Tag: #recap

  • 19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    19 Tahun Amaris Hotel: Tumbuh Bersama Gaya Hidup Smart Traveller

    Curioucity.id— Sebuah perjalanan panjang tidak hanya dihitung dari berapa lama waktu berlalu, tetapi juga dari orang-orang yang ikut menjadi bagian di dalamnya. Bagi Amaris Hotel, 19 tahun menjadi penanda perjalanan sebuah brand perhotelan yang tumbuh bersama kebutuhan para traveller akan akomodasi yang praktis, nyaman, dan relevan dengan gaya hidup mereka.

    Perayaan ulang tahun ke-19 Amaris Hotel menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan tersebut. Mengusung semangat Smart Traveller, Smart Hotel, Amaris Hotel tidak hanya berbicara tentang tempat untuk beristirahat, tetapi juga bagaimana pengalaman bepergian bisa terasa lebih mudah bagi generasi yang semakin dinamis.

    Dari Kebutuhan Menginap hingga Gaya Hidup Traveller

    Bepergian kini menjadi bagian dari banyak cerita, mulai dari perjalanan pekerjaan, liburan singkat, hingga kesempatan untuk mengenal kota yang berbeda. Di tengah kebutuhan tersebut, akomodasi yang praktis menjadi salah satu bagian penting dalam merencanakan perjalanan.

    Amaris Hotel hadir dengan konsep Bed & Breakfast yang mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan bagi para tamunya. Sebagai bagian dari jaringan Santika Indonesia Hotels & Resorts, brand ini terus berkembang mengikuti kebutuhan traveller yang menginginkan pengalaman menginap tanpa banyak kerumitan.

    Hingga 2026, Amaris Hotel telah memiliki 60 unit yang tersebar di lebih dari 40 kota di Indonesia. Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan akan akomodasi yang mudah dijangkau menjadi bagian dari perjalanan banyak orang, baik untuk urusan pekerjaan maupun waktu bersama keluarga.

    Blok M Menjadi Ruang Perayaan yang Lebih Dekat dengan Generasi Muda

    Memasuki usia ke-19, Amaris Hotel memilih menghadirkan perayaan yang lebih interaktif melalui acara bertajuk The Fun Celebration. Kegiatan ini berlangsung pada 26–27 September 2026 di Santika Training Centre, Blok M, Jakarta Selatan.

    Alih-alih hanya menjadi seremoni ulang tahun, acara tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan antara brand dan masyarakat. Pengunjung dapat mencoba berbagai permainan seperti Catch the Stick dan Tornado Cube, menghias eco-tumbler menggunakan stiker, hingga mengabadikan momen di area photo booth.

    Rangkaian aktivitas tersebut membawa suasana perayaan yang lebih santai dan partisipatif. Ada permainan yang menguji ketangkasan, kegiatan kreatif yang bisa dilakukan langsung, serta kesempatan membawa pulang hadiah berupa puluhan voucher menginap di Amaris Hotel di berbagai kota di Indonesia.

    Pemilihan Blok M juga memiliki makna tersendiri. Kawasan ini menjadi salah satu titik pertemuan masyarakat urban dengan beragam aktivitas dan gaya hidup, sekaligus lokasi yang dekat dengan sejarah awal kehadiran Amaris Hotel di Jakarta melalui Amaris Hotel Panglima Polim 1.

    Hadiah dan Penawaran Menjadi Bagian dari Pengalaman

    Di tengah aktivitas perayaan, Amaris Hotel turut menghadirkan penawaran bagi pengunjung yang ingin merencanakan perjalanan berikutnya. Tersedia voucher potongan harga Rp190.000 tanpa minimum transaksi yang dapat digabungkan dengan promo Amaris Payday Sale yang berlangsung pada periode tersebut.

    Kesempatan ini melengkapi pengalaman acara, dari aktivitas yang bisa dinikmati di lokasi hingga pilihan untuk merencanakan perjalanan dengan penawaran yang lebih menarik. Pengunjung dapat mengikuti acara secara gratis dengan mendaftarkan diri sebagai anggota MYVALUE.

    Melalui pendekatan ini, perayaan ulang tahun tidak berhenti pada momen seremonial. Ada kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat layanan Amaris Hotel sekaligus menemukan pilihan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka.

    Menjaga Relevansi di Tengah Perjalanan yang Terus Berubah

    Bagi Amaris Hotel, bertambahnya usia juga menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan para tamu dan masyarakat. Prita Gero, Corp. Marcomm Manager Santika Indonesia Hotels & Resorts, menyampaikan bahwa perayaan ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan yang telah menyertai perjalanan brand tersebut.

    “Perjalanan 19 tahun menjadi pencapaian yang berarti bagi Amaris Hotel. Momen ini merupakan bentuk apresiasi atas kepercayaan dan dukungan para tamu serta seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami,” ujar Prita Gero.

    Ia juga menjelaskan bahwa The Fun Celebration dirancang untuk mendekatkan Amaris Hotel dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Harapannya, Amaris Hotel tidak hanya dikenal sebagai penyedia akomodasi yang praktis dan nyaman, tetapi juga menjadi brand yang relevan dengan keseharian serta gaya hidup traveller masa kini.

    “Semua orang diundang ke acara ini dan acara ini gratis. Untuk ikutan keseruannya, tamu cukup mendaftar menjadi member MYVALUE,” tambahnya

    Sembilan belas tahun menjadi bagian dari perjalanan Amaris Hotel sekaligus pengingat bahwa kebutuhan traveller akan terus berkembang. Di balik setiap perjalanan, selalu ada cerita tentang tujuan yang ingin dicapai, kota yang ingin dikenal, atau waktu yang ingin dihabiskan bersama orang-orang terdekat.

    Dan mungkin, relevansi sebuah hotel tidak hanya ditentukan oleh tempat seseorang beristirahat, tetapi juga oleh kemampuannya untuk terus memahami bagaimana orang-orang ingin menjalani perjalanan mereka.

  • Di Bandung RS Premier Bintaro Memperkenalkan Teknologi Navigasi Robotik Solusi Presisi Untuk Operasi Tulang Belakang

    Di Bandung RS Premier Bintaro Memperkenalkan Teknologi Navigasi Robotik Solusi Presisi Untuk Operasi Tulang Belakang

    Curioucity.id — Di tengah aktivitas Bandung yang membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam duduk, berdiri, berjalan, hingga berkendara, punggung sering menjadi bagian tubuh yang paling mudah terasa lelah.

    Nyeri punggung pun kerap dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, tulang belakang bukan hanya terdiri dari tulang, melainkan juga sendi, diskus, ligamen, dan struktur saraf yang bekerja dalam satu sistem kompleks.

    Ketika masalah pada bagian ini berkembang, penanganannya dapat membutuhkan pendekatan yang lebih serius, termasuk tindakan pembedahan pada kondisi tertentu. Perkembangan teknologi kemudian ikut mengubah bagaimana dokter merencanakan dan menjalankan operasi tulang belakang.

    Hal tersebut menjadi pembahasan dalam media gathering “Penanganan Terkini Problem Tulang Belakang dengan Navigasi Robotic” yang digelar RS Premier Bintaro di Hotel Grand Tjokro Premiere Bandung, 17 September 2026. Acara ini menghadirkan dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine), Orthopaedic Spine Surgeon RS Premier Bintaro.

    Bukan semata tentang sebuah mesin, pertemuan tersebut membuka pembicaraan mengenai satu hal yang semakin penting dalam bedah tulang belakang: presisi.

    Tulang Belakang dan Beragam Masalah yang Bisa Mengikutinya

    Ada banyak alasan mengapa tulang belakang membutuhkan perhatian lebih dari sekadar mengatasi rasa pegal.

    Menurut dr. Asrafi, sejumlah kondisi dapat memengaruhi tulang belakang, mulai dari penyakit degeneratif, deformitas, trauma, hingga kondisi lainnya. Seiring bertambahnya usia, keluhan juga dapat berkembang dari nyeri punggung yang datang dan pergi menjadi nyeri kronis yang dapat disertai nyeri menjalar. Pada sebagian pasien, kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut, termasuk operasi.

    Kompleksitasnya muncul karena begitu banyak struktur berada dalam satu area. Tulang, sendi, diskus, ligamen, dan saraf saling berkaitan sehingga penanganan terhadap satu bagian perlu mempertimbangkan anatomi di sekitarnya.

    Salah satu kondisi yang dibahas adalah skoliosis, ketika tulang belakang mengalami perubahan bentuk atau deformitas. Dalam situasi seperti ini, tindakan yang dilakukan membutuhkan perencanaan dan akurasi yang lebih tinggi.

    Hal tersebut membuat persoalan tulang belakang tidak bisa selalu dilihat hanya dari seberapa sakit punggung yang dirasakan. Diagnosis dan penilaian kondisi tetap menjadi bagian penting sebelum menentukan bentuk penanganan.

    “Tulang belakang merupakan struktur kompleks yang tidak hanya terdiri dari tulang, tetapi juga melibatkan sendi, diskus, ligamen, serta struktur saraf.”
    — dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

    Dari Operasi Konvensional ke Minimal Invasive Spine Surgery

    Perubahan dalam penanganan tulang belakang sebenarnya tidak baru dimulai ketika teknologi robotik hadir.

    Dalam perkembangannya, teknik bedah juga bergerak dari pendekatan konvensional menuju minimal invasive spine surgery. Teknik ini memungkinkan tindakan dilakukan dengan gangguan yang lebih minimal terhadap jaringan.

    Pendekatan tersebut ditujukan untuk meminimalkan cedera jaringan, mendukung pemulihan yang lebih cepat, serta membantu meningkatkan akurasi dalam penempatan implan.

    Namun, ada konsekuensi lain dari perkembangan tersebut: ketika kondisi tulang belakang yang ditangani semakin kompleks, kebutuhan terhadap perencanaan dan akurasi selama prosedur juga semakin tinggi.

    Dengan kata lain, pekerjaan dokter tidak hanya dimulai ketika operasi berlangsung. Ada proses membaca kondisi, menyusun perencanaan, menentukan posisi, kemudian memastikan rencana tersebut dapat dijalankan dengan tepat.

    Teknologi kemudian masuk sebagai salah satu alat yang membantu proses tersebut.

    Ketika Robotic Navigation Masuk ke Ruang Operasi

    Dalam bedah tulang belakang, akurasi dibutuhkan sejak sebelum operasi hingga tindakan berlangsung.

    Menurut materi yang disampaikan dr. Asrafi, teknologi robotic dapat membantu mulai dari pre-operative planning, penggunaan perangkat lunak, hingga intraoperative guidance atau panduan ketika prosedur sedang dilakukan.

    RS Premier Bintaro menggunakan Globus Excelsius GPS, sistem navigasi robotik yang dapat digunakan dalam berbagai prosedur bedah tulang belakang. Teknologi tersebut juga berperan dalam membantu penanganan anatomi yang kompleks, termasuk skoliosis dan kondisi dengan bentuk pedikel yang tidak normal.

    Salah satu bagian penting dalam prosedur tertentu adalah penempatan pedicle screw. Posisi implan perlu direncanakan dan dipandu secara akurat karena penempatan yang tidak tepat dapat menyebabkan implan berada di dalam kanal maupun keluar dari struktur tulang.

    Di sinilah pemahaman tentang “robotik” menjadi penting. Teknologi tersebut bukan berarti dokter menyerahkan tindakan kepada mesin.

    Dr. Asrafi justru menekankan bahwa teknologi robotik digunakan sebagai pendamping dalam menghadapi kompleksitas tindakan.

    “Penggunaan teknologi robotik bukan berarti menggantikan peran dokter, namun teknologi justru menjadi alat bantu bagi dokter.”
    —
    dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

    Kalimat tersebut menjadi salah satu poin penting dari pembahasan di Bandung: teknologi boleh semakin maju, tetapi keputusan medis dan pengalaman dokter tetap menjadi bagian utama dari sebuah tindakan.

    Teknologi sebagai Alat Bantu, Dokter sebagai Pengambil Keputusan

    Pada akhirnya, kecanggihan teknologi medis kembali pada satu pertanyaan yang lebih dekat dengan pasien: apa yang berubah dari proses penanganan yang mereka jalani?

    Materi media gathering menunjukkan bahwa penerapan teknologi robotic dalam operasi tulang belakang dapat mendukung pengurangan rasa nyeri, pemulihan yang lebih cepat, serta masa rawat inap yang lebih singkat. Bagi dokter, teknologi tersebut juga membantu mempermudah tindakan dan meningkatkan akurasi.

    Namun, informasi tersebut tidak berarti setiap masalah tulang belakang membutuhkan operasi dengan teknologi robotik. Teknologi menjadi bagian dari pilihan penanganan ketika kondisi dan prosedur yang dilakukan memang membutuhkan perencanaan serta panduan yang lebih presisi.

    Karena itu, pembicaraan mengenai teknologi robotik sebenarnya juga merupakan pembicaraan mengenai pentingnya memahami kondisi tulang belakang lebih jauh.

    RS Premier Bintaro sendiri memiliki Spine Center sebagai salah satu layanan unggulannya. Dalam pengembangan layanan tersebut, rumah sakit menyebut pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari upaya menghadirkan penanganan tulang belakang yang semakin modern, presisi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

    Kehadiran RS Premier Bintaro dalam media gathering di Bandung juga menjadi ruang untuk mendekatkan informasi mengenai perkembangan layanan kesehatan kepada masyarakat dan media di Bandung serta sekitarnya.

    Pada akhirnya, robotik hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang penanganan tulang belakang.

    Ada dokter yang membaca kondisi pasien, ada teknologi yang membantu memberikan panduan, dan ada pasien yang berharap dapat kembali menjalani aktivitasnya dengan lebih baik dan nyaman.

    “Teknologi membantu dokter menghadapi kompleksitas tindakan, meningkatkan akurasi, sekaligus mendukung keselamatan pasien.”
    — dr. Asrafi Rizki Gatam, Sp.OT (K-Spine)

  • TP Jazz Universe Membawa Nostalgia Soundtrack Film di Kota Baru Parahyangan

    TP Jazz Universe Membawa Nostalgia Soundtrack Film di Kota Baru Parahyangan

    Curioucity.id — Bandung dan musik seperti punya percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Kali ini, percakapan itu membawa TP Jazz keluar menuju Kota Baru Parahyangan, bukan dengan sebuah festival besar, melainkan sebuah pertunjukan yang terasa seperti membuka kembali album kenangan.

    Pada Jumat, 4 September 2026, Mason Grand Ballroom, Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan menjadi tempat berlangsungnya TP Jazz Universe: Greatest Movie Soundtrack. Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to The Papandayan Jazz Fest 2026, mempertemukan sejumlah musisi dengan soundtrack film yang sudah lama tinggal di ingatan banyak orang.

    Ada sesuatu yang menarik dari pilihan tema tersebut. Sebelum musik dimainkan, lagu-lagunya sudah membawa cerita masing-masing. Ketika dimainkan kembali dengan sentuhan jazz, yang muncul bukan hanya nostalgia terhadap film, tetapi juga kenangan pribadi yang mungkin ikut tersimpan di dalamnya.

    Dari Kota Baru Parahyangan, TP Jazz Membuka Perjalanan dengan Soundtrack Film

    Malam itu, ballroom tidak langsung terasa seperti ruang konser biasa. Sajian multimedia dan special lighting show membawa visual sinematik ke dalam ruangan, sementara To The Band, pemenang The Papandayan International Online Jazz Competition 2022, membuka pertunjukan sebelum Dwiki Dharmawan mengambil alih panggung.

    Dwiki menjadi salah satu pusat musikal dalam perjalanan malam tersebut. Di tangannya, soundtrack yang sudah dikenal luas mendapat ruang untuk bergerak dalam warna jazz.

    Kemudian satu per satu lagu mulai membawa penonton kembali ke layar film.

    Dirly Dave membuka dengan Go The Distance dari Hercules dan Can You Feel The Love Tonight. Tidak lama kemudian, ia berduet dengan Dira Sugandi membawakan (I’ve Had) The Time of My Life dari Dirty Dancing.

    Pilihan lagu tersebut seperti mengingatkan bahwa soundtrack punya kemampuan yang unik. Kita mungkin sudah lupa detail filmnya, tetapi begitu musiknya terdengar, adegan dan perasaan tertentu bisa muncul kembali.

    Malam itu, Kota Baru Parahyangan menjadi tempat bagi ingatan-ingatan tersebut untuk diputar ulang—kali ini melalui panggung jazz.

    Dira, Dirly, Sandhy, dan Rimar Membawa Film Kembali ke Ingatan

    Setelah Dirly, giliran Dira Sugandi membawa suasana menjadi lebih emosional melalui I Will Always Love You dari The Bodyguard. Kekuatan vokalnya berpadu dengan permainan Dwiki Dharmawan, membuat lagu yang sudah sangat dikenal tersebut terdengar dengan karakter yang berbeda.

    Sandhy Sondoro kemudian mengubah warna malam melalui Eye of The Tiger dan Glory of Love. Dua soundtrack dengan karakter kuat tersebut mendapat interpretasi personal dari warna vokal Sandhy.

    Lalu hadir sebuah kolaborasi yang terasa seperti membawa penonton kembali ke dunia animasi: Sandhy bersama Rimar Callista membawakan A Whole New World dari Aladdin.

    Rimar kemudian melanjutkan dengan When You Wish Upon A Star, sebelum membawa nostalgia ke wilayah yang lebih dekat dengan penonton Indonesia.

    Medley Hanya Untukmu, Semusim, Galih dan Ratna, hingga Ayat-Ayat Cinta menjadi salah satu bagian yang mempertemukan musik dengan memori film Indonesia. Cinta Sejati dari Habibie & Ainun kemudian meneruskan suasana tersebut.

    Menariknya, tidak semua soundtrack perlu berasal dari film yang sama generasinya untuk terasa dekat.

    Ada lagu yang mengingatkan masa kecil, ada yang membawa seseorang kembali ke masa remaja, ada pula yang mungkin hanya mengingatkan pada seseorang yang pernah menonton film tersebut bersama.

    Barangkali itulah alasan soundtrack film terasa berbeda ketika dibawakan secara langsung. Kita tidak hanya mendengarkan lagu. Kita mendengarkan kembali sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidup.

    Satu Panggung Menyatukan Banyak Cerita

    Menjelang akhir, energi pertunjukan kembali bergerak. Dirly Dave kembali melalui I Don’t Want To Miss A Thing dari Armageddon, sementara Dira Sugandi hadir dengan How Far I’ll Go dari Moana dan My Heart Will Go On dari Titanic.

    Kemudian seluruh penyanyi kembali berada di atas panggung untuk This Is Me dari The Greatest Showman.

    Pilihan lagu penutup ini terasa seperti merangkum keseluruhan malam. Ada film yang berbeda, karakter vokal yang berbeda, generasi penonton yang berbeda, tetapi semuanya bertemu di satu panggung.

    Di luar musiknya, TP Jazz Universe juga menjadi bagian dari kolaborasi TP Jazz Management dan Kota Baru Parahyangan yang membawa semangat Community Based Development. Musik menjadi ruang pertemuan antara masyarakat dan komunitas, sekaligus membuka kemungkinan kolaborasi seni dan budaya yang lebih panjang.

    Maka, pre-event ini terasa seperti lebih dari sekadar pertunjukan pembuka.

    Ia menjadi sebuah cara untuk memperkenalkan kembali semangat TP Jazz sebelum memasuki perayaan utamanya.

    September Menjadi Pembuka, Oktober Melanjutkan Ceritanya

    Ada alasan mengapa perjalanan menuju sebuah festival terasa menarik ketika dimulai dari acara seperti ini.

    TP Jazz Universe memberi kesempatan kepada penonton untuk terlebih dahulu menikmati satu cerita, satu tema, dan satu pengalaman sebelum akhirnya bertemu dengan skala festival yang lebih besar.

    Cerita itu akan berlanjut pada The Papandayan Jazz Fest 2026, yang berlangsung pada 3–4 Oktober 2026 di The Papandayan Hotel Bandung. Tahun ini, festival memasuki penyelenggaraan ke-11 dengan tema “Sound to the Soul”, membawa gagasan tentang musik sebagai pengalaman yang dapat menyentuh emosi dan membangun koneksi.

    Salah satu kelanjutannya hadir melalui Kota Baru Parahyangan Stage di Suagi Grand Ballroom. Panggung ini akan mempertemukan sejumlah nama yang juga memiliki hubungan dengan cerita di pre-event, termasuk Dwiki Dharmawan, Dira Sugandi, dan Dirly Dave bersama Bandung Jazz Orchestra dalam proyek A Night of Frank Sinatra.

    Dengan begitu, malam di Kota Baru Parahyangan bukanlah cerita yang selesai ketika lampu ballroom dimatikan.

    Ia menjadi bagian pertama dari perjalanan yang lebih panjang.

    Jika September mengajak penonton mengingat kembali lagu-lagu yang pernah hidup melalui layar film, Oktober akan membuka ruang yang lebih besar untuk menemukan cerita baru melalui jazz, kolaborasi, dan berbagai panggung TP Jazz Fest.

    Mungkin memang begitu cara sebuah festival seharusnya dimulai.

    Bukan tiba-tiba pada hari pertama acara, tetapi perlahan—melalui satu pertemuan, satu lagu, satu panggung, lalu rasa penasaran untuk melihat ke mana cerita berikutnya akan membawa kita.

    “Satu lagu bisa membawa kita kembali pada sebuah cerita, dan satu panggung bisa membuka cerita yang baru. Dari Kota Baru Parahyangan, TP Jazz memulainya—lalu membiarkan musik melanjutkan perjalanannya menuju Oktober.”