Curioucity.id – Ada banyak cara untuk mengenali sebuah kota. Bisa lewat bangunan, nama jalan, tempat makan, atau sesuatu yang lebih sederhana: makanan yang kita temukan di tengah perjalanan.
Di Bandung, makanan sudah lama menjadi bagian dari pengalaman berkunjung. Ada yang sengaja dicari untuk dibawa pulang, ada yang ditemukan secara tidak sengaja, lalu ada pula yang membuat kita penasaran karena bentuknya terasa familiar tetapi hadir dengan cara yang berbeda.
Di Jalan Banceuy, salah satu pengalaman seperti itu bisa ditemukan di Tapal Market.
Ruangnya mempertemukan orang-orang yang datang untuk makan, berbincang, dan menikmati berbagai sajian. Di antara suasana tersebut, ada satu makanan yang sekilas mungkin terasa sangat familiar: gabin.

Namun gabin yang hadir di sini bukan sekadar camilan nostalgia.
Melalui RETHINK GABIN — Some Classics Never Stop Evolving, Tapal Market mencoba melihat kembali makanan yang sudah dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia dan membawanya ke konteks yang berbeda.
Menariknya, mereka tidak memilih pastry yang sedang ramai atau makanan yang sejak awal punya kesan premium.
Mereka memilih gabin.
Memilih Gabin di Tengah Tren Pastry
Gabin sebenarnya tidak membutuhkan banyak penjelasan.
Bentuk crackers-nya mudah dikenali, begitu pula konsep makanan dengan isian di antaranya. Bagi sebagian orang, gabin bahkan mungkin langsung membawa ingatan pada camilan yang pernah hadir dalam keseharian.
Justru kedekatan itulah yang membuatnya menarik bagi Tapal Market.
Di tengah berkembangnya tren pastry dan berbagai jajanan kekinian, Tapal memilih mengambil jalur berbeda. Alih-alih mengikuti makanan yang sedang populer, mereka mengangkat makanan yang sudah dikenal masyarakat dan mencoba memberikan perspektif baru terhadapnya.
“Kenapa gabin? Karena kami tidak ingin selalu mengambil makanan yang sedang populer atau yang sudah dianggap premium,” ujar Assyifa Sofia, CEO & Founder Tapal Market.
Menurut Assyifa, gabin punya karakter sederhana dan familiar, tetapi tetap terbuka untuk dikembangkan.
Chef Nugraha, Chef sekaligus Founder Tapal Market, melihat potensi tersebut dari sisi yang lebih teknis. Ada tekstur crackers, ada filling yang bisa dikembangkan ke berbagai arah, dan yang paling penting, ada memori yang sudah dimiliki orang terhadap gabin.
Tantangannya kemudian bukan membuat gabin menjadi makanan yang sama sekali baru.
“Bagaimana kami bisa mempertahankan rasa familiar itu, tetapi pada saat yang sama memberikan pengalaman yang baru,” jelasnya.

Dari sini, alasan pemilihan gabin mulai terasa masuk akal.
Karena sudah dikenal, perubahan sekecil apa pun bisa membuat kita memperhatikannya kembali.
Enam Interpretasi, Satu Identitas Gabin
Eksplorasi tersebut kemudian diwujudkan melalui enam interpretasi Gabin Tapal.
Enam versi ini dikembangkan berdasarkan karakter dapur Tapal Market. Bentuk dan karakter dasar gabin tetap dihormati, sementara rasa dan pengalaman menikmatinya dibuat lebih terbuka.
Yang menarik, pendekatan ini tidak berhenti pada usaha membuat gabin terlihat lebih modern.
Ada batas yang sengaja dipertahankan.
Chef Nugraha mengatakan bahwa Tapal tidak ingin mengubah gabin sampai orang tidak lagi mengenalinya. “Identitasnya tetap harus terasa,” ujarnya.
Jadi, ketika seseorang melihatnya di meja atau rak penyajian, bentuk dasarnya masih memberi petunjuk tentang makanan apa yang sedang dilihat.
Tetapi ketika dicicipi, pengalaman yang muncul bisa berbeda dari bayangan sebelumnya.
Assyifa menyebut adanya unsur nostalgia sekaligus rasa penasaran ketika orang melihat gabin dalam bentuk dan rasa yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Di titik ini, kata rethink menjadi penting.
Tapal bukan sedang mengganti identitas gabin. Mereka sedang mencari tahu apa lagi yang bisa dilakukan dengan sesuatu yang identitasnya sudah begitu kuat.
Rethink Local Taste di Tapal Market
Dari gabin, pembicaraan kemudian bergerak ke sesuatu yang lebih luas: bagaimana makanan Indonesia bisa terus berkembang tanpa kehilangan hubungan dengan asal-usul dan kebiasaan yang membuatnya dikenal.
Bagi Tapal Market, makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Ada cerita, kebiasaan, memori, dan proses ketika makanan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Assyifa melihat gabin sebagai bagian dari memori tersebut.
Ketika seseorang mengambil gabin, menurutnya, yang diambil bukan hanya sebuah produk, tetapi juga bagian dari pengalaman yang sudah dimiliki banyak orang terhadap makanan itu.
Karena itu, pendekatan modern yang dilakukan Tapal tetap berangkat dari apa yang sudah ada.

Hal tersebut juga terlihat dari sajian lain di Tapal Market. Makanan tidak harus kehilangan kedekatannya dengan keseharian hanya karena cara penyajiannya dibuat lebih modern.
Di sinilah gagasan Rethink Local Taste menjadi menarik.
Rasa lokal tidak selalu harus hadir melalui makanan yang sejak awal diberi label sebagai “makanan khas”. Ia juga bisa muncul dari cara sebuah makanan yang sudah dikenal dibaca kembali, dikembangkan, dan ditempatkan dalam konteks kota hari ini.
Tapal Market sendiri merupakan ruang kuliner di Bandung yang mengeksplorasi makanan Indonesia melalui pendekatan kreatif dan modern, sambil tetap berangkat dari cerita serta karakter lokal.
Dan Banceuy menjadi bagian penting dari konteks tersebut.
Saat Jajanan Harian Menjadi Bagian dari Rasa Lokal
Ketika membicarakan makanan Bandung, kita sering kali langsung mencari sesuatu yang sudah memiliki status sebagai ikon atau oleh-oleh.
Padahal, pengalaman seseorang terhadap sebuah kota tidak selalu dibentuk oleh makanan yang paling terkenal.
Bisa juga oleh sesuatu yang ditemukan ketika sedang berada di sana.
Gabin Tapal tidak disebut sebagai oleh-oleh khas Bandung oleh Tapal Market. Namun keberadaannya di Jalan Banceuy membuka pertanyaan yang lebih menarik: apakah jajanan yang begitu dekat dengan keseharian bisa ikut menjadi bagian dari cara seseorang mengenali rasa sebuah kota?
Jawabannya tentu belum harus ditentukan sekarang.
Yang jelas, gabin punya satu hal yang membuatnya menarik untuk dibicarakan: ia sudah familiar, tetapi masih bisa dikembangkan. Perjalanannya sendiri cukup panjang, dari crackers yang kemudian diadaptasi dan diberi isian hingga menjadi camilan yang dikenal masyarakat Indonesia.
Mungkin itu pula yang membuat eksplorasi Tapal terasa relevan.
Menjaga makanan lokal tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama selamanya.
Kadang, cara menjaganya justru dengan membuatnya tetap bisa ditemukan dalam konteks yang baru.
Di Jalan Banceuy, gabin mendapatkan kesempatan tersebut.
Ia tetap terlihat seperti gabin. Tetapi sekarang, ada enam interpretasi yang membuat kita melihat jajanan lama itu dengan rasa penasaran yang berbeda.
Dan mungkin, dari sinilah sebuah local taste bisa terus hidup: bukan karena ia tidak pernah berubah, tetapi karena masih ada orang yang mau melihatnya kembali.
Some Classics Never Stop Evolving.
