Category: shopping

  • Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    CuriouCity.id — Sebuah karya seni tidak selalu meminta untuk langsung dimengerti. Kadang, ia hanya mengajak kita berhenti, melihat lebih dekat, lalu menyadari bahwa ada proses panjang di balik sesuatu yang tampak sederhana.

    Hal itu terasa ketika ARTOTEL Suites Aquila Bandung berkolaborasi dengan Pusat Informasi dan Kegiatan – Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK-POTADS) Jawa Barat dalam rangka Bulan Peduli Down Syndrome.

    Sepanjang Oktober 2026, area lobi ARTOTEL Suites Aquila menjadi ruang bagi 10 karya lukisan dan shibori hasil kreativitas anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat. Bukan sekadar memajang hasil karya, kolaborasi ini juga menghadirkan kesempatan untuk mengenal proses, kreativitas, dan cara mereka berekspresi.

    ARTOTEL Suites Aquila Nenjadi Ruang Untuk Berkarya

    Lobi hotel biasanya menjadi tempat orang datang, menunggu, kemudian melanjutkan perjalanan. Kali ini, langkah pengunjung justru bisa terhenti di depan karya-karya yang dibuat oleh anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat.

    Lukisan dan shibori menjadi medium yang memperlihatkan bahwa setiap orang dapat memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan sesuatu.

    Pembukaan pameran pun tidak dibuat hanya sebagai seremoni. Para awak media diajak merasakan langsung proses pembuatan shibori, sehingga karya yang kemudian dipandang di area pameran memiliki cerita yang lebih panjang.

    Sebab sebelum menjadi sebuah pola, kain perlu dilipat, diikat, dijepit, dipelintir, atau dijahit terlebih dahulu.

    Prosesnya sederhana, tetapi hasil akhirnya tidak pernah benar-benar bisa ditebak.

    Dari Kain Yang Dilipat, Lahir Pola Yang Tak Pernah Sama

    Shibori merupakan teknik pewarnaan kain tradisional Jepang. Kain diproses dengan berbagai cara sebelum dicelupkan ke pewarna, kemudian menghasilkan pola yang unik dan tidak beraturan.

    Pengalaman tersebut menjadi bagian menarik dari rangkaian kegiatan karena peserta tidak hanya melihat karya, tetapi ikut memahami bagaimana sebuah karya terbentuk.

    Hal serupa juga dapat dirasakan melalui lukisan yang dipamerkan.

    Yang terlihat pada akhirnya memang sebuah karya. Namun di baliknya ada proses mencoba, memilih, membuat, dan menemukan cara untuk berekspresi.

    Di titik ini, seni menjadi lebih dari sekadar hasil akhir.

    Ia menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai cara sendiri untuk berkarya.

    Ketika Seni Memberi Ruang Untuk Tampil

    Cerita hari itu kemudian bergerak dari karya yang berada di dinding menuju pertunjukan yang berlangsung di hadapan tamu dan awak media.

    Anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat turut menampilkan pertunjukan seni. Musik dan perkusi mengisi ruang, sementara para peserta tampil bersama dengan energi yang terasa jauh dari suasana pameran yang formal.

    Momen seperti ini memperlihatkan sisi lain dari sebuah karya.Bukan hanya tentang apa yang dibuat, tetapi juga tentang keberanian untuk menunjukkannya kepada orang lain.

    Ruang untuk tampil menjadi bagian penting dari proses tersebut. Karena apresiasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk penilaian. Terkadang, apresiasi cukup dimulai dengan memberikan kesempatan seseorang untuk menunjukkan apa yang bisa ia lakukan.

    Kolaborasi ini kemudian mempertemukan seni, komunitas, keluarga, media, dan masyarakat dalam satu ruang yang sama.

    Setiap Karya Membawa Cerita yang Berbeda

    Bagi ARTOTEL Suites Aquila, kolaborasi ini membawa pesan yang lebih luas daripada sebuah pameran.

    Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila, mengatakan bahwa setiap karya memiliki cerita. Karena itu, yang ingin diberikan bukan hanya tempat untuk memajang hasil karya, tetapi ruang agar keberanian, proses, dan kreativitas anak-anak Down Syndrome dapat dilihat serta diapresiasi lebih luas.

    “Bagi kami, setiap karya memiliki cerita.”— Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila

    Kalimat tersebut terasa relevan ketika melihat kembali rangkaian kegiatan hari itu.Sebuah lukisan bukan hanya warna di atas kanvas.

    Shibori bukan hanya pola yang terbentuk setelah kain dicelup.Dan pertunjukan bukan hanya tentang musik yang dimainkan.

    Di balik semuanya, ada proses dan kesempatan untuk berekspresi.Pada akhirnya, mungkin itulah yang ingin diberikan oleh sebuah ruang inklusif: bukan membuat semua orang menjadi sama, tetapi memberikan kesempatan yang sama untuk dilihat, didengar, dan diapresiasi.

    Pameran lukisan dan karya shibori anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat berlangsung sepanjang Oktober 2026 di ARTOTEL Suites Aquila Bandung.

    “Karena setiap karya punya cerita. Tinggal seberapa lama kita bersedia berhenti untuk melihatnya.”

  • 36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    Curioucity.id — Dago selalu punya cara membuat perjalanan terasa sedikit berbeda. Udara yang lebih sejuk, pepohonan di sepanjang jalan, dan suasana kawasan yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian Bandung.

    Di salah satu sudutnya, Sheraton Bandung Hotel & Towers telah menjalani perjalanan selama 36 tahun. Selama itu pula, berbagai orang datang dengan ceritanya masing-masing—keluarga yang menghabiskan waktu bersama, komunitas yang berkumpul, hingga tamu yang menjadikan Bandung sebagai bagian dari perjalanan mereka.

    Pada 2 Oktober 2026, Sheraton Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke-36 dengan tema “36 Years: Bringing People Together.” Perayaannya tidak hanya berlangsung sehari, tetapi hadir melalui rangkaian kegiatan hingga akhir Oktober.

    “Orang datang membawa cerita. Bertemu, berbagi, lalu pulang dengan cerita yang baru.”

    Dari Lobby, Pertemuan Itu Dimulai

    Cerita perayaan 36 tahun Sheraton Bandung dimulai dari sebuah ruang yang setiap hari dilewati banyak orang: lobby.

    Melalui Sheraton Market, area ini berubah menjadi ruang pertemuan dengan hadirnya berbagai produk dan karya dari pelaku usaha lokal. Berlangsung pada 21 September hingga 18 Oktober 2026, Sheraton Market menjadi kesempatan bagi tamu hotel dan masyarakat untuk mengenal sekaligus berinteraksi dengan komunitas dan UMKM.

    Rasanya cukup sederhana. Orang datang untuk melihat-lihat, menemukan sesuatu yang menarik, lalu mungkin berhenti sebentar untuk berbincang.

    Semangat yang sama juga hadir melalui Gatherings by Sheraton yang berlangsung setiap minggu. Berbagai aktivitas komunitas, wellness, dan social gatherings dirancang untuk membuka kesempatan bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi baru.

    Sebuah hotel akhirnya tidak hanya menjadi tempat orang menginap, tetapi juga ruang tempat orang bisa saling menemukan.

    Ada Percakapan di Balik Sebuah Meja

    Cerita tentang kebersamaan juga bisa ditemukan dari hal yang paling sederhana: makan bersama.

    Sepanjang Oktober, Feast Restaurant menghadirkan 36 menu pilihan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Sementara Toastina Pastry & Coffee House menghadirkan pilihan menu dengan penawaran khusus pada 1–5 Oktober 2026.

    Tapi mungkin bukan menunya yang paling menarik untuk diceritakan.
    Melainkan apa yang terjadi setelah makanan tersaji.

    Seseorang mulai bercerita. Yang lain ikut menanggapi. Percakapan yang awalnya sebentar ternyata berlangsung lebih lama.

    Sebab makanan memang sering punya cara sederhana untuk mempertemukan orang. Tidak banyak yang perlu direncanakan ketika beberapa orang sudah duduk di meja yang sama.

    Ketika Waktu Bersama Menjadi Cerita Keluarga

    Perjalanan bersama keluarga juga punya bentuknya sendiri.

    Tidak selalu tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang justru tentang bagaimana satu hari bisa digunakan untuk benar-benar bersama.

    Hal itu menjadi bagian dari Side by Side, program yang dihadirkan Sheraton Bandung untuk keluarga yang menginap. Orang tua dan anak diajak meluangkan waktu untuk bermain, belajar, dan menciptakan momen bersama.

    Ada anak yang sibuk dengan aktivitasnya. Ada orang tua yang menemani. Ada momen-momen kecil yang mungkin tidak terlihat istimewa saat terjadi, tetapi justru menjadi cerita ketika perjalanan itu sudah selesai.

    Termasuk menikmati gelato atau kukis yang menjadi bagian dari paket Family Staycation.

    Bukan soal apa yang didapat, tetapi tentang siapa yang menikmatinya bersama.

    Perayaan 36 Tahun, Berbagi untuk Sesama

    Jika melihat kembali perjalanan selama 36 tahun, mungkin yang paling menarik bukan hanya bagaimana sebuah hotel bertahan selama itu.

    Melainkan berapa banyak pertemuan yang pernah terjadi di dalamnya.

    Keluarga yang datang bersama. Komunitas yang menemukan ruang untuk berkumpul. Orang-orang yang bertemu untuk pertama kalinya. Hingga mereka yang datang untuk memberikan sesuatu bagi orang lain.

    Semangat itu juga hadir melalui kegiatan donor darah Serve 360, yang terbuka untuk umum dan dilakukan bersama Lions Club Bandung serta PMI.

    Pada akhirnya, usia mungkin hanya sebuah angka.

    Yang membuatnya punya arti adalah cerita yang terkumpul di sepanjang perjalanan.

    Dan mungkin, selama 36 tahun berada di Dago, Sheraton Bandung bukan hanya menyimpan cerita tentang tempatnya sendiri.

    Tetapi juga cerita dari orang-orang yang pernah datang, bertemu, menghabiskan waktu, lalu membawa pulang bagian kecil dari pengalaman itu.

    “Ke-36 tahun adalah sebuah perjalanan yang dibangun bersama tamu, associate, komunitas, partner, dan masyarakat. Melalui tema Bringing People Together, kami ingin menjadikan perayaan tahun ini bukan hanya sebagai perayaan usia, tetapi juga sebagai perayaan atas setiap hubungan, cerita, dan momen yang telah tercipta bersama.”— Herinova, General Manager Sheraton Bandung Hotel & Towers

  • IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    IMOBY Bandung 2026 Lebih dari Sekadar Pameran Ibu dan Anak

    Curioucity.id — Bandung punya banyak cara untuk menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Ada yang mengajak anak bermain, mencari tempat makan, berjalan-jalan, atau sekadar keluar rumah setelah beberapa hari sibuk dengan rutinitas.

    Karena itu, ketika sebuah pameran keluarga kembali hadir di Bandung, menarik untuk melihatnya bukan hanya sebagai tempat berbelanja. Ada orang tua yang datang membawa kebutuhan, anak-anak yang punya kesenangan sendiri, dan orang-orang yang datang dengan tujuan berbeda tetapi akhirnya bertemu di tempat yang sama.

    Indonesia Mom and Baby and Kids Expo (IMOBY) akan kembali berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Sudirman Grand Ballroom Bandung. Setelah penyelenggaraan pada Februari lalu mendapat antusiasme besar, IMOBY kembali dengan skala yang lebih luas dan menghadirkan sekitar 120 tenant.

    Dari sini, cerita IMOBY di Bandung bisa dilihat lebih dekat. Bukan hanya tentang apa yang ada di dalam pameran, tetapi juga tentang bagaimana keluarga menghabiskan waktu bersama di dalamnya.

    Ada Banyak Alasan Keluarga Datang ke Sudirman Grand Ballroom

    Ketika pergi bersama keluarga, biasanya tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Orang tua mungkin sudah punya barang yang ingin dicari. Anak bisa saja lebih tertarik pada sesuatu yang bisa dilihat dan dimainkan. Ada pula yang sekadar ikut karena ingin menghabiskan waktu bersama.

    IMOBY mempertemukan berbagai kebutuhan itu dalam satu tempat. Tahun ini, sekitar 120 tenant akan hadir membawa produk untuk ibu, bayi, dan anak, termasuk Haloli, Sweety, Merries, Ovikids, Dialogue, dan SHP Toys. Pameran berlangsung selama tiga hari, mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

    Namun, sebuah pameran keluarga tentu tidak hanya terdiri dari deretan produk.

    Ada orang yang datang dengan daftar belanja, lalu menemukan hal lain yang tidak direncanakan. Ada yang awalnya hanya menemani, tetapi akhirnya ikut melihat-lihat. Dan ada anak yang mungkin tidak terlalu peduli dengan apa yang sedang dicari orang tuanya.

    Di Bandung, IMOBY menjadi salah satu pilihan untuk mempertemukan berbagai kepentingan itu dalam satu akhir pekan.

    Ketika Kebutuhan Ibu dan Anak Bertemu dalam Satu Tempat

    Ada satu hal yang cukup menonjol dari IMOBY tahun ini: perhatian kepada ibu.

    Dalam keseharian keluarga, ibu sering kali menjadi sosok yang memikirkan banyak kebutuhan sekaligus. Ketika datang ke pameran yang memang ditujukan untuk keluarga, mereka tidak hanya ditempatkan sebagai orang yang mencari kebutuhan anak.

    Penyelenggara IMOBY menyebut kenyamanan psikologis dan kebahagiaan ibu sebagai salah satu prioritas acara. Bentuknya antara lain melalui free gift, program belanja, serta hiburan yang juga bisa dinikmati bersama anak.

    “Seorang ibu itu sangat butuh disayangi dan diapresiasi. Di IMOBY, kami tidak hanya sekadar berjualan, tapi kami benar-benar merangkul dan memanjakan mereka.”— Karen Wiraraharja, penyelenggara IMOBY Expo.

    Gagasan tersebut membuat kunjungan ke pameran tidak sepenuhnya berpusat pada kebutuhan anak.

    Ada pula ruang bagi ibu untuk menikmati waktunya sendiri, melihat-lihat sesuatu yang menarik perhatian, atau sekadar menikmati suasana bersama keluarga.Sederhana, tetapi justru dekat dengan keseharian.

    Anak-Anak Punya Agenda Mereka Sendiri

    Bagi anak, alasan datang ke sebuah pameran tentu berbeda.

    Mereka mungkin tidak datang karena ingin melihat produk tertentu. Yang lebih menarik bisa jadi adalah pertunjukan, permainan, atau aktivitas yang bisa dilakukan bersama anak-anak lainnya.

    IMOBY menyiapkan sejumlah agenda untuk mengisi bagian tersebut. Selain berbagai lomba dan edukatif talkshow, ada special performance dari Babalilitata, Riko The Series, dan Uwa and Friends.

    Dengan begitu, anak tidak sekadar menjadi teman orang tua ketika berbelanja.Mereka punya alasan sendiri untuk menikmati kunjungan.

    Sementara orang tua melihat kebutuhan keluarga, anak bisa mengikuti aktivitas atau menonton pertunjukan. Setelahnya, mereka kembali bertemu dan melanjutkan hari bersama.Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama untuk bisa menikmati satu perjalanan.

    Dari Pengunjung hingga Jastiper, Semua Punya Perannya

    Di balik keluarga yang datang, ada pula kelompok lain yang ikut menjadi bagian dari cerita IMOBY: para pelaku jasa titip atau jastiper.

    Bagi jastiper, sebuah pameran bisa menjadi tempat mencari produk untuk orang lain. Karena itu, penyelenggara melihat mereka bukan sekadar sebagai pembeli dalam jumlah besar, tetapi sebagai bagian dari ekosistem pameran.

    IMOBY menyiapkan program Top Spender dan doorprize yang dapat diikuti pengunjung umum maupun jastiper. Sementara bagi pengunjung yang berbelanja langsung, ada Gift With Purchase berdasarkan jumlah transaksi.

    Di balik semua itu, terlihat bahwa satu pameran ternyata mempertemukan cukup banyak peran.

    Ada brand yang membawa produknya ke Bandung. Ada orang tua yang mencari kebutuhan keluarga. Ada anak-anak yang datang untuk menikmati hiburan. Ada pula jastiper yang datang membawa kebutuhan orang lain.

    IMOBY juga melakukan kurasi dan rotasi brand agar pilihan produk yang hadir dapat berubah dari satu penyelenggaraan ke penyelenggaraan berikutnya. Untuk produk makanan dan kosmetik, penyelenggara menyebut proses kurasi juga memperhatikan kejelasan logo halal.

    Pada akhirnya, Bandung bukan hanya menjadi lokasi IMOBY 2026, tetapi latar tempat berbagai cerita keluarga itu bertemu.

    Ada yang datang karena memang sedang membutuhkan sesuatu. Ada yang ingin mengajak anak keluar. Ada yang datang untuk melihat-lihat. Ada juga yang menjadikan pameran sebagai bagian dari aktivitas ekonominya.

    Semua hadir dengan alasan masing-masing.

    Dan mungkin, seperti banyak perjalanan keluarga lainnya di Bandung, yang tersisa setelahnya bukan hanya barang yang dibawa pulang, tetapi cerita tentang bagaimana satu hari dihabiskan bersama.

    “Di Bandung, akhir pekan selalu punya banyak cara untuk dinikmati. Kali ini, ceritanya datang dari satu ruang yang mempertemukan keluarga dengan caranya masing-masing.”

  • EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    Curioucity.id — Pagi di Jalan Sumatra biasanya punya ritmenya sendiri. Jalan mulai ramai, beberapa orang datang untuk berolahraga, sementara kawasan di sekitarnya perlahan dipenuhi aktivitas.

    Pada 12 September 2026, ada pemandangan lain di salah satu sudut jalan tersebut.

    Perempuan datang dengan pakaian olahraga. Beberapa mengikuti yoga, sebagian lainnya bersiap untuk fun run dan bersepeda. Di antara keramaian itu, ada ibu yang datang bersama anak-anak, komunitas yang saling menyapa, hingga pengunjung yang kemudian melihat-lihat ke dalam sebuah ruang baru.

    Hari itu adalah pembukaan EIGER Women Flagship Store pertama di Indonesia di Jalan Sumatra, Bandung. Secara bersamaan, toko ini juga menjadi toko EIGER Adventure ke-350 di Indonesia.

    Tetapi kalau hanya melihat angka tersebut, kita mungkin akan melewatkan hal yang justru paling terasa dari pagi itu.

    Pembukaannya tidak terasa seperti orang-orang datang untuk menyaksikan sebuah pintu toko dibuka.

    Rasanya lebih seperti sedang mengikuti sebuah kegiatan bersama.Dan dari sana, cerita tentang EIGER Women Bandung mulai terlihat.

    Ada Kegiatan Yoga Saat EIGER Women Membuka Pintu Pertamanya di Bandung

    Hal pertama yang terasa dari acara pagi itu adalah energi orang-orang yang datang.

    Belum banyak yang sibuk memilih produk. Sebagian justru sudah lebih dulu bergerak.

    Morning yoga menjadi salah satu aktivitas yang mengawali rangkaian acara. Setelahnya, ada women fun run dan bersepeda yang melibatkan perempuan serta komunitas.

    Dari pengamatan sederhana itu, pembukaan EIGER Women terasa punya cara sendiri dalam memperkenalkan ruang barunya.

    Ia tidak buru-buru berbicara tentang apa yang ada di dalam toko.

    Sebaliknya, orang-orang terlebih dahulu diajak merasakan aktivitas yang selama ini begitu dekat dengan identitas EIGER: bergerak, berada di luar ruang, dan melakukan sesuatu bersama.

    Morning yoga menjadi salah satu gambaran paling sederhana.

    Matras terbentang. Orang-orang mengikuti gerakan masing-masing. Suasananya tidak terlalu formal, dan untuk sesaat toko di belakang mereka terasa seperti bagian dari latar sebuah kegiatan pagi di Bandung.

    Dari sini, gagasan tentang perempuan dan perjalanan terasa lebih dekat.

    Agnes Lukito, Head Division EIGER Women & Junior, menyampaikan bahwa perjalanan perempuan tidak hanya tentang mendaki gunung. Ada perjalanan sebagai ibu rumah tangga, perempuan karier, pelajar, maupun seseorang yang sedang mencari passion.

    Ketika melihat orang-orang yang hadir pagi itu, kalimat tersebut terasa cukup masuk akal. Karena yang datang memang bukan hanya mereka yang sedang bersiap menuju alam. Ada perempuan dengan rutinitas dan ceritanya sendiri.

    Ketika Angklung Anak-Anak Ikut Mengisi Hari Pembukaan

    Kemudian suasananya berubah. Di antara aktivitas olahraga dan keramaian pengunjung, anak-anak mengambil bagian dalam acara.

    Angklung terdengar.

    Beberapa anak tampil bersama, sebagian mengenakan busana tradisional Sunda. Orang-orang yang sebelumnya sibuk dengan aktivitas masing-masing kemudian punya alasan untuk berhenti sejenak dan memperhatikan.

    Momen ini terasa menarik karena kehadiran anak-anak membuat pembukaan EIGER Women tidak lagi hanya bercerita tentang perempuan dewasa dan aktivitas outdoor.

    Ada keluarga di dalamnya.

    Ada budaya lokal.

    Ada anak-anak yang mendapatkan ruang untuk tampil.

    Dan ada orang-orang yang datang bukan karena sedang mencari perlengkapan outdoor, tetapi karena ingin menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung hari itu.

    Dalam materi pembukaan, EIGER memang menyebut sejumlah kegiatan yang melibatkan perempuan dan anak-anak, mulai dari workshop kreatif hingga aktivitas khusus perempuan, ibu, dan anak.

    Namun melihat rangkaian itu sebagai satu pengalaman memberikan kesan yang berbeda.

    Ada sesuatu yang terasa lebih cair ketika sebuah toko outdoor dipenuhi aktivitas yang begitu beragam.

    Yoga berlangsung di satu sisi.

    Anak-anak bermain angklung di sisi lainnya.

    Pengunjung melihat-lihat koleksi.

    Komunitas datang dan berinteraksi.

    Semuanya terjadi dalam satu pagi.

    Dan tanpa perlu banyak penjelasan, dari situ terlihat bahwa EIGER Women ingin ruang ini diisi lebih dari sekadar aktivitas jual beli.

    EIGER Women Menyiapkan Ruang untuk Komunitas

    Masuk ke dalam toko, suasananya kembali berubah.

    Rak-rak produk dan perlengkapan outdoor mengingatkan bahwa tempat ini tetap merupakan sebuah flagship store. Tetapi setelah melihat apa yang terjadi di luar, fungsi ruang tersebut terasa seperti memiliki lapisan lain.

    EIGER merancang flagship store Bandung dengan ukuran lebih besar dibandingkan EIGER Women sebelumnya di Surabaya dan Depok. Koleksi perlengkapan outdoor yang tersedia juga dibuat lebih lengkap.

    Tempat ini diharapkan menjadi ruang bagi komunitas outdoor maupun komunitas perempuan. Sebuah tempat untuk berbagi pengalaman, inspirasi, dan semangat pemberdayaan.

    Foto pengunjung yang sedang melihat koleksi mungkin terlihat seperti gambaran paling umum dari sebuah toko.

    Tetapi setelah mengikuti cerita sejak pagi, melihatnya terasa sedikit berbeda.

    Orang-orang yang datang bisa saja awalnya hanya ingin melihat produk.

    Tetapi ruang yang sama memungkinkan mereka bertemu komunitas, mengikuti kegiatan, atau menemukan aktivitas yang sebelumnya tidak terpikirkan.

    Di sinilah konsep “rumah komunitas” yang disebut EIGER mulai terasa lebih konkret. Bukan karena ruangnya harus terlihat seperti rumah, tetapi karena ada upaya untuk membuat orang memiliki alasan lain untuk kembali selain berbelanja.

    Dan Bandung sepertinya menjadi tempat yang tepat untuk percobaan semacam itu.

    Bandung Menjadi Awal Cerita EIGER Women tentang Perjalanan Perempuan

    Pada akhirnya, yang paling menarik dari pembukaan ini bukan bagaimana toko tersebut terlihat.

    Justru orang-orang yang mengisinya yang membuat ceritanya terasa berbeda.

    Ada perempuan yang datang untuk olahraga.

    Ada ibu yang membawa anak.

    Ada anak-anak yang tampil memainkan angklung.

    Ada komunitas yang berkumpul.

    Ada pengunjung yang masuk dan melihat koleksi.

    Mereka semua memiliki alasan yang berbeda untuk berada di Jalan Sumatra pagi itu.

    Perjalanan seorang perempuan bisa berupa perjalanan mencari passion.

    Bisa berupa usaha untuk kembali aktif setelah kesibukan.

    Bisa berupa menemukan komunitas baru.

    Atau sekadar memiliki waktu untuk melakukan sesuatu yang memang disukai.Tidak semuanya terlihat spektakuler.

    Tetapi semuanya tetap merupakan perjalanan.

    Itulah yang terasa ketika melihat pembukaan EIGER Women Flagship Store di Bandung dari dekat.

    Sebuah toko baru memang sedang dibuka.

    Tetapi yang memenuhi ruangnya pagi itu adalah cerita-cerita yang jauh lebih beragam.

    Dan untuk sebuah kota seperti Bandung, mungkin cerita tersebut memang paling tepat dimulai bukan dengan seremoni yang terlalu formal, melainkan dengan orang-orang yang datang, bergerak, berkumpul, lalu perlahan mengisi sebuah ruang dengan kehidupan.

    “Perjalanan perempuan punya banyak bentuk. Kadang ia dimulai dari sebuah langkah kecil, sebuah komunitas, atau sekadar keberanian untuk mencoba.”

  • Kamaku, Karya Lokal dengan Semangat Sustainability di Balik Merchandise The Papandayan Jazz Festival 2026

    Kamaku, Karya Lokal dengan Semangat Sustainability di Balik Merchandise The Papandayan Jazz Festival 2026

    Curiocity.id — Di sebuah festival musik, merchandise biasanya menjadi salah satu hal yang kita temui hampir tanpa sengaja. Ia berada di antara panggung, percakapan, dan keramaian orang-orang yang datang untuk menikmati musik.

    Tetapi pernahkah kita bertanya sedikit lebih jauh tentang benda yang akhirnya kita bawa pulang?

    Dari mana warnanya berasal? Siapa yang mengerjakannya? Dan apa yang ingin diceritakan melalui sebuah kaos, pouch, atau tote bag yang mungkin awalnya hanya terlihat sebagai bagian dari perlengkapan festival?

    Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam itu membawa cerita The Papandayan Jazz Festival 2026 ke arah yang berbeda.

    Di Bandung, festival yang mengusung tema Sound of The Soul ini akan berlangsung pada 3–4 Oktober 2026. Kamaku hadir sebagai Official Merchandise dengan membawa pendekatan yang tidak hanya berbicara tentang fashion, tetapi juga tentang alam, proses kreatif, dan manusia yang berada di baliknya.

    Di balik Kamaku ada Ratri Wijaya, sosok yang mengembangkan brand tersebut melalui filosofi effortless luxury, sustainability, dan inklusivitas.

    Semangat Effortless Luxury ke Panggung Jazz Bandung

    Ada titik temu antara jazz dan cara Kamaku memandang fashion: kebebasan.

    Jazz memberi ruang bagi improvisasi, perubahan tempo, dan karakter masing-masing pemain. Tidak semuanya harus berjalan seragam untuk menghasilkan harmoni.

    Pendekatan tersebut terasa dalam koleksi Kamaku. Sebagai lini Luxury Resort Wear, brand ini mengusung effortless luxury—gaya yang elegan, bebas, dan natural tanpa perlu tampil berlebihan.

    Untuk The Papandayan Jazz Fest 2026, energi musik jazz diterjemahkan melalui konsep Rhythm of Nature. Motif dan warna terinspirasi dari alam, sementara karakter yang tidak selalu seragam menjadi bagian dari estetika yang ingin ditampilkan.

    Alih-alih menjadikan jazz sebagai elemen visual secara harfiah, Kamaku menangkap semangatnya: dinamis, ekspresif, dan terbuka terhadap kemungkinan.

    Bagi Ratri Wijaya, fashion juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan. Apa yang dikenakan seseorang tidak hanya berhenti pada penampilan, tetapi dapat memperlihatkan pilihan terhadap material, proses, hingga nilai yang dianggap penting.

    Dari Pewarna Alam hingga Tangan Artisan Lokal

    Salah satu hal yang membuat koleksi Kamaku menarik untuk diperhatikan justru datang dari warnanya.

    Kamaku menggunakan serat alam dan pewarna alam Nusantara yang terinspirasi dari kekayaan hayati Pulau Jawa. Warna biru khas Kamaku berasal dari Indigofera tinctoria atau tarum, merah dari kayu secang, dan kuning dari kayu tegeran.

    Dengan pendekatan tersebut, alam tidak hanya menjadi sumber inspirasi visual, tetapi ikut hadir dalam proses pembuatannya.Kamaku juga menggunakan fiksator alami dalam proses pewarnaan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis sekaligus menjaga ekosistem air.

    Bagi Kamaku, sustainability ditempatkan sebagai bagian dari DNA brand, bukan sekadar tren yang sedang ramai dibicarakan.

    Ada pula dimensi sosial yang berjalan beriringan.

    Dalam proses pembuatan merchandise The Papandayan Jazz Fest 2026, Kamaku melibatkan artisan lokal, termasuk teman-teman penyandang disabilitas dari PIK POTADS JABAR.

    Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana alam diperlakukan, tetapi juga bagaimana manusia diberi ruang untuk berkontribusi.

    Setiap tangan membawa kemampuan yang berbeda. Ketika kesempatan untuk berkarya terbuka lebih luas, sebuah produk pun memiliki nilai yang tidak hanya dapat diukur dari bentuk akhirnya.

    Ketika Merchandise Menjadi Bagian dari Pengalaman Festival

    Koleksi Official Merchandise Kamaku untuk The Papandayan Jazz Fest 2026 hadir dalam beberapa bentuk yang dekat dengan keseharian: tumbler, kaos, pouch, sarung bantal kursi, dan tote bag. Kehadiran koleksi ini menjadi bagian dari kolaborasi Kamaku dengan The Papandayan Jazz Fest 2026, menerjemahkan tema Sound of The Soul ke dalam bahasa yang berbeda melalui material, warna, dan pendekatan Kamaku terhadap alam.

    Pertemuan antara keduanya terasa menarik karena jazz dan Kamaku sama-sama memiliki ruang untuk eksplorasi. Jika musik menemukan ritmenya melalui bunyi dan improvisasi, Kamaku menerjemahkan gagasan serupa lewat warna, tekstur, bahan alami, serta proses yang melibatkan artisan lokal.

    Kolaborasi ini juga membawa perhatian pada hal-hal yang mungkin luput ketika sebuah merchandise hanya dilihat sebagai benda kenang-kenangan. Ada bahan yang berasal dari alam, proses yang mempertimbangkan lingkungan, serta keterlibatan artisan lokal, termasuk teman-teman penyandang disabilitas.

    Pada akhirnya, mungkin memang sederhana: musik hadir untuk didengar, sementara fashion hadir untuk dikenakan. Tetapi dalam kolaborasi ini, keduanya bertemu pada satu ruang yang sama—tentang kebebasan berekspresi, kekayaan alam, dan manusia yang berada di balik setiap prosesnya.

  • Dari Budaya Belanja Bandung ke Kreativitas Lokal, Bandung X Beauty 2026 Menjadi Ruang Pertemuan

    Dari Budaya Belanja Bandung ke Kreativitas Lokal, Bandung X Beauty 2026 Menjadi Ruang Pertemuan

    Curiocity.id — Ada satu kebiasaan yang rasanya sulit dipisahkan dari Bandung: jalan-jalan sambil melihat-lihat sesuatu yang menarik.

    Kadang mulainya dari pakaian. Masuk ke satu toko karena melihat display dari luar, kemudian menemukan brand lokal yang sebelumnya belum pernah dikenal. Dari sana perjalanan bisa berlanjut ke tempat lain, melihat koleksi berbeda, mencicipi makanan, atau sekadar membawa pulang sesuatu yang awalnya tidak ada dalam daftar.

    Belanja di Bandung sering kali bukan hanya soal apa yang ingin dibeli. Ada unsur melihat, menemukan, mencoba, lalu memutuskan.

    Kebiasaan itu pula yang membuat kota ini menarik ketika bicara tentang kecantikan. Sebab di balik banyaknya tempat belanja dan brand lokal yang tumbuh di Bandung, ada kreativitas yang terus mencari bentuk—termasuk melalui produk skincare, makeup, haircare, bodycare, hingga fragrance.

    Di titik inilah Bandung X Beauty 2026 menjadi menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai beauty event, melainkan sebagai ruang untuk melihat bagaimana budaya belanja, kreativitas, dan brand lokal bertemu dalam satu kota.

    Bandung, Tempat Belanja dan Kreativitas Bertemu

    “Bandung sudah lama memiliki hubungan yang dekat dengan kreativitas.”

    Dari fashion dan distro yang pernah menjadi bagian penting dari wajah kota, hingga berbagai brand lokal yang muncul dari studio, toko, rumah produksi, maupun komunitas kecil, ada kebiasaan yang terus berulang: membuat sesuatu sendiri lalu mempertemukannya dengan orang lain.

    Budaya belanja kemudian menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

    Orang datang ke Bandung untuk melihat apa yang sedang dibuat, mencari sesuatu yang berbeda, atau menemukan produk yang mungkin belum mereka kenal sebelumnya. Dalam proses itu, toko dan ruang belanja bukan hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga tempat sebuah karya bertemu dengan orang yang menggunakannya.

    Hal serupa mulai terasa dalam dunia kecantikan.

    Skincare, makeup, fragrance, haircare, dan personal care tidak lagi hanya hadir sebagai produk yang dibeli karena kebutuhan. Di baliknya ada formulasi, kemasan, identitas visual, cara berkomunikasi, sampai keputusan tentang masalah apa yang ingin diselesaikan oleh sebuah produk.

    Bandung X Beauty 2026 datang di tengah cerita tersebut.

    Bukan untuk mengubah cara Bandung berbelanja, tetapi menghadirkan satu ruang tempat kebiasaan itu bisa terlihat dalam bentuk yang berbeda: orang datang, melihat produk secara langsung, mencoba, membandingkan, bertanya, lalu menemukan sesuatu yang mungkin sebelumnya belum masuk dalam daftar.

    Dari Kebiasaan Belanja ke Produk yang Diciptakan

    Ada perbedaan ketika sebuah produk hanya muncul di layar dengan ketika kita berdiri tepat di depannya.

    Tekstur skincare bisa dilihat. Warna makeup bisa dicoba. Fragrance bisa dikenali aromanya. Kita juga bisa bertanya langsung tentang sesuatu yang selama ini hanya dibaca dari kolom deskripsi.

    Di situlah pengalaman berbelanja menjadi lebih dari sekadar checkout.

    Kadang seseorang datang dengan wishlist yang sudah panjang. Namun setelah melihat produk secara langsung, pilihannya bisa berubah. Produk yang sudah lama ingin dibeli ternyata belum tentu cocok, sementara nama yang sebelumnya tidak dikenal justru menarik perhatian.

    Rasa penasaran menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut.

    Dan untuk brand, pertemuan langsung seperti ini juga memperlihatkan sesuatu yang tidak selalu terlihat melalui angka penjualan: bagaimana orang bereaksi ketika melihat produk untuk pertama kalinya, pertanyaan apa yang muncul, dan bagian mana dari sebuah produk yang membuat mereka ingin tahu lebih jauh.

    Bandung X Beauty 2026 membawa pengalaman itu selama tiga hari, 4–6 September 2026, di Trans Convention Centre Bandung, dengan jam acara 10.00–22.00 WIB. Tahun ini, tema “The Wholeness Era” membawa tiga nilai yang menjadi pijakan acara: sustainability, innovation, dan inclusivity.

    Yang lebih menarik adalah apa yang terjadi ketika puluhan ribu orang datang ke satu ruang dengan rasa ingin tahu yang berbeda-beda.

    Brand Lokal Punya Kota untuk Bertumbuh

    Salah satu bagian yang terasa penting dalam Bandung X Beauty 2026 adalah #FDLocalNewcomers.

    Namanya sederhana, tetapi gagasannya cukup dekat dengan karakter Bandung: memberikan kesempatan bagi brand lokal untuk diperkenalkan dan menemukan orang-orang yang mungkin sebelumnya belum pernah mendengar namanya.

    Bagi pengunjung, kehadiran brand baru membuat pengalaman berbelanja tidak berhenti pada nama-nama yang sudah familiar.

    Ada kemungkinan menemukan produk yang lahir dari kota sendiri, mengetahui bagaimana sebuah brand membangun identitasnya, lalu melihat bahwa sesuatu yang dimulai dari Bandung bisa memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang.

    Di sinilah kreativitas lokal menjadi menarik untuk diperhatikan.

    Sebuah produk kecantikan mungkin terlihat sederhana ketika sudah berada di rak. Tetapi sebelum sampai ke sana, ada proses memilih bahan, menyusun formulasi, menentukan kemasan, memikirkan cara penggunaan, hingga mencari bahasa yang tepat untuk berbicara kepada konsumennya.

    Perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita sebuah brand.

    Dalam wawancara mengenai Bandung X Beauty 2026, Putri Tanjung, CEO Trans Digital Lifestyle Group & Female Daily Network, mengatakan bahwa Female Daily ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berbicara tentang kecantikan, tetapi juga kesehatan jiwa dan raga serta komunitas kecantikan.

    “Kami ingin memberikan pengalaman yang berbeda, yang tidak hanya soal kecantikan, tetapi juga pentingnya kesehatan jiwa dan raga, serta membangun komunitas kecantikan.”

    Sementara itu, Berliana Naftali Esmalia, Head of Creative Marketing Female Daily Network, melihat pengalaman beauty sebagai sesuatu yang bisa menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti pada aktivitas berbelanja.

    Karena itu, Bandung X Beauty 2026 juga menghadirkan The Curated Club, yang mempertemukan dunia beauty dengan tenant di luar kategori tersebut, termasuk food dan lifestyle. Ada pula School of Beauty, Male Daily Cave, #FDSustainabeauty Booth, #YourBeautyMission, FD Beauty Review Activity, hingga Future of Beauty Installations.

    Dengan begitu, pengunjung tidak hanya berpindah dari satu booth ke booth lain, tetapi juga melihat bagaimana beauty terus bersinggungan dengan cara hidup yang lebih luas.

    Kecantikan, Kreativitas, dan Cerita yang Tumbuh di Bandung

    Mungkin itu yang membuat Bandung tetap menarik sebagai kota belanja.

    Orang datang bukan hanya karena ada sesuatu yang ingin dibeli, tetapi karena selalu ada kemungkinan menemukan sesuatu yang belum direncanakan.

    Dalam konteks kecantikan, kemungkinan tersebut terasa semakin luas. Ada produk yang ingin dicoba, brand yang ingin dikenal, cerita kreator yang ingin dipahami, hingga gagasan baru tentang bagaimana seseorang merawat dan mengenali dirinya sendiri.

    Bandung X Beauty 2026 hadir dalam ruang yang sudah memiliki kebiasaan tersebut.

    Selama tiga hari, Trans Convention Centre Bandung menjadi tempat bertemunya brand, produk, kreator, komunitas, dan pengunjung. Musik dari Hydro Koplo dan Sori Jilleo, aktivitas FD Babes & FD Dudes in The Morning, hingga berbagai program lainnya membuat pengalaman tidak berdiri sendiri.

    Pada akhirnya, bukan tentang seberapa banyak produk yang dibawa pulang.

    Bisa jadi yang lebih menarik adalah menemukan satu brand lokal yang sebelumnya tidak dikenal. Mencoba sebuah produk dan menyadari bahwa ternyata cocok. Atau melihat bagaimana sebuah ide yang tumbuh di Bandung perlahan menemukan jalannya ke lebih banyak orang.

    “Sebab kota yang punya budaya belanja tidak hanya menyediakan tempat untuk membeli. Ia juga memberi ruang bagi orang untuk menemukan, bagi kreator untuk mencoba, dan bagi brand lokal untuk tumbuh.”

  • Kebun ke Kriya Vol. 3: Menghargai Cerita di Balik Kriya Lokal Bandung

    Kebun ke Kriya Vol. 3: Menghargai Cerita di Balik Kriya Lokal Bandung

    Curioucity.id – Kita biasanya membawa pulang tanaman dari kebun. Kali ini, yang dibawa ke kota justru ceritanya.

    Di tengah rutinitas yang kian lekat dengan layar, ada sensasi berbeda ketika kita bisa melihat sebuah karya secara langsung, menyentuh tekstur materialnya, lalu bertegur sapa langsung dengan sang pembuat. Kehangatan inilah yang ditawarkan dalam Kebun ke Kriya Vol. 3, sebuah kolaborasi manis antara Ruang Putih Bandung dan Kabin Kebun yang mempertemukan elemen kebun, kriya, kuliner, serta orang-orang yang masih menaruh cinta pada proses kekaryaan lewat tangan.

    Dari Cisarua, Ceritanya Berawal

    Cerita ini bermula dari Kabin Kebun, sebuah rumah sekaligus kebun keluarga di Kampung Panyandaan, Cisarua, Bandung Barat. Sejak 2016, mereka konsisten memperkenalkan gaya hidup slow living. Dari kebun inilah, apa yang disediakan alam dimanfaatkan kembali, termasuk mengolah material sisa menjadi karya upcycle yang bernilai.

    Dalam Kebun ke Kriya, alam tidak berhenti sebagai sekadar pemandangan pasif yang dinikmati dari jauh. Ia menjelma menjadi sumber ide untuk menciptakan produk, hidangan, hingga cara-cara baru dalam berinteraksi. Konsep ini membawa sesuatu yang segar ke tengah Kota Bandung, bukan sekadar memamerkan produk jadi, melainkan membawa cerita utuh tentang proses dan relasi manusia dengan alamnya.

    Jalan Bungur Bandung Sebagai Ruang Temu

    Cerita dari kebun kemudian bertemu dengan karakter kreatif Jalan Bungur melalui Ruang Putih Bandung.

    Ruang yang berdiri sejak 2010 ini awalnya dikenal sebagai venue musik Blues, Jazz, dan Folks. Seiring waktu, terutama sejak 2024, Ruang Putih berkembang menjadi ekosistem usaha kreatif yang mempertemukan F&B, bunga, pakaian natural, kios kado, hingga kelas seni dan musik.

    Kebun ke Kriya terasa seperti bagian yang natural dari ekosistem tersebut. Karya dari kebun bertemu dengan ruang kreatif kota, lalu menciptakan alasan baru bagi orang Bandung untuk datang, melihat, dan saling mengenal.

    Saat Kriya Bukan Hanya untuk Dilihat

    Pada edisi ketiganya kali ini, Kebun ke Kriya menggandeng delapan artisan kriya dan kuliner lokal, yakni: Mirdik & Leuwi Goeng, Crea Botanica, Pamolahan Sangkuriang, Renjana, Kinkinesia, Mewujud by Kabin Kebun, Nabsye Natural, serta Mulberry.

    Yang membuatnya istimewa, pengalaman di sini tidak berhenti pada sekadar melihat atau bertransaksi. Pengunjung diajak menyelami bagaimana material alam, ketelatenan tangan, dan ide kreatif dilebur menjadi karya yang bisa dibawa pulang. Tak hanya itu, hadir pula sesi Interactive Workshop: Understanding Climate Change bersama Ivan Berkebun yang mengajak pengunjung untuk lebih peka terhadap isu perubahan iklim, sekaligus mendiskusikan langkah-langkah solutif sehari-hari.

    Karya lokal terasa berbeda ketika kita mengenal tangan dan proses di baliknya.

    Menikmati Kriya Lokal, Menghargai Proses di Baliknya

    Mungkin itu yang membuat Kebun ke Kriya terasa dekat dengan karakter Bandung. Kota ini punya banyak ruang tempat karya lokal tumbuh melalui pertemuan, komunitas, dan eksperimen kecil yang berlangsung dari waktu ke waktu. Ruang Putih menjadi salah satu tempat yang menjaga kemungkinan itu tetap terbuka, dengan berbagai kegiatan kreatif dan kolaborasi yang terus berjalan.

    Pada Sabtu, 5 September 2026, cerita dari kebun dan para artisan tersebut hadir dalam Kebun ke Kriya Vol. 3 di Ruang Putih Bandung. Bukan sekadar sebuah tanggal dalam agenda kota, tetapi menjadi satu momen ketika karya, alam, dan orang-orang yang mengerjakannya bisa bertemu secara langsung.

    Kebun ke Kriya kemudian membawa satu hal sederhana untuk diingat: ketika kita membeli atau menikmati sebuah karya, ada baiknya sesekali melihat lebih jauh dari benda yang ada di depan mata.

    Sebab di balik sebuah kriya lokal, bisa saja ada cerita tentang kebun Cisarua, material yang diselamatkan, tangan yang mengolahnya, dan Bandung yang memberi ruang agar cerita itu sampai kepada kita.