Category: Uncategorized

  • Story of Hemangini: Menemukan Venue Pernikahan Impian di Bandung

    Story of Hemangini: Menemukan Venue Pernikahan Impian di Bandung

    Curioucity.id — Di Bandung, mencari tempat untuk sebuah perayaan sering kali berarti mencari suasana yang terasa tepat.

    Begitu pula ketika sebuah pasangan mulai membayangkan hari pernikahannya. Ada ruang yang perlu dipikirkan, jumlah tamu yang akan datang, dekorasi yang ingin dihadirkan, sampai suasana yang ingin dirasakan ketika orang-orang terdekat berkumpul.

    Di kawasan Setiabudi, cerita tentang pilihan venue itu hadir melalui Story of Hemangini: The Next Experience, wedding showcase dan vendor gathering yang digelar pada 30 September 2026 di New Hemangini Hotel Bandung.

    Bukan hanya memperkenalkan venue, acara ini mempertemukan calon pengantin dengan berbagai partner wedding sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah ruang dapat mengikuti kebutuhan dan konsep pernikahan yang berbeda.

    Setiabudi Menjadi Titik Awal Mencari Venue Pernikahan

    Memilih venue pernikahan sering kali dimulai dari hal yang sangat praktis: berapa banyak tamu yang bisa ditampung, bagaimana susunan meja dan kursinya, hingga seperti apa dekorasi yang mungkin dibuat.

    Tetapi setelah itu, muncul pertanyaan yang lebih personal. Apakah ruang tersebut bisa terasa seperti pernikahan yang memang ingin kita buat?

    Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu latar Story of Hemangini: The Next Experience. New Hemangini Hotel Bandung memperkenalkan venue bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya acara, tetapi sebagai ruang yang dapat menyesuaikan konsep, suasana, dan karakter pasangan.

    Dari sini, pilihan venue tidak lagi berhenti pada ukuran ruangan. Ada hal-hal lain yang mulai ikut dipertimbangkan: bagaimana tamu akan menikmati acara, seperti apa suasana yang ingin dibangun, dan bagaimana setiap detail bisa terasa sesuai dengan pasangan yang menikah.

    Exhibition Dome dan Pilihan Pernikahan yang Bisa Dibentuk Sendiri

    Salah satu ruang yang menjadi bagian dari showcase adalah Exhibition Dome.

    Dengan konsep yang modern dan fleksibel, ruang ini dapat disesuaikan untuk berbagai kebutuhan acara. Kapasitasnya mencapai 300 orang, dilengkapi videotron dan sound system, sementara dekorasi, panggung, hingga susunan tempat duduk masih dapat dikembangkan mengikuti konsep masing-masing pasangan.

    Di sinilah calon pengantin bisa mulai membayangkan pernikahan mereka secara lebih nyata.

    Bukan lagi sekadar melihat sebuah ruangan kosong, tetapi membayangkan bagaimana meja-meja akan tersusun, di mana keluarga akan duduk, bagaimana dekorasi memenuhi ruang, hingga seperti apa suasana ketika para tamu akhirnya datang.

    Ruang yang fleksibel memberi satu keuntungan sederhana: pasangan tidak harus memaksakan ceritanya mengikuti venue. Sebaliknya, venue dapat menjadi bagian dari cerita yang mereka susun.

    Naik ke Rooftop, Menemukan Suasana yang Lebih Intim

    Jika Exhibition Dome menawarkan ruang yang lebih luas untuk dikembangkan, Bloof Resto & Bar membawa pengalaman yang berbeda.

    Berada di rooftop, venue ini menawarkan atmosfer modern dengan pemandangan kota Bandung. Karakternya dapat digunakan untuk acara personal, termasuk konsep pernikahan yang lebih intim dan eksklusif.

    Perbedaan suasana ini menarik karena keduanya masih berada dalam satu kompleks hotel.

    Artinya, calon pengantin tidak hanya dihadapkan pada satu pilihan bentuk pernikahan. Ada ruang yang dapat dikembangkan untuk perayaan dengan lebih banyak tamu, dan ada pula suasana rooftop yang bisa terasa lebih personal.

    Pada akhirnya, pilihan tersebut kembali kepada cerita yang ingin dibangun pasangan. Sebab, venue yang tepat bukan selalu tentang ruang yang paling besar atau paling ramai, melainkan ruang yang terasa paling sesuai dengan cara mereka ingin merayakan.

    Saat Calon Pengantin Mulai Membayangkan Hari Pernikahannya

    Setelah melihat venue, perjalanan memilih pernikahan tentu belum selesai.

    Ada dekorasi yang perlu dibicarakan, dokumentasi, tata acara, hingga berbagai kebutuhan lain yang membuat sebuah perayaan terasa utuh. Karena itu, Story of Hemangini: The Next Experience juga mempertemukan calon pengantin dengan berbagai partner wedding dalam satu acara.

    Di titik ini, sebuah wedding showcase terasa seperti tempat untuk mulai menyusun gambaran yang sebelumnya masih berada di kepala.

    Dari melihat ruangan, memilih suasana, sampai bertemu dengan vendor yang nantinya membantu mewujudkan detail-detail perayaan.

    New Hemangini Hotel Bandung sendiri membawa konsep “Living The Experience”, dengan perpaduan ruang yang fleksibel, atmosfer venue, fasilitas hotel bintang empat, dan dukungan berbagai wedding vendor.

    Berada di Jl. Dr. Setiabudi No. 66, Bandung, New Hemangini Hotel Bandung akhirnya menawarkan lebih dari satu kemungkinan untuk sebuah perayaan. Exhibition Dome dengan ruang yang fleksibel, atau Bloof Resto & Bar dengan suasana rooftop dan pemandangan kota Bandung.

    Sebab pada akhirnya, memilih venue pernikahan mungkin bukan hanya tentang menjawab “di mana?”

    Tetapi tentang menemukan tempat yang bisa membuat sebuah hari terasa cukup dekat dengan apa yang sejak awal dibayangkan pasangan.

    Dan dari Setiabudi, cerita itu bisa mulai disusun.

  • Lebih dari Sepak Bola Klub Persib Sebagai Identitas dan Budaya Kota Bandung

    Lebih dari Sepak Bola Klub Persib Sebagai Identitas dan Budaya Kota Bandung

    Curioucity.id — Di Bandung, ada percakapan yang bisa dimulai tanpa perlu banyak pembuka. Cukup menyebut Persib, lalu obrolan bisa bergerak ke mana saja—pemain, pertandingan, kenangan lama, sampai cerita tentang bagaimana seseorang pertama kali mengenal klub yang satu ini.

    Persib punya cara sendiri untuk masuk ke kehidupan kota. Bukan hanya ketika pertandingan berlangsung, tetapi juga dalam jersey yang dipakai keluar rumah, nama pemain yang tiba-tiba muncul di meja makan, atau obrolan antarteman yang terdengar di tengah aktivitas sehari-hari.

    Menariknya, orang-orang yang berbicara tentang Persib tidak selalu datang dari cerita yang sama.

    Ada yang sejak kecil diajak menonton oleh orang tuanya. Ada yang mengenal Persib melalui teman dan komunitas. Ada pula generasi yang tumbuh ketika media sosial membuat hubungan antara klub dan penggemarnya semakin dekat.

    Mereka disebut Bobotoh, tetapi masing-masing membawa pengalaman sendiri.

    Mungkin itu yang membuat Persib terasa lebih besar daripada pertandingan 90 menit. Di Bandung, ia tumbuh sebagai bagian dari ingatan, pertemanan, keluarga, dan kebiasaan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Persib Tumbuh Bersama Kehidupan Bandung

    Sepak bola memang punya kemampuan untuk mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Dalam konteks Persib, pertemuan itu kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih panjang daripada durasi sebuah pertandingan.

    Penelitian Mulyana, Qonitah, dan Salsabilla dari Universitas Padjadjaran pada 2024 melihat Bobotoh sebagai sebuah fandom dengan budaya partisipasi yang aktif. Mereka menemukan empat bentuk partisipasi: afiliasi, ekspresi, kolaborasi, dan sirkulasi.

    Afiliasi terlihat dari terbentuknya berbagai komunitas dan ruang pertemanan Bobotoh. Ekspresi hadir lewat meme, video penggemar, koreografi, hingga berbagai bentuk kreativitas di media sosial.

    Sementara itu, kolaborasi dan sirkulasi menunjukkan bahwa hubungan Bobotoh dengan Persib tidak berhenti pada memberikan dukungan ketika pertandingan berlangsung. Informasi, gagasan, hingga kepedulian bisa bergerak dari satu orang ke orang lain.

    Artinya, Persib punya kehidupan lain di luar lapangan. Ia tumbuh melalui orang-orang yang terus membuat hubungan dengan klub dan sesama Bobotoh menjadi bagian dari keseharian.

    Di titik ini, sepak bola mulai terasa seperti budaya.

    “Persib bukan hanya klub yang ditonton, tetapi cerita yang terus dibuat bersama oleh orang-orang yang merasa menjadi bagian darinya.”

    Ada yang Mewarisi Persib, Ada yang Menemukan Ceritanya Sendiri

    Setiap Bobotoh mungkin punya satu cerita tentang awal mula semuanya.

    Bisa jadi dari seorang ayah yang selalu menyalakan televisi ketika Persib bermain. Bisa juga dari ibu, kakak, teman sekolah, atau lingkungan pergaulan yang perlahan mengenalkan nama-nama pemain dan cerita di balik sebuah klub.

    Ada pula yang menemukan Persib ketika sudah lebih dewasa.

    Hal seperti ini membuat hubungan antara Persib dan Bobotoh terasa personal. Sebab, kecintaan terhadap klub tidak selalu dimulai dari pertandingan yang paling berkesan. Kadang justru tumbuh dari hal sederhana yang dilakukan berulang kali sampai akhirnya menjadi bagian dari identitas seseorang.

    Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia mengenai loyalitas suporter Persib pada 2025 menemukan bahwa loyalitas Bobotoh tidak hanya berkaitan dengan dukungan terhadap klub. Para peneliti menemukan makna lain di dalamnya, seperti warisan keluarga, kebanggaan terhadap daerah, identitas pribadi, dan solidaritas sosial.

    Di situlah Bandung menjadi penting.

    Persib bukan klub yang berdiri jauh dari kehidupan kota. Nama Bandung bahkan melekat langsung pada identitasnya. Maka ketika seseorang mencintai Persib, di dalamnya bisa ada rasa dekat dengan kota, kenangan masa kecil, atau pengalaman hidup yang tidak mudah diterjemahkan dengan sekadar kata “suporter”.

    Satu generasi mengenalkan kepada generasi berikutnya.

    Lalu generasi berikutnya menemukan cara mereka sendiri untuk meneruskannya.

    Ketika Persib Menjadi Bahasa Bersama

    Sebuah budaya sering kali tumbuh dari sesuatu yang dilakukan bersama secara terus-menerus.Dalam Persib, kita bisa melihatnya melalui berbagai bentuk ekspresi Bobotoh. Chant yang dinyanyikan bersama, koreografi di tribun, bendera, atribut, konten digital, sampai komunitas yang membuat kegiatan di luar pertandingan.

    Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana jika berdiri sendiri. Tetapi ketika dilakukan oleh banyak orang dan diwariskan dari waktu ke waktu, ia menjadi bagian dari pengalaman bersama.

    Penelitian Universitas Padjadjaran tentang Bobotoh juga menunjukkan bagaimana fandom Persib berkembang menjadi budaya partisipatif. Penggemar tidak hanya menerima informasi dari klub, tetapi turut membuat, membagikan, dan mengembangkan berbagai bentuk ekspresi mengenai Persib. Bahkan, partisipasi tersebut dapat bergerak menuju aktivitas sosial dan kepedulian bersama.

    Sementara itu, penelitian mengenai pembentukan identitas sosial Bobotoh dari Universitas Pendidikan Indonesia melihat bahwa rasa memiliki terhadap Persib dan komunitas menjadi bagian dari proses terbentuknya identitas sosial. Pengalaman bersama, lingkungan sosial, media, serta keterlibatan dalam komunitas ikut membentuk rasa kebersamaan tersebut.

    Mungkin itu sebabnya percakapan tentang Persib terasa seperti sebuah bahasa yang sudah dipahami oleh banyak orang Bandung.

    Tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang.

    Satu jersey bisa membuka percakapan. Satu nama pemain bisa mengingatkan pada pertandingan tertentu. Satu chant bisa membawa kembali seseorang pada suasana tribun yang pernah ia rasakan.

    Persib menjadi titik temu.

    Bukan karena semua orang di dalamnya sama, tetapi karena perbedaan itu bisa hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama

    Pada akhirnya, mungkin yang membuat Persib begitu dekat dengan Bandung bukan hanya sejarah klub atau deretan pencapaiannya.

    Ada manusia di balik semua itu.Ada keluarga yang menyimpan cerita tentang pertandingan dari bertahun-tahun lalu. Ada teman yang pertama kali bertemu karena sama-sama Bobotoh. Ada komunitas yang menjadikan kecintaan terhadap Persib sebagai alasan untuk berkumpul dan berkarya.

    Ada pula generasi baru yang membawa cara mereka sendiri untuk mengenal klub ini.

    Mereka datang dari kehidupan yang berbeda, menjalani hari dengan kesibukan masing-masing, dan mungkin memiliki alasan yang berbeda pula ketika ditanya mengapa mencintai Persib.

    Namun ketika nama itu disebut, ada pengalaman yang terasa sama: rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.Itulah yang membuat Persib tidak berhenti sebagai klub sepak bola.

    Di Bandung, ia menjadi bagian dari budaya yang dibentuk bersama—melalui kebiasaan, simbol, keluarga, komunitas, kreativitas, dan ingatan yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Satu Persib tidak menghasilkan satu cerita.

    Ia menghasilkan ribuan cerita yang tumbuh di kota, di stadion, di rumah, di antara pertemanan, dan di dalam kehidupan orang-orang yang menyebut dirinya Bobotoh.

    Dan mungkin, selama cerita itu terus diwariskan sekaligus menemukan bentuk-bentuk baru, Persib akan selalu punya tempat di Bandung.

    Bukan hanya sebagai nama di papan skor.

    Tetapi sebagai bagian dari cerita kota yang terus berjalan.

    “Satu Persib mungkin punya satu warna, tetapi Bandung selalu punya ribuan cara untuk mencintainya.”

    Referensi penelitian yang digunakan:
    Mulyana, D. A., Qonitah, A., & Salsabilla, S. A. (2024), Bentuk budaya partisipasi: Studi deskriptif kualitatif pada fandom bobotoh, Universitas Padjadjaran.

    Junaedi & Williyanto, S. (2025), Makna Loyalitas dalam Identitas Suporter: Studi Kualitatif pada Suporter Persib Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia.


    Destian, A., Bestari, P., & Mahfudz, A. (2025), Pembentukan Identitas Sosial Bobotoh Persib Bandung melalui Keterlibatan Sosial dan Politik, Universitas Pendidikan Indonesia.