Category: places

  • 19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    Curioucity.id— Sebuah perjalanan panjang tidak hanya dihitung dari berapa lama waktu berlalu, tetapi juga dari orang-orang yang ikut menjadi bagian di dalamnya. Bagi Amaris Hotel, 19 tahun menjadi penanda perjalanan sebuah brand perhotelan yang tumbuh bersama kebutuhan para traveller akan akomodasi yang praktis, nyaman, dan relevan dengan gaya hidup mereka.

    Perayaan ulang tahun ke-19 Amaris Hotel menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan tersebut. Mengusung semangat Smart Traveller, Smart Hotel, Amaris Hotel tidak hanya berbicara tentang tempat untuk beristirahat, tetapi juga bagaimana pengalaman bepergian bisa terasa lebih mudah bagi generasi yang semakin dinamis.

    Dari Kebutuhan Menginap hingga Gaya Hidup Traveller

    Bepergian kini menjadi bagian dari banyak cerita, mulai dari perjalanan pekerjaan, liburan singkat, hingga kesempatan untuk mengenal kota yang berbeda. Di tengah kebutuhan tersebut, akomodasi yang praktis menjadi salah satu bagian penting dalam merencanakan perjalanan.

    Amaris Hotel hadir dengan konsep Bed & Breakfast yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan bagi para tamunya. Sebagai bagian dari jaringan Santika Indonesia Hotels & Resorts, brand ini terus berkembang mengikuti kebutuhan traveller yang menginginkan pengalaman menginap tanpa banyak kerumitan.

    Hingga 2026, Amaris Hotel telah memiliki 60 unit yang tersebar di lebih dari 40 kota di Indonesia. Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan akan akomodasi yang mudah dijangkau menjadi bagian dari perjalanan banyak orang, baik untuk urusan pekerjaan maupun waktu bersama keluarga.

    Blok M Menjadi Ruang Perayaan yang Lebih Dekat dengan Generasi Muda

    Memasuki usia ke-19, Amaris Hotel memilih menghadirkan perayaan yang lebih interaktif melalui acara bertajuk The Fun Celebration. Kegiatan ini berlangsung pada 26–27 September 2026 di Santika Training Centre, Blok M, Jakarta Selatan.

    Alih-alih hanya menjadi seremoni ulang tahun, acara tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan antara brand dan masyarakat. Pengunjung dapat mencoba berbagai permainan seperti Catch the Stick dan Tornado Cube, menghias eco-tumbler menggunakan stiker, hingga mengabadikan momen di area photo booth.

    Rangkaian aktivitas tersebut membawa suasana perayaan yang lebih santai dan partisipatif. Ada permainan yang menguji ketangkasan, kegiatan kreatif yang bisa dilakukan langsung, serta kesempatan membawa pulang hadiah berupa puluhan voucher menginap di Amaris Hotel di berbagai kota di Indonesia.

    Pemilihan Blok M juga memiliki makna tersendiri. Kawasan ini menjadi salah satu titik pertemuan masyarakat urban dengan beragam aktivitas dan gaya hidup, sekaligus lokasi yang dekat dengan sejarah awal kehadiran Amaris Hotel di Jakarta melalui Amaris Hotel Panglima Polim 1.

    Hadiah dan Penawaran Menjadi Bagian dari Pengalaman

    Di tengah aktivitas perayaan, Amaris Hotel turut menghadirkan penawaran bagi pengunjung yang ingin merencanakan perjalanan berikutnya. Tersedia voucher potongan harga Rp190.000 tanpa minimum transaksi yang dapat digabungkan dengan promo Amaris Payday Sale yang berlangsung pada periode tersebut.

    Kesempatan ini melengkapi pengalaman acara, dari aktivitas yang bisa dinikmati di lokasi hingga pilihan untuk merencanakan perjalanan dengan penawaran yang lebih menarik. Pengunjung dapat mengikuti acara secara gratis dengan mendaftarkan diri sebagai anggota MYVALUE.

    Melalui pendekatan ini, perayaan ulang tahun tidak berhenti pada momen seremonial. Ada kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat layanan Amaris Hotel sekaligus menemukan pilihan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka.

    Menjaga Relevansi di Tengah Perjalanan yang Terus Berubah

    Bagi Amaris Hotel, bertambahnya usia juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan para tamu dan masyarakat. Prita Gero, Corp. Marcomm Manager Santika Indonesia Hotels & Resorts, menyampaikan bahwa perayaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan yang telah menyertai perjalanan brand tersebut.

    “Perjalanan 19 tahun menjadi pencapaian yang berarti bagi Amaris Hotel. Momen ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan para tamu serta seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,” ujar Prita Gero.

    Ia juga menjelaskan bahwa The Fun Celebration dirancang untuk mendekatkan Amaris Hotel dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Harapannya, Amaris Hotel tidak hanya dikenal sebagai penyedia akomodasi yang praktis dan nyaman, tetapi juga menjadi brand yang relevan dengan keseharian serta gaya hidup traveller masa kini.

    “Semua orang diundang ke acara ini dan acara ini gratis. Untuk ikutan keseruannya, tamu cukup mendaftar menjadi member MYVALUE,” tambahnya

    Sembilan belas tahun menjadi bagian dari perjalanan Amaris Hotel sekaligus pengingat bahwa kebutuhan traveller akan terus berkembang. Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang tujuan yang ingin dicapai, kota yang ingin dikenal, atau waktu yang ingin dihabiskan bersama orang-orang terdekat.

    Dan mungkin, relevansi sebuah hotel tidak hanya ditentukan oleh tempat seseorang beristirahat, tetapi juga oleh kemampuannya untuk terus memahami bagaimana orang-orang ingin menjalani perjalanan mereka.

  • Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    Dari Lukisan hingga Shibori, Ada Cerita yang Ingin Dilihat di ARTOTEL Suites Aquila

    CuriouCity.id — Sebuah karya seni tidak selalu meminta untuk langsung dimengerti. Kadang, ia hanya mengajak kita berhenti, melihat lebih dekat, lalu menyadari bahwa ada proses panjang di balik sesuatu yang tampak sederhana.

    Hal itu terasa ketika ARTOTEL Suites Aquila Bandung berkolaborasi dengan Pusat Informasi dan Kegiatan – Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK-POTADS) Jawa Barat dalam rangka Bulan Peduli Down Syndrome.

    Sepanjang Oktober 2026, area lobi ARTOTEL Suites Aquila menjadi ruang bagi 10 karya lukisan dan shibori hasil kreativitas anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat. Bukan sekadar memajang hasil karya, kolaborasi ini juga menghadirkan kesempatan untuk mengenal proses, kreativitas, dan cara mereka berekspresi.

    ARTOTEL Suites Aquila Nenjadi Ruang Untuk Berkarya

    Lobi hotel biasanya menjadi tempat orang datang, menunggu, kemudian melanjutkan perjalanan. Kali ini, langkah pengunjung justru bisa terhenti di depan karya-karya yang dibuat oleh anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat.

    Lukisan dan shibori menjadi medium yang memperlihatkan bahwa setiap orang dapat memiliki cara masing-masing untuk menyampaikan sesuatu.

    Pembukaan pameran pun tidak dibuat hanya sebagai seremoni. Para awak media diajak merasakan langsung proses pembuatan shibori, sehingga karya yang kemudian dipandang di area pameran memiliki cerita yang lebih panjang.

    Sebab sebelum menjadi sebuah pola, kain perlu dilipat, diikat, dijepit, dipelintir, atau dijahit terlebih dahulu.

    Prosesnya sederhana, tetapi hasil akhirnya tidak pernah benar-benar bisa ditebak.

    Dari Kain Yang Dilipat, Lahir Pola Yang Tak Pernah Sama

    Shibori merupakan teknik pewarnaan kain tradisional Jepang. Kain diproses dengan berbagai cara sebelum dicelupkan ke pewarna, kemudian menghasilkan pola yang unik dan tidak beraturan.

    Pengalaman tersebut menjadi bagian menarik dari rangkaian kegiatan karena peserta tidak hanya melihat karya, tetapi ikut memahami bagaimana sebuah karya terbentuk.

    Hal serupa juga dapat dirasakan melalui lukisan yang dipamerkan.

    Yang terlihat pada akhirnya memang sebuah karya. Namun di baliknya ada proses mencoba, memilih, membuat, dan menemukan cara untuk berekspresi.

    Di titik ini, seni menjadi lebih dari sekadar hasil akhir.

    Ia menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai cara sendiri untuk berkarya.

    Ketika Seni Memberi Ruang Untuk Tampil

    Cerita hari itu kemudian bergerak dari karya yang berada di dinding menuju pertunjukan yang berlangsung di hadapan tamu dan awak media.

    Anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat turut menampilkan pertunjukan seni. Musik dan perkusi mengisi ruang, sementara para peserta tampil bersama dengan energi yang terasa jauh dari suasana pameran yang formal.

    Momen seperti ini memperlihatkan sisi lain dari sebuah karya.Bukan hanya tentang apa yang dibuat, tetapi juga tentang keberanian untuk menunjukkannya kepada orang lain.

    Ruang untuk tampil menjadi bagian penting dari proses tersebut. Karena apresiasi tidak selalu harus hadir dalam bentuk penilaian. Terkadang, apresiasi cukup dimulai dengan memberikan kesempatan seseorang untuk menunjukkan apa yang bisa ia lakukan.

    Kolaborasi ini kemudian mempertemukan seni, komunitas, keluarga, media, dan masyarakat dalam satu ruang yang sama.

    Setiap Karya Membawa Cerita yang Berbeda

    Bagi ARTOTEL Suites Aquila, kolaborasi ini membawa pesan yang lebih luas daripada sebuah pameran.

    Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila, mengatakan bahwa setiap karya memiliki cerita. Karena itu, yang ingin diberikan bukan hanya tempat untuk memajang hasil karya, tetapi ruang agar keberanian, proses, dan kreativitas anak-anak Down Syndrome dapat dilihat serta diapresiasi lebih luas.

    “Bagi kami, setiap karya memiliki cerita.”— Anton Susanto, General Manager ARTOTEL Suites Aquila

    Kalimat tersebut terasa relevan ketika melihat kembali rangkaian kegiatan hari itu.Sebuah lukisan bukan hanya warna di atas kanvas.

    Shibori bukan hanya pola yang terbentuk setelah kain dicelup.Dan pertunjukan bukan hanya tentang musik yang dimainkan.

    Di balik semuanya, ada proses dan kesempatan untuk berekspresi.Pada akhirnya, mungkin itulah yang ingin diberikan oleh sebuah ruang inklusif: bukan membuat semua orang menjadi sama, tetapi memberikan kesempatan yang sama untuk dilihat, didengar, dan diapresiasi.

    Pameran lukisan dan karya shibori anak-anak PIK-POTADS Jawa Barat berlangsung sepanjang Oktober 2026 di ARTOTEL Suites Aquila Bandung.

    “Karena setiap karya punya cerita. Tinggal seberapa lama kita bersedia berhenti untuk melihatnya.”

  • 36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    36 Tahun Sheraton Bandung Merayakan Momen Kebersamaan di Dago

    Curioucity.id — Dago selalu punya cara membuat perjalanan terasa sedikit berbeda. Udara yang lebih sejuk, pepohonan di sepanjang jalan, dan suasana kawasan yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian Bandung.

    Di salah satu sudutnya, Sheraton Bandung Hotel & Towers telah menjalani perjalanan selama 36 tahun. Selama itu pula, berbagai orang datang dengan ceritanya masing-masing—keluarga yang menghabiskan waktu bersama, komunitas yang berkumpul, hingga tamu yang menjadikan Bandung sebagai bagian dari perjalanan mereka.

    Pada 2 Oktober 2026, Sheraton Bandung merayakan ulang tahunnya yang ke-36 dengan tema “36 Years: Bringing People Together.” Perayaannya tidak hanya berlangsung sehari, tetapi hadir melalui rangkaian kegiatan hingga akhir Oktober.

    “Orang datang membawa cerita. Bertemu, berbagi, lalu pulang dengan cerita yang baru.”

    Dari Lobby, Pertemuan Itu Dimulai

    Cerita perayaan 36 tahun Sheraton Bandung dimulai dari sebuah ruang yang setiap hari dilewati banyak orang: lobby.

    Melalui Sheraton Market, area ini berubah menjadi ruang pertemuan dengan hadirnya berbagai produk dan karya dari pelaku usaha lokal. Berlangsung pada 21 September hingga 18 Oktober 2026, Sheraton Market menjadi kesempatan bagi tamu hotel dan masyarakat untuk mengenal sekaligus berinteraksi dengan komunitas dan UMKM.

    Rasanya cukup sederhana. Orang datang untuk melihat-lihat, menemukan sesuatu yang menarik, lalu mungkin berhenti sebentar untuk berbincang.

    Semangat yang sama juga hadir melalui Gatherings by Sheraton yang berlangsung setiap minggu. Berbagai aktivitas komunitas, wellness, dan social gatherings dirancang untuk membuka kesempatan bertemu, berbagi pengalaman, dan membangun koneksi baru.

    Sebuah hotel akhirnya tidak hanya menjadi tempat orang menginap, tetapi juga ruang tempat orang bisa saling menemukan.

    Ada Percakapan di Balik Sebuah Meja

    Cerita tentang kebersamaan juga bisa ditemukan dari hal yang paling sederhana: makan bersama.

    Sepanjang Oktober, Feast Restaurant menghadirkan 36 menu pilihan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun. Sementara Toastina Pastry & Coffee House menghadirkan pilihan menu dengan penawaran khusus pada 1–5 Oktober 2026.

    Tapi mungkin bukan menunya yang paling menarik untuk diceritakan.
    Melainkan apa yang terjadi setelah makanan tersaji.

    Seseorang mulai bercerita. Yang lain ikut menanggapi. Percakapan yang awalnya sebentar ternyata berlangsung lebih lama.

    Sebab makanan memang sering punya cara sederhana untuk mempertemukan orang. Tidak banyak yang perlu direncanakan ketika beberapa orang sudah duduk di meja yang sama.

    Ketika Waktu Bersama Menjadi Cerita Keluarga

    Perjalanan bersama keluarga juga punya bentuknya sendiri.

    Tidak selalu tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang justru tentang bagaimana satu hari bisa digunakan untuk benar-benar bersama.

    Hal itu menjadi bagian dari Side by Side, program yang dihadirkan Sheraton Bandung untuk keluarga yang menginap. Orang tua dan anak diajak meluangkan waktu untuk bermain, belajar, dan menciptakan momen bersama.

    Ada anak yang sibuk dengan aktivitasnya. Ada orang tua yang menemani. Ada momen-momen kecil yang mungkin tidak terlihat istimewa saat terjadi, tetapi justru menjadi cerita ketika perjalanan itu sudah selesai.

    Termasuk menikmati gelato atau kukis yang menjadi bagian dari paket Family Staycation.

    Bukan soal apa yang didapat, tetapi tentang siapa yang menikmatinya bersama.

    Perayaan 36 Tahun, Berbagi untuk Sesama

    Jika melihat kembali perjalanan selama 36 tahun, mungkin yang paling menarik bukan hanya bagaimana sebuah hotel bertahan selama itu.

    Melainkan berapa banyak pertemuan yang pernah terjadi di dalamnya.

    Keluarga yang datang bersama. Komunitas yang menemukan ruang untuk berkumpul. Orang-orang yang bertemu untuk pertama kalinya. Hingga mereka yang datang untuk memberikan sesuatu bagi orang lain.

    Semangat itu juga hadir melalui kegiatan donor darah Serve 360, yang terbuka untuk umum dan dilakukan bersama Lions Club Bandung serta PMI.

    Pada akhirnya, usia mungkin hanya sebuah angka.

    Yang membuatnya punya arti adalah cerita yang terkumpul di sepanjang perjalanan.

    Dan mungkin, selama 36 tahun berada di Dago, Sheraton Bandung bukan hanya menyimpan cerita tentang tempatnya sendiri.

    Tetapi juga cerita dari orang-orang yang pernah datang, bertemu, menghabiskan waktu, lalu membawa pulang bagian kecil dari pengalaman itu.

    “Ke-36 tahun adalah sebuah perjalanan yang dibangun bersama tamu, associate, komunitas, partner, dan masyarakat. Melalui tema Bringing People Together, kami ingin menjadikan perayaan tahun ini bukan hanya sebagai perayaan usia, tetapi juga sebagai perayaan atas setiap hubungan, cerita, dan momen yang telah tercipta bersama.”— Herinova, General Manager Sheraton Bandung Hotel & Towers

  • Pangandarun 5K & 10K Mengajak Berlari Sambil Mengenal Pesisir Selatan Jawa Barat

    Pangandarun 5K & 10K Mengajak Berlari Sambil Mengenal Pesisir Selatan Jawa Barat

    Curioucity.id – Pangandaran akan punya cara lain untuk memperkenalkan pesisir selatan Jawa Barat pada Oktober mendatang. Kali ini, bukan hanya lewat pantai dan kawasan wisatanya, tetapi melalui lintasan lari yang mempertemukan atlet, komunitas, pelari pemula, hingga masyarakat umum.

    Pangandarun 5K & 10K akan berlangsung pada Minggu, 11 Oktober 2026 di Bandar Udara Nusawiru, Kondangjajar, Cijulang, Pangandaran, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Open Tournament Piala Panglima TNI Pangandaran 2026 untuk memperingati HUT TNI ke-81.

    Penyelenggara membawa konsep sport tourism dalam ajang ini. Peserta tidak hanya datang untuk menyelesaikan jarak 5K atau 10K, tetapi juga diajak menikmati Pangandaran sebagai bagian dari perjalanan.
    Olahraga menjadi alasan untuk datang, sementara Pangandaran menjadi bagian dari pengalaman.

    Pangandaran Menjadi Bagian dari Lintasan

    Sebuah lomba lari biasanya selesai ketika peserta melewati garis finish. Namun, Pangandarun ingin membawa pengalaman itu sedikit lebih jauh.

    Mengusung semangat “Berlari untuk Prestasi, Menikmati Pangandaran, Menggerakkan Ekonomi Lokal,” kegiatan ini memadukan olahraga, gaya hidup, pariwisata, dan komunitas.

    Pangandarun terbuka bagi masyarakat umum, pelari pemula, komunitas lari, hingga atlet nasional. Latar kawasan pesisir selatan Pangandaran menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada para peserta.

    Bagi pelari yang datang dari luar daerah, perlombaan juga bisa menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang. Setelah menyelesaikan lintasan, masih ada Pangandaran yang bisa dinikmati bersama keluarga, teman, maupun komunitas.
    Dengan begitu, kedatangan peserta tidak berhenti pada urusan lomba. Mereka juga punya kesempatan mengenal daerah yang menjadi tuan rumah dengan cara yang berbeda.

    Persiapan, Kemampuan, dan Rasa Senang Saat Berlari

    Menempuh 5K atau 10K tetap membutuhkan persiapan. Stamina dan kondisi fisik menjadi hal yang perlu diperhatikan agar peserta dapat mengikuti lomba dengan baik.

    Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis mengingatkan peserta untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti Pangandarun.

    “Persiapan lari itu penting, perkuat stamina dan pantang menyerah. Siapkan fisik agar bisa melakukan yang terbaik untuk acara Pangandarun 5K & 10K dan menikmati keindahan alam Pesisir Pangandaran, Jawa Barat.”
    —
    Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis

    Persiapan tersebut kemudian bertemu dengan satu hal yang tidak kalah penting: menikmati proses berlari sesuai kemampuan masing-masing.

    Atjong Tio Purwanto melihat pengalaman mengikuti Pangandarun bukan semata-mata soal seberapa cepat seseorang menyelesaikan lintasan. Rasa senang, sehat, dan kemampuan untuk menyelesaikan lari dengan baik juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    “Ketika kita larinya happy, sesuai dengan kemampuan dan tujuannya, senang dan sehat. Bisa finish lari dengan strong dan bahagia, lalu lanjut rekreasi menikmati keindahan alam Pangandaran.”
    —
    Atjong Tio Purwanto

    Dua pesan tersebut bertemu pada satu hal yang sederhana: peserta perlu mempersiapkan diri, tetapi juga menikmati perjalanan yang sedang dijalani.

    Karena tidak semua orang datang dengan target yang sama. Ada yang mengejar prestasi, ada yang ingin menantang diri sendiri, dan ada pula yang ingin merasakan pengalaman berlari di Pangandaran.

    Ketika Pelari dan Komunitas Bertemu di Pangandaran

    Pangandarun juga menjadi ruang pertemuan bagi komunitas lari dari berbagai daerah.

    Komunitas dari Pangandaran, Jawa Barat, Jabodetabek, dan kota-kota lainnya akan menjadi bagian dari kegiatan ini. Kehadiran mereka diharapkan menjadi kesempatan untuk berkumpul, berkompetisi secara sehat, memperluas jejaring, dan membangun ekosistem olahraga yang lebih aktif.

    Selain komunitas, sejumlah tokoh juga dijadwalkan hadir dalam Pangandarun 5K & 10K. Rilis penyelenggara mencantumkan Mayjen TNI Kosasih, Praka Marinir Sedilta Pilon Nubatonis, Atjong Tio Purwanto, serta Dian R. Sukmara atau Abah Dian selaku Race Director.

    Pertemuan antara pelari, komunitas, dan para tokoh tersebut membuat Pangandarun tidak hanya berbicara tentang kompetisi. Ada ruang untuk saling bertemu dan berbagi semangat sebelum, selama, maupun setelah perlombaan.
    Pada akhirnya, setiap peserta tetap membawa tujuan masing-masing ke garis start. Namun, mereka akan bertemu dalam lintasan yang sama dan menikmati pengalaman yang sama sebagai bagian dari Pangandarun.

    Setelah Finish, Lanjut Menikmati Indahnya Alam Pangandaran

    Konsep sport tourism yang dibawa Pangandarun juga memiliki kaitan dengan kehidupan di sekitar kawasan.

    Kedatangan peserta dari luar daerah bersama keluarga maupun komunitas berpotensi ikut menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi lokal, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, UMKM, perdagangan, hingga jasa pariwisata.
    Karena itu, garis finish bukan benar-benar akhir dari perjalanan.

    Setelah berlari, peserta masih bisa melanjutkan waktunya di Pangandaran. Menikmati alam, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar beristirahat setelah menyelesaikan lintasan menjadi bagian lain dari pengalaman yang ingin dibangun melalui Pangandarun.
    Pesan yang dibawa penyelenggara pun cukup sederhana:

    “Datang ke Pangandaran untuk berlari. Tinggal lebih lama untuk menikmati Pangandaran.”

    Pada 11 Oktober nanti, garis start di Bandar Udara Nusawiru akan mempertemukan peserta dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang mengejar catatan waktu, ada yang ingin menyelesaikan jarak 5K atau 10K, dan ada pula yang datang bersama komunitas.

    Namun, semuanya akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal Pangandaran dari lintasan.

    Sebuah perjalanan yang dimulai dengan lari, kemudian dilanjutkan dengan menikmati tempat yang menjadi tuan rumahnya.

  • Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Basra Gym Bandung Menjadi Tempat Olahraga Keluarga dengan Konsep “Lebih Kuat Lebih Taat”

    Curioucity.id – Akhir pekan bersama keluarga di Bandung punya banyak cara untuk dihabiskan. Bisa mencari tempat makan, jalan-jalan, atau mencari ruang agar anak-anak bisa bermain. Kali ini, olahraga juga bisa menjadi bagian dari waktu bersama.

    Gagasan tersebut coba ditawarkan Basra Gym di Jalan Soekarno-Hatta No. 813, Cinambo, Bandung. Resmi menggelar Grand Opening pada 26 September 2026, Basra Gym hadir dengan konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” dan membawa pendekatan yang sedikit berbeda dari tempat gym pada umumnya.

    Di tempat ini, olahraga menjadi pintu masuk. Setelahnya, ada ruang untuk anak, keluarga, komunitas, sampai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

    Dari Niat Berolahraga, Basra Gym Mengajak Keluarga Melakukannya Bersama

    Pergi ke gym biasanya identik dengan satu tujuan: berolahraga. Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan bersama keluarga, kebutuhan setiap orang tentu bisa berbeda.

    Basra Gym mencoba membaca hal tersebut melalui beberapa fasilitas yang berada dalam satu tempat. Area gym dipisahkan untuk ikhwan dan akhwat, sementara anak-anak memiliki Basra Kids dengan kelas fitness khusus serta Children Playground.

    Ada pula area calisthenics outdoor bagi mereka yang ingin berlatih di luar ruangan. Sementara bagi keluarga yang ingin sekadar makan atau berkumpul, Basra Cafe & Resto terbuka untuk umum, termasuk bagi pengunjung yang tidak sedang berolahraga atau tidak memiliki membership.

    Dengan begitu, satu kunjungan tidak harus memiliki aktivitas yang sama untuk semua anggota keluarga. Orang tua bisa berolahraga, anak-anak punya ruang untuk bergerak dan bermain, sementara anggota keluarga lainnya dapat menikmati waktu bersama.

    Ketika Anak Bisa Bermain dan Orang Tua Tetap Punya Ruang untuk Berolahraga

    Membangun kebiasaan hidup sehat dalam keluarga sering kali bukan soal membuat semua orang melakukan hal yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana aktivitas tersebut bisa masuk ke dalam rutinitas tanpa terasa sebagai kewajiban yang berat.

    Basra Gym menempatkan keluarga sebagai bagian dari pengalaman itu. Kehadiran Basra Kids dan area bermain membuat anak-anak memiliki aktivitasnya sendiri, sementara orang tua tetap bisa menggunakan fasilitas olahraga.

    Di sisi lain, keberadaan Basra Hall membuka ruang untuk kegiatan yang lebih luas seperti seminar, kajian, dan aktivitas komunitas.

    Dari sini, konsep gym mulai terasa lebih luas. Bukan hanya tempat datang, berlatih, lalu pulang, tetapi ruang yang mencoba mempertemukan beberapa aktivitas dalam keseharian keluarga.

    Grand Opening Basra Gym Mempertemukan Olahraga dan Komunitas Bandung

    Semangat tersebut kemudian dibawa dalam rangkaian Grand Opening Basra Gym pada 26 September 2026.Alih-alih hanya mengandalkan seremoni pembukaan, kegiatan yang disiapkan juga mengajak pengunjung untuk ikut bergerak dan berkegiatan. Ada Fun Run dan Archery Competition, kemudian Seminar & Kajian, serta Community Bazaar.

    Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana Basra Gym ingin memperkenalkan tempatnya melalui aktivitas. Olahraga bertemu komunitas, sementara kegiatan keluarga dan ruang berkumpul menjadi bagian dari suasana pembukaan.

    Sejumlah hadiah dan doorprize juga disiapkan dalam rangkaian Grand Opening, termasuk promo membership khusus pada hari pembukaan.

    Namun, di balik rangkaian tersebut, ada gagasan yang ingin dibawa lebih jauh: menjadikan olahraga sebagai bagian dari perjalanan keluarga untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

    “Lebih Kuat, Lebih Taat” Konsep Yang Dibawa Basra Gym

    Nama Basra Gym tidak hanya membawa gagasan tentang tubuh yang lebih aktif. Konsep “Lebih Kuat, Lebih Taat” menjadi cara mereka menghubungkan kekuatan fisik dengan nilai spiritual.

    Hal tersebut disampaikan Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    “Kami ingin Basra Gym menjadi lebih dari sekadar tempat berolahraga. Ini adalah ruang bagi keluarga Muslim di Bandung untuk membangun kekuatan fisik sekaligus ketaatan spiritual, sejalan dengan semangat ‘Lebih Kuat, Lebih Taat’ yang kami usung,” ujar Ghozalfan Farabi Basarah, penanggung jawab utama Basra Gym.

    Pada akhirnya, konsep tersebut kembali pada hal yang cukup dekat dengan keseharian: bagaimana olahraga bisa menjadi kebiasaan, bagaimana keluarga bisa saling mengajak untuk lebih aktif, dan bagaimana sebuah tempat dapat menjadi ruang bertemu bagi komunitas.

    Basra Gym membawa gagasan itu ke Bandung dengan menjadikan aktivitas fisik, keluarga, dan komunitas berada dalam satu pengalaman.

    “Karena menjadi lebih kuat bukan hanya tentang tubuh yang terus bergerak, tetapi juga tentang kebiasaan baik yang tumbuh bersama orang-orang yang kita sayangi.”

  • EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    EIGER Women Buka Flagship Store Pertama di Bandung sebagai Rumah Komunitas

    Curioucity.id — Pagi di Jalan Sumatra biasanya punya ritmenya sendiri. Jalan mulai ramai, beberapa orang datang untuk berolahraga, sementara kawasan di sekitarnya perlahan dipenuhi aktivitas.

    Pada 12 September 2026, ada pemandangan lain di salah satu sudut jalan tersebut.

    Perempuan datang dengan pakaian olahraga. Beberapa mengikuti yoga, sebagian lainnya bersiap untuk fun run dan bersepeda. Di antara keramaian itu, ada ibu yang datang bersama anak-anak, komunitas yang saling menyapa, hingga pengunjung yang kemudian melihat-lihat ke dalam sebuah ruang baru.

    Hari itu adalah pembukaan EIGER Women Flagship Store pertama di Indonesia di Jalan Sumatra, Bandung. Secara bersamaan, toko ini juga menjadi toko EIGER Adventure ke-350 di Indonesia.

    Tetapi kalau hanya melihat angka tersebut, kita mungkin akan melewatkan hal yang justru paling terasa dari pagi itu.

    Pembukaannya tidak terasa seperti orang-orang datang untuk menyaksikan sebuah pintu toko dibuka.

    Rasanya lebih seperti sedang mengikuti sebuah kegiatan bersama.Dan dari sana, cerita tentang EIGER Women Bandung mulai terlihat.

    Ada Kegiatan Yoga Saat EIGER Women Membuka Pintu Pertamanya di Bandung

    Hal pertama yang terasa dari acara pagi itu adalah energi orang-orang yang datang.

    Belum banyak yang sibuk memilih produk. Sebagian justru sudah lebih dulu bergerak.

    Morning yoga menjadi salah satu aktivitas yang mengawali rangkaian acara. Setelahnya, ada women fun run dan bersepeda yang melibatkan perempuan serta komunitas.

    Dari pengamatan sederhana itu, pembukaan EIGER Women terasa punya cara sendiri dalam memperkenalkan ruang barunya.

    Ia tidak buru-buru berbicara tentang apa yang ada di dalam toko.

    Sebaliknya, orang-orang terlebih dahulu diajak merasakan aktivitas yang selama ini begitu dekat dengan identitas EIGER: bergerak, berada di luar ruang, dan melakukan sesuatu bersama.

    Morning yoga menjadi salah satu gambaran paling sederhana.

    Matras terbentang. Orang-orang mengikuti gerakan masing-masing. Suasananya tidak terlalu formal, dan untuk sesaat toko di belakang mereka terasa seperti bagian dari latar sebuah kegiatan pagi di Bandung.

    Dari sini, gagasan tentang perempuan dan perjalanan terasa lebih dekat.

    Agnes Lukito, Head Division EIGER Women & Junior, menyampaikan bahwa perjalanan perempuan tidak hanya tentang mendaki gunung. Ada perjalanan sebagai ibu rumah tangga, perempuan karier, pelajar, maupun seseorang yang sedang mencari passion.

    Ketika melihat orang-orang yang hadir pagi itu, kalimat tersebut terasa cukup masuk akal. Karena yang datang memang bukan hanya mereka yang sedang bersiap menuju alam. Ada perempuan dengan rutinitas dan ceritanya sendiri.

    Ketika Angklung Anak-Anak Ikut Mengisi Hari Pembukaan

    Kemudian suasananya berubah. Di antara aktivitas olahraga dan keramaian pengunjung, anak-anak mengambil bagian dalam acara.

    Angklung terdengar.

    Beberapa anak tampil bersama, sebagian mengenakan busana tradisional Sunda. Orang-orang yang sebelumnya sibuk dengan aktivitas masing-masing kemudian punya alasan untuk berhenti sejenak dan memperhatikan.

    Momen ini terasa menarik karena kehadiran anak-anak membuat pembukaan EIGER Women tidak lagi hanya bercerita tentang perempuan dewasa dan aktivitas outdoor.

    Ada keluarga di dalamnya.

    Ada budaya lokal.

    Ada anak-anak yang mendapatkan ruang untuk tampil.

    Dan ada orang-orang yang datang bukan karena sedang mencari perlengkapan outdoor, tetapi karena ingin menjadi bagian dari kegiatan yang berlangsung hari itu.

    Dalam materi pembukaan, EIGER memang menyebut sejumlah kegiatan yang melibatkan perempuan dan anak-anak, mulai dari workshop kreatif hingga aktivitas khusus perempuan, ibu, dan anak.

    Namun melihat rangkaian itu sebagai satu pengalaman memberikan kesan yang berbeda.

    Ada sesuatu yang terasa lebih cair ketika sebuah toko outdoor dipenuhi aktivitas yang begitu beragam.

    Yoga berlangsung di satu sisi.

    Anak-anak bermain angklung di sisi lainnya.

    Pengunjung melihat-lihat koleksi.

    Komunitas datang dan berinteraksi.

    Semuanya terjadi dalam satu pagi.

    Dan tanpa perlu banyak penjelasan, dari situ terlihat bahwa EIGER Women ingin ruang ini diisi lebih dari sekadar aktivitas jual beli.

    EIGER Women Menyiapkan Ruang untuk Komunitas

    Masuk ke dalam toko, suasananya kembali berubah.

    Rak-rak produk dan perlengkapan outdoor mengingatkan bahwa tempat ini tetap merupakan sebuah flagship store. Tetapi setelah melihat apa yang terjadi di luar, fungsi ruang tersebut terasa seperti memiliki lapisan lain.

    EIGER merancang flagship store Bandung dengan ukuran lebih besar dibandingkan EIGER Women sebelumnya di Surabaya dan Depok. Koleksi perlengkapan outdoor yang tersedia juga dibuat lebih lengkap.

    Tempat ini diharapkan menjadi ruang bagi komunitas outdoor maupun komunitas perempuan. Sebuah tempat untuk berbagi pengalaman, inspirasi, dan semangat pemberdayaan.

    Foto pengunjung yang sedang melihat koleksi mungkin terlihat seperti gambaran paling umum dari sebuah toko.

    Tetapi setelah mengikuti cerita sejak pagi, melihatnya terasa sedikit berbeda.

    Orang-orang yang datang bisa saja awalnya hanya ingin melihat produk.

    Tetapi ruang yang sama memungkinkan mereka bertemu komunitas, mengikuti kegiatan, atau menemukan aktivitas yang sebelumnya tidak terpikirkan.

    Di sinilah konsep “rumah komunitas” yang disebut EIGER mulai terasa lebih konkret. Bukan karena ruangnya harus terlihat seperti rumah, tetapi karena ada upaya untuk membuat orang memiliki alasan lain untuk kembali selain berbelanja.

    Dan Bandung sepertinya menjadi tempat yang tepat untuk percobaan semacam itu.

    Bandung Menjadi Awal Cerita EIGER Women tentang Perjalanan Perempuan

    Pada akhirnya, yang paling menarik dari pembukaan ini bukan bagaimana toko tersebut terlihat.

    Justru orang-orang yang mengisinya yang membuat ceritanya terasa berbeda.

    Ada perempuan yang datang untuk olahraga.

    Ada ibu yang membawa anak.

    Ada anak-anak yang tampil memainkan angklung.

    Ada komunitas yang berkumpul.

    Ada pengunjung yang masuk dan melihat koleksi.

    Mereka semua memiliki alasan yang berbeda untuk berada di Jalan Sumatra pagi itu.

    Perjalanan seorang perempuan bisa berupa perjalanan mencari passion.

    Bisa berupa usaha untuk kembali aktif setelah kesibukan.

    Bisa berupa menemukan komunitas baru.

    Atau sekadar memiliki waktu untuk melakukan sesuatu yang memang disukai.Tidak semuanya terlihat spektakuler.

    Tetapi semuanya tetap merupakan perjalanan.

    Itulah yang terasa ketika melihat pembukaan EIGER Women Flagship Store di Bandung dari dekat.

    Sebuah toko baru memang sedang dibuka.

    Tetapi yang memenuhi ruangnya pagi itu adalah cerita-cerita yang jauh lebih beragam.

    Dan untuk sebuah kota seperti Bandung, mungkin cerita tersebut memang paling tepat dimulai bukan dengan seremoni yang terlalu formal, melainkan dengan orang-orang yang datang, bergerak, berkumpul, lalu perlahan mengisi sebuah ruang dengan kehidupan.

    “Perjalanan perempuan punya banyak bentuk. Kadang ia dimulai dari sebuah langkah kecil, sebuah komunitas, atau sekadar keberanian untuk mencoba.”

  • Garden Glow, Sebuah Lanskap Malam di Paris Van Java Bandung

    Garden Glow, Sebuah Lanskap Malam di Paris Van Java Bandung

    Curiocity.id — Ada bagian dari Bandung yang baru terasa berbeda ketika matahari mulai turun. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, udara mulai terasa lebih sejuk, dan tempat-tempat yang sebelumnya terlihat biasa saja perlahan mendapatkan suasana yang berbeda.

    Di Sky Level Paris Van Java, perubahan itu hadir melalui Garden Glow. Destinasi wisata malam ini membawa konsep immersive night garden, dengan taman yang dipenuhi instalasi cahaya artistik dan ruang interaktif di dalamnya. Bukan sekadar datang untuk melihat lampu, pengunjung diajak berjalan dari satu instalasi ke instalasi lain, menemukan bentuk, warna, suara, dan pengalaman yang berubah sepanjang perjalanan.

    Tagline “Where Wonder Glows” terasa cukup menggambarkan pengalaman tersebut. Garden Glow seperti membuat malam punya lanskapnya sendiri.

    Saat Taman Mulai Bercerita Lewat Cahaya

    Begitu malam datang, beberapa bagian Garden Glow mulai mengambil perannya masing-masing.

    Ada Tulip Glow, taman tulip yang dibuat bercahaya. Ada Moon Mist dengan bentuk Half Moon, Mirror of Light yang memanfaatkan spot kaca, hingga Luminous Melody, piano menyala yang merespons sentuhan pengunjung melalui nada dan efek cahaya berwarna.

    Rangkaian instalasi ini membuat pengalaman di Garden Glow tidak berhenti pada aktivitas melihat. Ada yang bisa disentuh, dimainkan, dinaiki, atau sekadar dijadikan titik untuk berhenti dan menikmati suasana.

    Salah satu pengalaman yang menarik adalah Dream Balloon. Instalasi ini memungkinkan pengunjung menaiki balon udara untuk melihat Garden Glow dari ketinggian, memberi perspektif lain terhadap taman yang sebelumnya dinikmati dari jalur pejalan kaki.

    Mungkin di sinilah karakter Garden Glow terasa: cahaya tidak hanya ditempatkan sebagai dekorasi, tetapi menjadi bagian dari cara pengunjung bergerak dan berinteraksi dengan ruang.

    Sky Mountain, Sebuah Landmark di Tengah Taman

    Di antara berbagai instalasi yang ada, Sky Mountain menjadi salah satu bagian yang paling mudah dikenali.

    Garden Glow menempatkan Sky Mountain sebagai ikon utama sekaligus landmark kawasan. Yang membuatnya berbeda adalah kehadiran LED Show yang menggabungkan cahaya, animasi, dan musik untuk membawa sebuah cerita mengenai penciptaan dunia.

    Dari sini, pengalaman di Garden Glow memiliki lapisan yang sedikit berbeda. Pengunjung tidak hanya berpindah dari satu spot foto ke spot lainnya, tetapi juga menemukan sebuah pertunjukan yang menjadi titik perhatian di tengah perjalanan.

    Tidak mengherankan jika Sky Mountain menjadi salah satu instalasi yang paling banyak diminati. Half Moon, Lorong Cahaya, dan Balon Udara juga termasuk spot yang banyak digunakan pengunjung untuk mengabadikan momen.

    Namun mungkin menariknya justru bukan pada satu spot tertentu. Garden Glow memberi alasan untuk terus berjalan, karena setiap sudut menawarkan bentuk pengalaman yang berbeda.

    Ketika Bandung Mulai Berubah Setelah Senja

    Ada waktu tertentu ketika sebuah tempat terlihat paling berbeda.

    Bukan saat pertama kali lampunya dinyalakan, tetapi beberapa saat setelahnya, ketika cahaya alami mulai hilang dan warna dari instalasi menjadi lebih jelas.

    Di Garden Glow, perubahan itu bisa diamati dari sore menuju malam. Instalasi yang sama terlihat berbeda ketika masih ada sisa cahaya di langit dan ketika malam sudah sepenuhnya turun.

    Pengunjung pun datang dengan waktu yang berbeda-beda.

    Sebagian datang ketika area mulai dibuka pada pukul 16.00 WIB. Sebagian lainnya baru terlihat ketika malam sudah ramai, terutama setelah pukul 18.00. Akhir pekan biasanya menjadi waktu yang lebih ramai dibandingkan hari biasa.

    Dari satu sudut, terdengar suara anak-anak. Dari sudut lain, orang-orang sedang mengambil gambar. Ada yang berjalan cepat menuju instalasi berikutnya, ada juga yang memilih tinggal sedikit lebih lama di satu tempat.

    Malam akhirnya terasa bukan hanya sebagai latar.
    Ia menjadi bagian dari cara orang melihat ruang tersebut.

    Membiarkan Malam Berjalan dengan Caranya Sendiri

    Garden Glow dikembangkan oleh tim Paris Van Java, termasuk konsep dan instalasi yang berada di dalamnya. Tahun ini, beberapa bagian seperti Piano Menyala dan Dream Balloon hadir bersama instalasi yang sudah menjadi bagian dari rangkaian taman.

    Tidak semua orang datang dengan tujuan yang sama.

    Ada yang lebih tertarik pada bentuk-bentuk cahaya. Ada yang sibuk mencari sudut foto. Ada yang datang bersama keluarga dan membiarkan anak-anak mencoba instalasi interaktif. Ada pula yang sekadar mengikuti jalur taman sambil melihat apa yang ada di depan.

    Mungkin pengalaman di tempat seperti ini memang tidak perlu dijelaskan terlalu jauh.

    Karena sebagian besar ceritanya berlangsung ketika seseorang mulai berjalan.

    Dari tulip yang menyala, menuju lorong cahaya. Dari piano yang mengeluarkan suara ketika disentuh, menuju Sky Mountain yang tiba-tiba menjadi terang. Kemudian kembali berjalan, sementara warna-warna lain masih terlihat dari kejauhan.

    Garden Glow akhirnya terasa seperti sebuah taman yang punya kehidupan berbeda setelah matahari tenggelam.

    Bukan karena malam membuat tempat itu menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi karena cahaya membuat kita melihat ruang yang sama dengan cara yang berbeda

  • Rethink Gabin di Tapal Market Bandung: Kreasi Modern Jajanan Klasik

    Rethink Gabin di Tapal Market Bandung: Kreasi Modern Jajanan Klasik

    Curioucity.id – Ada banyak cara untuk mengenali sebuah kota. Bisa lewat bangunan, nama jalan, tempat makan, atau sesuatu yang lebih sederhana: makanan yang kita temukan di tengah perjalanan.

    Di Bandung, makanan sudah lama menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Ada yang sengaja dicari untuk dibawa pulang, ada yang ditemukan secara tidak sengaja, lalu ada pula yang membuat kita penasaran karena bentuknya terasa familiar tetapi hadir dengan cara yang berbeda.

    Di Jalan Banceuy, salah satu pengalaman seperti itu bisa ditemukan di Tapal Market.

    Ruangnya mempertemukan orang-orang yang datang untuk makan, berbincang, dan menikmati berbagai sajian. Di antara suasana tersebut, ada satu makanan yang sekilas mungkin terasa sangat familiar: gabin.

    Namun gabin yang hadir di sini bukan sekadar camilan nostalgia.
    Melalui RETHINK GABIN — Some Classics Never Stop Evolving, Tapal Market mencoba melihat kembali makanan yang sudah dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia dan membawanya ke konteks yang berbeda.

    Menariknya, mereka tidak memilih pastry yang sedang ramai atau makanan yang sejak awal punya kesan premium.
    Mereka memilih gabin.

    Memilih Gabin di Tengah Tren Pastry

    Gabin sebenarnya tidak membutuhkan banyak penjelasan.

    Bentuk crackers-nya mudah dikenali, begitu pula konsep makanan dengan isian di antaranya. Bagi sebagian orang, gabin bahkan mungkin langsung membawa ingatan pada camilan yang pernah hadir dalam keseharian.

    Justru kedekatan itulah yang membuatnya menarik bagi Tapal Market.

    Di tengah berkembangnya tren pastry dan berbagai jajanan kekinian, Tapal memilih mengambil jalur berbeda. Alih-alih mengikuti makanan yang sedang populer, mereka mengangkat makanan yang sudah dikenal masyarakat dan mencoba memberikan perspektif baru terhadapnya.

    “Kenapa gabin? Karena kami tidak ingin selalu mengambil makanan yang sedang populer atau yang sudah dianggap premium,” ujar Assyifa Sofia, CEO & Founder Tapal Market.

    Menurut Assyifa, gabin punya karakter sederhana dan familiar, tetapi tetap terbuka untuk dikembangkan.

    Chef Nugraha, Chef sekaligus Founder Tapal Market, melihat potensi tersebut dari sisi yang lebih teknis. Ada tekstur crackers, ada filling yang bisa dikembangkan ke berbagai arah, dan yang paling penting, ada memori yang sudah dimiliki orang terhadap gabin.

    Tantangannya kemudian bukan membuat gabin menjadi makanan yang sama sekali baru.

    “Bagaimana kami bisa mempertahankan rasa familiar itu, tetapi pada saat yang sama memberikan pengalaman yang baru,” jelasnya.

    Dari sini, alasan pemilihan gabin mulai terasa masuk akal.

    Karena sudah dikenal, perubahan sekecil apa pun bisa membuat kita memperhatikannya kembali.

    Enam Interpretasi, Satu Identitas Gabin

    Eksplorasi tersebut kemudian diwujudkan melalui enam interpretasi Gabin Tapal.

    Enam versi ini dikembangkan berdasarkan karakter dapur Tapal Market. Bentuk dan karakter dasar gabin tetap dihormati, sementara rasa dan pengalaman menikmatinya dibuat lebih terbuka.

    Yang menarik, pendekatan ini tidak berhenti pada usaha membuat gabin terlihat lebih modern.

    Ada batas yang sengaja dipertahankan.

    Chef Nugraha mengatakan bahwa Tapal tidak ingin mengubah gabin sampai orang tidak lagi mengenalinya. “Identitasnya tetap harus terasa,” ujarnya.

    Jadi, ketika seseorang melihatnya di meja atau rak penyajian, bentuk dasarnya masih memberi petunjuk tentang makanan apa yang sedang dilihat.

    Tetapi ketika dicicipi, pengalaman yang muncul bisa berbeda dari bayangan sebelumnya.

    Assyifa menyebut adanya unsur nostalgia sekaligus rasa penasaran ketika orang melihat gabin dalam bentuk dan rasa yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

    Di titik ini, kata rethink menjadi penting.

    Tapal bukan sedang mengganti identitas gabin. Mereka sedang mencari tahu apa lagi yang bisa dilakukan dengan sesuatu yang identitasnya sudah begitu kuat.

    Rethink Local Taste di Tapal Market

    Dari gabin, pembicaraan kemudian bergerak ke sesuatu yang lebih luas: bagaimana makanan Indonesia bisa terus berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan asal-usul dan kebiasaan yang membuatnya dikenal.

    Bagi Tapal Market, makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Ada cerita, kebiasaan, memori, dan proses ketika makanan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Assyifa melihat gabin sebagai bagian dari memori tersebut.

    Ketika seseorang mengambil gabin, menurutnya, yang diambil bukan hanya sebuah produk, tetapi juga bagian dari pengalaman yang sudah dimiliki banyak orang terhadap makanan itu.

    Karena itu, pendekatan modern yang dilakukan Tapal tetap berangkat dari apa yang sudah ada.

    Hal tersebut juga terlihat dari sajian lain di Tapal Market. Makanan tidak harus kehilangan kedekatannya dengan keseharian hanya karena cara penyajiannya dibuat lebih modern.

    Di sinilah gagasan Rethink Local Taste menjadi menarik.
    Rasa lokal tidak selalu harus hadir melalui makanan yang sejak awal diberi label sebagai “makanan khas”. Ia juga bisa muncul dari cara sebuah makanan yang sudah dikenal dibaca kembali, dikembangkan, dan ditempatkan dalam konteks kota hari ini.

    Tapal Market sendiri merupakan ruang kuliner di Bandung yang mengeksplorasi makanan Indonesia melalui pendekatan kreatif dan modern, sambil tetap berangkat dari cerita serta karakter lokal.

    Dan Banceuy menjadi bagian penting dari konteks tersebut.

    Saat Jajanan Harian Menjadi Bagian dari Rasa Lokal

    Ketika membicarakan makanan Bandung, kita sering kali langsung mencari sesuatu yang sudah memiliki status sebagai ikon atau oleh-oleh.

    Padahal, pengalaman seseorang terhadap sebuah kota tidak selalu dibentuk oleh makanan yang paling terkenal.

    Bisa juga oleh sesuatu yang ditemukan ketika sedang berada di sana.
    Gabin Tapal tidak disebut sebagai oleh-oleh khas Bandung oleh Tapal Market. Namun keberadaannya di Jalan Banceuy membuka pertanyaan yang lebih menarik: apakah jajanan yang begitu dekat dengan keseharian bisa ikut menjadi bagian dari cara seseorang mengenali rasa sebuah kota?

    Jawabannya tentu belum harus ditentukan sekarang.

    Yang jelas, gabin punya satu hal yang membuatnya menarik untuk dibicarakan: ia sudah familiar, tetapi masih bisa dikembangkan. Perjalanannya sendiri cukup panjang, dari crackers yang kemudian diadaptasi dan diberi isian hingga menjadi camilan yang dikenal masyarakat Indonesia.

    Mungkin itu pula yang membuat eksplorasi Tapal terasa relevan.
    Menjaga makanan lokal tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama selamanya.

    Kadang, cara menjaganya justru dengan membuatnya tetap bisa ditemukan dalam konteks yang baru.

    Di Jalan Banceuy, gabin mendapatkan kesempatan tersebut.
    Ia tetap terlihat seperti gabin. Tetapi sekarang, ada enam interpretasi yang membuat kita melihat jajanan lama itu dengan rasa penasaran yang berbeda.

    Dan mungkin, dari sinilah sebuah local taste bisa terus hidup: bukan karena ia tidak pernah berubah, tetapi karena masih ada orang yang mau melihatnya kembali.

    Some Classics Never Stop Evolving.

  • Dago untuk Keluarga, dari Menginap di Swiss-Belresort Dago Heritage hingga Bermain di Hompimplay

    Dago untuk Keluarga, dari Menginap di Swiss-Belresort Dago Heritage hingga Bermain di Hompimplay

    Curiocity.id — Membawa keluarga berlibur ke Bandung sering kali berarti membuat daftar yang cukup panjang. Tempat makan, tempat bermain, destinasi yang bisa dikunjungi anak-anak, sampai tempat menginap semuanya perlu dipikirkan supaya satu akhir pekan tetap menyenangkan untuk semua.

    Namun, bagaimana kalau semuanya dimulai dari satu kawasan?

    Di bagian utara Bandung, Dago punya cukup banyak kemungkinan untuk menjadi tempat menghabiskan waktu bersama keluarga. Kawasannya menawarkan suasana yang berbeda dari pusat kota, pilihan aktivitas untuk berbagai usia, sekaligus lanskap Bandung yang membuat perjalanan terasa punya karakter tersendiri.

    Salah satu cara menikmatinya bisa dirangkai melalui Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung dan Hompimplay.

    Bukan dengan membuat itinerary yang terlalu padat, tetapi dengan membiarkan satu perjalanan berisi beberapa hal sederhana: bangun dengan pemandangan pepohonan, sarapan bersama, mengajak anak bermain, lalu kembali ke hotel ketika hari mulai berganti sore.

    A family trip doesn’t have to be complicated. Sometimes, one good destination is enough to start the story.

    Dago Punya Banyak Cara untuk Dinikmati Bersama Keluarga

    Ada alasan mengapa Dago selalu terasa menarik ketika Bandung ingin dinikmati bersama keluarga.

    Semakin menuju Dago Atas, suasana kota perlahan berubah. Pepohonan semakin mudah ditemui, udara terasa lebih sejuk, dan dari beberapa titik, lanskap hijau menjadi bagian dari perjalanan.

    Untuk keluarga, karakter kawasan seperti ini membuat satu hari terasa lebih fleksibel.

    Pagi bisa dimulai dengan sarapan dan menikmati suasana sekitar, siang menjadi waktunya anak-anak bermain, sementara sore tidak harus selalu diisi dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

    Justru di sinilah menariknya merencanakan family getaway di Dago.

    Tidak semua waktu perlu diisi dengan aktivitas. Ada bagian perjalanan yang cukup dinikmati bersama, entah sambil makan, berenang, atau melihat anak-anak masih sibuk dengan dunianya sendiri.

    Dan ketika semuanya berada dalam satu kawasan, perjalanan terasa sedikit lebih mudah untuk dinikmati semua anggota keluarga.

    Dari Pagi di Swiss-Belresort hingga Waktunya Bermain di Hompimplay

    Untuk perjalanan satu malam, tempat menginap bisa menjadi bagian penting dari pengalaman.

    Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung berada di kawasan Dago Atas, di dalam kompleks Dago Heritage Golf Course. Lapangan golf tersebut memiliki sejarah panjang sejak 1917, sehingga suasana di sekitarnya terasa berbeda dari hotel yang berada di tengah kepadatan kota.

    Begitu masuk ke kamar, pemandangan pepohonan menjadi salah satu hal yang langsung menarik perhatian.

    Kamar dengan jendela besar menghadap area hijau membuat pagi di sini punya suasana tersendiri. Setelah sarapan, keluarga bisa menentukan agenda berikutnya tanpa harus buru-buru meninggalkan hotel.

    Untuk anak-anak, kolam renang air hangat dan kids club bisa menjadi pilihan aktivitas di area hotel. Sementara orang tua dapat memanfaatkan waktu dengan fasilitas seperti gym atau spa.

    Lalu ketika waktunya berganti aktivitas, Hompimplay bisa menjadi tujuan berikutnya.

    Di ruang bermain indoor, anak-anak punya tempat untuk bergerak, mencoba berbagai permainan, dan mengikuti rasa penasaran mereka sendiri.

    Ada sesuatu yang menyenangkan dari tempat bermain seperti ini: anak-anak tidak perlu banyak diarahkan untuk menemukan keseruannya.

    Cukup masuk, melihat sekeliling, lalu memilih sendiri permainan mana yang paling membuat mereka penasaran

    Saat Itinerary Tidak Perlu List Panjang

    Setelah beberapa jam bermain, makan siang tentu menjadi agenda berikutnya.

    Namun, perjalanan keluarga tidak selalu membutuhkan perpindahan lokasi setiap beberapa jam. Setelah bermain di Hompimplay, kembali ke Swiss-Belresort Dago Heritage bisa menjadi pilihan untuk melanjutkan hari dengan suasana yang berbeda.

    Swiss-Kitchen dapat menjadi tempat untuk makan, sebelum keluarga kembali menikmati fasilitas hotel.

    Anak-anak bisa kembali berenang atau bermain di kids club. Orang tua pun punya kesempatan untuk mengambil waktu sendiri dengan spa atau sekadar menikmati kamar.

    Detail seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru bisa menjadi bagian dari pengalaman menginap.

    Setelah seharian bermain, ada sesuatu yang menyenangkan dari kembali ke kamar, membuka tirai, lalu melihat pepohonan yang sama seperti ketika pagi tadi.

    Tidak ada keharusan untuk mencari tempat baru.

    Sore bisa berjalan di dalam hotel, makan bersama, atau sekadar membiarkan anak-anak beristirahat setelah puas bermain.

    Untuk perjalanan dua hari satu malam, hari berikutnya pun bisa dibuat sederhana. Sarapan, menikmati suasana hotel, check-out, lalu melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di kawasan Dago.

    Dengan begitu, hotel tidak hanya menjadi tempat untuk tidur, tetapi menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.

    Dago, Ketika Family Getaway Tidak Harus Rumit

    Mungkin itu yang membuat Dago selalu punya tempat sendiri dalam cerita liburan keluarga di Bandung.

    Ada pagi yang dimulai dari balik jendela kamar, ketika pepohonan terlihat lebih dulu sebelum hiruk-pikuk kota. Ada anak-anak yang menemukan keseruannya sendiri di Hompimplay, lalu kembali dengan cerita tentang permainan yang paling mereka sukai hari itu.

    Sementara orang tua punya waktu untuk menikmati hal-hal yang lebih sederhana. Sarapan tanpa terburu-buru, berenang, menikmati makanan, atau sekadar duduk bersama setelah seharian menemani anak bermain.

    Potongan-potongan kecil seperti inilah yang kemudian dipertemukan dalam Stay & Adventure Package 2026 dari Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung bersama Hompimplay.

    Konsepnya sederhana: satu malam di Dago, dengan pengalaman menginap dan bermain yang bisa dinikmati dalam satu perjalanan. Ada sarapan, akses bermain untuk orang dewasa, serta harga khusus untuk tiket anak, sementara beberapa fasilitas di hotel juga memiliki penawaran khusus selama periode program.

    Paket ini tersedia hingga 20 Desember 2026, di luar hari libur nasional dan festive season.

    Tetapi mungkin, hal yang paling menarik justru bukan daftar apa saja yang didapatkan. Melainkan kemungkinan bahwa satu perjalanan keluarga tidak perlu dibuat terlalu penuh untuk terasa menyenangkan.

    Sebab ketika anak punya tempat untuk bermain, orang tua punya ruang untuk menikmati waktu, dan Dago menyediakan suasana yang berbeda dari pusat kota, satu malam pun bisa terasa cukup panjang untuk menciptakan cerita.

    Perhaps a good family trip isn’t about going everywhere, but finding a place where everyone finds something to enjoy. Dan mungkin, kali ini, tempat itu adalah Dago.

  • Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Curiocity.id — Bandung punya kebiasaan menarik dalam urusan makanan. Sesuatu yang sudah akrab di lidah bisa saja tiba-tiba hadir dalam bentuk berbeda, sementara bahan yang sederhana bisa dipertemukan dengan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

    Mungkin karena itu pula cerita tentang kuliner di kota ini tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada brand yang mencoba, tempat yang membuka ruang, dan kolaborasi yang membuat kita bertanya-tanya, “Kali ini akan jadi seperti apa?”

    Pertanyaan kecil tersebut menemukan jawabannya di Hutanika lewat Kolaborasa Hutanika, kolaborasi kuliner yang mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung selama Agustus hingga September 2026.

    Salah satunya adalah J&C Cookies, yang membawa dua sajian manis: Putri Salju Snow Ice dan Choco Crunchy Mochi.

    “Sometimes, the familiar becomes exciting when we see it from a different angle.”

    Ketika Putri Salju Keluar dari Kotak Kenangan

    Ada makanan yang membawa kita kembali ke suatu waktu hanya lewat satu nama.

    Putri salju mungkin salah satunya. Kue bertabur gula halus ini begitu dekat dengan momen perayaan dan meja keluarga, sampai rasanya kita tidak perlu melihat bentuknya untuk bisa membayangkannya.

    J&C Cookies kemudian mengambil ingatan tersebut dan membawanya ke arah yang berbeda melalui Putri Salju Snow Ice.

    Bukan lagi putri salju yang kita kenal dalam bentuk kue kering, tetapi sebuah sajian yang mengajak rasa familiar tadi bertemu dengan pengalaman baru. Nama lamanya masih ada, tetapi cara menikmatinya berubah.

    Menariknya, perubahan seperti ini tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit.

    Kadang cukup dengan memindahkan sebuah rasa ke konteks yang berbeda, lalu membiarkan orang yang mencobanya menemukan sendiri apa yang berubah.

    Di Hutanika, Putri Salju Snow Ice menjadi salah satu cara J&C Cookies memperkenalkan interpretasinya dalam Kolaborasa Hutanika.

    Cokelat, Mochi, dan Sedikit Kejutan di Gigitan Pertama

    Kalau Putri Salju Snow Ice bermain dengan memori, Choco Crunchy Mochi terasa seperti permainan yang berbeda.

    Dari namanya saja, kita sudah mendapatkan tiga petunjuk: cokelat, mochi, dan sesuatu yang crunchy.

    Mochi memberikan kelembutan, sementara elemen crunchy menghadirkan kontras. Cokelat kemudian menjadi rasa yang menyatukan semuanya.

    Ada kesenangan tersendiri ketika makanan tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga mengajak kita memperhatikan tekstur.

    Gigitan pertama mungkin membuat kita mengenali cokelat. Gigitan berikutnya membuat kita sadar ada sesuatu yang renyah di sana.

    Hal-hal kecil semacam ini yang membuat dessert tidak selalu harus menjadi penutup. Ia bisa menjadi bagian dari pengalaman mencoba sesuatu yang baru.

    Dan kali ini, pengalaman tersebut datang dari J&C Cookies, salah satu brand lokal Bandung yang ikut dalam Kolaborasa Hutanika.

    Lima Brand Bandung Bertemu dalam Satu Meja

    J&C Cookies tentu tidak berjalan sendirian.Kolaborasa Hutanika mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung: Rahsa Nusantara, Maicih, Tahu Tauhid, Cimol Bojot AA, dan J&C Cookies.

    Masing-masing datang dengan karakter yang berbeda.

    J&C Cookies mengambil bagian melalui dua dessert tadi.

    Menariknya, semua karakter tersebut tidak perlu dibuat sama. Justru perbedaannya yang membuat satu meja terasa lebih hidup.

    Hutanika menjadi ruang tempat berbagai rasa tersebut bertemu selama Agustus hingga September 2026, dalam momentum Bulan Kemerdekaan.

    “Different flavors can tell different stories, even when they share the same table.”

    Dari Satu Meja, Kita Bisa Melihat Bandung

    Kalau diperhatikan lebih dekat, kolaborasi seperti ini sebenarnya bercerita lebih banyak daripada sekadar menu baru.Ia memperlihatkan bagaimana brand lokal Bandung terus mencari cara untuk berkembang tanpa harus meninggalkan karakter yang membuat mereka dikenal.

    Ada keberanian untuk mencoba format baru. Ada keinginan mempertemukan produk dengan audiens yang berbeda. Ada pula ruang untuk belajar dari brand lain yang bergerak di bidang yang sama.

    Hutanika, dalam hal ini, bukan hanya menjadi tempat semua menu tersebut tersedia.

    Ia menjadi ruang pertemuan.

    Pengunjung dapat datang untuk makan, tetapi dalam satu kesempatan yang sama mereka bisa menemukan beberapa karakter kuliner lokal sekaligus.

    Dari yang pedas hingga manis. Dari camilan yang sudah familiar hingga menu yang mungkin baru pertama kali kita dengar.

    Bandung hadir bukan sebagai satu rasa.

    Ia hadir sebagai kumpulan banyak rasa yang terus berubah dan berkembang.

    Ternyata Bangga Nusantara Bisa Sesederhana Ini

    Kolaborasa Hutanika hadir dalam rangka menyambut dan merayakan Bulan Kemerdekaan dengan semangat Bangga Nusantara.

    Tetapi ada sesuatu yang menarik dari cara gagasan tersebut diterjemahkan.Tidak harus selalu dalam bentuk seremoni besar.

    Kadang rasa bangga terhadap karya lokal bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: memberi kesempatan sebuah brand untuk berkarya, datang untuk mencoba, kemudian memilih untuk kembali ketika ternyata rasanya cocok.

    J&C Cookies menjadi salah satu bagian dari cerita tersebut.

    Dua dessert yang dibawanya memperlihatkan bahwa kreativitas lokal tidak selalu harus tampil dengan sesuatu yang sepenuhnya asing. Sesuatu yang sudah kita kenal pun masih bisa diolah kembali dan menemukan bentuk baru.

    Begitu pula dengan empat brand lainnya.Ketika semuanya ditempatkan dalam satu ruang, kita mendapatkan gambaran kecil tentang betapa beragamnya cara brand lokal Bandung bercerita melalui makanan.

    Barangkali, Rasa Penasaran Adalah Pesanan Pertama

    Pada akhirnya, kita mungkin tidak datang ke Hutanika dengan niat mencari sebuah cerita.Mungkin hanya ingin makan. Mungkin sedang bertemu teman. Atau mungkin sekadar penasaran dengan menu yang baru dilihat.

    Tetapi justru dari rasa penasaran seperti itulah pengalaman baru biasanya dimulai.

    Putri Salju Snow Ice mungkin membuat kita teringat pada sesuatu yang familiar. Choco Crunchy Mochi mungkin membuat kita ingin tahu bagaimana cokelat, mochi, dan tekstur crunchy bertemu.

    Setelah itu, siapa tahu kita menemukan rasa lain dari empat brand Bandung yang ikut berada di meja yang sama.

    Kolaborasa Hutanika berlangsung selama Agustus hingga September 2026 di Hutanika, Bandung.

    Lima brand lokal. Beragam menu. Satu ruang pertemuan.Dan mungkin, dari semua itu, ada satu pesanan yang awalnya hanya dipilih karena penasaran—lalu diam-diam menjadi menu yang ingin dicoba lagi.