Category: food and drinks

  • Rethink Gabin di Tapal Market Bandung: Kreasi Modern Jajanan Klasik

    Rethink Gabin di Tapal Market Bandung: Kreasi Modern Jajanan Klasik

    Curioucity.id – Ada banyak cara untuk mengenali sebuah kota. Bisa lewat bangunan, nama jalan, tempat makan, atau sesuatu yang lebih sederhana: makanan yang kita temukan di tengah perjalanan.

    Di Bandung, makanan sudah lama menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Ada yang sengaja dicari untuk dibawa pulang, ada yang ditemukan secara tidak sengaja, lalu ada pula yang membuat kita penasaran karena bentuknya terasa familiar tetapi hadir dengan cara yang berbeda.

    Di Jalan Banceuy, salah satu pengalaman seperti itu bisa ditemukan di Tapal Market.

    Ruangnya mempertemukan orang-orang yang datang untuk makan, berbincang, dan menikmati berbagai sajian. Di antara suasana tersebut, ada satu makanan yang sekilas mungkin terasa sangat familiar: gabin.

    Namun gabin yang hadir di sini bukan sekadar camilan nostalgia.
    Melalui RETHINK GABIN — Some Classics Never Stop Evolving, Tapal Market mencoba melihat kembali makanan yang sudah dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia dan membawanya ke konteks yang berbeda.

    Menariknya, mereka tidak memilih pastry yang sedang ramai atau makanan yang sejak awal punya kesan premium.
    Mereka memilih gabin.

    Memilih Gabin di Tengah Tren Pastry

    Gabin sebenarnya tidak membutuhkan banyak penjelasan.

    Bentuk crackers-nya mudah dikenali, begitu pula konsep makanan dengan isian di antaranya. Bagi sebagian orang, gabin bahkan mungkin langsung membawa ingatan pada camilan yang pernah hadir dalam keseharian.

    Justru kedekatan itulah yang membuatnya menarik bagi Tapal Market.

    Di tengah berkembangnya tren pastry dan berbagai jajanan kekinian, Tapal memilih mengambil jalur berbeda. Alih-alih mengikuti makanan yang sedang populer, mereka mengangkat makanan yang sudah dikenal masyarakat dan mencoba memberikan perspektif baru terhadapnya.

    “Kenapa gabin? Karena kami tidak ingin selalu mengambil makanan yang sedang populer atau yang sudah dianggap premium,” ujar Assyifa Sofia, CEO & Founder Tapal Market.

    Menurut Assyifa, gabin punya karakter sederhana dan familiar, tetapi tetap terbuka untuk dikembangkan.

    Chef Nugraha, Chef sekaligus Founder Tapal Market, melihat potensi tersebut dari sisi yang lebih teknis. Ada tekstur crackers, ada filling yang bisa dikembangkan ke berbagai arah, dan yang paling penting, ada memori yang sudah dimiliki orang terhadap gabin.

    Tantangannya kemudian bukan membuat gabin menjadi makanan yang sama sekali baru.

    “Bagaimana kami bisa mempertahankan rasa familiar itu, tetapi pada saat yang sama memberikan pengalaman yang baru,” jelasnya.

    Dari sini, alasan pemilihan gabin mulai terasa masuk akal.

    Karena sudah dikenal, perubahan sekecil apa pun bisa membuat kita memperhatikannya kembali.

    Enam Interpretasi, Satu Identitas Gabin

    Eksplorasi tersebut kemudian diwujudkan melalui enam interpretasi Gabin Tapal.

    Enam versi ini dikembangkan berdasarkan karakter dapur Tapal Market. Bentuk dan karakter dasar gabin tetap dihormati, sementara rasa dan pengalaman menikmatinya dibuat lebih terbuka.

    Yang menarik, pendekatan ini tidak berhenti pada usaha membuat gabin terlihat lebih modern.

    Ada batas yang sengaja dipertahankan.

    Chef Nugraha mengatakan bahwa Tapal tidak ingin mengubah gabin sampai orang tidak lagi mengenalinya. “Identitasnya tetap harus terasa,” ujarnya.

    Jadi, ketika seseorang melihatnya di meja atau rak penyajian, bentuk dasarnya masih memberi petunjuk tentang makanan apa yang sedang dilihat.

    Tetapi ketika dicicipi, pengalaman yang muncul bisa berbeda dari bayangan sebelumnya.

    Assyifa menyebut adanya unsur nostalgia sekaligus rasa penasaran ketika orang melihat gabin dalam bentuk dan rasa yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

    Di titik ini, kata rethink menjadi penting.

    Tapal bukan sedang mengganti identitas gabin. Mereka sedang mencari tahu apa lagi yang bisa dilakukan dengan sesuatu yang identitasnya sudah begitu kuat.

    Rethink Local Taste di Tapal Market

    Dari gabin, pembicaraan kemudian bergerak ke sesuatu yang lebih luas: bagaimana makanan Indonesia bisa terus berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan asal-usul dan kebiasaan yang membuatnya dikenal.

    Bagi Tapal Market, makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Ada cerita, kebiasaan, memori, dan proses ketika makanan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Assyifa melihat gabin sebagai bagian dari memori tersebut.

    Ketika seseorang mengambil gabin, menurutnya, yang diambil bukan hanya sebuah produk, tetapi juga bagian dari pengalaman yang sudah dimiliki banyak orang terhadap makanan itu.

    Karena itu, pendekatan modern yang dilakukan Tapal tetap berangkat dari apa yang sudah ada.

    Hal tersebut juga terlihat dari sajian lain di Tapal Market. Makanan tidak harus kehilangan kedekatannya dengan keseharian hanya karena cara penyajiannya dibuat lebih modern.

    Di sinilah gagasan Rethink Local Taste menjadi menarik.
    Rasa lokal tidak selalu harus hadir melalui makanan yang sejak awal diberi label sebagai “makanan khas”. Ia juga bisa muncul dari cara sebuah makanan yang sudah dikenal dibaca kembali, dikembangkan, dan ditempatkan dalam konteks kota hari ini.

    Tapal Market sendiri merupakan ruang kuliner di Bandung yang mengeksplorasi makanan Indonesia melalui pendekatan kreatif dan modern, sambil tetap berangkat dari cerita serta karakter lokal.

    Dan Banceuy menjadi bagian penting dari konteks tersebut.

    Saat Jajanan Harian Menjadi Bagian dari Rasa Lokal

    Ketika membicarakan makanan Bandung, kita sering kali langsung mencari sesuatu yang sudah memiliki status sebagai ikon atau oleh-oleh.

    Padahal, pengalaman seseorang terhadap sebuah kota tidak selalu dibentuk oleh makanan yang paling terkenal.

    Bisa juga oleh sesuatu yang ditemukan ketika sedang berada di sana.
    Gabin Tapal tidak disebut sebagai oleh-oleh khas Bandung oleh Tapal Market. Namun keberadaannya di Jalan Banceuy membuka pertanyaan yang lebih menarik: apakah jajanan yang begitu dekat dengan keseharian bisa ikut menjadi bagian dari cara seseorang mengenali rasa sebuah kota?

    Jawabannya tentu belum harus ditentukan sekarang.

    Yang jelas, gabin punya satu hal yang membuatnya menarik untuk dibicarakan: ia sudah familiar, tetapi masih bisa dikembangkan. Perjalanannya sendiri cukup panjang, dari crackers yang kemudian diadaptasi dan diberi isian hingga menjadi camilan yang dikenal masyarakat Indonesia.

    Mungkin itu pula yang membuat eksplorasi Tapal terasa relevan.
    Menjaga makanan lokal tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama selamanya.

    Kadang, cara menjaganya justru dengan membuatnya tetap bisa ditemukan dalam konteks yang baru.

    Di Jalan Banceuy, gabin mendapatkan kesempatan tersebut.
    Ia tetap terlihat seperti gabin. Tetapi sekarang, ada enam interpretasi yang membuat kita melihat jajanan lama itu dengan rasa penasaran yang berbeda.

    Dan mungkin, dari sinilah sebuah local taste bisa terus hidup: bukan karena ia tidak pernah berubah, tetapi karena masih ada orang yang mau melihatnya kembali.

    Some Classics Never Stop Evolving.

  • Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Inovasi Dessert Unik J&C Cookies Ramaikan Kolaborasa Hutanika

    Curiocity.id — Bandung punya kebiasaan menarik dalam urusan makanan. Sesuatu yang sudah akrab di lidah bisa saja tiba-tiba hadir dalam bentuk berbeda, sementara bahan yang sederhana bisa dipertemukan dengan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

    Mungkin karena itu pula cerita tentang kuliner di kota ini tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada brand yang mencoba, tempat yang membuka ruang, dan kolaborasi yang membuat kita bertanya-tanya, “Kali ini akan jadi seperti apa?”

    Pertanyaan kecil tersebut menemukan jawabannya di Hutanika lewat Kolaborasa Hutanika, kolaborasi kuliner yang mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung selama Agustus hingga September 2026.

    Salah satunya adalah J&C Cookies, yang membawa dua sajian manis: Putri Salju Snow Ice dan Choco Crunchy Mochi.

    “Sometimes, the familiar becomes exciting when we see it from a different angle.”

    Ketika Putri Salju Keluar dari Kotak Kenangan

    Ada makanan yang membawa kita kembali ke suatu waktu hanya lewat satu nama.

    Putri salju mungkin salah satunya. Kue bertabur gula halus ini begitu dekat dengan momen perayaan dan meja keluarga, sampai rasanya kita tidak perlu melihat bentuknya untuk bisa membayangkannya.

    J&C Cookies kemudian mengambil ingatan tersebut dan membawanya ke arah yang berbeda melalui Putri Salju Snow Ice.

    Bukan lagi putri salju yang kita kenal dalam bentuk kue kering, tetapi sebuah sajian yang mengajak rasa familiar tadi bertemu dengan pengalaman baru. Nama lamanya masih ada, tetapi cara menikmatinya berubah.

    Menariknya, perubahan seperti ini tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit.

    Kadang cukup dengan memindahkan sebuah rasa ke konteks yang berbeda, lalu membiarkan orang yang mencobanya menemukan sendiri apa yang berubah.

    Di Hutanika, Putri Salju Snow Ice menjadi salah satu cara J&C Cookies memperkenalkan interpretasinya dalam Kolaborasa Hutanika.

    Cokelat, Mochi, dan Sedikit Kejutan di Gigitan Pertama

    Kalau Putri Salju Snow Ice bermain dengan memori, Choco Crunchy Mochi terasa seperti permainan yang berbeda.

    Dari namanya saja, kita sudah mendapatkan tiga petunjuk: cokelat, mochi, dan sesuatu yang crunchy.

    Mochi memberikan kelembutan, sementara elemen crunchy menghadirkan kontras. Cokelat kemudian menjadi rasa yang menyatukan semuanya.

    Ada kesenangan tersendiri ketika makanan tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga mengajak kita memperhatikan tekstur.

    Gigitan pertama mungkin membuat kita mengenali cokelat. Gigitan berikutnya membuat kita sadar ada sesuatu yang renyah di sana.

    Hal-hal kecil semacam ini yang membuat dessert tidak selalu harus menjadi penutup. Ia bisa menjadi bagian dari pengalaman mencoba sesuatu yang baru.

    Dan kali ini, pengalaman tersebut datang dari J&C Cookies, salah satu brand lokal Bandung yang ikut dalam Kolaborasa Hutanika.

    Lima Brand Bandung Bertemu dalam Satu Meja

    J&C Cookies tentu tidak berjalan sendirian.Kolaborasa Hutanika mempertemukan lima brand F&B lokal Bandung: Rahsa Nusantara, Maicih, Tahu Tauhid, Cimol Bojot AA, dan J&C Cookies.

    Masing-masing datang dengan karakter yang berbeda.

    J&C Cookies mengambil bagian melalui dua dessert tadi.

    Menariknya, semua karakter tersebut tidak perlu dibuat sama. Justru perbedaannya yang membuat satu meja terasa lebih hidup.

    Hutanika menjadi ruang tempat berbagai rasa tersebut bertemu selama Agustus hingga September 2026, dalam momentum Bulan Kemerdekaan.

    “Different flavors can tell different stories, even when they share the same table.”

    Dari Satu Meja, Kita Bisa Melihat Bandung

    Kalau diperhatikan lebih dekat, kolaborasi seperti ini sebenarnya bercerita lebih banyak daripada sekadar menu baru.Ia memperlihatkan bagaimana brand lokal Bandung terus mencari cara untuk berkembang tanpa harus meninggalkan karakter yang membuat mereka dikenal.

    Ada keberanian untuk mencoba format baru. Ada keinginan mempertemukan produk dengan audiens yang berbeda. Ada pula ruang untuk belajar dari brand lain yang bergerak di bidang yang sama.

    Hutanika, dalam hal ini, bukan hanya menjadi tempat semua menu tersebut tersedia.

    Ia menjadi ruang pertemuan.

    Pengunjung dapat datang untuk makan, tetapi dalam satu kesempatan yang sama mereka bisa menemukan beberapa karakter kuliner lokal sekaligus.

    Dari yang pedas hingga manis. Dari camilan yang sudah familiar hingga menu yang mungkin baru pertama kali kita dengar.

    Bandung hadir bukan sebagai satu rasa.

    Ia hadir sebagai kumpulan banyak rasa yang terus berubah dan berkembang.

    Ternyata Bangga Nusantara Bisa Sesederhana Ini

    Kolaborasa Hutanika hadir dalam rangka menyambut dan merayakan Bulan Kemerdekaan dengan semangat Bangga Nusantara.

    Tetapi ada sesuatu yang menarik dari cara gagasan tersebut diterjemahkan.Tidak harus selalu dalam bentuk seremoni besar.

    Kadang rasa bangga terhadap karya lokal bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: memberi kesempatan sebuah brand untuk berkarya, datang untuk mencoba, kemudian memilih untuk kembali ketika ternyata rasanya cocok.

    J&C Cookies menjadi salah satu bagian dari cerita tersebut.

    Dua dessert yang dibawanya memperlihatkan bahwa kreativitas lokal tidak selalu harus tampil dengan sesuatu yang sepenuhnya asing. Sesuatu yang sudah kita kenal pun masih bisa diolah kembali dan menemukan bentuk baru.

    Begitu pula dengan empat brand lainnya.Ketika semuanya ditempatkan dalam satu ruang, kita mendapatkan gambaran kecil tentang betapa beragamnya cara brand lokal Bandung bercerita melalui makanan.

    Barangkali, Rasa Penasaran Adalah Pesanan Pertama

    Pada akhirnya, kita mungkin tidak datang ke Hutanika dengan niat mencari sebuah cerita.Mungkin hanya ingin makan. Mungkin sedang bertemu teman. Atau mungkin sekadar penasaran dengan menu yang baru dilihat.

    Tetapi justru dari rasa penasaran seperti itulah pengalaman baru biasanya dimulai.

    Putri Salju Snow Ice mungkin membuat kita teringat pada sesuatu yang familiar. Choco Crunchy Mochi mungkin membuat kita ingin tahu bagaimana cokelat, mochi, dan tekstur crunchy bertemu.

    Setelah itu, siapa tahu kita menemukan rasa lain dari empat brand Bandung yang ikut berada di meja yang sama.

    Kolaborasa Hutanika berlangsung selama Agustus hingga September 2026 di Hutanika, Bandung.

    Lima brand lokal. Beragam menu. Satu ruang pertemuan.Dan mungkin, dari semua itu, ada satu pesanan yang awalnya hanya dipilih karena penasaran—lalu diam-diam menjadi menu yang ingin dicoba lagi.

  • Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Little SUGU : Cerita dari Sudut Autentik Tjihapit

    Curiocity.id — Di Tjihapit, pagi punya caranya sendiri untuk terasa hidup. Ada yang datang mencari sarapan, berjalan menyusuri kawasan, bertemu teman, atau sekadar mencari tempat untuk duduk sambil menikmati suasana kota.

    Di antara aktivitas itu, Little SUGU Bakehouse hadir sebagai salah satu sudut yang menarik untuk disinggahi. Bukan karena harus punya alasan khusus untuk datang, tetapi karena suasananya terasa cocok untuk berbagai cerita yang terjadi sepanjang hari.

    “Kadang, tempat yang menyenangkan adalah tempat yang tidak banyak menuntut. Datang, pilih sesuatu yang disuka, lalu biarkan percakapan menemukan arahnya sendiri.”

    Croissant, Kopi, dan Slow Morning di Tjihapit

    Salah satu hal yang langsung menarik perhatian di Little SUGU adalah pilihan croissant dan pastry yang tersedia. Bentuk dan variannya membuat proses memilih pun menjadi bagian dari pengalaman sebelum akhirnya menemukan satu yang paling ingin dinikmati.

    Ada sesuatu yang menyenangkan dari pagi yang dimulai dengan pastry hangat dan minuman favorit. Apalagi ketika suasana Tjihapit di luar ikut menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

    Tidak harus terburu-buru. Duduk, menikmati gigitan pertama, menyeruput kopi, lalu melihat aktivitas kawasan yang perlahan semakin ramai.

    Slow morning disini terasa lebih seperti menikmati bagaimana sebuah hari dimulai, bukan sekadar mencari tempat untuk sarapan.

    Tempat Bertemu dan Mengobrol Santai

    Little SUGU juga punya karakter yang cocok untuk berkumpul bersama sahabat.

    Meja menjadi titik temu untuk berbagai percakapan. Mulai dari cerita yang sudah lama ingin dibagikan, kabar terbaru dari teman, sampai obrolan sederhana yang awalnya hanya ingin berlangsung sebentar tetapi akhirnya menjadi panjang.

    Suasananya pun tidak terasa terlalu formal. Datang bersama teman, memilih pastry yang berbeda, lalu saling mencicipi pesanan bisa menjadi bagian kecil dari pengalaman yang justru paling mudah diingat.

    “Ada percakapan yang tidak membutuhkan tempat istimewa. Cukup sesuatu yang enak di meja dan orang-orang yang memang ingin ditemui.”

    Singgah Sebentar, Menikmati Suasana Tjihapit

    Salah satu daya tarik Little SUGU adalah bagaimana tempat ini bisa menjadi bagian dari perjalanan ketika sedang berada di Tjihapit.

    Mau mampir sebelum melanjutkan perjalanan, duduk sambil menikmati pastry, atau bertemu teman untuk menghabiskan waktu bersama, semuanya terasa natural.

    Letaknya di kawasan Tjihapit juga membuat pengalaman di Little SUGU tidak berdiri sendiri. Aktivitas di sekitar kawasan, suasana jalan, dan karakter lingkungan menjadi bagian dari cerita ketika seseorang datang ke sini.

    Little SUGU buka dari pagi hingga pukul tiga sore. Waktu tersebut membuatnya terasa dekat dengan momen-momen ketika orang biasanya mencari sarapan, menikmati brunch, atau bertemu sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya.

    Pada akhirnya, Little SUGU bukan hanya tentang apa yang tersaji di etalase. Ada pilihan croissant, percakapan bersama sahabat, dan suasana Tjihapit yang membuat kunjungan terasa seperti bagian alami dari perjalanan hari itu.

    Sebuah tempat untuk mampir, menikmati sesuatu yang disuka, lalu pulang membawa cerita yang sederhana.

  • “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    “COMA”: Jeda di Tengah Bisingnya Kota

    Curioucity.id — Bandung selalu bergerak. Namun, di antara pergerakan itu, selalu ada ruang yang memilih untuk berjalan lebih lambat

    “Barangkali secangkir kopi bukan tentang mengusir kantuk. Kadang, ia hanya alasan agar seseorang mau berhenti sejenak.”

    Bandung mengenal banyak cara untuk membuat orang terus bergerak. Jalanan yang ramai, daftar pekerjaan yang terus bertambah, hingga percakapan yang datang silih berganti. Hari-hari seperti itu sering kali membuat jeda terasa seperti sesuatu yang mewah.

    Di kawasan Kacapiring, Bandung, ada sebuah ruang yang justru memelihara jeda itu. Namanya COMA—Coffee Matter.

    Nama itu menarik. Dalam dunia bahasa, comma adalah tanda baca yang memberi kesempatan sebuah kalimat mengambil napas sebelum melanjutkan cerita. COMA terasa memiliki gagasan yang serupa: bukan akhir dari perjalanan, melainkan ruang kecil untuk berhenti sebelum melangkah lagi.

    Aroma yang Datang Lebih Dulu

    Pintu terbuka, lalu aroma pastry hangat datang lebih dulu. Setelahnya, wangi kopi yang baru diseduh perlahan mengisi ruang, bercampur dengan percakapan dan aktivitas kecil yang berlangsung di sekitarnya.

    Tidak ada yang terasa berlebihan. Ruangan nyaman untuk ditempati, baik ketika seseorang datang untuk mengobrol maupun ketika hanya ingin punya waktu sendiri.

    Cahaya yang masuk ke dalam ruangan membuat suasananya terasa ringan. Ada meja yang dipenuhi percakapan, ada pula sudut yang cukup tenang untuk sekadar duduk dan membiarkan waktu berjalan.

    Di tempat seperti ini, kenyamanan bukan sesuatu yang perlu diumumkan. Ia terasa dari cara orang-orang bertahan lebih lama dari yang mereka rencanakan.

    Pagi yang Hangat, Sore yang Lebih Riuh

    Menariknya, COMA seperti memiliki dua wajah dalam satu hari.

    Pagi hari terasa lebih tenang. Keluarga datang menikmati waktu bersama, beberapa orang memulai aktivitas dengan kopi dan sarapan, sementara suasana di dalam ruang masih menyimpan ritme yang pelan.

    Menjelang sore, karakternya mulai berubah.

    Anak-anak muda mulai mengisi meja, percakapan menjadi lebih ramai, dan kopi dingin seperti Dirty Latte ikut menemani waktu setelah aktivitas seharian. Bukan keramaian yang membuat sesak, melainkan jenis riuh yang justru terasa akrab.

    “Satu ruang bisa terasa berbeda, tergantung siapa yang datang dan cerita apa yang sedang dibawa.”

    Perubahan itu menjadi salah satu hal menarik dari COMA. Tempat yang sama, tetapi pengalaman yang bisa terasa berbeda hanya karena waktu kedatangan.

    Dari Kopi hingga Butter Teok

    Jeda tentu tidak selalu harus ditemani kopi.

    COMA juga menghadirkan pilihan makanan dengan karakter yang cukup beragam, termasuk Butter Teok dan sejumlah menu fusion yang memadukan berbagai rasa. Pilihannya membuat meja tidak hanya menjadi tempat untuk menaruh secangkir kopi, tetapi juga ruang untuk berbagi makanan dan mencoba sesuatu yang berbeda.

    Butter Teok, misalnya, menjadi salah satu pilihan yang menarik perhatian karena menghadirkan olahan yang tidak terlalu biasa ditemui dalam keseharian kedai kopi.

    Sementara menu fusion lainnya memberikan pilihan yang lebih luas bagi mereka yang datang bukan hanya untuk minum, tetapi juga ingin makan sambil menghabiskan waktu.

    Pada akhirnya, makanan di sini tidak harus menjadi alasan utama untuk datang. Ia bisa menjadi bagian kecil dari percakapan yang berlangsung di atas meja.

    Tempat Nyaman untuk Berhenti Sejenak

    Ada tempat yang nyaman karena desainnya. Ada pula tempat yang terasa nyaman karena cara orang-orang di dalamnya menggunakannya.

    COMA berada di antara keduanya.

    Ruangnya cukup fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Datang bersama keluarga terasa masuk akal, bertemu teman setelah sore yang panjang juga terasa natural, begitu pula duduk sendiri tanpa banyak melakukan apa-apa.

    Tidak ada keharusan untuk terus produktif.

    Laptop boleh terbuka. Buku boleh terbaca setengah halaman. Percakapan pun boleh melebar ke mana-mana.

    Sebuah Tanda Baca di Tengah Kota

    Bandung akan terus bertambah ramai. Tempat-tempat baru akan terus bermunculan, masing-masing dengan cerita dan karakternya sendiri.

    Namun, sesekali kota juga membutuhkan ruang yang tidak meminta siapapun untuk terburu-buru. Ruang yang cukup nyaman untuk membiarkan pikiran beristirahat, percakapan berlangsung apa adanya, dan makanan datang untuk dinikmati tanpa perlu mengejar waktu.

    Mungkin, itulah makna yang diam-diam disimpan COMA.

    Bukan sebuah tujuan akhir.

    Melainkan sebuah tanda baca, tempat seseorang mengambil napas sebelum kembali melanjutkan kalimatnya sendiri.

  • Menepi Sejenak di Sudut Kota: Menikmati Waktu dan Cerita di Ground N Gather

    Curioucity.id — Ada kebiasaan kecil yang sering terjadi tanpa disadari. Kita membuat janji bertemu selama satu jam, tetapi pulang dua atau tiga jam kemudian. Bukan karena obrolannya belum selesai, melainkan karena tempatnya terasa terlalu nyaman untuk segera ditinggalkan.

    Perasaan seperti itu terkadang muncul dari tempat-tempat yang tidak banyak membuat kegaduhan. Di kawasan Pasirkaliki, yang sejak pagi hingga malam nyaris selalu dipenuhi lalu lalang kendaraan dan aktivitas, Ground N Gather hadir dengan cara yang sederhana. Ia tidak mencoba mencuri perhatian dari keramaian di sekitarnya, tetapi menawarkan suasana yang membuat orang ingin menikmati waktu sedikit lebih lama.

    “Ada tempat yang membuat kita datang karena lokasi. Ada pula tempat yang membuat kita kembali karena suasananya.”

    Ketika Suasana Menjadi Alasan untuk Singgah

    Begitu memasuki area dalam, ritme di luar perlahan terasa menjauh. Cahaya alami menyelinap melalui jendela, menyentuh permukaan meja kayu yang hangat. Di balik meja bar, aroma kopi yang baru diracik bercampur dengan wangi hidangan yang baru keluar dari dapur.

    Tidak ada kesan yang dibuat berlebihan. Justru detail-detail kecil itulah yang membangun suasana; suara cangkir yang diletakkan di atas meja, percakapan yang mengalir tanpa saling mendominasi, hingga orang-orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing.

    Setiap Meja Menyimpan Ceritanya Sendiri

    Ground N Gather terasa hidup bukan karena ramainya pengunjung, melainkan karena setiap orang membawa tujuan yang berbeda.Ada yang datang untuk memulai hari dengan secangkir kopi. Ada yang menjadikan sudut ruangan sebagai tempat menyelesaikan pekerjaan. Ada pula yang sekadar bertemu teman lama, lalu membiarkan percakapan berkembang tanpa terburu melihat waktu.

    Suasana seperti inilah yang membuat sebuah tempat terasa akrab. Bukan karena semua orang saling mengenal, tetapi karena setiap aktivitas dapat berlangsung berdampingan dengan nyaman.

    Hidangan yang Menemani Momen

    Pilihan makanan di Ground N Gather menghadirkan cita rasa yang dekat dengan keseharian. Sementara kopi dan beragam minuman lain diracik untuk menemani berbagai suasana; dari obrolan santai, pertemuan singkat, hingga waktu yang dinikmati sendirian.

    Tak ada yang terasa berlebihan. Semuanya seperti menemukan porsinya masing-masing, sebagaimana tempat ini membiarkan setiap pengunjung menikmati waktunya dengan cara yang berbeda.

    Pada akhirnya, mungkin itulah yang membuat Ground N Gather memiliki daya tariknya sendiri. Di tengah kawasan Pasirkaliki yang terus bergerak, tempat ini menjadi salah satu sudut yang mengingatkan bahwa tidak semua perjalanan harus dilakukan dengan tergesa.

    Kadang, yang paling diingat dari sebuah kunjungan bukan hanya apa yang tersaji di atas meja, melainkan bagaimana sebuah tempat membuat kita merasa cukup nyaman untuk tinggal sedikit lebih lama.