⏱ … menit membaca
Daftar Isi

Lebih dari Sepak Bola Klub Persib Sebagai Identitas dan Budaya Kota Bandung

Irma Rahmi Oktaviani Avatar

Curioucity.id — Di Bandung, ada percakapan yang bisa dimulai tanpa perlu banyak pembuka. Cukup menyebut Persib, lalu obrolan bisa bergerak ke mana saja—pemain, pertandingan, kenangan lama, sampai cerita tentang bagaimana seseorang pertama kali mengenal klub yang satu ini.

Persib punya cara sendiri untuk masuk ke kehidupan kota. Bukan hanya ketika pertandingan berlangsung, tetapi juga dalam jersey yang dipakai keluar rumah, nama pemain yang tiba-tiba muncul di meja makan, atau obrolan antarteman yang terdengar di tengah aktivitas sehari-hari.

Menariknya, orang-orang yang berbicara tentang Persib tidak selalu datang dari cerita yang sama.

Ada yang sejak kecil diajak menonton oleh orang tuanya. Ada yang mengenal Persib melalui teman dan komunitas. Ada pula generasi yang tumbuh ketika media sosial membuat hubungan antara klub dan penggemarnya semakin dekat.

Mereka disebut Bobotoh, tetapi masing-masing membawa pengalaman sendiri.

Mungkin itu yang membuat Persib terasa lebih besar daripada pertandingan 90 menit. Di Bandung, ia tumbuh sebagai bagian dari ingatan, pertemanan, keluarga, dan kebiasaan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Persib Tumbuh Bersama Kehidupan Bandung

Sepak bola memang punya kemampuan untuk mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dalam konteks Persib, pertemuan itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih panjang daripada durasi sebuah pertandingan.

Penelitian Mulyana, Qonitah, dan Salsabilla dari Universitas Padjadjaran pada 2024 melihat Bobotoh sebagai sebuah fandom dengan budaya partisipasi yang aktif. Mereka menemukan empat bentuk partisipasi: afiliasi, ekspresi, kolaborasi, dan sirkulasi.

Afiliasi terlihat dari terbentuknya berbagai komunitas dan ruang pertemanan Bobotoh. Ekspresi hadir lewat meme, video penggemar, koreografi, hingga berbagai bentuk kreativitas di media sosial.

Sementara itu, kolaborasi dan sirkulasi menunjukkan bahwa hubungan Bobotoh dengan Persib tidak berhenti pada memberikan dukungan ketika pertandingan berlangsung. Informasi, gagasan, hingga kepedulian bisa bergerak dari satu orang ke orang lain.

Artinya, Persib punya kehidupan lain di luar lapangan. Ia tumbuh melalui orang-orang yang terus membuat hubungan dengan klub dan sesama Bobotoh menjadi bagian dari keseharian.

Di titik ini, sepak bola mulai terasa seperti budaya.

“Persib bukan hanya klub yang ditonton, tetapi cerita yang terus dibuat bersama oleh orang-orang yang merasa menjadi bagian darinya.”

Ada yang Mewarisi Persib, Ada yang Menemukan Ceritanya Sendiri

Setiap Bobotoh mungkin punya satu cerita tentang awal mula semuanya.

Bisa jadi dari seorang ayah yang selalu menyalakan televisi ketika Persib bermain. Bisa juga dari ibu, kakak, teman sekolah, atau lingkungan pergaulan yang perlahan mengenalkan nama-nama pemain dan cerita di balik sebuah klub.

Ada pula yang menemukan Persib ketika sudah lebih dewasa.

Hal seperti ini membuat hubungan antara Persib dan Bobotoh terasa personal. Sebab, kecintaan terhadap klub tidak selalu dimulai dari pertandingan yang paling berkesan. Kadang justru tumbuh dari hal sederhana yang dilakukan berulang kali sampai akhirnya menjadi bagian dari identitas seseorang.

Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia mengenai loyalitas suporter Persib pada 2025 menemukan bahwa loyalitas Bobotoh tidak hanya berkaitan dengan dukungan terhadap klub. Para peneliti menemukan makna lain di dalamnya, seperti warisan keluarga, kebanggaan terhadap daerah, identitas pribadi, dan solidaritas sosial.

Di situlah Bandung menjadi penting.

Persib bukan klub yang berdiri jauh dari kehidupan kota. Nama Bandung bahkan melekat langsung pada identitasnya. Maka ketika seseorang mencintai Persib, di dalamnya bisa ada rasa dekat dengan kota, kenangan masa kecil, atau pengalaman hidup yang tidak mudah diterjemahkan dengan sekadar kata “suporter”.

Satu generasi mengenalkan kepada generasi berikutnya.

Lalu generasi berikutnya menemukan cara mereka sendiri untuk meneruskannya.

Ketika Persib Menjadi Bahasa Bersama

Sebuah budaya sering kali tumbuh dari sesuatu yang dilakukan bersama secara terus-menerus.Dalam Persib, kita bisa melihatnya melalui berbagai bentuk ekspresi Bobotoh. Chant yang dinyanyikan bersama, koreografi di tribun, bendera, atribut, konten digital, sampai komunitas yang membuat kegiatan di luar pertandingan.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana jika berdiri sendiri. Tetapi ketika dilakukan oleh banyak orang dan diwariskan dari waktu ke waktu, ia menjadi bagian dari pengalaman bersama.

Penelitian Universitas Padjadjaran tentang Bobotoh juga menunjukkan bagaimana fandom Persib berkembang menjadi budaya partisipatif. Penggemar tidak hanya menerima informasi dari klub, tetapi turut membuat, membagikan, dan mengembangkan berbagai bentuk ekspresi mengenai Persib. Bahkan, partisipasi tersebut dapat bergerak menuju aktivitas sosial dan kepedulian bersama.

Sementara itu, penelitian mengenai pembentukan identitas sosial Bobotoh dari Universitas Pendidikan Indonesia melihat bahwa rasa memiliki terhadap Persib dan komunitas menjadi bagian dari proses terbentuknya identitas sosial. Pengalaman bersama, lingkungan sosial, media, serta keterlibatan dalam komunitas ikut membentuk rasa kebersamaan tersebut.

Mungkin itu sebabnya percakapan tentang Persib terasa seperti sebuah bahasa yang sudah dipahami oleh banyak orang Bandung.

Tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang.

Satu jersey bisa membuka percakapan. Satu nama pemain bisa mengingatkan pada pertandingan tertentu. Satu chant bisa membawa kembali seseorang pada suasana tribun yang pernah ia rasakan.

Persib menjadi titik temu.

Bukan karena semua orang di dalamnya sama, tetapi karena perbedaan itu bisa hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama

Pada akhirnya, mungkin yang membuat Persib begitu dekat dengan Bandung bukan hanya sejarah klub atau deretan pencapaiannya.

Ada manusia di balik semua itu.Ada keluarga yang menyimpan cerita tentang pertandingan dari bertahun-tahun lalu. Ada teman yang pertama kali bertemu karena sama-sama Bobotoh. Ada komunitas yang menjadikan kecintaan terhadap Persib sebagai alasan untuk berkumpul dan berkarya.

Ada pula generasi baru yang membawa cara mereka sendiri untuk mengenal klub ini.

Mereka datang dari kehidupan yang berbeda, menjalani hari dengan kesibukan masing-masing, dan mungkin memiliki alasan yang berbeda pula ketika ditanya mengapa mencintai Persib.

Namun ketika nama itu disebut, ada pengalaman yang terasa sama: rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.Itulah yang membuat Persib tidak berhenti sebagai klub sepak bola.

Di Bandung, ia menjadi bagian dari budaya yang dibentuk bersama—melalui kebiasaan, simbol, keluarga, komunitas, kreativitas, dan ingatan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Satu Persib tidak menghasilkan satu cerita.

Ia menghasilkan ribuan cerita yang tumbuh di kota, di stadion, di rumah, di antara pertemanan, dan di dalam kehidupan orang-orang yang menyebut dirinya Bobotoh.

Dan mungkin, selama cerita itu terus diwariskan sekaligus menemukan bentuk-bentuk baru, Persib akan selalu punya tempat di Bandung.

Bukan hanya sebagai nama di papan skor.

Tetapi sebagai bagian dari cerita kota yang terus berjalan.

“Satu Persib mungkin punya satu warna, tetapi Bandung selalu punya ribuan cara untuk mencintainya.”

Referensi penelitian yang digunakan:
Mulyana, D. A., Qonitah, A., & Salsabilla, S. A. (2024), Bentuk budaya partisipasi: Studi deskriptif kualitatif pada fandom bobotoh, Universitas Padjadjaran.

Junaedi & Williyanto, S. (2025), Makna Loyalitas dalam Identitas Suporter: Studi Kualitatif pada Suporter Persib Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia.


Destian, A., Bestari, P., & Mahfudz, A. (2025), Pembentukan Identitas Sosial Bobotoh Persib Bandung melalui Keterlibatan Sosial dan Politik, Universitas Pendidikan Indonesia.