lagu penutup ini terasa seperti merangkum keseluruhan malam. Ada film yang berbeda, karakter vokal yang berbeda, generasi penonton yang berbeda, tetapi semuanya bertemu di satu panggung.

    Di luar musiknya, TP Jazz Universe juga menjadi bagian dari kolaborasi TP Jazz Management dan Kota Baru Parahyangan yang membawa semangat Community Based Development. Musik menjadi ruang pertemuan antara masyarakat dan komunitas, sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi seni dan budaya yang lebih panjang.

    Maka, pre-event ini terasa seperti lebih dari sekadar pertunjukan pembuka.

    Ia menjadi sebuah cara untuk memperkenalkan kembali semangat TP Jazz sebelum memasuki perayaan utamanya.

    September Menjadi Pembuka, Oktober Melanjutkan Ceritanya

    Ada alasan mengapa perjalanan menuju sebuah festival terasa menarik ketika dimulai dari acara seperti ini.

    TP Jazz Universe memberi kesempatan kepada penonton untuk terlebih dahulu menikmati satu cerita, satu tema, dan satu pengalaman sebelum akhirnya bertemu dengan skala festival yang lebih besar.

    Cerita itu akan berlanjut pada The Papandayan Jazz Fest 2026, yang berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 di The Papandayan Hotel Bandung. Tahun ini, festival memasuki penyelenggaraan ke-11 dengan tema “Sound to the Soul”, membawa gagasan tentang musik sebagai pengalaman yang dapat menyentuh emosi dan membangun koneksi.

    Salah satu kelanjutannya hadir melalui Kota Baru Parahyangan Stage di Suagi Grand Ballroom. Panggung ini akan mempertemukan sejumlah nama yang juga memiliki hubungan dengan cerita di pre-event, termasuk Dwiki Dharmawan, Dira Sugandi, dan Dirly Dave bersama Bandung Jazz Orchestra dalam proyek A Night of Frank Sinatra.

    Dengan begitu, malam di Kota Baru Parahyangan bukanlah cerita yang selesai ketika lampu ballroom dimatikan.

    Ia menjadi bagian pertama dari perjalanan yang lebih panjang.

    Jika September mengajak penonton mengingat kembali lagu-lagu yang pernah hidup melalui layar film, Oktober akan membuka ruang yang lebih besar untuk menemukan cerita baru melalui jazz, kolaborasi, dan berbagai panggung TP Jazz Fest.

    Mungkin memang begitu cara sebuah festival seharusnya dimulai.

    Bukan tiba-tiba pada hari pertama acara, tetapi perlahan—melalui satu pertemuan, satu lagu, satu panggung, lalu rasa penasaran untuk melihat ke mana cerita berikutnya akan membawa kita.

    “Satu lagu bisa membawa kita kembali pada sebuah cerita, dan satu panggung bisa membuka cerita yang baru. Dari Kota Baru Parahyangan, TP Jazz memulainya—lalu membiarkan musik melanjutkan perjalanannya menuju Oktober.”

  • Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Ketika POCARI SWEAT Run Membawa Cerita Bandung Lewat Komunitas dan Sustainability

    Curioucity.id – Ada cara berbeda untuk melihat Bandung ketika pagi belum benar-benar ramai: menyusuri jalannya dengan berlari.

    Jalan yang biasanya dilewati kendaraan, kawasan yang akrab dengan aktivitas warga, sampai Balai Kota Bandung yang sehari-hari menjadi ruang pemerintahan, tiba-tiba memiliki suasana lain ketika ribuan orang datang dengan nomor peserta di dada dan sepatu lari di kaki.

    Pengalaman seperti ini sudah beberapa kali hadir melalui POCARI SWEAT Run. Pada 2025, Balai Kota Bandung menjadi titik start dan finish, dengan 16.000 pelari mengikuti kategori offline dan lebih dari 30 ribu peserta lainnya berlari secara virtual dari berbagai daerah di Indonesia.

    Namun, mungkin yang membuat POCARI SWEAT Run menarik bukan hanya jumlah orang yang berlari. Ada Bandung yang ikut hadir di sepanjang perjalanan—melalui komunitas, warga, kreativitas, sampai kepedulian terhadap lingkungan.

    Pada 19–20 September 2026, POCARI SWEAT Run kembali hadir di Bandung dengan kategori 10K dan Half Marathon. Kali ini, Bandung menjadi penutup rangkaian POCARI SWEAT Run 2026 sekaligus bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Bandung.

    POCARI SWEAT Run Menemukan Ceritanya di Bandung

    Sebuah rute lari sebenarnya bisa menjadi cara sederhana untuk membaca sebuah kota.

    Pelari tidak hanya melihat angka kilometer di jam tangan, tetapi juga melewati ruang-ruang yang selama ini mungkin hanya dikenal dari balik kaca kendaraan. Ada sudut kota yang terasa berbeda ketika dilalui dengan langkah sendiri, apalagi ketika jalan tersebut dipenuhi orang dengan tujuan yang sama.

    Itulah yang membuat Bandung memiliki cerita tersendiri dalam POCARI SWEAT Run.

    Pada penyelenggaraan 2025, perubahan rute dan waktu start dilakukan dengan mempertimbangkan kenyamanan pelari sekaligus masyarakat Bandung. Pemilihan jalur pun melibatkan berbagai unsur pemerintah kota, karena sebuah event sebesar ini pada akhirnya tidak hanya berlangsung di lintasan, tetapi juga bersinggungan langsung dengan kehidupan kota.

    Balai Kota Bandung menjadi salah satu titik yang menarik untuk dibaca dalam cerita tersebut. Ia bukan sekadar tempat berkumpul sebelum berlari, melainkan salah satu ruang yang mempertemukan pelari dengan wajah Bandung sebagai kota.

    Pada 2026, rute kembali dirancang melewati titik-titik ikonik dan kawasan yang memiliki karakter, sehingga peserta dapat melihat sisi Bandung yang kreatif dan dinamis. Dengan dukungan masyarakat dan komunitas lokal di sepanjang jalur, pengalaman berlari pun menjadi lebih dari sekadar berpindah dari satu kilometer ke kilometer berikutnya.

    Barangkali, cara paling sederhana untuk mengenal sebuah kota adalah dengan berjalan cukup pelan untuk melihat siapa saja yang tinggal di dalam ceritanya.

    Ketika Lintasan Bertemu Wajah Bandung

    Jika hanya melihat garis start dan finish, POCARI SWEAT Run mungkin terlihat seperti kumpulan pelari.

    Padahal di sepanjang perjalanan ada banyak cerita lain yang membuat sebuah event bisa terasa hidup.

    Ada komunitas pelari yang menjadikan lari sebagai bagian dari rutinitas. Mereka datang bukan hanya untuk mengejar catatan waktu, tetapi juga bertemu teman, berlatih bersama, dan menemukan alasan baru untuk tetap aktif.

    Ada pula warga Bandung yang ikut mengambil bagian dari suasana di sekitar rute. Pada 2025, masyarakat diberdayakan untuk terlibat melalui penyediaan kuliner, souvenir, hingga cheering point. Jadi, orang yang tidak ikut berlari pun tetap memiliki ruang untuk menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Di sisi lain, karakter Bandung yang dekat dengan kreativitas membuat kehadiran seni dan komunitas menjadi sesuatu yang terasa natural. Ketika sebuah kota memiliki tradisi berkumpul, berkarya, bermusik, dan membuat sesuatu bersama, event olahraga pun bisa bertemu dengan ekspresi lokal tanpa harus kehilangan identitasnya.

    Kemudian ada masyarakat di sekitar rute yang mungkin tidak mengenakan running shoes, tetapi ikut menyaksikan, menyemangati, dan merasakan perubahan ritme kota selama event berlangsung.

    Di titik ini, POCARI SWEAT Run menjadi semacam pertemuan. Pelari membawa energi olahraga, komunitas membawa kebiasaan, seniman membawa ekspresi, sementara warga membawa kehidupan sehari-hari Bandung ke dalam sebuah perhelatan yang berlangsung hanya beberapa hari.

    Ketika POCARI SWEAT Run Dimulai dari Kebiasaan Sehat

    Pada akhirnya, lari bukan hanya tentang hari perlombaan.Ada hari-hari sebelumnya ketika seseorang mulai berlatih lebih rutin. Ada keputusan untuk tidur lebih cukup, memperhatikan asupan, mengenali kemampuan tubuh, dan tentu saja memahami pentingnya hidrasi.

    POCARI SWEAT sendiri merupakan minuman pengganti ion yang diformulasikan untuk membantu mengembalikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang melalui keringat.

    Karena itu, pengalaman dalam sebuah running event sebenarnya bisa menjadi pengingat tentang hal-hal sederhana yang sering terlupakan ketika hidup berjalan terlalu cepat: tubuh perlu dijaga sebelum diminta bekerja lebih jauh.

    Hal tersebut juga yang membuat komunitas pelari punya peran penting. Kebiasaan hidup sehat sering kali lebih mudah bertahan ketika dilakukan bersama. Ada teman yang mengajak latihan, komunitas yang membuat seseorang kembali berlari, atau sekadar percakapan setelah latihan yang membuat olahraga terasa sebagai bagian dari kehidupan, bukan kewajiban.

    Dari sana, olahraga perlahan bergeser dari aktivitas sesekali menjadi lifestyle.

    Dan mungkin inilah salah satu alasan POCARI SWEAT Run terus berkembang. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2014, jumlah pesertanya terus bertumbuh; pada 2025, total partisipasi mencapai 55.435 pelari.

    Sustainability yang Tidak Berhenti di Garis Finish

    Ada satu hal yang menarik dari sebuah event besar: setelah pelari meninggalkan garis finish, apa yang tersisa?

    Pertanyaan itu membawa sustainability ke cerita yang lebih panjang.

    Dalam penyelenggaraan POCARI SWEAT Run, upaya lingkungan telah dilakukan melalui inisiatif “Nol Sampah ke TPA”. Sepanjang 2022–2024, sebanyak 11,4 ton sampah disebut telah berhasil didaur ulang, kemudian pada 2025 komunitas muda Bandung dilibatkan untuk memungut sampah sepanjang rute.

    Tetapi cerita tentang kemasan juga punya perjalanan sendiri.

    Melalui Otsuka Blue Planet, kaleng bekas POCARI SWEAT dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk bank sampah dan komunitas pelari, lalu digunakan sebagai bagian dari instalasi seni bersama seniman lokal. Program ini memperlihatkan bahwa benda yang selesai digunakan tidak selalu harus berakhir sebagai sesuatu yang dibuang.

    Di sinilah olahraga, komunitas, seni, dan lingkungan kembali bertemu.

    Satu botol atau kaleng mungkin terlihat seperti benda sehari-hari. Namun ketika masyarakat mulai memilah, mengumpulkan, mengolah, dan melihat kembali nilai dari benda tersebut, sustainability berubah dari sebuah istilah menjadi kebiasaan yang bisa dilakukan dalam kehidupan nyata.

    Begitu pula dengan POCARI SWEAT Run di Bandung.

    Yang tertinggal setelah garis finish bukan hanya angka di race bib atau catatan waktu di smartwatch. Ada jalan-jalan kota yang kembali dilalui kendaraan, komunitas yang pulang membawa cerita, warga yang kembali menjalankan aktivitasnya, dan kebiasaan kecil yang mungkin terus dilakukan setelah event selesai.

    Mungkin itu yang membuat Bandung selalu punya cerita ketika POCARI SWEAT Run kembali hadir.

    Karena yang berlari bukan hanya mereka yang mengenakan nomor peserta. Bandung ikut berlari melalui orang-orangnya.

    “POCARI SWEAT Run mungkin selesai ketika langkah terakhir melewati garis finish. Tetapi bagi Bandung, cerita tentang bergerak, berbagi ruang, dan menjaga lingkungan masih terus berjalan.”

  • Kamaku, Karya Lokal dengan Semangat Sustainability di Balik Merchandise The Papandayan Jazz Festival 2026

    Kamaku, Karya Lokal dengan Semangat Sustainability di Balik Merchandise The Papandayan Jazz Festival 2026

    Curiocity.id — Di sebuah festival musik, merchandise biasanya menjadi salah satu hal yang kita temui hampir tanpa sengaja. Ia berada di antara panggung, percakapan, dan keramaian orang-orang yang datang untuk menikmati musik.

    Tetapi pernahkah kita bertanya sedikit lebih jauh tentang benda yang akhirnya kita bawa pulang?

    Dari mana warnanya berasal? Siapa yang mengerjakannya? Dan apa yang ingin diceritakan melalui sebuah kaos, pouch, atau tote bag yang mungkin awalnya hanya terlihat sebagai bagian dari perlengkapan festival?

    Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam itu membawa cerita The Papandayan Jazz Festival 2026 ke arah yang berbeda.

    Di Bandung, festival yang mengusung tema Sound of The Soul ini akan berlangsung pada 3–4 Oktober 2026. Kamaku hadir sebagai Official Merchandise dengan membawa pendekatan yang tidak hanya berbicara tentang fashion, tetapi juga tentang alam, proses kreatif, dan manusia yang berada di baliknya.

    Di balik Kamaku ada Ratri Wijaya, sosok yang mengembangkan brand tersebut melalui filosofi effortless luxury, sustainability, dan inklusivitas.

    Semangat Effortless Luxury ke Panggung Jazz Bandung

    Ada titik temu antara jazz dan cara Kamaku memandang fashion: kebebasan.

    Jazz memberi ruang bagi improvisasi, perubahan tempo, dan karakter masing-masing pemain. Tidak semuanya harus berjalan seragam untuk menghasilkan harmoni.

    Pendekatan tersebut terasa dalam koleksi Kamaku. Sebagai lini Luxury Resort Wear, brand ini mengusung effortless luxury—gaya yang elegan, bebas, dan natural tanpa perlu tampil berlebihan.

    Untuk The Papandayan Jazz Fest 2026, energi musik jazz diterjemahkan melalui konsep Rhythm of Nature. Motif dan warna terinspirasi dari alam, sementara karakter yang tidak selalu seragam menjadi bagian dari estetika yang ingin ditampilkan.

    Alih-alih menjadikan jazz sebagai elemen visual secara harfiah, Kamaku menangkap semangatnya: dinamis, ekspresif, dan terbuka terhadap kemungkinan.

    Bagi Ratri Wijaya, fashion juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan. Apa yang dikenakan seseorang tidak hanya berhenti pada penampilan, tetapi dapat memperlihatkan pilihan terhadap material, proses, hingga nilai yang dianggap penting.

    Dari Pewarna Alam hingga Tangan Artisan Lokal

    Salah satu hal yang membuat koleksi Kamaku menarik untuk diperhatikan justru datang dari warnanya.

    Kamaku menggunakan serat alam dan pewarna alam Nusantara yang terinspirasi dari kekayaan hayati Pulau Jawa. Warna biru khas Kamaku berasal dari Indigofera tinctoria atau tarum, merah dari kayu secang, dan kuning dari kayu tegeran.

    Dengan pendekatan tersebut, alam tidak hanya menjadi sumber inspirasi visual, tetapi ikut hadir dalam proses pembuatannya.Kamaku juga menggunakan fiksator alami dalam proses pewarnaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis sekaligus menjaga ekosistem air.

    Bagi Kamaku, sustainability ditempatkan sebagai bagian dari DNA brand, bukan sekadar tren yang sedang ramai dibicarakan.

    Ada pula dimensi sosial yang berjalan beriringan.

    Dalam proses pembuatan merchandise The Papandayan Jazz Fest 2026, Kamaku melibatkan artisan lokal, termasuk teman-teman penyandang disabilitas dari PIK POTADS JABAR.

    Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana alam diperlakukan, tetapi juga bagaimana manusia diberi ruang untuk berkontribusi.

    Setiap tangan membawa kemampuan yang berbeda. Ketika kesempatan untuk berkarya terbuka lebih luas, sebuah produk pun memiliki nilai yang tidak hanya dapat diukur dari bentuk akhirnya.

    Ketika Merchandise Menjadi Bagian dari Pengalaman Festival

    Koleksi Official Merchandise Kamaku untuk The Papandayan Jazz Fest 2026 hadir dalam beberapa bentuk yang dekat dengan keseharian: tumbler, kaos, pouch, sarung bantal kursi, dan tote bag. Kehadiran koleksi ini menjadi bagian dari kolaborasi Kamaku dengan The Papandayan Jazz Fest 2026, menerjemahkan tema Sound of The Soul ke dalam bahasa yang berbeda melalui material, warna, dan pendekatan Kamaku terhadap alam.

    Pertemuan antara keduanya terasa menarik karena jazz dan Kamaku sama-sama memiliki ruang untuk eksplorasi. Jika musik menemukan ritmenya melalui bunyi dan improvisasi, Kamaku menerjemahkan gagasan serupa lewat warna, tekstur, bahan alami, serta proses yang melibatkan artisan lokal.

    Kolaborasi ini juga membawa perhatian pada hal-hal yang mungkin luput ketika sebuah merchandise hanya dilihat sebagai benda kenang-kenangan. Ada bahan yang berasal dari alam, proses yang mempertimbangkan lingkungan, serta keterlibatan artisan lokal, termasuk teman-teman penyandang disabilitas.

    Pada akhirnya, mungkin memang sederhana: musik hadir untuk didengar, sementara fashion hadir untuk dikenakan. Tetapi dalam kolaborasi ini, keduanya bertemu pada satu ruang yang sama—tentang kebebasan berekspresi, kekayaan alam, dan manusia yang berada di balik setiap prosesnya.

  • Garden Glow, Sebuah Lanskap Malam di Paris Van Java Bandung

    Garden Glow, Sebuah Lanskap Malam di Paris Van Java Bandung

    Curiocity.id — Ada bagian dari Bandung yang baru terasa berbeda ketika matahari mulai turun. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, udara mulai terasa lebih sejuk, dan tempat-tempat yang sebelumnya terlihat biasa saja perlahan mendapatkan suasana yang berbeda.

    Di Sky Level Paris Van Java, perubahan itu hadir melalui Garden Glow. Destinasi wisata malam ini membawa konsep immersive night garden, dengan taman yang dipenuhi instalasi cahaya artistik dan ruang interaktif di dalamnya. Bukan sekadar datang untuk melihat lampu, pengunjung diajak berjalan dari satu instalasi ke instalasi lain, menemukan bentuk, warna, suara, dan pengalaman yang berubah sepanjang perjalanan.

    Tagline “Where Wonder Glows” terasa cukup menggambarkan pengalaman tersebut. Garden Glow seperti membuat malam punya lanskapnya sendiri.

    Saat Taman Mulai Bercerita Lewat Cahaya

    Begitu malam datang, beberapa bagian Garden Glow mulai mengambil perannya masing-masing.

    Ada Tulip Glow, taman tulip yang dibuat bercahaya. Ada Moon Mist dengan bentuk Half Moon, Mirror of Light yang memanfaatkan spot kaca, hingga Luminous Melody, piano menyala yang merespons sentuhan pengunjung melalui nada dan efek cahaya berwarna.

    Rangkaian instalasi ini membuat pengalaman di Garden Glow tidak berhenti pada aktivitas melihat. Ada yang bisa disentuh, dimainkan, dinaiki, atau sekadar dijadikan titik untuk berhenti dan menikmati suasana.

    Salah satu pengalaman yang menarik adalah Dream Balloon. Instalasi ini memungkinkan pengunjung menaiki balon udara untuk melihat Garden Glow dari ketinggian, memberi perspektif lain terhadap taman yang sebelumnya dinikmati dari jalur pejalan kaki.

    Mungkin di sinilah karakter Garden Glow terasa: cahaya tidak hanya ditempatkan sebagai dekorasi, tetapi menjadi bagian dari cara pengunjung bergerak dan berinteraksi dengan ruang.

    Sky Mountain, Sebuah Landmark di Tengah Taman

    Di antara berbagai instalasi yang ada, Sky Mountain menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali.

    Garden Glow menempatkan Sky Mountain sebagai ikon utama sekaligus landmark kawasan. Yang membuatnya berbeda adalah kehadiran LED Show yang menggabungkan cahaya, animasi, dan musik untuk membawa sebuah cerita mengenai penciptaan dunia.

    Dari sini, pengalaman di Garden Glow memiliki lapisan yang sedikit berbeda. Pengunjung tidak hanya berpindah dari satu spot foto ke spot lainnya, tetapi juga menemukan sebuah pertunjukan yang menjadi titik perhatian di tengah perjalanan.

    Tidak mengherankan jika Sky Mountain menjadi salah satu instalasi yang paling banyak diminati. Half Moon, Lorong Cahaya, dan Balon Udara juga termasuk spot yang banyak digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen.

    Namun mungkin menariknya justru bukan pada satu spot tertentu. Garden Glow memberi alasan untuk terus berjalan, karena setiap sudut menawarkan bentuk pengalaman yang berbeda.

    Ketika Bandung Mulai Berubah Setelah Senja

    Ada waktu tertentu ketika sebuah tempat terlihat paling berbeda.

    Bukan saat pertama kali lampunya dinyalakan, tetapi beberapa saat setelahnya, ketika cahaya alami mulai hilang dan warna dari instalasi menjadi lebih jelas.

    Di Garden Glow, perubahan itu bisa diamati dari sore menuju malam. Instalasi yang sama terlihat berbeda ketika masih ada sisa cahaya di langit dan ketika malam sudah sepenuhnya turun.

    Pengunjung pun datang dengan waktu yang berbeda-beda.

    Sebagian datang ketika area mulai dibuka pada pukul 16.00 WIB. Sebagian lainnya baru terlihat ketika malam sudah ramai, terutama setelah pukul 18.00. Akhir pekan biasanya menjadi waktu yang lebih ramai dibandingkan hari biasa.

    Dari satu sudut, terdengar suara anak-anak. Dari sudut lain, orang-orang sedang mengambil gambar. Ada yang berjalan cepat menuju instalasi berikutnya, ada juga yang memilih tinggal sedikit lebih lama di satu tempat.

    Malam akhirnya terasa bukan hanya sebagai latar.
    Ia menjadi bagian dari cara orang melihat ruang tersebut.

    Membiarkan Malam Berjalan dengan Caranya Sendiri

    Garden Glow dikembangkan oleh tim Paris Van Java, termasuk konsep dan instalasi yang berada di dalamnya. Tahun ini, beberapa bagian seperti Piano Menyala dan Dream Balloon hadir bersama instalasi yang sudah menjadi bagian dari rangkaian taman.

    Tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Ada yang lebih tertarik pada bentuk-bentuk cahaya. Ada yang sibuk mencari sudut foto. Ada yang datang bersama keluarga dan membiarkan anak-anak mencoba instalasi interaktif. Ada pula yang sekadar mengikuti jalur taman sambil melihat apa yang ada di depan.

    Mungkin pengalaman di tempat seperti ini memang tidak perlu dijelaskan terlalu jauh.

    Karena sebagian besar ceritanya berlangsung ketika seseorang mulai berjalan.

    Dari tulip yang menyala, menuju lorong cahaya. Dari piano yang mengeluarkan suara ketika disentuh, menuju Sky Mountain yang tiba-tiba menjadi terang. Kemudian kembali berjalan, sementara warna-warna lain masih terlihat dari kejauhan.

    Garden Glow akhirnya terasa seperti sebuah taman yang punya kehidupan berbeda setelah matahari tenggelam.

    Bukan karena malam membuat tempat itu menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi karena cahaya membuat kita melihat ruang yang sama dengan cara yang berbeda

  • Rethink Gabin di Tapal Market Bandung: Kreasi Modern Jajanan Klasik

    Rethink Gabin di Tapal Market Bandung: Kreasi Modern Jajanan Klasik

    Curioucity.id – Ada banyak cara untuk mengenali sebuah kota. Bisa lewat bangunan, nama jalan, tempat makan, atau sesuatu yang lebih sederhana: makanan yang kita temukan di tengah perjalanan.

    Di Bandung, makanan sudah lama menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Ada yang sengaja dicari untuk dibawa pulang, ada yang ditemukan secara tidak sengaja, lalu ada pula yang membuat kita penasaran karena bentuknya terasa familiar tetapi hadir dengan cara yang berbeda.

    Di Jalan Banceuy, salah satu pengalaman seperti itu bisa ditemukan di Tapal Market.

    Ruangnya mempertemukan orang-orang yang datang untuk makan, berbincang, dan menikmati berbagai sajian. Di antara suasana tersebut, ada satu makanan yang sekilas mungkin terasa sangat familiar: gabin.

    Namun gabin yang hadir di sini bukan sekadar camilan nostalgia.
    Melalui RETHINK GABIN — Some Classics Never Stop Evolving, Tapal Market mencoba melihat kembali makanan yang sudah dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia dan membawanya ke konteks yang berbeda.

    Menariknya, mereka tidak memilih pastry yang sedang ramai atau makanan yang sejak awal punya kesan premium.
    Mereka memilih gabin.

    Memilih Gabin di Tengah Tren Pastry

    Gabin sebenarnya tidak membutuhkan banyak penjelasan.

    Bentuk crackers-nya mudah dikenali, begitu pula konsep makanan dengan isian di antaranya. Bagi sebagian orang, gabin bahkan mungkin langsung membawa ingatan pada camilan yang pernah hadir dalam keseharian.

    Justru kedekatan itulah yang membuatnya menarik bagi Tapal Market.

    Di tengah berkembangnya tren pastry dan berbagai jajanan kekinian, Tapal memilih mengambil jalur berbeda. Alih-alih mengikuti makanan yang sedang populer, mereka mengangkat makanan yang sudah dikenal masyarakat dan mencoba memberikan perspektif baru terhadapnya.

    “Kenapa gabin? Karena kami tidak ingin selalu mengambil makanan yang sedang populer atau yang sudah dianggap premium,” ujar Assyifa Sofia, CEO & Founder Tapal Market.

    Menurut Assyifa, gabin punya karakter sederhana dan familiar, tetapi tetap terbuka untuk dikembangkan.

    Chef Nugraha, Chef sekaligus Founder Tapal Market, melihat potensi tersebut dari sisi yang lebih teknis. Ada tekstur crackers, ada filling yang bisa dikembangkan ke berbagai arah, dan yang paling penting, ada memori yang sudah dimiliki orang terhadap gabin.

    Tantangannya kemudian bukan membuat gabin menjadi makanan yang sama sekali baru.

    “Bagaimana kami bisa mempertahankan rasa familiar itu, tetapi pada saat yang sama memberikan pengalaman yang baru,” jelasnya.

    Dari sini, alasan pemilihan gabin mulai terasa masuk akal.

    Karena sudah dikenal, perubahan sekecil apa pun bisa membuat kita memperhatikannya kembali.

    Enam Interpretasi, Satu Identitas Gabin

    Eksplorasi tersebut kemudian diwujudkan melalui enam interpretasi Gabin Tapal.

    Enam versi ini dikembangkan berdasarkan karakter dapur Tapal Market. Bentuk dan karakter dasar gabin tetap dihormati, sementara rasa dan pengalaman menikmatinya dibuat lebih terbuka.

    Yang menarik, pendekatan ini tidak berhenti pada usaha membuat gabin terlihat lebih modern.

    Ada batas yang sengaja dipertahankan.

    Chef Nugraha mengatakan bahwa Tapal tidak ingin mengubah gabin sampai orang tidak lagi mengenalinya. “Identitasnya tetap harus terasa,” ujarnya.

    Jadi, ketika seseorang melihatnya di meja atau rak penyajian, bentuk dasarnya masih memberi petunjuk tentang makanan apa yang sedang dilihat.

    Tetapi ketika dicicipi, pengalaman yang muncul bisa berbeda dari bayangan sebelumnya.

    Assyifa menyebut adanya unsur nostalgia sekaligus rasa penasaran ketika orang melihat gabin dalam bentuk dan rasa yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

    Di titik ini, kata rethink menjadi penting.

    Tapal bukan sedang mengganti identitas gabin. Mereka sedang mencari tahu apa lagi yang bisa dilakukan dengan sesuatu yang identitasnya sudah begitu kuat.

    Rethink Local Taste di Tapal Market

    Dari gabin, pembicaraan kemudian bergerak ke sesuatu yang lebih luas: bagaimana makanan Indonesia bisa terus berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan asal-usul dan kebiasaan yang membuatnya dikenal.

    Bagi Tapal Market, makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Ada cerita, kebiasaan, memori, dan proses ketika makanan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Assyifa melihat gabin sebagai bagian dari memori tersebut.

    Ketika seseorang mengambil gabin, menurutnya, yang diambil bukan hanya sebuah produk, tetapi juga bagian dari pengalaman yang sudah dimiliki banyak orang terhadap makanan itu.

    Karena itu, pendekatan modern yang dilakukan Tapal tetap berangkat dari apa yang sudah ada.

    Hal tersebut juga terlihat dari sajian lain di Tapal Market. Makanan tidak harus kehilangan kedekatannya dengan keseharian hanya karena cara penyajiannya dibuat lebih modern.

    Di sinilah gagasan Rethink Local Taste menjadi menarik.
    Rasa lokal tidak selalu harus hadir melalui makanan yang sejak awal diberi label sebagai “makanan khas”. Ia juga bisa muncul dari cara sebuah makanan yang sudah dikenal dibaca kembali, dikembangkan, dan ditempatkan dalam konteks kota hari ini.

    Tapal Market sendiri merupakan ruang kuliner di Bandung yang mengeksplorasi makanan Indonesia melalui pendekatan kreatif dan modern, sambil tetap berangkat dari cerita serta karakter lokal.

    Dan Banceuy menjadi bagian penting dari konteks tersebut.

    Saat Jajanan Harian Menjadi Bagian dari Rasa Lokal

    Ketika membicarakan makanan Bandung, kita sering kali langsung mencari sesuatu yang sudah memiliki status sebagai ikon atau oleh-oleh.

    Padahal, pengalaman seseorang terhadap sebuah kota tidak selalu dibentuk oleh makanan yang paling terkenal.

    Bisa juga oleh sesuatu yang ditemukan ketika sedang berada di sana.
    Gabin Tapal tidak disebut sebagai oleh-oleh khas Bandung oleh Tapal Market. Namun keberadaannya di Jalan Banceuy membuka pertanyaan yang lebih menarik: apakah jajanan yang begitu dekat dengan keseharian bisa ikut menjadi bagian dari cara seseorang mengenali rasa sebuah kota?

    Jawabannya tentu belum harus ditentukan sekarang.

    Yang jelas, gabin punya satu hal yang membuatnya menarik untuk dibicarakan: ia sudah familiar, tetapi masih bisa dikembangkan. Perjalanannya sendiri cukup panjang, dari crackers yang kemudian diadaptasi dan diberi isian hingga menjadi camilan yang dikenal masyarakat Indonesia.

    Mungkin itu pula yang membuat eksplorasi Tapal terasa relevan.
    Menjaga makanan lokal tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama selamanya.

    Kadang, cara menjaganya justru dengan membuatnya tetap bisa ditemukan dalam konteks yang baru.

    Di Jalan Banceuy, gabin mendapatkan kesempatan tersebut.
    Ia tetap terlihat seperti gabin. Tetapi sekarang, ada enam interpretasi yang membuat kita melihat jajanan lama itu dengan rasa penasaran yang berbeda.

    Dan mungkin, dari sinilah sebuah local taste bisa terus hidup: bukan karena ia tidak pernah berubah, tetapi karena masih ada orang yang mau melihatnya kembali.

    Some Classics Never Stop Evolving.

  • Dago untuk Keluarga, dari Menginap di Swiss-Belresort Dago Heritage hingga Bermain di Hompimplay

    Dago untuk Keluarga, dari Menginap di Swiss-Belresort Dago Heritage hingga Bermain di Hompimplay

    Curiocity.id — Membawa keluarga berlibur ke Bandung sering kali berarti membuat daftar yang cukup panjang. Tempat makan, tempat bermain, destinasi yang bisa dikunjungi anak-anak, sampai tempat menginap semuanya perlu dipikirkan supaya satu akhir pekan tetap menyenangkan untuk semua.

    Namun, bagaimana kalau semuanya dimulai dari satu kawasan?

    Di bagian utara Bandung, Dago punya cukup banyak kemungkinan untuk menjadi tempat menghabiskan waktu bersama keluarga. Kawasannya menawarkan suasana yang berbeda dari pusat kota, pilihan aktivitas untuk berbagai usia, sekaligus lanskap Bandung yang membuat perjalanan terasa punya karakter tersendiri.

    Salah satu cara menikmatinya bisa dirangkai melalui Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung dan Hompimplay.

    Bukan dengan membuat itinerary yang terlalu padat, tetapi dengan membiarkan satu perjalanan berisi beberapa hal sederhana: bangun dengan pemandangan pepohonan, sarapan bersama, mengajak anak bermain, lalu kembali ke hotel ketika hari mulai berganti sore.

    A family trip doesn’t have to be complicated. Sometimes, one good destination is enough to start the story.

    Dago Punya Banyak Cara untuk Dinikmati Bersama Keluarga

    Ada alasan mengapa Dago selalu terasa menarik ketika Bandung ingin dinikmati bersama keluarga.

    Semakin menuju Dago Atas, suasana kota perlahan berubah. Pepohonan semakin mudah ditemui, udara terasa lebih sejuk, dan dari beberapa titik, lanskap hijau menjadi bagian dari perjalanan.

    Untuk keluarga, karakter kawasan seperti ini membuat satu hari terasa lebih fleksibel.

    Pagi bisa dimulai dengan sarapan dan menikmati suasana sekitar, siang menjadi waktunya anak-anak bermain, sementara sore tidak harus selalu diisi dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

    Justru di sinilah menariknya merencanakan family getaway di Dago.

    Tidak semua waktu perlu diisi dengan aktivitas. Ada bagian perjalanan yang cukup dinikmati bersama, entah sambil makan, berenang, atau melihat anak-anak masih sibuk dengan dunianya sendiri.

    Dan ketika semuanya berada dalam satu kawasan, perjalanan terasa sedikit lebih mudah untuk dinikmati semua anggota keluarga.

    Dari Pagi di Swiss-Belresort hingga Waktunya Bermain di Hompimplay

    Untuk perjalanan satu malam, tempat menginap bisa menjadi bagian penting dari pengalaman.

    Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung berada di kawasan Dago Atas, di dalam kompleks Dago Heritage Golf Course. Lapangan golf tersebut memiliki sejarah panjang sejak 1917, sehingga suasana di sekitarnya terasa berbeda dari hotel yang berada di tengah kepadatan kota.

    Begitu masuk ke kamar, pemandangan pepohonan menjadi salah satu hal yang langsung menarik perhatian.

    Kamar dengan jendela besar menghadap area hijau membuat pagi di sini punya suasana tersendiri. Setelah sarapan, keluarga bisa menentukan agenda berikutnya tanpa harus buru-buru meninggalkan hotel.

    Untuk anak-anak, kolam renang air hangat dan kids club bisa menjadi pilihan aktivitas di area hotel. Sementara orang tua dapat memanfaatkan waktu dengan fasilitas seperti gym atau spa.

    Lalu ketika waktunya berganti aktivitas, Hompimplay bisa menjadi tujuan berikutnya.

    Di ruang bermain indoor, anak-anak punya tempat untuk bergerak, mencoba berbagai permainan, dan mengikuti rasa penasaran mereka sendiri.

    Ada sesuatu yang menyenangkan dari tempat bermain seperti ini: anak-anak tidak perlu banyak diarahkan untuk menemukan keseruannya.

    Cukup masuk, melihat sekeliling, lalu memilih sendiri permainan mana yang paling membuat mereka penasaran

    Saat Itinerary Tidak Perlu List Panjang

    Setelah beberapa jam bermain, makan siang tentu menjadi agenda berikutnya.

    Namun, perjalanan keluarga tidak selalu membutuhkan perpindahan lokasi setiap beberapa jam. Setelah bermain di Hompimplay, kembali ke Swiss-Belresort Dago Heritage bisa menjadi pilihan untuk melanjutkan hari dengan suasana yang berbeda.

    Swiss-Kitchen dapat menjadi tempat untuk makan, sebelum keluarga kembali menikmati fasilitas hotel.

    Anak-anak bisa kembali berenang atau bermain di kids club. Orang tua pun punya kesempatan untuk mengambil waktu sendiri dengan spa atau sekadar menikmati kamar.

    Detail seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru bisa menjadi bagian dari pengalaman menginap.

    Setelah seharian bermain, ada sesuatu yang menyenangkan dari kembali ke kamar, membuka tirai, lalu melihat pepohonan yang sama seperti ketika pagi tadi.

    Tidak ada keharusan untuk mencari tempat baru.

    Sore bisa berjalan di dalam hotel, makan bersama, atau sekadar membiarkan anak-anak beristirahat setelah puas bermain.

    Untuk perjalanan dua hari satu malam, hari berikutnya pun bisa dibuat sederhana. Sarapan, menikmati suasana hotel, check-out, lalu melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di kawasan Dago.

    Dengan begitu, hotel tidak hanya menjadi tempat untuk tidur, tetapi menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.

    Dago, Ketika Family Getaway Tidak Harus Rumit

    Mungkin itu yang membuat Dago selalu punya tempat sendiri dalam cerita liburan keluarga di Bandung.

    Ada pagi yang dimulai dari balik jendela kamar, ketika pepohonan terlihat lebih dulu sebelum hiruk-pikuk kota. Ada anak-anak yang menemukan keseruannya sendiri di Hompimplay, lalu kembali dengan cerita tentang permainan yang paling mereka sukai hari itu.

    Sementara orang tua punya waktu untuk menikmati hal-hal yang lebih sederhana. Sarapan tanpa terburu-buru, berenang, menikmati makanan, atau sekadar duduk bersama setelah seharian menemani anak bermain.

    Potongan-potongan kecil seperti inilah yang kemudian dipertemukan dalam Stay & Adventure Package 2026 dari Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung bersama Hompimplay.

    Konsepnya sederhana: satu malam di Dago, dengan pengalaman menginap dan bermain yang bisa dinikmati dalam satu perjalanan. Ada sarapan, akses bermain untuk orang dewasa, serta harga khusus untuk tiket anak, sementara beberapa fasilitas di hotel juga memiliki penawaran khusus selama periode program.

    Paket ini tersedia hingga 20 Desember 2026, di luar hari libur nasional dan festive season.

    Tetapi mungkin, hal yang paling menarik justru bukan daftar apa saja yang didapatkan. Melainkan kemungkinan bahwa satu perjalanan keluarga tidak perlu dibuat terlalu penuh untuk terasa menyenangkan.

    Sebab ketika anak punya tempat untuk bermain, orang tua punya ruang untuk menikmati waktu, dan Dago menyediakan suasana yang berbeda dari pusat kota, satu malam pun bisa terasa cukup panjang untuk menciptakan cerita.

    Perhaps a good family trip isn’t about going everywhere, but finding a place where everyone finds something to enjoy. Dan mungkin, kali ini, tempat itu adalah Dago.

  • Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Curiocity.id — Bandung punya kebiasaan menarik dalam urusan makanan. Sesuatu yang sudah akrab di lidah bisa saja tiba-tiba hadir dalam bentuk berbeda, sementara bahan yang sederhana bisa dipertemukan dengan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

    Mungkin karena itu pula cerita tentang kuliner di kota ini tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada brand yang mencoba, tempat yang membuka ruang, dan kolaborasi yang membuat kita bertanya-tanya, “Kali ini akan jadi seperti apa?”

    Pertanyaan kecil tersebut menemukan jawabannya di Hutanika lewat Kolaborasa Hutanika, kolaborasi kuliner yang mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung selama Agustus hingga September 2026.

    Salah satunya adalah J&C Cookies, yang membawa dua sajian manis: Putri Salju Snow Ice dan Choco Crunchy Mochi.

    “Sometimes, the familiar becomes exciting when we see it from a different angle.”

    Ketika Putri Salju Keluar dari Kotak Kenangan

    Ada makanan yang membawa kita kembali ke suatu waktu hanya lewat satu nama.

    Putri salju mungkin salah satunya. Kue bertabur gula halus ini begitu dekat dengan momen perayaan dan meja keluarga, sampai rasanya kita tidak perlu melihat bentuknya untuk bisa membayangkannya.

    J&C Cookies kemudian mengambil ingatan tersebut dan membawanya ke arah yang berbeda melalui Putri Salju Snow Ice.

    Bukan lagi putri salju yang kita kenal dalam bentuk kue kering, tetapi sebuah sajian yang mengajak rasa familiar tadi bertemu dengan pengalaman baru. Nama lamanya masih ada, tetapi cara menikmatinya berubah.

    Menariknya, perubahan seperti ini tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit.

    Kadang cukup dengan memindahkan sebuah rasa ke konteks yang berbeda, lalu membiarkan orang yang mencobanya menemukan sendiri apa yang berubah.

    Di Hutanika, Putri Salju Snow Ice menjadi salah satu cara J&C Cookies memperkenalkan interpretasinya dalam Kolaborasa Hutanika.

    Cokelat, Mochi, dan Sedikit Kejutan di Gigitan Pertama

    Kalau Putri Salju Snow Ice bermain dengan memori, Choco Crunchy Mochi terasa seperti permainan yang berbeda.

    Dari namanya saja, kita sudah mendapatkan tiga petunjuk: cokelat, mochi, dan sesuatu yang crunchy.

    Mochi memberikan kelembutan, sementara elemen crunchy menghadirkan kontras. Cokelat kemudian menjadi rasa yang menyatukan semuanya.

    Ada kesenangan tersendiri ketika makanan tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga mengajak kita memperhatikan tekstur.

    Gigitan pertama mungkin membuat kita mengenali cokelat. Gigitan berikutnya membuat kita sadar ada sesuatu yang renyah di sana.

    Hal-hal kecil semacam ini yang membuat dessert tidak selalu harus menjadi penutup. Ia bisa menjadi bagian dari pengalaman mencoba sesuatu yang baru.

    Dan kali ini, pengalaman tersebut datang dari J&C Cookies, salah satu brand lokal Bandung yang ikut dalam Kolaborasa Hutanika.

    Lima Brand Bandung Bertemu dalam Satu Meja

    J&C Cookies tentu tidak berjalan sendirian.Kolaborasa Hutanika mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung: Rahsa Nusantara, Maicih, Tahu Tauhid, Cimol Bojot AA, dan J&C Cookies.

    Masing-masing datang dengan karakter yang berbeda.

    J&C Cookies mengambil bagian melalui dua dessert tadi.

    Menariknya, semua karakter tersebut tidak perlu dibuat sama. Justru perbedaannya yang membuat satu meja terasa lebih hidup.

    Hutanika menjadi ruang tempat berbagai rasa tersebut bertemu selama Agustus hingga September 2026, dalam momentum Bulan Kemerdekaan.

    “Different flavors can tell different stories, even when they share the same table.”

    Dari Satu Meja, Kita Bisa Melihat Bandung

    Kalau diperhatikan lebih dekat, kolaborasi seperti ini sebenarnya bercerita lebih banyak daripada sekadar menu baru.Ia memperlihatkan bagaimana brand lokal Bandung terus mencari cara untuk berkembang tanpa harus meninggalkan karakter yang membuat mereka dikenal.

    Ada keberanian untuk mencoba format baru. Ada keinginan mempertemukan produk dengan audiens yang berbeda. Ada pula ruang untuk belajar dari brand lain yang bergerak di bidang yang sama.

    Hutanika, dalam hal ini, bukan hanya menjadi tempat semua menu tersebut tersedia.

    Ia menjadi ruang pertemuan.

    Pengunjung dapat datang untuk makan, tetapi dalam satu kesempatan yang sama mereka bisa menemukan beberapa karakter kuliner lokal sekaligus.

    Dari yang pedas hingga manis. Dari camilan yang sudah familiar hingga menu yang mungkin baru pertama kali kita dengar.

    Bandung hadir bukan sebagai satu rasa.

    Ia hadir sebagai kumpulan banyak rasa yang terus berubah dan berkembang.

    Ternyata Bangga Nusantara Bisa Sesederhana Ini

    Kolaborasa Hutanika hadir dalam rangka menyambut dan merayakan Bulan Kemerdekaan dengan semangat Bangga Nusantara.

    Tetapi ada sesuatu yang menarik dari cara gagasan tersebut diterjemahkan.Tidak harus selalu dalam bentuk seremoni besar.

    Kadang rasa bangga terhadap karya lokal bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: memberi kesempatan sebuah brand untuk berkarya, datang untuk mencoba, kemudian memilih untuk kembali ketika ternyata rasanya cocok.

    J&C Cookies menjadi salah satu bagian dari cerita tersebut.

    Dua dessert yang dibawanya memperlihatkan bahwa kreativitas lokal tidak selalu harus tampil dengan sesuatu yang sepenuhnya asing. Sesuatu yang sudah kita kenal pun masih bisa diolah kembali dan menemukan bentuk baru.

    Begitu pula dengan empat brand lainnya.Ketika semuanya ditempatkan dalam satu ruang, kita mendapatkan gambaran kecil tentang betapa beragamnya cara brand lokal Bandung bercerita melalui makanan.

    Barangkali, Rasa Penasaran Adalah Pesanan Pertama

    Pada akhirnya, kita mungkin tidak datang ke Hutanika dengan niat mencari sebuah cerita.Mungkin hanya ingin makan. Mungkin sedang bertemu teman. Atau mungkin sekadar penasaran dengan menu yang baru dilihat.

    Tetapi justru dari rasa penasaran seperti itulah pengalaman baru biasanya dimulai.

    Putri Salju Snow Ice mungkin membuat kita teringat pada sesuatu yang familiar. Choco Crunchy Mochi mungkin membuat kita ingin tahu bagaimana cokelat, mochi, dan tekstur crunchy bertemu.

    Setelah itu, siapa tahu kita menemukan rasa lain dari empat brand Bandung yang ikut berada di meja yang sama.

    Kolaborasa Hutanika berlangsung selama Agustus hingga September 2026 di Hutanika, Bandung.

    Lima brand lokal. Beragam menu. Satu ruang pertemuan.Dan mungkin, dari semua itu, ada satu pesanan yang awalnya hanya dipilih karena penasaran—lalu diam-diam menjadi menu yang ingin dicoba lagi.

  • Dari Budaya Belanja Bandung ke Kreativitas Lokal, Bandung X Beauty 2026 Menjadi Ruang Pertemuan

    Dari Budaya Belanja Bandung ke Kreativitas Lokal, Bandung X Beauty 2026 Menjadi Ruang Pertemuan

    Curiocity.id — Ada satu kebiasaan yang rasanya sulit dipisahkan dari Bandung: jalan-jalan sambil melihat-lihat sesuatu yang menarik.

    Kadang mulainya dari pakaian. Masuk ke satu toko karena melihat display dari luar, kemudian menemukan brand lokal yang sebelumnya belum pernah dikenal. Dari sana perjalanan bisa berlanjut ke tempat lain, melihat koleksi berbeda, mencicipi makanan, atau sekadar membawa pulang sesuatu yang awalnya tidak ada dalam daftar.

    Belanja di Bandung sering kali bukan hanya soal apa yang ingin dibeli. Ada unsur melihat, menemukan, mencoba, lalu memutuskan.

    Kebiasaan itu pula yang membuat kota ini menarik ketika bicara tentang kecantikan. Sebab di balik banyaknya tempat belanja dan brand lokal yang tumbuh di Bandung, ada kreativitas yang terus mencari bentuk—termasuk melalui produk skincare, makeup, haircare, bodycare, hingga fragrance.

    Di titik inilah Bandung X Beauty 2026 menjadi menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai beauty event, melainkan sebagai ruang untuk melihat bagaimana budaya belanja, kreativitas, dan brand lokal bertemu dalam satu kota.

    Bandung, Tempat Belanja dan Kreativitas Bertemu

    “Bandung sudah lama memiliki hubungan yang dekat dengan kreativitas.”

    Dari fashion dan distro yang pernah menjadi bagian penting dari wajah kota, hingga berbagai brand lokal yang muncul dari studio, toko, rumah produksi, maupun komunitas kecil, ada kebiasaan yang terus berulang: membuat sesuatu sendiri lalu mempertemukannya dengan orang lain.

    Budaya belanja kemudian menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

    Orang datang ke Bandung untuk melihat apa yang sedang dibuat, mencari sesuatu yang berbeda, atau menemukan produk yang mungkin belum mereka kenal sebelumnya. Dalam proses itu, toko dan ruang belanja bukan hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga tempat sebuah karya bertemu dengan orang yang menggunakannya.

    Hal serupa mulai terasa dalam dunia kecantikan.

    Skincare, makeup, fragrance, haircare, dan personal care tidak lagi hanya hadir sebagai produk yang dibeli karena kebutuhan. Di baliknya ada formulasi, kemasan, identitas visual, cara berkomunikasi, sampai keputusan tentang masalah apa yang ingin diselesaikan oleh sebuah produk.

    Bandung X Beauty 2026 datang di tengah cerita tersebut.

    Bukan untuk mengubah cara Bandung berbelanja, tetapi menghadirkan satu ruang tempat kebiasaan itu bisa terlihat dalam bentuk yang berbeda: orang datang, melihat produk secara langsung, mencoba, membandingkan, bertanya, lalu menemukan sesuatu yang mungkin sebelumnya belum masuk dalam daftar.

    Dari Kebiasaan Belanja ke Produk yang Diciptakan

    Ada perbedaan ketika sebuah produk hanya muncul di layar dengan ketika kita berdiri tepat di depannya.

    Tekstur skincare bisa dilihat. Warna makeup bisa dicoba. Fragrance bisa dikenali aromanya. Kita juga bisa bertanya langsung tentang sesuatu yang selama ini hanya dibaca dari kolom deskripsi.

    Di situlah pengalaman berbelanja menjadi lebih dari sekadar checkout.

    Kadang seseorang datang dengan wishlist yang sudah panjang. Namun setelah melihat produk secara langsung, pilihannya bisa berubah. Produk yang sudah lama ingin dibeli ternyata belum tentu cocok, sementara nama yang sebelumnya tidak dikenal justru menarik perhatian.

    Rasa penasaran menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.

    Dan untuk brand, pertemuan langsung seperti ini juga memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu terlihat melalui angka penjualan: bagaimana orang bereaksi ketika melihat produk untuk pertama kalinya, pertanyaan apa yang muncul, dan bagian mana dari sebuah produk yang membuat mereka ingin tahu lebih jauh.

    Bandung X Beauty 2026 membawa pengalaman itu selama tiga hari, 4–6 September 2026, di Trans Convention Centre Bandung, dengan jam acara 10.00–22.00 WIB. Tahun ini, tema “The Wholeness Era” membawa tiga nilai yang menjadi pijakan acara: sustainability, innovation, dan inclusivity.

    Yang lebih menarik adalah apa yang terjadi ketika puluhan ribu orang datang ke satu ruang dengan rasa ingin tahu yang berbeda-beda.

    Brand Lokal Punya Kota untuk Bertumbuh

    Salah satu bagian yang terasa penting dalam Bandung X Beauty 2026 adalah #FDLocalNewcomers.

    Namanya sederhana, tetapi gagasannya cukup dekat dengan karakter Bandung: memberikan kesempatan bagi brand lokal untuk diperkenalkan dan menemukan orang-orang yang mungkin sebelumnya belum pernah mendengar namanya.

    Bagi pengunjung, kehadiran brand baru membuat pengalaman berbelanja tidak berhenti pada nama-nama yang sudah familiar.

    Ada kemungkinan menemukan produk yang lahir dari kota sendiri, mengetahui bagaimana sebuah brand membangun identitasnya, lalu melihat bahwa sesuatu yang dimulai dari Bandung bisa memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang.

    Di sinilah kreativitas lokal menjadi menarik untuk diperhatikan.

    Sebuah produk kecantikan mungkin terlihat sederhana ketika sudah berada di rak. Tetapi sebelum sampai ke sana, ada proses memilih bahan, menyusun formulasi, menentukan kemasan, memikirkan cara penggunaan, hingga mencari bahasa yang tepat untuk berbicara kepada konsumennya.

    Perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita sebuah brand.

    Dalam wawancara mengenai Bandung X Beauty 2026, Putri Tanjung, CEO Trans Digital Lifestyle Group & Female Daily Network, mengatakan bahwa Female Daily ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berbicara tentang kecantikan, tetapi juga kesehatan jiwa dan raga serta komunitas kecantikan.

    “Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda, yang tidak hanya soal kecantikan, tetapi juga pentingnya kesehatan jiwa dan raga, serta membangun komunitas kecantikan.”

    Sementara itu, Berliana Naftali Esmalia, Head of Creative Marketing Female Daily Network, melihat pengalaman beauty sebagai sesuatu yang bisa menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti pada aktivitas berbelanja.

    Karena itu, Bandung X Beauty 2026 juga menghadirkan The Curated Club, yang mempertemukan dunia beauty dengan tenant di luar kategori tersebut, termasuk food dan lifestyle. Ada pula School of Beauty, Male Daily Cave, #FDSustainabeauty Booth, #YourBeautyMission, FD Beauty Review Activity, hingga Future of Beauty Installations.

    Dengan begitu, pengunjung tidak hanya berpindah dari satu booth ke booth lain, tetapi juga melihat bagaimana beauty terus bersinggungan dengan cara hidup yang lebih luas.

    Kecantikan, Kreativitas, dan Cerita yang Tumbuh di Bandung

    Mungkin itu yang membuat Bandung tetap menarik sebagai kota belanja.

    Orang datang bukan hanya karena ada sesuatu yang ingin dibeli, tetapi karena selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang belum direncanakan.

    Dalam konteks kecantikan, kemungkinan tersebut terasa semakin luas. Ada produk yang ingin dicoba, brand yang ingin dikenal, cerita kreator yang ingin dipahami, hingga gagasan baru tentang bagaimana seseorang merawat dan mengenali dirinya sendiri.

    Bandung X Beauty 2026 hadir dalam ruang yang sudah memiliki kebiasaan tersebut.

    Selama tiga hari, Trans Convention Centre Bandung menjadi tempat bertemunya brand, produk, kreator, komunitas, dan pengunjung. Musik dari Hydro Koplo dan Sori Jilleo, aktivitas FD Babes & FD Dudes in The Morning, hingga berbagai program lainnya membuat pengalaman tidak berdiri sendiri.

    Pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak produk yang dibawa pulang.

    Bisa jadi yang lebih menarik adalah menemukan satu brand lokal yang sebelumnya tidak dikenal. Mencoba sebuah produk dan menyadari bahwa ternyata cocok. Atau melihat bagaimana sebuah ide yang tumbuh di Bandung perlahan menemukan jalannya ke lebih banyak orang.

    “Sebab kota yang punya budaya belanja tidak hanya menyediakan tempat untuk membeli. Ia juga memberi ruang bagi orang untuk menemukan, bagi kreator untuk mencoba, dan bagi brand lokal untuk tumbuh.”

  • Kebun ke Kriya Vol. 3: Menghargai Cerita di Balik Kriya Lokal Bandung

    Kebun ke Kriya Vol. 3: Menghargai Cerita di Balik Kriya Lokal Bandung

    Curioucity.id – Kita biasanya membawa pulang tanaman dari kebun. Kali ini, yang dibawa ke kota justru ceritanya.

    Di tengah rutinitas yang kian lekat dengan layar, ada sensasi berbeda ketika kita bisa melihat sebuah karya secara langsung, menyentuh tekstur materialnya, lalu bertegur sapa langsung dengan sang pembuat. Kehangatan inilah yang ditawarkan dalam Kebun ke Kriya Vol. 3, sebuah kolaborasi manis antara Ruang Putih Bandung dan Kabin Kebun yang mempertemukan elemen kebun, kriya, kuliner, serta orang-orang yang masih menaruh cinta pada proses kekaryaan lewat tangan.

    Dari Cisarua, Ceritanya Berawal

    Cerita ini bermula dari Kabin Kebun, sebuah rumah sekaligus kebun keluarga di Kampung Panyandaan, Cisarua, Bandung Barat. Sejak 2016, mereka konsisten memperkenalkan gaya hidup slow living. Dari kebun inilah, apa yang disediakan alam dimanfaatkan kembali, termasuk mengolah material sisa menjadi karya upcycle yang bernilai.

    Dalam Kebun ke Kriya, alam tidak berhenti sebagai sekadar pemandangan pasif yang dinikmati dari jauh. Ia menjelma menjadi sumber ide untuk menciptakan produk, hidangan, hingga cara-cara baru dalam berinteraksi. Konsep ini membawa sesuatu yang segar ke tengah Kota Bandung, bukan sekadar memamerkan produk jadi, melainkan membawa cerita utuh tentang proses dan relasi manusia dengan alamnya.

    Jalan Bungur Bandung Sebagai Ruang Temu

    Cerita dari kebun kemudian bertemu dengan karakter kreatif Jalan Bungur melalui Ruang Putih Bandung.

    Ruang yang berdiri sejak 2010 ini awalnya dikenal sebagai venue musik Blues, Jazz, dan Folks. Seiring waktu, terutama sejak 2024, Ruang Putih berkembang menjadi ekosistem usaha kreatif yang mempertemukan F&B, bunga, pakaian natural, kios kado, hingga kelas seni dan musik.

    Kebun ke Kriya terasa seperti bagian yang natural dari ekosistem tersebut. Karya dari kebun bertemu dengan ruang kreatif kota, lalu menciptakan alasan baru bagi orang Bandung untuk datang, melihat, dan saling mengenal.

    Saat Kriya Bukan Hanya untuk Dilihat

    Pada edisi ketiganya kali ini, Kebun ke Kriya menggandeng delapan artisan kriya dan kuliner lokal, yakni: Mirdik & Leuwi Goeng, Crea Botanica, Pamolahan Sangkuriang, Renjana, Kinkinesia, Mewujud by Kabin Kebun, Nabsye Natural, serta Mulberry.

    Yang membuatnya istimewa, pengalaman di sini tidak berhenti pada sekadar melihat atau bertransaksi. Pengunjung diajak menyelami bagaimana material alam, ketelatenan tangan, dan ide kreatif dilebur menjadi karya yang bisa dibawa pulang. Tak hanya itu, hadir pula sesi Interactive Workshop: Understanding Climate Change bersama Ivan Berkebun yang mengajak pengunjung untuk lebih peka terhadap isu perubahan iklim, sekaligus mendiskusikan langkah-langkah solutif sehari-hari.

    Karya lokal terasa berbeda ketika kita mengenal tangan dan proses di baliknya.

    Menikmati Kriya Lokal, Menghargai Proses di Baliknya

    Mungkin itu yang membuat Kebun ke Kriya terasa dekat dengan karakter Bandung. Kota ini punya banyak ruang tempat karya lokal tumbuh melalui pertemuan, komunitas, dan eksperimen kecil yang berlangsung dari waktu ke waktu. Ruang Putih menjadi salah satu tempat yang menjaga kemungkinan itu tetap terbuka, dengan berbagai kegiatan kreatif dan kolaborasi yang terus berjalan.

    Pada Sabtu, 5 September 2026, cerita dari kebun dan para artisan tersebut hadir dalam Kebun ke Kriya Vol. 3 di Ruang Putih Bandung. Bukan sekadar sebuah tanggal dalam agenda kota, tetapi menjadi satu momen ketika karya, alam, dan orang-orang yang mengerjakannya bisa bertemu secara langsung.

    Kebun ke Kriya kemudian membawa satu hal sederhana untuk diingat: ketika kita membeli atau menikmati sebuah karya, ada baiknya sesekali melihat lebih jauh dari benda yang ada di depan mata.

    Sebab di balik sebuah kriya lokal, bisa saja ada cerita tentang kebun Cisarua, material yang diselamatkan, tangan yang mengolahnya, dan Bandung yang memberi ruang agar cerita itu sampai kepada kita.